Pages

Rabu, 16 Mei 2012

7. KEPUTUSAN MUSYAWARAH INDONESIA

Ba’da Dzuhur, 4 Oktober 2011
Arahan masyaikh adalah amanah yang mesti kita jalankan. Arahan ini merupakan kelanjutan dari arahan sebelumnya. Jika ada yang sama maka itu merupakan penekanan, jika beda merupakan pergantian, dan jika belum ada sebelumnya merupakan menyempurnaan.
Azas kerja : Praktek dalam dakwah bukan bayan dan mudzakarah.
Tertib mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:
1.    Umumiyyat : Jangan berdakwah kepada golongan tertentu saja. Jangan membeda-bedakan orang Islam. Utamakan dakwah kepada orang miskin dan ini merupakan sarana mendekati Allah.
2.    Sabar dan Tahammul : Membalas keburukan dengan kebaikan.
3.    Ijtima’iyyah : Berdakwah dengan kelembutan. Jika ada orang kasar kepada kita maka dimaafkan dan didoakan.

Amal Maqomi
Kepada penanggungjawab agar bertugas untuk memperhatikan amal maqami. Jika ada kekurangan dilengkapi, jika ada kelemahan ditingkatkan. Setiap orang menentukan waktu maqominya dan dipegang erat-erat.
1.    Musyawarah Harian: Tujuannya agar dapat mengeluarkan jemaah cash. Agenda musyawarah harian: Laporan kunjungan, tujuan kunjungan akan datang, petugas taklim, dan takaza-takaza lain. Musyawarah semua jemaah masjid.
2.          Silaturahmi 2.5 jam : Menetapkan waktu kunjungan. Istiqamah. Semua rumah dikunjungi. Semua laki-laki baligh dikunjungi
3.          Jaulah 1 dan 2 : Dibuat dengan penuh kerisauan. Telah ada doa jauh sebelum jaulah. Pengeluaran jemaah setelah jaulah. Rute jaulah 2 ke tempat yang belum masuk atau belum ada amal masjidnya. Lamanya 5 – 6 minggu di satu tempat.
4.          Usaha memakmurkan masjid : Orang dibawa ke masjid dan dakwah disampaikan di masjid. Jika tidak bisa datang ke masjid dakwah diberikan ditempat bertemu. Untuk membuat Dakwah Taklim Istiqbal (DTI) dibutuhkan 8 (delapan) orang Islam yang bersedia walau belum ikut keluar.
5.          Nusrah Jemaah : Jemaah diberi kebebasan waktu hingga kerja dakwah bisa disempurnakan (tidak harus 2 atau 3 hari saja). Jemaah gerak di muhala atau halaqah kita diberi bayan hidayah agar: 1) bekerjasama dengan orang tempatan untuk praktek 2.5 jam dan 5 amal; 2) hendaklah jemaah gerak melibatkan seleuruh orang Islam; 3) jemaah tidak pindah sebelum amal maqami bisa berjalan; 4) ajak karkun tempatan untuk bekerjasama dengan jemaah.
6.     Hadir Malam Markaz : Datang dengan jemaah masjid dengan membawa tasykilan baru dan makanan buat makan bersama. Usahakan ke markaz membawa jemaah cash.
7.       Kerja sama antar daerah : Propinsi yang kuat membantu propinsi yang lemah selama dua tahun. Halaqah yang kuat membantu halaqah yang lemah. Muhallah yang kuat membantu muhallah yang lemah.
8.          Masturoh : 1) Istiqomah taklim rumah dan mudzakarah 6 sifat shahabat dan laki-lakinya hadir dalam taklim tersebut. 2) Setiap tiga bulan keluar masturoh secara istiqomah.
9.   Taklim Rumah : 1) Dibuat mudzakarah 6 sifat. 2) Tasykil masturoh dan Rijal dari setiap rumah. 3) Petugas taklim dimusyawarahkan sebelumnya. 4) Buku Fadha’il A’mal dan Muntakhab dibaca secara bergantian.
10.      Taklim muhallah masturat mingguan : Menghadirkan wanita dari semua kalangan, buku fadhail amal dan muntakhab dibaca bergantian. Syarat taklim masturah muhallah : Ada jemaah masjid, ada beberapa wanita 10/15/40/2 bln yang dapat menghandle. Di rumah orang yang telah keluar dan senang menjadi tuan rumah. Program : Taklim kitabi, Mudzakarah, Bayan, Tasykil (rijal, masturoh, dan hidup taklim rumah). Mudzakaroh 6 sifat oleh wanita yang telah menikah. Bayan diberikan oleh laki-laki yang faham kerja masturah.
11.    Jur Masturah : Program : Taklim, bayan, tasykil, tafaqud, tanggal keberangkatan, jaga nishab, amal rumah, doa. Jumlah 30 – 35 pasang. Dibuat 1 s/d 2 kali dalam satu tahun.
12.      Pengeluaran Jemaah : Rumah yang digunakan adalah rumah orang yang pernah keluar masturah, memenuhi syarat rumah, bukan rumah kosong. Jangan membebani tuan rumah akan perkhidmatan. Jangan memakai handphone.
13.  Usaha pelajar : Hendaknya pelajar dilibatkan dalam usaha maqami.
14.      Usaha Ulama : 1 tahun selanjutnya 4 bulan tiap tahun.
15.      Negeri Jauh : Indonesia hendaknya mengirim jemaah ke Taiwan dan Laos secara berkesinambungan dan tidak terputus. Jemaah rijal boleh 4 bulan atau 40 hari. Jemaah masturah juga boleh.
16.      Buat maktab-maktab Al Quran di setiap masjid muhallah.
17. Jika ada perbedaan pendapat dalam tertib hendaknya di kembalikan ke penanggung jawab daerah lalu ke syura Indonesia lalu ke Masyaikh di Nizamuddin.

Perhatian :
Musyawarah berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu. Istilah lain tentang ahli musyawarah dikenal dengan sebutan “syuro”. Musyawarah adalah merupakan suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyangkut urusan agama, bagaimana agama Islam yang sempurna ini wujud dalam kehidupan setiap muslim.
Ajaran Islam telah menganjurkan musyawarah dan Allah memerintahkan didalam al-Qur'an. Dengan musyawarah menjadikannya suatu hal terpuji dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara; dan menjadi elemen penting dalam kehidupan ummat, ia disebutkan dalam sifat-sifat dasar orang-orang beriman dimana keIslaman dan keimanan mereka tidak sempurna kecuali dengannya, ini disebutkan dalam surat khusus, yaitu surat as syuura, Allah berfirman:
وَ الَّذينَ اسْتَجابُوا لِرَبِّهِمْ وَ أَقامُوا الصَّلاةَ وَ أَمْرُهُمْ شُورى‏ بَيْنَهُمْ وَ مِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ
Artinya : “(Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.)” (QS. as Syuura: 38)
Oleh karena kedudukan musyawarah sangat agung maka Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh rasulnya melakukannya, Allah berfirman:
...وَ شاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ...
Artinya : “...(Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.)...” (QS. Ali Imran: 159)
Perintah Allah kepada rasulnya untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya setelah tejadinya perang uhud dimana waktu itu Nabi telah bermusyawarah dengan mereka, beliau mengalah pada pendapat mereka, dan ternyata hasilnya tidak menggembirakan, dimana ummat Islam menderita kehilangan tujuh puluh sahabat terbaik, di antaranya adalah Hamzah, Mush'ab dan Sa'ad bin ar Rabi'. Namun demikian Allah menyuruh rasulnya untuk tetap bermusyawarah dengan para sahabatnya, karena dalam musyawarah ada semua kebaikan dan keberkahan, walaupun terkadang hasilnya tidak menggembirakan.

Musyawarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabatnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang suka bermusyawarah dengan para sahabatnya, bahkan beliau adalah orang yang paling banyak bermusyawarah dengan sahabat. Beliau bermusyawarah dengan mereka di perang badar, bermusyawarah dengan mereka di perang uhud, bermusyawarah dengan mereka di perang khandak, beliau mengalah dan mengambil pendapat para pemuda untuk membiasakan mereka bermusyawarah dan berani menyampaikan pendapat dengan bebas sebagaimana di perang uhud. Beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya di perang khandak, beliau pernah berniat hendak melakukan perdamaian dengan suku ghatafan dengan imbalan sepertiga hasil buah madinah agar mereka tidak berkomplot dengan Quraisy. Tatkala utusan anshar menolak, belia menerima penolakan mereka dan mengambil pendapat mereka. Di Hudaibiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan ummu Salamah ketika para sahabatnya tidak mau bertahallul dari ihram, dimana beliau masuk menemui ummu Salamah, beliau berkata, "manusia telah binasa, aku menyuruh mereka namun mereka tidak ta'at kepadaku, mereka merasa berat untuk segera bertahallul dari umrah yang telah mereka persiapkan sebelumnya," kemudian ummu Salamah mengusulkan agar beliau bertahallul dan keluar kepada mereka, dan beliau pun melaksanakan usulannya. Begitu melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertahallul, mereka langsung segera berebut mengikuti beliau.
        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah merumuskan musyawarah dalam masyarakat muslim dengan perkataan dan perbuatan, dan para sahabat dan tabi'in para pendahulu umat ini mengikuti petunjuk beliau, sehingga musyawarah sudah menjadi salah satu ciri khas dalam masyarakat muslim dalam setiap masa dan tempat.
Dalam usaha dakwah dan tabligh dimana telah nampak hasilnya di seluruh dunia, hal ini karena menjadikan musyawarah sebagai agenda dasar dan tetap dalam setiap melaksanakan aktifitas kegiatannya. Dikatakan dakwah tidak akan berhasil kecuali dengan musyawarah. Bahkan dikatakan tidak ada dakwah kecuali dengan musyawarah, karena dakwah yang dilakukan tanpa musyawarah berarti melakukan dakwah dengan hawa nafsunya yang tidak akan sampai kepada tujuan dan bahkan akan menimbulkan perpecahan dalam dakwah. Karena setiap orang punya pemikiran, pengalaman dan persepsi yang berbeda-beda, yang tidak akan bisa bersatu kecuali jika pendapat-pendapat atau pemikiran tersebut disatukan dalam musyawarah. Dengan musyawarah akan menguatkan tekad dan niat karena Allah, sehingga akan mendatangkan pertolongan Allah dalam pelaksanaannya dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
Dalam usaha dakwah dan tabligh ada musyawarah harian di tiap mohala, musyawarah mingguan pada tiap halaqah dan markaz, musyawarah bulanan dan evaluasi kerja pada tiap halaqah dan markaz, musyawarah bulanan dan dua bulanan markaz propinsi dan pusat negara (jakarta), musyawarah tahunan tiap negara di Nizamuddin (India). Semua permasalahan pada tiap mohala sampai antar negara bisa segera dipecahkan dan segera diselesaikan dengan musyawarah, berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.
Mari semua orang berlomba-lomba ambil bagian dalam usaha dakwah dan tabligh, sebagai tugas tetap kita sampai akhir hayat dan diteruskan oleh keturunan/anak cucu sampai hari kiamat. Orang yang ambil bagian dalam usaha dakwah dan tabligh secara istiqamah, maka akan menyenangkan Allah dan RasulNya, yang dijanjikan oleh Allah dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal didalamnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (dari Allah)..... Allaahummahdinaa wahdinnaasi jamii’aa waj ‘alnaa sababal limanihtadaa..... amin

6. AZAS USAHA DAKWAH DAN TABLIGH


Dengan Melaksanakan Azas Usaha Dakwah dan Tabligh
 Insya Allah Hidayah akan Tersebar pada Seluruh Ummat 
dan Ummat akan Amal Agama secara Sempurna 

1. Usaha melalui individu atau usaha berjamaah dan bukan usaha ijtima besar-besaran. Usaha dakwah ini tidak mengandalkan bayan atau ceramah atau kefasihan dalam berbicara akan tetapi kerja, zuhud. Inilah usaha yang mesti dikerjakan oleh setiap individu, atau mesti dilakukan dalam berjamaah.
2. Usaha melalui hati dan bukan pikiran. Sejauh mana hatimu menangis, sejauh mana hatimu risau atau sejauh mana terbakarnya hati, atau sejauh mana risaunya hati bukan bagaimana pemikiranmu bekerja, atau bagaimana pemikiranmu membuat rancangan, atau bukan bagaimana pemikiranmu membuat rencana atau bukan bagaimana pemikiran filosofi yang tinggi-tinggi untuk mendapatkan gagasan-gagasan.
3. Usaha melalui qadam dan bukan kalam. Azas usaha ini adalah pergerakan kaki dan bukan penamu. Sejauhmana kakimu bergerak, sejauh mana anda bergerak melalui kaki-kakimu. Sebab anda mesti pergi kepada khalayak ramai. Mereka yang sudah datang ke mesjid mereka mencintai agama. Sedangkan mereka yang belum datang ke mesjid belum mencintai agama. Oleh karena itu maksud dakwah adalah untuk orang-orang ini. Jamaah yang sudah datang ke mesjid kita beri ta'lim. Usaha ta'lim dengan duduk dalam majlis. Akan tetapi dakwah dengan terjun ke bawah, kita datang dari orang ke orang, dari toko ke toko, maksudnya sejauh mana anda bergerak dengan kaki-kakimu, karena kerja ini bukanlah kerja 'sastrawan'. Anda harus berenang dalam lautan manusia, menyelam dalam laut dan mendapatkan mutiara-mutiara. Kita berusaha mendapatkan sedemikian orang yang dapat menerima fikir iman dan amal.
4. Usaha melalui Jan dan bukan Mal, usaha melalui diri bukan harta. Mal (harta) adalah keperluan bagi kita, mal untuk kesenangan kita. Sebagai umpama: jika anda hendak menghafalkan surat Fathihah, apakah anda mesti membelanjakan ratusan ribu atau jutaan rupiah untuk menghafal? Tentu tidak! yang diperlukan adalah masa dan kesungguhan. Karena itu tasykil (ajakan) kita adalah orangnya bukan uangnya atau hartanya. Apabila anda hendak mentasykil, seseorang katakan bahwa "kami memerlukan diri anda dan bukan uang anda". 
5. Usaha dengan tawadhu dan bukan aninah. Azas usaha dakwah adalah merendah diri dan bukan sombong atau membanggakan diri. Sombong adalah sifat syaitan. Kita mesti merasa tidak ada apa-apanya. Saya ini kecil. Kita mesti merendah. Sebagaimana pohon apabila sarat dengan buahnya maka ia merunduk. Atau seperti timba apabila hendak menimba air, maka harus dicemlungkan. Demikian pula apabila anda hendak merunduk hatinya maka anda akan dapat buat usaha dalam semua kalangan masyarakat, jika tidak anda akan mengalami berbagai kesulitan.
6. Usaha dakwah dengan damai dan bukan perang (bermusuhan). Anda mesti berdamai dengan semua orang baru anda akan dapat buat usaha.
7. Usaha melalui ittihad dan bukan ikhtilaf. Azas usaha dakwah adalah kesatuan dan bukan perbedaan-perbedaan. Anda berusaha menjauhi perbedaan-perbedaan. Banyak perkara yang dapat kita cari yang membawa pada persatuan. Jikalau anda hendak menyatukan umat, maka sedapat mungkin menjauhkan hal-hal yang membawa kepada perpecahan.
8. Usaha melalui musyawarah dan bukan melalui kediktatoran. Musyawarah adalah mengambil usulan (cadangan) atau pendapat sebelum membuat keputusan. Apabila sudah diambil keputusan maka semua bersifat sami'na wa atho'na. Tetapi seorang diktator tidak memerlukan musyawarah, tidak memerlukan pendapat orang lain. Dalam perkara-perkara kolektif yang menyangkut ummat, maka musyawarah adalah sangat penting.
9. Usaha melalui amru bil ma'ruf dan bukan nahi anil munkar. Azas usaha dakwah kita adalah yad'uuna ilal khoir, menyeru kepada yang baik. Sebagaimana enam sifat kita semua ma'ruf. Apabila gelap maka adakanlah lampu. Apabila amal yang baik hidup maka amal-amal buruk akan pergi. Ketika muadzin melaungkan adzan, apa yang ia serukan? Ia tidak membuat larangan-larangan atau jangan buat ini atau itu. Dengan demikian usaha dakwah kita yaitu mengajak manusia: Hai saudara! marilah ke mesjid, mari duduk ta'lim, mari hadir dalam musyawarah, mari duduk dalam majlis, mari ikut jaulah, mari ikut keluar khuruj di jalan Allah, inilah dakwah kita. Bayi yang baru lahir memerlukan ASI (Air Susu Ibu) yang segar dari ibunya bukan daging dan buah-buahan.
10.  Ushul dan bukan Furu’. Azas usaha dakwah kita adalah usaha atas akar dan bukan cabang-cabangnya.
11. Azas usaha dakwah kita adalah Qulyah dan bukan Juz'iyah. Hal-hal yang bersifat universal, hukum-hukum yang umum akan diterima oleh semua orang, tetapi hati-hati karena diantaranya terdapat banyak masalah yang membawa kepada khilafiah. Sebagai contoh: mengajak kepada shalat dapat diterima oleh semua orang, tetapi bahasan shalat secara detail terdapat masalah masail.
12.  Azas usaha dakwah kita adalah Ijmal dan bukan Tafshil. Ijmal artinya singkat, tepat, pendek dan bukan tafsir artinya uraian-uraian secara panjang lebar, penjelasan, argumentasi secara mendetail. Usaha dakwah adalah deklarasi (keterangan atau maklumat), karena itu mesti pendek, tepat dan ringkas.
13. Azas usaha kita adalah Tamsir bukan Tanfir. Tamsir artinya kabar gembira dan bukan tanfir artinya kabar buruk, kebencian. Dalam usaha dakwah ini kita sampaikan kabar gembira. Memberitahukan keutamaan-keutamaan, pahala-pahala, fadhilah-fadhilah, menyampaikan perkara-perkara yang manis, supaya semua orang dapat menerimanya. Jangan kita mengkritik, menyakiti perasaan orang lain dan kita mencerca atau melukai.
14. Azas usaha dakwah kita adalah Istidar dan bukan Ishtihar. Istidar maknanya secara senyap-senyap dan bukan Ishtihar artinya propaganda dengan publikasi untuk pamer kehebatan. Maulana Ilyas rah.a berkata: "Sekiranya usaha ini telah berjalan 1000km tetapi kita mesti merasa masih pendek." Usaha ini adalah kerja kerohanian yang berkaitan dengan iman yakin, dan ikhlas. Sifat-sifat ini ada di dalam hati dan bukan untuk kemasyhuran.
15. Azas usaha dakwah kita adalah Akhirat dan bukan Dunia. Setiap orang berfikir untuk memperbaiki kehidupan dunia mereka, kebalikan dari ini dimana semua nabi memberitahu manusia tentang kesenangan akhirat. Setiap orang berfikir bagaimana dunia saya dapat lebih baik, kebalikan dari ini, Da'i berfikir bagaimana akhirat saya menjadi lebih baik. Allahu a'lam.

Perhatian :
Azas/dasar dakwah di atas merupakan azas dakwahnya Rasulullah dan sahabat. Apabila azas dakwah dikerjakan dengan betul dan  secara istiqamah Insya Allah akan berulang kembali seperti zaman Rasulullah dan sahabat sehingga akan sampai kepada apa yang dimaksud di dalam QS An Nashr 1-3
إِذاجاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَ الْفَتْحُ  وَ رَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ في‏ دينِ اللَّهِ أَفْواجاً  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَ اسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً
Artinya : Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.(1) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong- bondong,(2) Maka  bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.(3)
 

Minggu, 13 Mei 2012

5. SEJARAH USAHA DAKWAH DAN TABLIGH


Dakwah adalah tulang punggung agama. Semua Nabi alaihimush sholatu wassalam di hadirkan di dunia untuk berdakwah. Dengan dakwahlah awal wujudnya agama. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah mencontohkan perjuangannya dalam berdakwah, begitu pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Perjuangan dan pengorbanan beliau telah banyak di kisahkan dalam kitab-kitab. Hampir seluruh waktu, harta, bahkan diri mereka habis di gunakan untuk memperjuangkan agama. Dengan sebab perjuangan dan pengorbanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,  yang kemudian di lanjutkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, Islam telah menjadi revolusi terbesar yang pernah ada dalam peradapan manusia. Revolusi tersebut meliputi berbagai bidang, termasuk revolusi akhlak dan moral sehingga menjadikan tatanan masyarakat terbaik yang pernah ada. Islam waktu itu telah menunjukkan wibawanya sehingga menjadi kaum yang paling di segani di seluruh dunia. Al-quran dan hadist telah banyak menyebutkan tentang pentingnya dakwah dan tabligh. Tegaknya usaha dakwah sangat mempengaruhi kemajuan dan kemerosotan umat. Banyak wilayah / negara yang dulu jaya dengan ajaran Islamnya kini tinggal bekasnya saja. Hal ini terjadi karena kurangnya kepedulian umat untuk mengamalkan dan mengusahakan agama.
Syaikh Muhammad Ilyas rahmatullah ‘alaih salah satu tokoh yang memahami cita-cita dan perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum merasakan kerisauan yang dalam atas ketidak pedulian umat terhadap agama. Apalagi keadaan masyarakat mewat ( India) yang beliau saksikan waktu itu yang jauh dari agama. Hal itu semakin menambah kerisauan dan rasa nyeri di hati beliau yang kemudian berusaha mencari jalan keluar untuk mengubah suasana dan keadaan masyarakat mewat atas dasar cinta beliau kepada Umat Islam. Beliau berusaha menegakkan kembali kepentingan usaha dakwah dan menanamkan kepahaman pada umat tentang pentingnya dakwah untuk di usahakan sebagaimana yang telah di tuntut oleh agama, serta agar setiap individu memiliki rasa tanggung jawab untuk memajukan agama. Akhirnya beliau mengirim rombongan dakwah dari mewat untuk di gerakkan dengan tujuan mempraktekkan kehidupan Islami dan membudayakan usaha dakwah serta usaha amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan masyarakat. Serta agar berlatih mengorbankan harta, diri dan waktu untuk agama.
Sejarah telah menjadi saksi betapa besar pengaruh gerakan dakwah yang di tegakkan kembali oleh Syaikh Muhammad Ilyas rahmatullah ‘alaih. Dan telah menjadi fakta yang tak terbantahkan andil gerakan dakwah dan tabligh serta usaha perbaikan umat tersebut dalam meninggikan kalimat imaniyah di akhir abad ke-20 ini. Sehingga menjadi tinggilah kepentingan agama di atas kepentingan lainnya dan kepentingan usaha atas agama di atas usaha lainnya. Kemudian orang-orang berbondong-bondong untuk mengutamakan amal daripada mal (harta), menghidupkan sunnah-sunnah dan adab-adab nabawiyah serta menyiapkan diri untuk menjadi pejuang-pejuang agama, dengan mengorbankan harta dan diri mereka di jalan Allah (semata-mata mengharap keridhaa-Nya).
Karena taufik dan inayah dari Allah subhanahu wa ta’ala sajalah, usaha dakwah dan tabligh tersebut kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Allah-lah yang menolong usaha dakwah terswebut dan Allah kuasa untuk menghancurkanya. Pada saat ini dapat di lihat betapa banyaknya manusia yang berbondong-bondong keluar di jalan Allah ke setiap penjuru, bahkan ke setiap sudut perkampungan terpencil dengan semangat, niat, cara dan tujuan yang sama untuk menyebarkan agama, hidayah dan perdamaian. Setiap hari selalu ada jamaah atau rombongan dakwah yang terus di kirim ke berbagai wilayah. Mereka senantiasa mendakwahkan agama siang dan malam, mengingatkan umat bahwa tidak ada jalan menuju kebahagiaan kecuali mengamalkan agama. Tujuan mereka yaitu untuk memperbaiki diri serta agar agama yang telah di turunkan Allah swt dengan sempurna ini bisa wujud dalam kehidupun umat islam seluruh alam (khususnya pada diri pekerja dakwah itu sendiri). Sehingga seluruh kampung-kampung di seluruh alam bisa hidup sebagaimana Madinah Al-munawarah pada jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Masjid-masjid seluruh alam bisa hidup sebagaimana kehidupan masjid Nabawi pada jaman Rasulullah saw. Serta agar manusia memahami pentingnya kerja atas agama melebihi kerja atas kebendaan.
Tidak ada satupun lapisan masyarakat yang tertinggal dalam menyambut seruan untuk dakwah tersebut, dari Ulama-ulama, Hufadz Qur’an, pelajar, orang awam, orang miskin, konglomerat, intelek, pengusaha, pejabat, orang kota, orang desa, sampai bekas preman. Serta telah di amalkan umat di seluruh belahan dunia. Berkat usaha dakwah dan tabligh tersebut telah banyak orang yang hidupnya kelam mejadi terang, banyak orang kembali tobat dari kemaksiatannya. Dalam usaha ini seolah-olah perbedaan suku, bahasa, negara, status sosial menjadi kabur kemudian duduk rapat-rapat sebagai umat akhir jaman yang mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan risalah kenabian. Bersatu padu menyatukan fikir dan saling tolong-menolong dalam memperjuangkan agama yang sedang di timpa sakit yang parah ini. Ini juga bukti bahwa dakwah memang ampuh untuk memperkuat persatuan umat dan menghindari perpecahan.
Amalan dakwah ini telah bergerak dan berkembang di Afrika seperti Maroko, Al-Jazair, Tunis, dan Libya. Amalan dakwah ini juga bergerak dan berkembang di Perancis, Belgia, Belanda, Albania, Inggris dan Amerika. Juga di Timur tengah seperti Mesir, Jordania, Syiria, Libanon, Yaman dan negara-negara Arab lainnya, di samping juga di negeri tempat asal mula usaha ini berkembang, yakni India. Saat ini lebih dari 240 negara telah hidup amalan dakwah ini.
Usaha dakwah dan tabligh tersebut bisa berkembang dengan baik meskipun di negara-negara barat yang sangat minoritas Islamnya (seperti Amerika, Eropa, Australi dll). Dengan sebab usaha dakwah di sana, panji-panji Islam semakin berkibar tinggi. Di sana orang-orang semakin berani untuk menampakkan ke-Islamannya. Orang semakin bangga untuk memakai atribut-atribut sunnah seperti sorban dan ghamis. Bahkan banyak orang yang akhirnya masuk Islam asbab usaha dakwah tersebut.
Suatu usaha yang besar, berskala dunia dan berkaliber Internasional tentu mengundang reaksi yang besar pula. Berbagai sorotan dan kritikan datang dari segala arah, Ada yang mendukung, simpati, mendorong dan mencintainya. Ada juga yang membenci, dan menghalang-halangi. Hal ini wajar, hampir semua pembaharuan selalu di iringi pertentangan. Namun fakta membuktikan, siapapun yang terjun langsung dalam kerja dakwah tersebut maka akan timbul jazbah (semangat) untuk mengamalkan agama. Dan timbul semangat untuk mendakwahkan agama tersebut kepada orang lain.
Tentang asal nama "Jamaah Tabligh”, Pada dasarnya tidak ada penamaan resmi terhadap kerja dakwah ini, dan awal gerakan da’wah tersebut juga memang tidak ada nama khusus.  Munculnya nama "Jama’ah Tabligh" terwujud secara alami, sebagaimana jika orang menjual ikan maka orang-orang akan menyebutnya "Penjual Ikan" atau jika orang menjual buah-buahan maka orang-orang akan memanggilnya "tukang buah".
Di kisahkan bahwa Maulana Muhammad Ilyas rahmatullah ‘alaih ketika memulai kegiatan dakwah tabligh ini mengatakan, “aku tidak memberikan nama apa pun terhadap usaha ini. Tetapi, seandainya aku memberinya nama, tentu aku menamakannya ‘gerakan iman’”. Beliau menyadari bahwa memberikan satu nama khusus pada kegiatan ini berarti membuat pengelompokan baru pada ummat. Ada umat yang anggota dan yang bukan anggota. Sedangkan dakwah dan tabligh adalah satu amal ibadah seperti sholat, puasa, dzikir, dan sebagainya. Sebagaimana dalam ibadah-ibadah lain tidak ada pengelompokkan dan keanggotaan (misalnya kelompok ahli sholat, ahli puasa, dan lain-lain) demikian pula halnya dengan dakwah dan tabligh. Selain hal itu, dakwah adalah tanggung jawab setiap individu ummat ini yang harus mereka tunaikan tanpa kecuali. Bila di bentuk satu kelompok dakwah, tentu akan timbul kesan bahwa dakwah adalah tugas anggota kelompok dakwah saja. Dengan berbagai pertimbangan itulah Maulana Ilyas tidak memberikan nama terhadap usaha dakwah tabligh.
Bahkan, di berbagai wilayah Indonesia orang-orang mempunyai sebutan yang berbeda-beda. Misalnya jamaah silaturahmi, kuba, jaulah, khuruj, osamah, jama’ah tholib, bahkan ada yang menyebut jamaah kompor karena sering membawa kompor kemana-mana. Ada juga sejumlah aktivis da’wah yang kurang senang bila dirinya di sebut anggota jamaah tabligh. Dakwah dan tabligh adalah tanggung jawab seluruh umat bukan tugasnya sekelompok orang tertentu. Namun yang menjadi kesalahpahaman besar, terutama di Indonesia adalah menganggap kerja tersebut hanya milik kelompok tertentu. Padahal di harapkan semua umat ikut ambil bagian dalam kerja dakwah ini sekuat kemampuan yang bisa di berikan.
Azas (landasan) dari kerja dakwah tersebut adalah musyawarah yang berdasarkan ruang lingkupnya terbagi dalam beberapa tingkatan musyawarah. Tingkat yang paling besar adalah musyawarah dunia yang biasanya di adakan 2 tahun sekali. Musyawarah nasional biasanya di adakan 4 bulan sekali (Utk Indonesia), kemudian di bagi lagi dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil, misalnya musyawarah jawa tengah biasanya 2 bulan sekali, di bagi lagi dalam musyawarah halaqoh (kawasan) biasanya 1 minggu sekali. Sedangkan yang terkecil adalah musyawarah harian yang biasanya di adakan setiap hari di maholla (masjid) masing-masing. Setiap pekerja dakwah juga di anjurkan bermusyawarah setiap hari dengan keluarga di rumahnya masing-masing untuk kemajuan agama (setidaknya kemajuan agama dalam keluarga), sehingga ahli keluarga ikut ambil bagian dalam usaha dakwah. Selain itu juga masih banyak musyawarah-musyawarah lain yang belum di sebutkan di atas karena setiap kerja selalu di awali dengan musyawarah. Dalam musyawarah dunia, perkembangan dakwah di evaluasi, serta di bicarakan terti-tertib yang akan di ambil dalam periode yang akan datang. Sehingga terkadang terjadi perubahan tertib setelah musyawarah dunia.
Pembagian-pembagian wilayah dalam peta dakwah tabligh tersebut tidak terpengaruh oleh batas-batas formal  yang ada dalam pemerintah.
Berdasarkan tempat berdakwah terbagi menjadi dua, yaitu intiqoli dan maqomi. Intiqoli yaitu dakwah di tempat orang lain atau kampung lain dengan berpindah atau dengan melakukan perjalanan dengan masa tertentu. Orang di sekitar tempat yang di datangi di harapkan akan memberi bantuan untuk kerja dakwah sehingga terjalin kerjasama antara pendatang dengan orang tempatan, sebagaimana kerjasama yang terjalin antara Sahabat muhajirin dan anshor di Madinah pada jaman Rasulullah saw. Sedangkan maqomi adalah dakwah di tempatnya masing-masing. Setiap pekerja di anjurkan untuk meluangkan beberapa jam setiap harinya untuk bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar tempatnya masing-masing untuk mendakwahkan agama. Dalam berdakwah juga di kenal istilah amalan secara infirodi dan Ijtima’i. Infirodi yaitu amalan secara individu sedangkan ijtima’i secara berkelompok(berjamaah). Begitu pula dalam berdakwah juga bisa di lakukan secara infirodi maupun ijtima’i.
Pekerja dakwah di anjurkan untuk mengikuti tertib-tertib dan arahan-arahan yang di sepakati guna menjalankan dakwah, misalnya ketika keluar di jalan Allah (khuruj fi sabilillah) hendaknya memperbanyak da’wah ilallah, ta’lim wa ta’lum, dzikir wal ibadah,dan khidmat. Mengurangi masa makan dan minum, tidur dan istirahat, bicara sia-sia, keluar dari lingkungan masjid. Menghadapi segala kesulitan dengan sabar. Jangan menyinggung masalah politik, khilafiyah (perbedaan pendapat di kalangan ulama), status sosial, dan derma sumbangan dalam berdakwah (ketika keluar). (Tidak boleh menyinggung masalah politik dan khilafiyah karena membicarakan hal tersebut ketika keluar di jalan Allah bisa menimbulkan perdebatan dan perpecahan di antara jamaah). Dan masih banyak arahan-arahan lainnya.
Pada jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masjid Nabawi menjadi pusat kegiatan umat, dari sana di bentuk jamaah / rombongan dakwah maupun jihad. Di sana juga sebagai pusat belajar-mengajar, pusat beribadah dan pusat melayani umat, Sehingga dalam usaha dakwah dan tabligh ini juga menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah. Berangkat dari masjid dan kembali lagi ke masjid. Untuk kawasan tertentu ada masjid yang di jadikan markaz (bahasa arab untuk kata centre/pusat). Di situlah biasanya para pekerja dakwah melakukan ijtima’ (pertemuan).
Dalam ijtima’ tersebut juga di bentuk jama’ah-jamaah yang akan di kirim ke berbagai tempat untuk berdakwah. Pada malam ijtima’ di adakan bayan (majelis penerangan untuk menerangkan maksud serta tujuan dakwah dan tabligh). Petugas bayan (mubayin) memberikan nasihat serta dorongan kepada para jamaah agar memikul tanggung jawab agama dengan cara mengorbankan sebagian dari harta, diri dan waktu, untuk keluar di jalan Allah. Bayan di akhiri dengan tasykil yaitu tawaran serta bujukan kepada para jamaah untuk mengorbankan sebagian harta, diri dan waktu untuk keluar di jalan Allah dengan masa tertentu dalam rangka mendakwahkan agama. Kemudian orang yang berniat untuk ikut keluar (khuruj fi sabilillah) mendaftarkan diri untuk di data. Di sana juga biasanya di bacakan kitab Hayatus-Shohabah yang berisi perjuangan dan pengorbanan para sahabat untuk agama, sehingga para jamaah bisa meneladani para sahabat radhiyallahu anhum dalam mengamalkan dan memperjuangkan agama. Dengan begitu juga bisa dirasakan bahwa pengorbanan para jamaah belum ada apa-apanya di bandingkan pengorbanan para sahabat r.a dalam membela agama. Orang yang mendapat tugas membaca kitab Hayatush-Shahabah haruslah orang ‘Alim(berilmu).

Kelebihan mereka dalam berdakwah adalah kerelaan mereka mengorbankan keperluannya untuk kepentingan dakwah. Mereka rela mengorbankan sebagian harta, diri dan waktu mereka untuk mendakwahkan agama  sampai melewati batas pulau dan batas negara. Dalam berdakwah mereka siap di caci dan di maki, hal itu tidak akan menghentikan mereka. Hubungan antara pekerja dakwah ini sangat erat, mereka memiliki kesatuan hati yang sangat kuat, di dalamnya ada kasih sayang, dan semangat mengutamakan orang lain (itsar). Keindahan hubungan mereka dapat di lihat dari ijtima’-ijtima’ yang di adakan. Kasih sayang ini bukan hanya untuk sesama pekerja dakwah saja. Dalam berdakwah jamaah senantiasa berusaha menjalin hubungan dengan baik kepada orang-orang yang di temui. Dalam berdakwah di anjurkan menghindari perdebatan serta berdakwah dengan penuh hikmah dan bijak. Para Da’i di anjurkan menghadirkan sifat ikromul muslimin (memuliakan sesama muslim) terutama kepada Ulama yang di jumpai.
Tidak ada paksaan dalam menjalankan usaha dakwah ini. Walaupun para masyaikh  dan Syuro senantiasa memberi arahan-arahan dan nasihat dalam mengamalkan dakwah, tapi dalam pelaksanaanya apakah akan di amalkan atau tidak kembali kepada setiap individu. Namun alangkah baiknya jika semua orang bisa ikut ambil bagian dalam usaha ini. Usaha dakwah tersebut sangat terbuka, semua orang bisa ikut ambil bagian dalam usaha dakwah.
Para masyaikh (ulama) juga senantiasa mengingatkan kepada orang-orang yang bekerja di bawah usaha dakwah tersebut bahwa tujuan utama dalam mengamalkan dakwah tersebut adalah untuk memperbaiki diri (ishlah), memperbaiki orang lain bukanlah tujun utama mereka dalam berdakwah.
Amalan dakwah yang telah di konsepkan sangat bagus dan mulia, tapi yang menjalankan dan mengamalkan juga manusia biasa yang datang dari berbagai latar belakang. Tidak mungkin bisa terhindar dari kesalahan. Jika di cari-cari kekurangan mereka, tentu akan banyak di temukan, hal ini wajar. Di antara mereka sudah ada yang bertugas untuk mengarahkan dan meluruskan.
Secara realita kondisi umat saat ini pada umumnya sudah jauh dari apa yang di wasiatkan Rasulullah saw. Banyak masjid di bangun namun semakin sedikit yang memakmurkannya. Masjid sudah semakin megah namun semakin sepi dari amalan. Pemuda-pemuda kita lebih bangga menirukan gaya selebriti daripada Nabi kita. Kita sebagai Umat Islam tidak sadar telah ikut terbawa budaya yahudi dan nasrani. Kini agama, satu-satunya yang menjadi sebab kebahagiaan, kemuliaan dan kejayaan dunia akhirat di anggap sesuatu yang tidak penting sehingga di abaikan begitu saja. Dengan memberi ummat kitab tebal kemudian kita cuma berharap agar umat mengamalkanya sementara mereka belum memahami kepentingan agama merupakan perkara yang hampir mustahil.
Opini masyarakat terbentuk dari apa yang mereka lihat, masyarakat sudah kesulitan melihat kehidupan islam yang sesungguhnya. Cara bagaimana bermu’amalah, mu’asyaroh, berakhlak yang dulu pernah di ajarkan Rasulullah saw kini telah hilang dari umat Islam. Jika dulu ada yang bertanya bagaimana akhlak Rasulullah saw maka bisa di jawab akhlak beliau adalah Al-quran. Namun saat ini kehidupan Islami seolah-olah hanya di dalam buku-buku saja......
Di jaman sekarang ini, budaya materialisme sudah sangat kental dalam kehidupan masyarakat, masih adanya sekelompok orang yang mau berkorban untuk mendakwahkan agama merupakan suatu rahmat dari Allah swt yang seharusnya kita tolong dan kita syukuri.  Thola’albadru‘alaina mintsaniyatilwada’ wajaba syukru ‘alaina maada’alillahida’. (Telah terbit purnama di atas kita muncul dari tsaniyatul wada’, wajib bersyukur atas kita selama masih ada Da’i yang mengajak kepada Allah)……


Perhatian :
Dengan dakwah maka hidayah akan tersebar pada ummat manusia di seluruh alam, sehingga banyak manusia masuk Islam dan kembali kepada syariat Islam. Ketinggian Islam akan nampak. Masjid akan berfungsi sebagaimana zaman Rasulullah dan para sahabat. Kasih sayang akan terbina sesama muslim dan terhadap makhluk Allah yang lain. Kedamaian, ketentraman, menyebarkan salam dan kehidupan saling tolong menolong tumbuh berkembang merasa sebagai saudara. Inilah gambaran kehidupan syurga yang Insya Allah kita semua mengharap agar dapat segera memasukinya... amin. Asbab dakwah dan tabligh kehidupan syurga dapat tercermin dalam kehidupan akhlak manusia, sebelum memasuki syurga... Allahu akbar......Subhanallah