Pages

Rabu, 12 Agustus 2015

221. BAYAN MAULANA SA'AD AL-KANDAHLAWI (IJTIMAK MALAYSIA)



Setiap manusia diatas permukaan bumi ini selalu berusaha. Setiap orang yang berusaha akan mendapat keyakinan atas apa yang diusahakan. Seorang petani yang usaha atas pertanian, maka akan dapat keyakinan atas pertaniannya. Seorang pedagang yang usaha atas perniagaan, maka akan dapat keyakinan untuk dapat sesuatu dari perniagaannya. Seorang pemerintah yang ada keyakinan atas pemerintahannya, yang usaha atas kekuasaannya, maka akan datang keyakinan atas kekuasaannya. Setiap orang berusaha dan dalam hati mereka ada keyakinan atas usaha yang mereka telah lakukan.
Hari ini usaha atas agama telah ditinggalkan, usaha atas iman telah ditinggalkan oleh manusia. Oleh karena itu, keyakinan atas agama telah keluar daripada hati manusia. Hari ini agama telah jadi satu benda yang ikhtiar dan infiradi (perseorangan), satu benda pilihan dan bersifat pribadi. Sedangkan agama adalah bersifat ijtima’i (berjamaah). Asalnya agama bersifat ijtima’i dan umum.Agama perlu diamalkan secara ijtima’i. Oleh karena tiada usaha atas agama, maka dari hati orang Islam sendiri sudah tidak ada keyakinan pada agama. Sudah tidak ada penggantungan pada agama bahwa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Puncak utama adalah karena usaha agama telah ditinggalkan.
Allah subhanahu wa ta’ala telah janjikan hidayah dengan usaha mereka yang bermujahadah, berusaha dan bersusah payah. Usaha yang bagaimana? Maulana berkata ada banyak cara usaha tetapi usaha yang dikehendaki ialah usaha yang mengikut kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara yang telah dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Usaha yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangunkan sahabat-sahabatnya. Usaha yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sediakan sahabat-sahabatnya. Melalui usaha itu, agama akan datang dalam kehidupan kita. Kita harus yakin dalam hati kita, bahwa satu-satunya cara yang pasti untuk dapat hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan perantaraan usaha dakwah illallah.
Usaha tersebut hendaklah dijalankan dengan cara yang telah dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus buat usaha dengan cara yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang telah ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus yakinkan dalam hati kita, bahwa hanya dengan usaha yang dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabat saja agama akan datang dalam kehidupan kita dan seluruh umat. Tidak ada cara lain. Usaha yang dibuat bukan dengan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat, maka bukan agama yang akan dating, tetapi di dikuatirkan kesesatan/fitnah yang akan datang. Dengan cara lain hidayah tidak akan datang.
Kalau di dalam hati kita ada sedikit keraguan, kita fikir ada banyak usaha, dan ini adalah salah satu usaha, dengan cara lain pun boleh dapat hidayah, maka kalau ada perasaan semacam ini, tidak ada yakin dalam hati, maka dia tidak akan dapat hidayah. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahu dengan sungguh-sungguh, mereka yang bermujahadah/bersusahpayah dengan cara yang Kami (Allah) kehendaki, pasti dan pasti Kami akan beri hidayah padanya. Kita harus ada keyakinan 100% bahwa bila buat usaha dengan cara yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dengan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabatnya, maka pasti hidayah akan datang. Usaha ini perlu dibangun dan dilaksanakan secara ijtimai dalam umat ini, barulah hidayah akan datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Yakin akan datang dalam hati kita hanya dengan perantaraan dakwah. Agama akan datang dalam diri manusia hanya dengan perantaraan yakin. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih berkata inilah jalannya untuk membina yakin, untuk membentuk yakin. Dengan perantaraan dakwah yakin akan dapat diubah, yakin akan dapat diperbaiki. Inilah langkah yang pertama dalam usaha kita dan usaha semua nabi-nabi ‘alaihis salam yaitu untuk membetulkan keyakinan. Bagaimana yakin dapat dibetulkan, sehingga dalam hati kita tidak ada keyakinan selain dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hati ada keyakinan bahwa segala sesuatu hanya berlaku dengan kudrat Allah subhanahu wa ta’ala, semua berlaku dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap perkara yang telah berlaku, akan berlaku, semuanya berlaku karena perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ini perkara yang paling dasar. Ini perkara yang paling penting, yang mana semua orang Islam harus faham. Kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa inilah keperluan yang paling penting. Inilah tanggungjawab yang pertama. Inilah tugas pertama kita yaitu untuk membetulkan yakin. Yakin yang betul dalam hati dan bulat hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih begitu berhati-hati dalam perkara ini. Satu orang telah berkata ‘secara kebetulan benda ini terjadi’. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih sangat marah. Manabisa kebetulan bisa terjadi. Ini perkataan orang yang tidak percaya pada tuhan. Dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala semua terjadi. Dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala perkara ini telah terjadi. Untuk membetulkan keyakinan kita, pertama kali harus membetulkan perbicaraan kita, harus membetulkan fikir kita. Dalam kehidupan kita 24 jam tidak ada satu perkataan pun yang keluar dari mulut kita yang bertentangan dengan kalimah laailaaha illallaah. Fikir kita, perbicaraan kita, pandangan kita, tidak ada sedikit pun yang bertentangan dengan kalimah laailaaha illallaah. Hari ini, dari pagi sampai petang, siang dan malam, perbicaraan kita, fikir kita, pendengaran kita, semua bertentangan dengan kalimah laailaaha illallaah. Dalam keadaan macam ini, bagaimana keyakina kita bisa betul?
Pertama kali kita harus membetulkan perbicaraan kita, fikir kita dan setiap orang Islam harus fikir bahwa ini kerja dia dan tanggungjawab dia. Setiap hari pergi jumpa manusia, bicara tentang kebesaran Allah, bicara tentang kehebatan Allah, bicara tentang kalimah laailaaha illallaah. Hari ini timbul salah faham dalam diri orang Islam sendiri, kita menyangka dakwah iman, dakwah kalimah adalah untuk orang kafir, bukan untuk orang Islam. Kenapa saya perlu dakwah kalimah, sedangkan saya sudah Islam? Dalam Al Quran, Allah subhanahu wa ta’ala telah terangkan bahwa orang yang paling berhak atas kalimah adalah orang Islam. Tuan punya kalimah ini ialah orang yang beriman. Dalam Al Quran, Allah subhanahu wa ta’ala telah perintah orang yang beriman supaya berterusan beriman pada Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Wahai orang-orang yang telah beriman, berimanlah kamu’. Yakni kamu harus usaha atas iman kamu, sehingga dapat datang agama yang sempurna dalam kehidupan kamu. Keseluruhan hidup kamu mengikut hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Usaha atas iman ini adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah perintahkan para sahabat radhiyallanhu ‘anhum selalu mentajdidkan (memperharui) iman mereka. Walaupun sahabat mempunyai iman setinggi gunung, tetapi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menyuruh mereka mentajdidkan iman mereka. Usaha atas kalimah adalah keperluan orang Islam, bukan untuk orang kafir. Harus usaha atas iman, sehingga dapat dihasilkan iman yang mantap, iman yang kuat, iman yang sempurna pada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga keseluruhan agama dapat datang dalam kehidupan. Seluruh Quran telah datang dalam kehidupan sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan perantaraan yakin. Sahabat berkata, ‘kami belajar iman sebelum kami belajar Quran’. Mereka membetulkan keyakinan mereka, dan keseluruhan Quran telah dapat mereka amalkan dalam kehidupan.
Perkara pertama yang kita dan seluruh umat harus faham bahwa kita perlu usaha atas iman. Inilah tanggungjawab saya, inilah kefarduan atas diri saya. Untuk membetulkan iman saya, untuk membetulkan yakin saya, saya harus lapangkan masa jumpa manusia untuk bicara tentang kalimah laa ilaaha illallaah, bicara tentang mahfum kalimah. Saya harus pergi dari rumah ke rumah jumpa manusia. Dalam perbicaraan, dalam muzakarah, dalam perbincangan, 24 jam, saya tidak boleh bicara perkataan yang bertentangan dengan kalimah laai laaha illallaah. Kita harus bicara tentang kalimah ini lagi dan lagi sebagaimana sahabat-sahabat telah buat. Sahabat telah pegang tangan sahabat yang lain, duduk sama-sama, mereka berbincang tentang iman, tentang kebesaran Allah, tentang kudrat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita harus rasa ini tanggungjawab kefarduan atas diri saya.
Dalam kalimah ini, pertama kali kita harus menafikan. Kita harus nafikan selain dari Allah, semuanya tak bisa berbuat apa-apa, yang berkuasa hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Tujuh petala bumi, tujuh petala langit, dari sebesar makhluk hingga sekecil makhluk, semuanya tidak bisa buat apa-apa, tidak ada kuasa untuk memberi manfaat atau mudharat. Yang berkuasa hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah nafikan segala-galanya, telah nafikan benda-benda yang bergerak, nafikan bintang, nafikan bulan, nafikan matahari, juga nafikan benda yang tidak bergerak, nafikan berhala-berhala. Beliau telah pecahkan berhala-berhala tersebut. Beliau telah nafikan segala-galanya. Beliau telah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau telah hadapkan tawajjuh beliau hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau bukan hanya berkata dengan lidah, bahkan beliau telah buktikan dengan perbuatannya. Pada ketika beliau hendak dicampakkan ke dalam api oleh Namrud, maka malaikat Jibrail ‘alaihis salam telah bawa malaikat yang jaga air, malaikat yang jaga gunung, malaikat yang mengatur angin, untuk membantu Ibrahim ‘alaihis salam, tetapi pada ketika itu beliau tidak jadikan malaikat-malaikat sebagai perantaraan. Beliau telah berpaling dari malaikat, beliau tidak berhajat pada malaikat. Beliau tidak memeletakkankan apa pun antara beliau dengan Allah subhanahu wa ta’ala, maka bantuan Allah telah datang secara langsung kepada Ibrahim ‘alaihis salam. Tanpa asbab, Allah subhanahu wa ta’ala bantu Ibrahim ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala perintah api yang panas agar menjadi dingin dan agar jadi keselamatan dan kesejahteraan untuk Ibrahim ‘alaihis salam.
Inilah perkara yang kita hendak belajar dari kisah Ibrahim ‘alaihis salam, bahwa kita tidak boleh meletakkan apa-apa antara kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Keyakinan kita hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Hari ini, secara umumnya di seluruh dunia telah terjadi kesalahfaham yang amat besar dikalangan orang Islam, karena mereka telah meletakkan antara mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala, asbab-asbab kebendaan dunia. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata syarat pertama untuk seseorang itu ambil faedah daripada kudrat Allah subhanahu wa ta’ala, dari khazanah Allah subhanahu wa ta’ala, dia harus buang langsung, tidak ada sedikit pun dalam hati dia keyakinan pada asbab kebendaan. Dia harus bersihkan keyakinan hati dia selain dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hari ini, orang Islam berusaha mengambil faedah daripada kudrat Allah subhanahu wa ta’ala untuk selesaikan masalah dengan perantaraan benda dunia. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata bahwa orang kafir pun buat, orang kafir pun pandai, orang kafir pun tahu yaitu mengambil faedah dari khazanah Allah subhanahu wa ta’ala melalui benda-benda dunia.
Allah subhanahu wa ta’ala maha pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala maha pemberi rezeki, tetapi orang kafir meletakkan benda-benda asbab antara mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Hari ini, orang Islam meletakkan toko, meletakkan pertambangan, meletakkan uang sebagai perantaraan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebenarnya, untuk dapat secara langsung dari khazanah Allah subhanahu wa ta’ala, adalah dengan perantaraan amal, bukan asbab. Perkataan yang keluar dari mulut orang Islam sendiri yang mengatakan dunia darul asbab, untuk dapat dari Allah subhanahu wa ta’ala harus ada asbab. Ini tidak betul. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata syarat untuk dapat faedah/bantuan daripada Allah subhanahu wa ta’ala harus buang asbab dari hati. Harus keluarkan keyakinan asbab dari hati.
Ini perkara yang penting yang kita harus usaha, harus sadar, harus faham, kita perlu usaha atas iman agar datang dalam hati keyakinan yang bulat hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Perbicaraan kita mestilah perbicaraan yang mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala. Perbicaraan tentang kehebatan Allah subhanahu wa ta’ala. Perkara ini sangat penting sehingga baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, seorang nabi, bila ditanya tentang ashabul kahfi, maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata bahwa baginda akan memberi jawaban besok. Baginda terlupa untuk mengatakan “insya ‘Allah”. Maka 15 hari wahyu tidak turun. Selepas 15 hari baru wahyu turun. Allah subhanahu wa ta’ala tegur nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena tidak berkata insya ’Allah, yaitu ‘sekiranya diizinkan oleh Allah, saya akan jawab’. Begitu juga kita harus jaga perbicaraan kita. Setiap perkara yang terjadi, akan terjadi, telah terjadi, semuanya dinisbahkan hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Semua berlaku dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah usaha yang pertama yang kita harus buat, bicara kebesaran Allah.
Pertama, kita perlu meyakini yang berkuasa hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, cara untuk dapat daripada Allah subhanahu wa ta’ala hanya dengan cara Nabi, muhammadur rasulullah. Makna beriman pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ialah kita meyakini akan segala apa yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada kita janji-janji Allah, perkara-perkara yang ghaib, tentang syurga, neraka, akhirat. Bila kita meyakini janji-janji Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, meyakini segala apa yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, semata-mata percayanya kita pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, itu adalah iman. Tanpa perkara ini, iman kita tidak sempurna. Syarat untuk iman kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, syarat untuk kesempurnaan iman ialah kita harus meyakini 100% segala yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada kita walaupun kita tidak nampak.
Di zaman Nabi, sahabat, orang kafir dan orang musyrik semua dengar perkataan nabi. Sahabat dengar perkataan nabi dengan penuh yakin. Benarlah kata-kata Allah dan Rasul. Orang musyrik dengar tetapi mereka berkata, apa yang terjadi semua tipu daya belaka. Bila terjadi sesuatu keadaan, orang beriman lihat pada janji Allah akan tetapi orang munafik bila terjadi sesuatu keadaan, mereka lihat pada keadaan tersebut, mereka tidak lihat pada janji Allah.
Dalam perang Khandak, bila berlaku tekanan, orang beriman lihat pada janji Allah. Mereka yakin 100% apa yang Allah dan Rasul janji. Orang munafik dalam keraguan. Mereka tidak yakin bahkan mereka berkata ini semua tipudaya belaka. Hari ini pun, orang Islam diseluruh dunia, bila berlaku keadaan, banyak orang Islam yang lemah iman, mereka merasa sangsi dan ragu pada janji Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana orang munafik lihat apa yang berlaku pada sahabat dalam perang Khandak, mereka ragu dan berkata macam-macam, mereka berkata janji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak betul. Orang beriman, apa pun keadaan yang berlaku, yakin dia 100%, tidak ada sedikit pun keraguan atas apa yang Allah dan Rasul telah janjikan. Sahabat-sahabat telah diuji atas keimanan mereka, diuji atas keyakinan mereka pada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ujian yang sulit-sulit.
Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah membeli seekor kuda daripada seorang ‘Arabi. Akad telah terjadi. Telah terjadi jual beli cuma pada ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bawa duit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajak ‘Arabi itu ikut baginda untuk pergi ambil duit. Dua pihak telah setuju. Dalam perjalanan, ada satu orang tawarkan pada ‘Arabi itu untuk beli kuda tersebut. Setelah berbincang, ‘Arabi itu setuju untuk menjual kuda pada orang kedua. Dia berkata, ‘wahai Muhammad, kamu mau beli kuda ini?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘aku kan sudah beli kuda itu, kita sudah setuju’.‘Arabi tu berkata, ‘aku tidak jadi menjual kuda ini pada kamu’. Dia telah nafikan kata-kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Arabi tu berkata, ‘kalau betul kata-kata kamu, bawakan saksi, tiada seorangpun yang melihat akad jual beli kita’. Satu orang sahabat, Hudzaimah bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, lewat di situ dan dia berkata aku bersedia jadi saksi. ‘Aku bersaksi bahwa baginda shallallahu ‘alaihi wasallam telah beli kuda kamu’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanya pada Hudzaimah radhiyallahu ‘anhu, ‘kenapa kamu berani jadi saksi atas perkara yang kamu tidak lihat’. Hudzaimah radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘wahai Rasulullah, engkau telah memberitahu kami mengenai syurga, neraka, mizan, mahsyar, kubur, kehidupan setelah mati, semua itu kami tidak nampak, tetapi kami yakin 100% apa yang telah nabi katakan. Apalagi perkara yang kecil semacam ini, kami pasti lebih percaya’. Begitu yakin para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan bahwa kekuatan saksi Hudzaimah sama dengan dua orang.
Inilah usaha yang kita harus buat. Jalan untuk dapat iman, yakin yang sempurna pada Allah dan Rasul. Pertama, hanya Allah yang berkuasa, hanya Allah yang buat segala-galanya. Kedua, caranya ialah cara Rasulullah. Tiada cara lain untuk kita ambil dari Allah hanya dengan cara perantaraan amal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hari ni, orang-orang Islam telah mengganggap bahwa cara untuk dapat khazanah Allah adalah dengan perantaraan asbab, dengan perantaraan makhluk, benda-benda dunia. Mereka jadikan warung dan toko mereka, ladang mereka, sebagai perantaraan untuk dapat dari Allah padahal dalam asbab, dalam benda-benda tidak ada janji Allah. Janji Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata di dalam amal dengan cara muhammadur rasulullah.
Allah subhanahu wa ta’ala telah ciptakan asbab untuk manusia sebagai imtihan, sebagai ujian bagi manusia. Allah subhanahu wa ta’ala hendak mengetahui hamba-hambanya, adakah mereka datang kepada Allah dulu atau pergi pada asbab dulu. Allah hendak melihat, bila kita ada masalah atau mengalami sesuatu keadaan maka kita pergi pada Allah, kita tawajjuh pada Allah dan kita gunakan cara yang Allah telah beri, cara yang mana ada janji Allah dengan perantaraan amal. Dengan perantaraan amal segala masalah kita akan diselesaikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau satu orang telah pergi pada asbab dulu, tidak pergi pada Allah subhanahu wa ta’ala terlebih dulu, maknanya dia telah utamakan asbab dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan selesaikan masalah dia.
Hari ini, orang Islam fikir, kita bisa buat asbab yang baik-baik, tanggungjawab untuk usaha atas asbab, yang sempurnakan Allah subhanahu wa ta’ala. Usaha atas toko, usaha atas ladang, usaha atas tambang dan kedepankan pada Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Aku sudah usaha, Engkau bagilah rezeki’. Itu bukan caranya. Caranya ialah dengan amal, dengan perantaraan shalat, perantaraan do’a, dengan perantaraan amal kita kedepankan pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka bantuan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang pada kita. Sebagaimana sahabat-sahabat, bila mereka menghadapi sesuatu keadaan, mereka akan kedepankan amal, mereka dahulukan amal daripada asbab. Hari ini kita buat asbab dahulu, bila asbab tidak berhasil, selepas itu baru minta dan memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sahabat pergi pada Allah subhanahu wa ta’ala dahulu. Dua keadaan berlaku, baik Allah subhanahu wa ta’ala beri bantuan pada mereka dengan amal mereka, tanpa perlu pergi pada asbab yaitu tanpa asbab Allah subhanahu wa ta’ala bantu mereka dan kadang-kadang Allah subhanahu wa ta’ala beri bantuan dengan perantaraan asbab. Sahabat buat amal dan juga asbab tetapi mereka dahulukan amal.
Perkara ini kita harus cerita lagi dan lagi. Bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada sahabat dan bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada nabi-nabi dan rasul-rasul. Ini bukan semata-mata sejarah. Hari ini kita baca, kita tulis kisah nabi sebagai satu sejarah sedangkan kisah nabi-nabi, kisah rasul, bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada nabi dan rasul, bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada sahabat, perkara ini dituntut untuk diceritakan lagi dan lagi untuk bentuk iman kita. Dalam Quran Allah subhanahu wa ta’ala cerita kisah nabi-nabi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman, ‘Kami ceritakan pada kamu kisah nabi-nabi dahulu yang akan memantapkan hati kamu’. Allah perintahkan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan pada sahabat. Perlu dibicara lagi dan lagi dalam dakwah kita supaya timbul dalam hati kita keyakinan pada bantuan Allah.
Hari ini orang berkata, mereka itu kan sahabat, mereka dapat bantuan karena mereka adalah sahabat nabi, sedangkan kita ini bukan sahabat, kita harus menggunakan asbab, kita harus usaha atas asbab. Sahabat dapat bantuan Allah subhanahu wa ta’ala karena amal yang diyakininya. Padahal janji bantuan Allah subhanahu wa ta’ala terbuka hingga hari kiamat. Bukan khusus untuk sahabat-sahabat saja. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Quran, ‘Kami pasti dan pasti akan bantu rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada hari akhirat’. Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji untuk bantu orang-orang yang beriman. Bantuan Allah subhanahu wa ta’ala bukan khusus untuk para sahabat saja. Janji Allah subhanahu wa ta’ala untuk setiap orang beriman hingga hari kiamat. Jika kita dapat wujudkan amal yang sama yang telah wujud dalam diri sahabat, kita juga akan dapat bantuan secara langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana sahabat-sahabat.
Dalam hadits diberitahukan, satu orang beriman hari ini sama dengan 10 orang sahabat dan ganjaran untuk satu orang beriman hari ini sama dengan 50 orang sahabat. Sahabat tanya, ‘adakah 50 orang dikalangan mereka?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘tidak, sama dengan 50 orang dikalangan kamu’.
Satu orang yang terima bantuan ghaib dari Allah subhanahu wa ta’ala di dunia, ini bukanlah maksud. Maksud amal ialah untuk dapat keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Tanda sempurna iman seseorang itu bukanlah sebab dia dapat bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, ‘apa tanda iman?’. Nabi tidak katakan tanda iman ialah bila seseorang itu dapat bantuan ghaib dari Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi katakan, tanda iman ialah bila buat amal baik, kamu rasanya gembira, dan bila buat amal yang buruk, kamu terasa sedih. Kita harus cerita tentang iman dan cerita tentang tanda-tanda iman.
Satu kumpulan sahabat telah datang jumpa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka katakan dalam diri mereka ada 15 sifat. 5 perkara yang kamu perintah kami beriman dengannya. 5 perkara yang kamu perintah kami beramal dengannya. 5 perkara yang telah ada dalam diri kami sejak zaman jahiliyah lagi.
5 perkara yang kamu perintah kami beriman:
1. beriman kepada Allah dan Rasul
2. beriman kepada malaikat
3. beriman kepada kitab-kitab
4. beriman kepada hari akhirat
5. beriman kepada takdir
5 perkara yang kamu perintah kami beramal:
1. kalimah laa ilaaha illallaah muhammadur rasulullah
2. shalat
3. zakat
4. puasa di bulan Ramadhan
5. haji
5 perkara yang harus ada dalam diri kami:
1. sabar ketika susah
2. syukur ketika senang
3. ridha dengan keputusan Allah
4. berani berhadapan dengan musuh
5. bila musuh ditimpa kesusahan, kami tidak gembira musibah yang menimpa mereka
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa mereka ini adalah orang-orang yang faqih. Faqih ialah orang yang mempunyai kefahaman yang sempurna tentang agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah iktiraf mereka sebagai fuqaha, udabaq. Maulana berkata, kalau kamu mahir dalam bahasa arab, namun kamu tidak akan mungkin sampai ke tahap kemahiran Abu Jahal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa mereka ini faqih, fuqaha, udabaq. Kalau pintu kenabian masih terbuka, mereka ini layak untuk jadi nabi karena ketinggian sifat yang mereka miliki. Ini sifat-sifat yang patut ada pada setiap orang beriman. Sifat orang beriman, sabar dan syukur. Keseluruhan sifat iman terkumpul dalam 2 perkara ini. Satu orang yang mempunyai sifat sabar dan syukur yang sempurna pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia ialah seorang yang mempunyai iman yang sempurna pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ini tanda iman.
Hari ini kita faham bahwa sabar itu ialah bila satu orang dipukul, dia tahan atas pukulan tersebut, maka dia orang yang sabar. Satu orang yang dapat nikmat, dapat kesenangan maka dia katakan dia bersyukur pada Allah subhanahu wa ta’ala. Keduanya ini bukan syukur dan bukan sabar. Sabar adalah kita menahan diri kita daripada perkara-perkara yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan syukur adalah kita menggunakan diri kita menurut perintah/kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.
Walaupun tiada makanan untuk dimakan, tiada pakaian untuk dipakai, tiada duit untuk dibelanjakan, dia boleh jadi seorang yang bersyukur pada Allah subhanahu wa ta’ala, ketika dia menggunakan apa yang ada menurut kehendak dan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah bukan balasan bagi nikmat. Satu orang yang dapat nikmat, sebagai balasan, dia beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala.
Iman adalah taat. Tanda iman dalam diri seseorang ialah dia ada sifat taat pada perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau seseorang itu, seumur hidup taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, walaupun tidak ada sesuap makanan, tidak ada seteguk air pun, dan Allah tidak memberi berbagai nikmat pun pada dia, maka diapun tetap harus beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala. Nikmat-nikmat dunia bukanlah balasan bagi ibadah, karena dunia ini begitu hina disisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dunia tidak layak jadi balasan untuk ibadah.
Satu orang yang telah mati, minta izin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk kembali ke dunia untuk bisa mengucapkan satu subhanallah. Dia sanggup untuk mengorbankan harta seluruh dunia untuk kembali dan buat satu amal, namun Allah subhanahu wa ta’ala tidak terima. Ini menunjukkan seluruh dunia ini tidak ada nilai dibandingkan dengan satu subhanallah. Kalau seluruh manusia, semua taat perintah Allah subhanahu wa ta’ala, beriman pada Allah subhanahu wa ta’ala, beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberi apapun balasan di dunia, itu merupakan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau seluruh manusia beribadah dan Allah subhanahu wa ta’ala masukkan semua ke dalam neraka, itu pun hak Allah subhanahu wa ta’ala. Tiada siapa pun ada hak untuk bertanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘kenapa demikian?’ Ibadah adalah semata-mata hak mutlak Allah subhanahu wa ta’ala dan setiap hamba Allah harus beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Apa yang kita fahami ialah bila kita ditimpa musibah kita hendaklah bersabar, nanti bantuan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang. Seandainya bantuan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan datang, keadaan tidak akan berubah melainkan dalam diri kita harus bersabar dan bertaqwa. Kedua sifat ini harus ada serentak. Kalau cuma hanya ada sabar, taqwa tidak ada, maka musibah yang datang disebabkan dosa-dosa yang kita telah lakukan, kesusahan tersebut tidak akan terangkat semata-mata hanya dengan bersabar. Sabar harus datang dengan taqwa. Dalam Quran, Allah sebut sabar dan taqwa sekali. Kedua sifat harus ada dalam diri, barulah bantuan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang dan Allah subhanahu wa ta’ala akan ubah keadaan.
Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaihmemberikanpemisalan, satu orang sabar tanpa taqwa, seperti seorang pencuri yang ditangkap polisi. Polisi pukul dia. Dia do’a agar polisi tersebut diazab oleh Allah. Azab Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan turun pada polisi itu. Kenapa? Karena pencuri tidak ada taqwa. Dia cuma sabar saja. Allah subhanahu wa ta’ala tidak terima doa buruk dia pada polisi. Untuk dapat bantuan Allah subhanahu wa ta’ala, untuk Allah subhanahu wa ta’ala ubah keadaan yang menimpa orang Islam harus ada sifat sabar dan taqwa.
Dalam Quran, Allah subhanahu wa ta’ala cerita kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Seluruh kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam berkisar pada kedua sifat yaitu sabar dan taqwa. Allah subhanahu wa ta’ala telah ubah keadaan beliau dan keluarkan beliau dari segala masalah. Begitu juga dengan bani Israil dan Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala telah keluarkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan bani Israil dari cengkaman Fir’aun dan Allah subhanahu wa ta’ala binasakan Fir’aun. Orang Islam do’a laknat atau keburukan bagi banyak musuhnya, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengubah keadaan, bantuan Allah subhanahu wa ta’ala tidak datang, musibah tidak hilang, hal ini karena sabar dan taqwa tidak ada dalam diri orang Islam.
Orang Islam amalkan agama tetapi masih gagal. Dua sebab kegagalan, adalah :
Pertama, karena orang Islam tidak ada keyakinan bahwa kejayaan dalam agama.
Kedua, karena mengganggap bahwa beberapa amal yang dia telah lakukan itu adalah agama.
Agama adalah himpunan keseluruhan amal. Ibadah adalah satu himpunan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Mentaati segala hukum-hukum tersebut disebut ibadah. Maulana Zakariyya rahmatullah ‘alaih berkata bahwa ibadah ada 10 perkara. Shalat, puasa, zakat, haji, zikir, tilawah, tijarah, dakwah, ihtimam (ambil berat) akan sunnah dan tunaikan hak-hak tetangga. Satu orang yang hendak dapat kejayaan harus amalkan agama yang sempurna dalam kehidupan. Dari segi dunia, bila asbab tidak sempurna maka tidak akan memberikan hasil seperti yang dikehendaki. Sedangkan dia itu, tidak ada janji Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau lengkap pun masih tidak ada janji Allah subhanahu wa ta’ala.
Adakah dengan agama yang tidak sempurna kita bisa dapat kejayaan? Untuk dapat kejayaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, pertama harus ada keyakinan bahwa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Kedua, kita harus amalkan agama yang sempurna dalam kehidupan. Oleh karena itu, usaha dakwah yang kita buat hari ini adalah dakwah kepada agama yang sempurna. ‘Deen yang kamil’, dengan membawa agama yang sempurna dalam kehidupan.
Usaha kita bukan bicara saja. Bahkan kita harus tunjukkan, musyahadahkan agama yang sempurna dalam diri kepada manusia. Ini yang terjadi pada sahabat-sahabat. Sahabat pergi ke seluruh dunia, mereka membawa agama yang sempurna secara amali dalam kehidupan mereka. Seorang sahabat sudah cukup untuk mendatangkan hidayah untuk satu negara. Hari ini, banyak jamaah bergerak ke seluruh dunia tetapi masih belum cukup untuk mendatangkan hidayah ke seluruh dunia. Kenapa? Kita harus bergerak dengan membawa agama yang sempurna dalam diri. Bukan hanya bicara tentang iman, bukan hanya dakwah dengan perbicaraan, bahkan kita juga harus dakwah dengan amalan. Sahabat-sahabat bergerak dengan membawa agama yang sempurna dalam kehidupan dan jadi asbab hidayah untuk seluruh dunia. Kita harus buat usaha dengan penuh yakin, tarbiyah/ tazkiah (bersih) untuk diri dan hidayah untuk seluruh alam. Hidayah seluruh alam adalah pasti, bila buat usaha yang telah dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Dengan usaha dakwah, Allah subhanahu wa ta’ala akan ubah yakin dan keadaan.
Allah subhanahu wa ta’ala telah jelaskan dalam Quran, tentang suatu kaum yang mana Allah subhanahu wa ta’ala telah buat keputusan untuk dibinasakan sebab maksiat yang mereka telah buat. Satu golongan mencoba untuk menasihatkan mereka supaya mereka berhenti daripada maksiat. Satu golongan orang-orang shaleh yang tidak buat maksiat telah tegur orang yang mencoba hendak mengubah tadi. Apa faedah yang kamu dapat bila memberi nasihat pada mereka, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah buat keputusan untuk binasakan mereka. Golongan yang buat usaha tadi jawab, pertama, supaya kami tunaikan tanggungjawab kami pada Allah. Kedua, moga-moga mereka akan bertaqwa dan tinggalkan maksiat tersebut. Kaum yang Allah telah buat keputusan pun diharap mereka bisa berubah, apabila mereka didakwahi. Kita harus yakin dengan perantaraan dakwah Allah akan ubah yakin dan ubah keadaan. Kaum yang telah diberi peringatan, mereka masih dalam maksiat, Kami telah selamatkan mereka yang telah beri peringatan tadi.
Satu orang yang buat dakwah dengan yakin, pasti dia akan selamat dari azab Allah. Kalau tidak, bila Allah subhanahu wa ta’ala turunkan azab, semua akan kena, orang shaleh yang tidak buat maksiat pun akan ditimpa azab. Hanya mereka yang telah berusaha bersungguh-sungguh dengan berbagai upaya mereka, untuk mengubah keadaan tadi, mereka akan diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hadits, ibarat dalam kapal. Satu orang membuat lubang. Yang akan binasa, bukan orang yang membuat lubang saja, bahkan seluruh penghuni kapal akan tenggelam. Ahli ibadah, ahli zikir, orang shaleh, orang maksiat, semuanya akan tenggelam bersama dengan orang yang melubangi kapal tadi. Kecuali ada orang yang mau melarang dan mencegah. Orang yang telah berusaha untuk mencegah daripada membuat lubang.
Masalah di depan kita bukan hanya masalah diri kita saja. Masalah hari ini adalah masalah seluruh alam, seluruh manusia. Kita dipertanggungjawabkan untuk seluruh manusia di seluruh dunia. Allah subhanahu wa ta’ala akan ambil kerja dari mereka yang dalam hati dia ada fikir, bagaimana agama yang sempurna dapat datang dalam diri saya dan diri seluruh umat di seluruh alam. Bagaimana agama dapat diamalkan 100% di seluruh dunia. Ini tanggungjawab kita. Satu orang yang buat maksiat, kalau kita tidak usaha atas dia, maka dia akan jadi asbab turunnya azab Allah dan semua akan binasa.
Kita harus yakin dengan usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang akan dapat hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di jalan yang lurus dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bawa manusia ke jalan yang lurus. Satu orang yang berada di jalan yang lurus, maka dia akan dapat Allah.
Satu orang sahabat telah dakwah pada satu kaum dia, dari pagi hingga petang, akhirnya seluruh kaum dia telah masuk Islam. Bila orang kafir didakwahkan dan kesannya dia masuk Islam, apalagi orang Islam sendiri yang didakwahkan kepada Islam. Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam telah jadikan setiap orang sahabat sebagai da’i. Jin-jin juga telah beriman kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka juga dijadikan da’i. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk manusia dan jin. Satu kumpulan jin telah mendengar bacaan Quran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka telah beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kembali kepada kaum mereka dan dakwah kaum mereka masuk Islam. ‘Sahutlah seruan nabi yang telah dihantar oleh Allah subhanahu wa ta’ala’. Jin-jin juga telah buat kerja dakwah.
Setiap sahabat adalah da’i, baik dari golongan mana saja, kabilah mana saja, kulit putih, kulit hitam, negara mana saja, siapa saja tanpa pengecualian, setiap orang adalah da’i. Secara ummumi, setiap orang terlibat dalam dakwah. Kerja dakwah bukan untuk orang tertentu saja. Kerja dakwah adalah kerja setiap umat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanggungjawab untuk buat kerja dakwah. Inilah kerja umat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap lapisan umat perlu dibangunkan atas kerja dakwah. Bila tidak ada ummumiat dalam usaha dakwah, telah menjadi sebab utama terjadi kemurtadan dalam umat ini.
Bila usaha dakwah dibuat secara ummumiat maka pintu untuk orang masuk Islam akan terbuka luas dan pintu untuk orang Islam keluar dari Islam akan tertutup rapat. Bila kerja dakwah tidak dibuat, pintu untuk orang masuk Islam telah ditutup dan pintu untuk orang Islam keluar dari Islam telah dibuka. Maulana Yusuf pesan agar mau membaca kitab hayatus sahabah. Jadikan kitab ini senantiasa kita untuk menelaah, khususnya untuk orang yang buat usaha ini.Apakah bentuk/cara usaha yang sahabat-sahabat telah buat dan umat nabi harus ikut. Bila baca kitab hayatus sahabah akan terbentuk mizaj seorang da’i. Fikir, sifat, tabiat sebagai seorang da’i.
Dalam hayatus sahabah ada satu kisah bagaimana Ikrimah bin Abu Jahal. Ikrimah ialah anaknya Abu Jahal. Abu Jahal musuh Islam yang besar. Anaknya telah masuk Islam dan menjadi pejuang Islam dan telah korbankan nyawa untuk Islam. Bagaimana perkara seperti ini boleh terjadi? Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapat tawanan kota Mekkah, Ikrimah telah lari keluar dari Mekkah. Dia telah naik sampan menuju ke arah Yaman. Ditengah laut, datang ribut taufan. Sampan hendak tenggelam. Dia katakan pada pembawa sampan, apakah cara untuk selamat? Pembawa sampan tadi tidak tanya kamu pandai berenang atau tidak. Dia katakan, kalau kamu ingin selamat kamu harus ucap kalimah ikhlas. Dakwah telah jadi ummumiat di zaman nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pembawa sampan pun buat dakwah. Dalam keadaan genting macam itu pun dia buat dakwah. Ikrimah Tanya apa itu kalimah ikhlas? Dia jawab, laa ilaaha illallaah. Ikrimah berkata karena hendak lari dari kalimah itulah aku datang sini. Aku hendak lari ke Yaman sebab aku hendak lari dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ditepi pantai, isteri dia memberi isyarat supaya dia kembali. Kisah yang panjang, akhirnya Ikrimah telah masuk Islam. Bila dakwah telah dijalankan secara umum, orang yang hendak lari dari Islam, jalan telah ditutup, dia terpaksa masuk Islam. Hari ini dakwah tidak dijalankan secara umum. Kita anggap kerja dakwah ini kerja golongan orang tertentu saja. Bila hilang ummumiat dalam usaha dakwah, pintu kemurtadan telah terbuka luas. Kita harus usahakan setiap umat atas kerja dakwah.
Kita mengganggap usaha yang dibuat sekarang ini berlainan dengan usaha yang dibuat oleh sahabat. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkali-kali katakan, inilah usaha yang sahabat telah buat. Usaha yang sama, kerja yang sama. Selagi kita tidak yakin ini adalah usaha yang telah dibuat oleh sahabat-sahabat, maka sejauh itulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan datangkan kesan, sebagaimana kesan yang Allah subhanahu wa ta’ala telah datangkan pada sahabat. Bantuan, ganjaran, nusrah, pahala, fadhilat, kelebihan yang sahabat dapat, kita tidak akan dapat selagi kita anggap usaha yang kita buat tidak sama sebagaimana usaha yang sahabat telah buat. Kita harus meletakkankan kelebihan/ganjaran yang Allah subhanahu wa ta’ala telah janjikan di depan kita. Maulana katakan kita harus selalu baca kitab hayatus sahabah. Kita buat usaha dengan yakin pada janji-janji tersebut. Kalau tidak, usaha yang kita buat akan jadi semacam satu gerakan, satu persatuan saja yang tidak mendatangkan perubahan pada umat, tidak akan mendatangkan kesan apa-apa. Kita harus buat usaha dengan penuh yakin. Inilah kerja yang telah dibuat oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Segala bantuan yang sahabat dapat, kita pun akan dapat bila kita buat usaha ini.
Matlamat usaha ini bukan untuk bawa umat kepada amal infiradi, yaitu ibadah, tetapi untuk membawa umat kepada kerja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana seluruh ummat Islam ambil bagian dalam kerja dakwah dan dakwah dijadikan sebagai maksud hidupnya. Sepagi atau sepetang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sepagi di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, akan mendahului selama 500 tahun. Kapan saja, bila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sahabat telah menumpukan pada amal infiradi yang menyebabkan dia menangguhkan untuk keluar di jalan Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan terus menerangkan pada sahabat tentang kelebihan keluar di jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatasi amal infiradi.
Abdullah Rawahah radhiyallahu ‘anhu telah diputuskan untuk keluar di jalan Allah bersama dengan jamaah. Jamaah telah keluar diawal pagi, sedangkan dia telah menangguhkan keluar, karena hendak melaksanakan kelebihan shalat Jum’at di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia fikir dia ada kuda yang cepat dan bisa mengejar jamaah. Selepas shalat Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapati Abdullah Rawahah radhiyallahu ‘anhu masih ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panggil dia. ‘Kenapa tidak berangkat keluar?’ Abdullah Rawahah radhiyallahu ‘anhu menangguhkan keluar di jalan Allah, bukan sebab kerja dunia. Dia  terlewat keluar di jalan Allah sebab agama, sebab hendak shalat Jum’at dibelakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanya, ‘berapa lama kamu terlewat? ’Dia jawab, ‘sepagi’. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan, ‘kamu tahu tidak, berapa banyak mereka telah mendahului kamu? ’Dari segi masa, mereka telah mendahului kamu selama 500 tahun dan dari segi jarak, mereka telah mendahului kamu sejauh masyrik dan maghrib (timur dan barat).
Maulana tidak faham, hari ini bila kita dengar hadits kelebihan keluar di jalan Allah, kita anggap kelebihan ini untuk satu perkara yang khusus, yaitu berperang. Berperang bukan maksud karena tidak ada seorang nabi yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membinasakan manusia. Nabi-nabi dihantar oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk jadi asbab hidayah, agar umatnya mengamalkan perintah Allah. Nabi berpesan, dakwah dahulu selama 3 hari, bila mereka masuk Islam itu lebih baik untuk kamu dari unta-unta merah. Bila satu orang masuk Islam, sahabat akan takbir dengan kuat sekali mengatasi kegembiraan mereka dapat menawan satu negara. Maksud berjihad bukan untuk berperang, tetapi atas maksud kerja dakwah untuk mengajak manusia pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Hari ini orang anggap kerja dakwah ini adalah salah satu daripada amal-amal baik. Pemahaman seperti ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah hapus. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Abdullah Rahawah radhiyallahu ‘anhu, “kalau kamu menginfakkan harta seluruh dunia pun kamu tidak dapat mengejar mereka, yaitu saudara kaum muslimin yang telah berangkat ½ hari sebelum kamu.” Kita fikir, bagaimana kalau kita tidak keluar di jalan Allah bisa menandingi dengan saudara kita tang keluar di jalan Allah. Berapa selisih waktu dan jarak untuk bisa memasuki syurganya Allah. Subhanallah!! Sungguh sangat jauh. Karena itu, kerja dakwah ini mengatasi segala kerja-kerja amal yang lain. Kita harus ada yakin bahwa kita akan dapat ganjaran dan kelebihan yang sama sebagaimana sahabat-sahabat telah dapat. Kalau tidak ada yakin, kita tidak akan dapat kesan yang sama.
Tuan-tuan fikir, apa yang tuan-tuan patut buat, bangun dan bagi nama untuk keluar dijalan Allah, 4 bulan dan untuk ulama’ 1 tahun. Insya Allah………………………..! Semua bersedia.

Minggu, 26 Juli 2015

220. RIWAYAT ISRAILIYYAT MENURUT PERSPEKTIF ISLAM




Kita sering mendengar secara bebas kisah-kisah Israiliyat di dalam ceramah-ceramah atau pengajian yang ada di masjid atau mushalla. Ada kalanya perkara tersebut di luar pengetahuan kita, bahkan ketika mendengar pertama kalinya terasa seolah tidak masuk akal dengan kisah yang diceritakan. Namun, bagaimanakah pandangan Ulama Islam terhadap kisah-kisah ini? Adakah para ulama’ terdahulu menolak untuk menerima cerita Israiliyyat?
Asal Kalimah
1. إسرائيليات – kata jama’ kepada kalimah إسرائيليةyang dinisbahkan kepada Bani Israel. Sebenarnya yang dimaksud dengan Israel ialah Nabi Ya’kub ‘alaihis salam, dan Bani Israel ialah anak-anak serta keturunannya hingga zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Maryam ayat 58 : 58.
أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَـٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“Mereka itulah sebahagian dari Nabi-nabi Yang telah dikurniakan Allah nikmat Yang melimpah-limpah kepada mereka dari keturunan Nabi Adam, dan dari keturunan orang-orang Yang Kami bawa (dalam bahtera) bersama-sama Nabi Nuh, dan dari keturunan Nabi Ibrahim, dan (dari keturunan) Israil- dan mereka itu adalah dari orang-orang Yang Kami beri hidayah petunjuk dan Kami pilih. apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Ar-Rahman, mereka segera sujud serta menangis.”
Sejak dahulu, mereka dikenali dengan nama Yahudi di samping golongan Nasrani yang beriman dengan Nabi Isa ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan pada beberapa tempat berkenaan dengan Bani Israel sebagai tanda sifat kebaikan yang ada pada Nabi Ya’kub ‘alaihis salam sehingga keturunannya akan mengikuti jejak langkah yang telah ditinggalkan serta meninggalkan perbuatan yang keji dan tercela.
2. Ada sesetengah pendapat menyatakan bahwa Israiliyyat membawa beberapa maksud :
• Cerita-cerita terdahulu dan riwayat yang banyak bersumberkan daripada golongan Yahudi dan Nasrani.
• Riwayat yang disampaikan oleh perempuan Yahudi atau Nasrani.
• Perkara yang masuk ke dalam kitab karangan ulama’ silam atau terdahulu, terutamanya dalam bidang tafsir yang mempunyai silsilah jalur riwayat baik dari orang Yahudi atau Nasrani. Adapun riwayat yang tiada asalnya dan tergantung atau berdiri sendiri maka ia dianggap sebagai khurafat, atau kisah-kisah palsu.
Namun, berdasarkan pengertian ini kita melihat riwayat Israiliyyat banyak mengambil sumber daripada Yahudi disebabkan banyaknya bilangan mereka di Tanah Arab dibandingkan masyarakat Nasrani. Kemudian setelah beberapa orang dari kalangan mereka memeluk agama Islam, dan meriwayatkan kisah-kisah yang terdapat dalam agama lama mereka kepada kaum muslimin.
Sejarah Ringkas Kemunculan Israiliyyat
Pada tahun 70M, masyarakat Yahudi datang ke Tanah Arab melarikan diri dari Syam setelah musnahnya Haikal dan menetap di kawasan Yastrib, Taima’, Himyar, dan Wadi Al-Qura’. Tetapi orang Arab hanya mengetahui tentang agama Yahudi ini setelah suatu waktu ketika masyarakat Yaman memeluk agama ini hasil dakwah Tubba’ (seorang raja Yaman yang ingin menyerang Makkah - Madinah sebelum Islam tetapi kemudian tidak jadi, baca juga dalam blog ini kisah tentang Raja Tubba’) yang membawa bersamanya dua orang pendeta yang menyebarkan ajarannya di sana.
Berbeda dengan keadaan orang Nasrani yang sering ditindas oleh berbagai golongan seperti penyembah berhala, kaum Yahudi dan kerajaan Byzantine. Kesannya, mereka lari ke Tanah Arab karena ingin menjauhkan diri dari penindasan yang disebabkan perbedaan agama ini. Dakwah Nasrani di tempat baru mereka telah membuahkan hasil ketika beberapa orang telah memeluk ajarannya seperti Waraqah bin Naufal, Imruul Qais, kabilah Ghassan, dan sebagainya.
Dengan adanya dua masyarakat besar ini yang menjadi nama agama mereka yaitu Yahudi dan Nasrani, yang dikenal juga dengan Ahli Kitab, memberikan dampak yang besar pada kehidupan masyarakat Arab. Selain itu, aktivitas perniagaan juga sedikit banyak membuka peluang kepada masyarakat Arab dalam mengenali dua agama ini. Setelah kedatangan Islam, telah terjadi dialog dan pembahasan antara kaum Muslimin dan Ahli Kitab seperti yang banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Akibatnya, banyak di kalangan mereka yang memeluk agama Islam setelah jelas dan nyata di hadapan mereka bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah agama yang benar. Namun, ada yang baik Islamnya sedangkan sebagian yang lain menjadi munafiq, sebagai dalang bagi kaum Yahudi dan musyrikin dalam menghancurkan Islam dari dalam.
Perselisihan antara dua kelompok ini (Muslimin dan Ahli Kitab) tidak terhenti sampai pembahasan atau dialog biasa. Pernah terjadi dialog antara Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu bersama dengan pendeta, kisah seorang muslim memukul seorang Yahudi setelah Yahudi tersebut mengatakan : Tidak, sebenarnya Nabi Musa adalah manusia pilihan sekalian alam, dan berbagai permasalahan yang menunjukkan perselisihan pendapat di kalangan mereka. Tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu itu berperanan sebagai orang tengah yang menjelaskan keadaan yang sebenarnya terhadap kesalahfahaman yang terjadi antara dua golongan ini. Perkara ini berterusan sampai zaman para sahabat ketika mereka bertindak sebagai pihak rujukan masyarakat pada ketika itu setelah wafatnya baginda shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pada zaman tabiin, pendustaan dan pemalsuan banyak terjadi karena menuruti hawa nafsu sehingga menyebabkan manusia tidak dapat membedakan antara suatu yang baik dan buruk. Ada di kalangan para tabiin (asal Yahudi atau Nasrani yang memeluk agama Islam) mengambil sikap sangat mempermudah dalam meriwayatkan sesuatu, sehingga bukan kisah Israiliyyat saja yang diriwayatkan, bahkan khurafat dan dongeng yang tidak mempunyai dasar atau sandaran. Faktor lain yang membantu penyebaran ini ialah dakwaan mereka yang mengatakan para sahabat dan tabiin berkeinginan untuk mengetahui semua perkara dari kisah ummat dan para nabi terdahulu yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnu Khaldun rahmatullah ‘alaih menyebutkan dalam kitabnya, “Muqaddimah Ibnu Khaldun” bahwa penyebaran Israiliyyat ini adalah disebabkan dua perkara :
1. Keadaan masyarakat Arab pada waktu itu yang buta huruf.
2. Sifat manusia yang ingin mengetahui semua perkara.
Di samping itu, kisah-kisah ini tidak ada kaitannya dengan hukum-hakum (hukum fiqih) yang seterusnya menyebabkan ia terus ditulis dan diceritakan kepada orang banyak.
Pembagian Israiliyyat
Para ulama’ telah membagi Israiliyyat kepada tiga bagian yaitu :
1. Bagian yang selaras dengan syariat dan Al-Quran; seperti kisah Al-Jassasah yang diceritakan oleh Tamim Ad-Dariy dan diakui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (hadith dalam Sahih Muslim, kitab Fitnah, bab Kisah Al-Jassasah). Antara lain ialah kisah Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Nabi Khidir, kisah Juraij seorang ‘abid dan sebagainya yang turut diceritakan di dalam Al-Quran dan hadith Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kisah-kisah yang seperti ini berfungsi sebagai sokongan atau penguat kepada apa yang telah disebutkan oleh keduanya.
2. Bagian yang bertentangan dengan syariat dan Al-Quran : seperti mencemarkan sifat atau muruah kenabian dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam ketika menyebutkan bahwa baginda Yusuf ‘alaihis salam yang berkeinginan atau ada hasrat pada isteri pembesar Al-Aziz, kisah nabi Daud ‘alaihis salam dan sebagainya yang mengaitkan para nabi dengan dosa syirik, zina dan sebagainya. Dalam hadith Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَكِتَابُكُمْ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْدَثُ تَقْرَءُونَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوا كِتَابَ اللَّهِ وَغَيَّرُوهُ وَكَتَبُوا بِأَيْدِيهِمْ الْكِتَابَ وَقَالُوا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أَلَا يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنْ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلًا يَسْأَلُكُمْ عَنْ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ
“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ibn Syihab dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bahwa Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab padahal kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih baru kemurniannya dan belum terkotori? Sedang ahlu kitab menceritakan kepada kalian dengan mengubah-ubah kitabullah dan menggantinya, dan mereka tulis alkitab dengan tangannya dan mereka katakan, ‘Ini dari sisi Allah’ untuk mereka tukar dengan harga yang sedikit, tidak sebaiknya ilmu yang yang kalian miliki mencegah kalian dari bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah, takkan kulihat lagi seseorang diantara mereka bertanya kalian tentang yang diturunkan kepada kalian.” (Hadits ke-6815 riwayat Imam Bukhari)
Abdullah bin Mas’ud ‘alaihis salam pernah menyatakan : (Janganlah kamu bertanya kepada Ahli Kitab karena mereka tidak memberikan petunjuk kepada kebenaran bahkan menyesatkan kamu. Maka, kamu akan mendustakan yang benar dan membenarkan yang bathil).
3. Bagian yang tidak terdapat dalam syariat dan Al-Quran, baik selaras atau bertentangan : bagian ini paling banyak didapati pada zaman sekarang namun tiada larangan padanya dan tidak juga mendustakannya. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan :
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ الْآيَةَ
“Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Ali bin Al Mubarak dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata, ‘Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa arab untuk pemeluk Islam! Spontan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian benarkan ahli kitab, dan jangan pula kalian mendustakannya, dan katakan saja ‘(Kami beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu) ‘.” (Hadits ke-6814 riwayat Imam Bukhari).
Contoh kisah pada bagian ini termasuk nama Ashabul Kahfi dan bilangan mereka, kisah burung dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, pohon yang dimakan oleh Nabi Adam ‘alaihis salam dan sebagainya. Para ulama’ mengatakan kebanyakan kisah bagian ini adalah khurafat dan dongeng dengan dosa menyebarkannya lebih besar daripada manfaat yang ada padanya. Hal ini karena, suatu kitab tafsir contohnya akan bertukar kepada kitab lain yang penuh dengan cerita yang tidak boleh diterima akal dan syara’ karena ia merupakan khayalan dan rekaan pendeta terdahulu yang disebarkan karena ingin menjauhkan masyarakat Yahudi daripada kitab Taurat yang asli. Bukan itu saja, perbuatan ini juga kadang-kadang bertujuan memberikan khidmat kepada raja dan pembesar pada waktu itu.
Pendirian Ulama’ Tentang Israiliyyat
Sejak zaman dahulu berbagai usaha telah dilakukan oleh para ulama’ dalam membersihkan kisah Israiliyyat yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. Namun, usaha ini amat susah dan memerlukan kepada kesungguhan dan dilakukan dalam tempo yang berkepanjangan. Tanpa disadari, kisah-kisah ini mudah disebarkan kepada masyarakat awam tanpa pengawasan, yang menyebabkan ia terus diwarisi dari satu generasi ke generasi yang lain. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan :
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار
“Telah bercerita kepada kami Abu ‘Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy telah bercerita kepada kami Hassan bin ‘Athiyyah dari Abi Kabsyah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa-apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”.Imam Malik rahmatullah ‘alaih menyebutkan : Maksud hadits ialah dibenarkan meriwayatkan daripada mereka selagi dia adalah perkara kebaikan. Adapun pada perkara yang diketahui bahwa ia adalah dusta maka ia dilarang.” (Hadits ke-3202 riwayat Imam Bukhari)
• Imam As-Syafie rahmatullah ‘alaih mengatakan : “Bahwa baginda shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbicara dusta, jadi maksud hadits ialah – ceritakanlah daripada Bani Israel pada perkara yang kamu tidak ketahui bahwa ia adalah dusta. Adapun perkara yang dibenarkan maka tidak menjadi suatu dosa kepada kamu untuk meriwayatkannya.” Inilah maksud dari hadits baginda shallallahu ‘alaihi wasallam :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْمَرْوَزِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي نَمْلَةَ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ مُرَّ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَتَكَلَّمُ هَذِهِ الْجَنَازَةُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَعْلَمُ فَقَالَ الْيَهُودِيُّ إِنَّهَا تَتَكَلَّمُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ فَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُ وَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Tsabit Al Marwazi telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Namlah Al Anshari dari Ayahnya bahwa ketika ia sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu di sisi beliau ada seorang Yahudi, lewatnya jenazah di hadapan beliau. Lalu orang Yahudi itu berkata, “Wahai Muhammad, apakah jenazah ini berbicara?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab: “Allah lebih mengetahui.” Orang Yahudi itu pun berkata, “Sesungguhnya jenazah tersebut berbicara.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang diceritakan oleh orang-orang ahli kitab kepada kalian maka janganlah kalian percayai atau kalian dustakan. Tetapi katakanlah, ‘aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya’. Jika mereka dusta maka kalian tidak mempercayainya dan jika benar maka kalian tidak mendustakannya.” (Hadits ke-3159 riwayat Imam Abu Daud).
Yang tidak menyebutkan keizinan dan larangan ketika meriwayatkan kepada perkara yang dipastikan kebenarannya.
• Imam Ibnu Hajar rahmatullah ‘alaih mengatakan : (ولا حرج yaitu janganlah menyempitkan dada kamu dengan apa yang kamu dengar daripada perkara yang mengagumkan dan itu yang banyak berlaku kepada mereka. Apa yang dimaksudkan dengan jangan bersusah-payah ialah pada pihak yang menceritakan kisah Israiliyyat disebabkan di dalamnya terdapat perkataan yang tidak baik seperti dalam surah Al-Maidah ayat 24 :
قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
“Mereka (Menolak dengan) berkata: “Wahai Musa, Sesungguhnya Kami tidak akan memasuki negeri itu selama-lamanya selagi kaum itu masih berada di dalamnya; oleh itu pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan perangilah mereka. sebenarnya Kami di sinilah duduk menunggu”. (QS. Al Maidah : 24)
Dan surah Al-A’raf ayat 138 :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami bawakan Bani Israil ke sebarang laut (Merah) itu lalu mereka sampai kepada suatu kaum Yang sedang menyembah berhala-berhalanya. (Melihat perkara yang demikian) mereka (Bani Israil) berkata: “Wahai Musa buatlah untuk Kami suatu Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan”. Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum Yang jahil.” (QS. Al A’raf : 138)
Pendapat Ibnu Hajar Asqalani rahmatullah ‘alaih ini merupakan pemahaman yang baik dalam memahami maksud hadits karena ada beberapa perkataan dan ungkapan dalam kisah Israiliyyat yang bisa membawa kepada kekufuran. Tetapi, ia hanya diceritakan sebagai suatu peringatan dan manfaat bersama.
Adapun hadits ke-3159 riwayat Imam Abu Daud di atas, ia ditujukan kepada mereka bukannya kita, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyuruh di dalamnya supaya meriwayatkan sesuatu daripada Ahli Kitab, bahkan seolah-olah beliau mengajar kepada umat Islam supaya beradab ketika berbicara dengan mereka sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surah Al-’Ankabut ayat 46 :
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu berdebat Dengan ahli Kitab melainkan Dengan cara Yang lebih baik, kecuali orang-orang Yang berlaku zalim di antara mereka; dan Katakanlah (kepada mereka): “Kami beriman kepada (Al-Quran) Yang diturunkan kepada Kami dan kepada (Taurat dan Injil) Yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah satu; dan kepadaNyalah, Kami patuh Dengan berserah diri.” (QS. Al ‘Ankabut : 46)
• Imam Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaih menyebutkan dalam kitab “Ma’arij Al-Ushul” : (Al-Quran adalah sendiri pada zatnya, dan orang yang membaca Al-Quran tidak berhajat kepada kitab-kitab terdahulu yang menjelaskannya. Berbeda dengan orang Nasrani contohnya, mereka memerlukan kepada kitab Taurat untuk memahami hukum-hukum dalam agama mereka). Kemudian beliau berkata lagi : (tetapi hadits-hadits yang menceritakan tentang Israiliyyat ini disebutkan untuk memberikan sokongan bukannya sebagai suatu pegangan).
Kesimpulan :
Berdasarkan pendapat para Imam yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan seperti berikut :
1. Boleh meriwayatkan kisah Israiliyyat yang sesuai dengan syariat Islam dan hanya sebagai penguat/sampingan bukan pokok/pegangan.
2. Boleh meriwayatkan kisah pada bagian ketiga – yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah – hanya sebagai i’tibar seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaih.
3. Tidak boleh meriwayatkannya pada perkara yang bertentangan dengan ajaran agama – bagian yang kedua – melainkan perlu diingkari dan dijelaskan kesalahannya.
Rujukan :
1. Al-Quran Al-Karim.
2. Sahih Al-Bukhari, karangan Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mughirah Ibn Bardizbah al-Bukhari.
3. Sahih Muslim, karangan Abul Husayn Muslim ibn al-Hajjaj Qushayri al-Nisaburi.
4. Al-Israiliyyat Wal Maudhu’at Fi Kutub At-Tafsir, karangan Dr. Muhammad bin Abu Syahbah.
5. Al-Israiliyyat Wal Maudhu’at Wa Bida’ At-Tafasir Qadiman Wa Haditsan, karangan Hamid Ahmad At-Tahir Al-Basyuni.