Pages

Rabu, 30 Maret 2016

243. BAYAN MAULANA MUHAMMAD SA'AD AL KANDAHLAWI DAMAT BARAKATUHU

Maulana Saad Al-Khandahlawi
Zohaib Iqbal
الحمدلله وحده, والصلاةوالسلام على من لانبي بعده, اللهم صل على سيدنا ومولانا محمد كماصليت على سيدنا ومولانا ابراهيم في العالمين انك حميدمجيد. انما يخشى الله من عباده العلماء )فاطر (28 : وقال الله سبحانه وتعالى: كنتم خيرامةاخرجت للناس )العمران        (110 :
Hadirin yang mulia,
Ilmu adalah salah satu dari sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala artinya yang MahaMengetahui. Ilmu itu bisa hendaknya kita wujudkan dalam diri kita. Untuk mewujudkannya, maka ada syaratnya. Syaratnya adalah taqwa. Dalam sebuah hadits disebutkan ilmu itu ada 2 macam, yaitu:
1. Ilmu di lisan
2. Ilmu dalam hati
الْعِلْمُ عِلْمَانِ : فَعِلْمٌ فِى الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَذَلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ
“Ilmu itu ada dua macam, pertama adalah ilmu di lisan, kedua adalah ilmu dalam hati.”
Ilmu dalam hati adalah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu di lisan adalah hujjah terhadap manusia. Satu adalah hakekat ilmu, sedangkan yang satu lagi adalah tulisan ilmu.
Hakikat berhubungan dengan hati. Mulai keimanan, hingga ibadah, hubungannya adalah dengan hati.
Maka, bila ada hubungannya dengan hati, akan menimbulkan ketaatan. Keimanan juga akan menimbulkan ketaatan. Ilmu juga akan menimbulkan ketaatan.
Ilmu dan keimanan akan menimbulkan ketaatan
Ini semua bila hubungannya dengan hati. Jika yang disebut ilmu adalah bakat lahiriyah, namun mengapa yang disebut sebagai yang paling alim adalah yang paling bertaqwa?
Ketika seorang sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku ingin menjadi manusia paling berilmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اتق الله تكن أعلم الناس
Ertinya : “Bertaqwalah, niscaya engkau menjadi manusia paling berilmu.”
Siapa pun yang bertaqwa, dia adalah orang yang berilmu. Yang disebut orang berilmu adalah orang yang selalu meneliti : “Apakah yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan dariku?”
Seseorang yang sibuk dalam hal ini berarti ia sibuk dalam ilmu. Apabila seseorang meneliti hadits 24 jam, tetapi ia tidak menyadari tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan darinya, berarti ia hanya sibuk mempelajari tulisan saja. Dengan mempelajari lafaz-lafaznya, maka isi kitab akan ia ingat. Tetapi, walaupun hafal kitabnya, isinya tidak ditaati. Sehingga maksud mempelajarinya adalah untuk mengajarkannya pada yang lain. Sedangkan mengajarkan pada yang lain bukanlah maksud ilmu. Memang mengajarkan pada orang lain adalah penunaian amanat, tetapi bukan itu maksud ilmu.
Maksud ilmu adalah ketaatan
Ikhtilaf juga bukan maksud ilmu, pembahasan dan perbincangan juga bukan maksud ilmu. Maulana Muhammad Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata bahwa maksud dari ilmu ini adalah ketaatan. Ilmu menuntut saya untuk taat pada cara Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Bila bisa seperti itu, maka hal ini sangat bagus, artinya sibuk dalam maksud. Apabila ini tidak ada, maka tidak akan ada ketaatan.  
Akibatnya perselisihanlah yang akan terjadi.
Jika yang ada hanya perbantahan/perbalahan/perdebatan menjadi bahasan utama, maka agama tidak akan sampai pada ummat. Karena itulah, kesibukan dalam ilmu adalah untuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan menyampaikan ilmu pada yang lain adalah amanat.
Ummat ini disebut sebagai ummat adalah karena perkara itu. Disebut ummat adalah tujuannya untuk mengajarkan agama pada yang lain. Arti ummat menurut sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bukannya membaca:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ
Tetapi beliau baca sebagai:
أنَّ معاذبن جبلٍ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ
Maka seseorang berkata bahwa ayatnya bukan begitu, bacaanmu salah. Maka beliau telah ulang lagi membaca ayat itu;
أنَّ معاذبن جبلٍ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ
Ibnu Naufal berkata bahwa di dalam Al Quran itukan adalah kata-katanya Ibrahim, tetapi engkau sengaja membacanya salah. Beliau (Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu) menjawab, “Tahukah kamu siapa yang dimaksud ummat ? Ummat adalah orang yang mengajarkan kebaikan pada yang lain.”
الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ
Dan apabila ia taat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka ia adalah seorang Qaanit (taat/patuh).
Hadirin yang mulia,
Ada satu hal lagi, seseorang berusaha agar bisa memiliki kemampuan, sehingga bisa mengajar di tempat lain. Agar bisa berceramah, maka dia pun berusaha untuk mempersiapkan itu. Khawatir jika tidak begitu, maka akan kebingungan setelah lulus. Mereka akan berfikir: “Ini saya belum buat persiapan apa-apa, bagaimana ilmu saya nanti mampu mencari pekerjaan?”
Bukan, bukan begitu seharusnya. Ilmu bukanlah maksab, tetapi ilmu adalah maktab. Ilmu bukan sarana mencari penghasilan. Bila ilmu bukan untuk ketaatan, maka ia akan menjadi usaha dalam perdagangan, menjadi pegawai negeri atau swasta. Menjadi apa? Menjadi usaha dalam perdagangan atau kekaryaan. Setelah lulus belajar ia segera mencari pekerjaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan setiap sahabat sebagai pengajar. Maka dalam belajar, pertama-tama adalah kita meluruskan niat kita bahwa kita belajar adalah agar mendapatkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dan menyampaikannya kepada ummat adalah amanat ummat. Dan menyampaikan amanat ini tidak ada upahnya. Jangan jadikan ilmu sebagai maksab, jangan jadikan alat/sarana mencari pendapatan.
Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang menjadikan pengajaran Al Quran dan ilmu sebagai sarana mencari pendapatan, maka dia adalah (dalam satu riwayat) زُنَاد, sedangkan dalam riwayat lain زَنَاد, yakni orang-orang rendahan akan lebih dulu masuk surga daripada orang alim yang menjadikan pengajaran ilmu agama sebagai sarana mencari penghasilan.
Para pezina akan lebih dulu masuk surga daripada orang alim yang mengajar Al Quran atau ilmu agama lalu mengambil upah.
Yaqni, orang yang mengajar Al Quran atau ilmu agama lalu mengambil upah, maka زُناد atau زَنَاد, kelompok masyarakat rendahan ini akan mendahuluinya dimasukkan syurga.
Maulana Muhammad Yusuf rahmatullah ‘alaih dalam Hayatus Shahabah menulis bahwa, janganlah mengambil upah dari ummat atas pengajaran dan penyampaian ilmu pada mereka. Bila kalian lakukan, niscaya para pendosa dan orang-orang rendahan akan masuk surga lebih dulu daripada kalian. Karena itu, belajar adalah untuk menumbuhkan ketaatan dalam diri.
Untuk mendatangkan ketaatan dalam diri, kita harus mencari tahu apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan dari dirinya. Itulah orang alim atau ahli ilmu. Dan ilmu apa pun yang diperlukan untuk memahami nash-nash Al Quran adalah sarana.
Namanya sarana bukanlah maksud. Ada yang mahir di bidang Nahwu, di bidang Sharaf, lalu beranggapan bahwa dirinya sudah mendapatkan ilmu. Padahal yang ia dapatkan adalah sarana untuk memahami nas-nas yang dengannya akan diketahui apa yang diinginkan oleh Rabb pada dirinya. Karena itu, ilmu akan menumbuhkan ketaqwaan yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan padanya ilmu yang tidak ia miliki.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga akan memberikan padanya taufiq untuk mengamalkan ilmu yang sudah ia miliki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sahabat yang mengatakan bahwa ia ingin menjadi orang alim besar: “Bertaqwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya engkau akan menjadi orang paling alim.”
Taufiq untuk mengamalkan ilmu yang ada akan diberikan, dan ilmu yang sebelumnya belum ia miliki akan diberikan. Karena itu bukanlah maksud ilmu itu agar dapat mengajarkannya pada yang lain. Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam akan berpisah dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salam, beliau minta nasehat. Nabi Khidhir ‘alaihis salam berkata:
“Jangan belajar untuk mengajar, tetapi belajarlah untuk beramal..”
Inilah pesan Nabi Khidir ‘alaihis salam kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Maksud ilmu adalah ketaatan. Bukan supaya bisa mengajar orang lain, lalu mengatakan bahwa saya tahu apa yang kamu tidak tahu. Kalau begini berarti ilmu menimbulkan kesombongan dalam hati.
Kesombongan Ilmu Lebih daripada Kesombongan Kebodohan
Kita belajar ilmu. Perhatikanlah, dan sadarilah bahwa kitab yang.kita hapalkan semuanya adalah baru tulisan. 
Sedangkan dalam Al Quran, siapakah yang oleh Allah subhanahu wa ta’ala disebut ahli ilmu?
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُواالْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً
Orang-orang yang berkata kepada mereka yang menginginkan harta seperti Qarun
يَالَيْتَ لَنَامِثْلَ مَاأُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُوحَظٍّ عَظِيمٍ
Apakah ilmu itu sudah menumbuhkan rasa kehinaan dunia dalam hati kita? Sedangkan yang disebut alim dalam Al Quran adalah mereka yang menganggap bahwa pahala amal yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan lebih baik daripada harta Qarun.
Al Quran berkata:
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُواالْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً
Celakalah kalian, apa yang kalian katakan,
يَالَيْتَ لَنَامِثْلَ مَاأُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُوحَظٍّ عَظِيمٍ
Wahai, andaikan kita memiliki seperti yang diberikan kepada Qarun..
Pahala Allah subhanahu wa ta’ala atas amal-amal lebih baik daripada kekayaan dan kerajaan Qarun. Yang disebut alim oleh Al Quran adalah mereka yang memiliki sifat ihtisab (harapan pahala) atas amal. Karena itulah, kitab dan tulisan-tulisannya adalah bentuk lahir saja.
Yang Disebut Punya Kesiapan adalah Orang yang Menekuni Maksud Ilmu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menguji sahabat beliau. Pertama-tama adalah ujian iman. 
Dalam ujian-ujian yang kita adakan juga ada pertanyaan tentang keimanan. Dalam pelajaran Misykatul Mashabih maupun Sunan Abu Dawud ada pertanyaan tentang iman. Di antara pertanyaan-pertanyaan yang kita buat, ada juga pertanyaan tentang keimanan. Dan para murid menjawab pertanyaan itu dengan keterangan tentang pengertian iman secara bahasa dan sebagainya. Sedangkan apakah keimanan turun atau tidak, naik atau tidak, itu dijawab dengan pembahasan panjang beserta ikhtilaf madzhab-madzhab dan dalil-dalilnya.
Setelah itu saya kumpulkan murid-murid, satu pun tidak ada yang menjawab pertanyaan saya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Haritsah bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”
Maka ia menjawab, “Aku pagi ini beriman dengan sebenar-benarnya.”
Inilah ujian iman. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita ini terjebak dalam tulisan-tulisan saja. Tulisan-tulisan itu dipelajari lalu (semoga Allah subhanahu wa ta’ala ampuni saya) dijadikan sebagai sarana memenuhi keperluan. Semua kendaraan berjalan seperti itu, sehingga ketaatan dan khasyyah (rasa takut) - yang merupakan tanda awal ilmu - yang Allah subhanahu wa ta’ala batasi maksud 'ulama di dalamnya;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
belum pun ada dalam diri kita. Perhatikanlah, disertai dosa sekalipun seseorang bisa menghafal kitab. Itu bila yang disebut ilmu adalah tulisan saja. Sebab, hubungan hafalan teks adalah dengan kecerdasan. Tetapi, kesesuaian kehidupan dengan tulisan itu tidak berhubungan dengan kecerdasan. Hubungannya adalah apakah ilmu sudah tertanam di dalam hati atau belum. Perhatikanlah, sudah pasti bahwa itu juga satu bentuk usaha. Saya tidak mengingkari hafalan teks kitab, tetapi, itu dihafal adalah untuk memahami tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sukai dari tulisan itu untuk kita.
Pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keimanan, dijawab oleh sahabat sebagaimana yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Saya merasa melihat syurga dan neraka sebagaimana yang engkau jelaskan.”
Keadaan penghuni neraka nampak di depan mata, keadaan ahli syurga juga kelihatan di depannya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَرَفْتَ فَالْزَمْ
“Engkau telah mendapatkan ma’rifat, maka pegang teguhlah.”
Yang ingin saya sampaikan adalah jangan sampai kita beranggapan bahwa tulisan itulah tujuan akhir ilmu. Tetapi itu adalah sarana. Sarana untuk dilalui. Sarana itu untuk apa? Untuk sampai ke suatu tempat. Ada lahiriyah ilmu, ada batiniyah ilmu. Ada nur ilmu, ada lafaz ilmu. Maulana Muhammad Yusuf rahmatullah ‘alaih mengatakan bahwa dengan nur hadits akan tumbuh kesediaan untuk beramal. Dengan nur amal akan tumbuh kesediaan untuk beramal. Ilmu itu ada dua, Al Quran dan hadits. Keduanya, pertama kali menuntut ketaqwaan.
Bila ada ketaqwaan dalam kehidupan, maka akan sampai pada Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi bila taqwa tidak ada dalam kehidupan, itulah penyebab pertama dilupakannya aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Teks kitab dihapal, hendaknya kehidupan disesuaikan. Seseorang yang kehidupannya sesuai dengan ilmu itu, dialah orang yang mendapatkan manfaat darinya.
Penghalang Terbesar dalam Menuntut Ilmu adalah Kemaksiatan
Ilmu dan agama adalah adab dan adab. Karena ilmu adalah sebutan untuk adab itu, maka ia adalah pendidik. Ini tidak akan didapatkan oleh mahasiswa di bangku kuliah. Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebab adanya usaha dakwah dan tabligh, mahasiswa universitas-universitas dengan madrasah sukar untuk dibedakan. Di Universitas Aligarh, kerja dakwah cukup maju. Dengan melihat penampilan saja, kita tidak dapat mengetahui siapakah dia? Ia menjawab, “Kami mahasiswa universitas.”
Adanya mahasiswa-mahasiswa seperti itu, terbentuk dengan dakwah. “Dulu kami tidak tahu apa yang disebut ilmu. Kami dalam kegelapan, apa pun yang kami pelajari kami anggap ilmu.”
Padahal yang disebut ilmu adalah mengetahui apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan dari saya. Karena itu, pertama-tama kita harus mengusahakan taqwa. Sejauh mana ketaqwaan dalam diri?
Ilmu itu sesuatu yang suci. Ia hanya akan datang ke tempat yang suci. Bila tidak, kitab dihafal tetapi ilmu tidak diperolehi. Kemampuan dzahiriyah diperolehi, tetapi tidak ada ketaatan. Hanya kecerdasan dan kecerdasan. Sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu mengeluh panjang, “Saya memiliki ilmu, tetapi pada siapa aku sambungkan? Tidak ada yang bisa mewadahi. Mengapa? Memang banyak orang cerdas, tetapi aku tidak mempercayainya.”
Beliau sampaikan bahwa banyak orang cerdas tetapi mereka tidak bisa dipercaya. Memang kalimat-kalimat ilmu akan dihafal, tetapi ia akan gunakan untuk mencari penghasilan. Maulana Muhammad Yusuf rahmatullah ‘alaih menulisnya dalam Hayatush Shahabah. Karena itulah, kita memang bisa menyelesaikan kitab-kitab, tetapi yang perlu difikirkan adalah apakah kita juga hidup dengan ketaatan atau tidak?
Maka, syarat pertama untuk mendapatkan nur ilmu adalah ketaqwaan.
اتق الله تكن أعلم الناس
“Bertaqwalah, niscaya engkau menjadi manusia paling berilmu.”.
Bila tidak ada ketaqwaan maka otak akan menjadi lemah sebab dosa. Lemah bagaimana? Otak akan lemah untuk mengingat apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan dari kita. Terkadang ada yang mengeluh, “Bagaimana, otak saya lemah sekali?”
Padahal, seperti apa pun lemah dan bodohnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan ketaatan padanya bila ia bertaqwa. Yakni, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan ilmu padanya bila ada ketaqwaan dalam dirinya. Sedangkan bila ketaqwaan tidak ada, seperti apa pun cerdasnya, berapa banyak pun kitab dihafal, dia tidak akan ingat apa yang saat ini Allah subhanahu wa ta’ala inginkan dari dirinya.
Perbanyak Istighfar
Karena itu, hendaknya kita perbanyak istighfar. Dengan memperbanyak istighfar, otak akan bertambah kekuatannya. Dengan memperbanyak istighfar, otak akan mengingat apa-apa yang menjadi tuntutan ilmu. Bila tidak, maka hanya akan menghapal kata-kata dan memindahkan pada orang lain. Ini tidak ada artinya. Maulana Muhammad Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata, “Kalau hanya untuk mengingat kalimat-kalimat ilmu, maka tidak disyaratkan Islamnya seseorang. Orang bukan Islam pun mampu mengingatnya.
Di Nizamuddin, seorang teman menceritakan bahwa ada tetangganya, seorang wanita bukan Islam, yang sangat cerdas. Begitu cerdasnya sehingga kitab Bahasyti Zewar (sebuah buku karya Maulana Asyraf Ali Thanwi rahmatullah ‘alaih dalam bahasa Urdu kira-kira setebal 400 halaman) dihafal semuanya. Perincian permasalahan di dalamnya betul-betul ia sampaikan, sehingga kami keheranan. Seringkali dia mengatakan, “Kalian ini salah, yang benar begini. Dalam Bahasyti Zewar mufti kalian menulis begini...”, sedangkan beliau ini bukan Islam. Cerdas sekali.
Padahal belum tentu orang yang berilmu, dia tahu, lalu taat. Belum tentu juga bahwa orang yang berilmu itu juga bertaqwa. Mengapa? Ilmu itu satu hal, dan pengetahuan itu hal lain.
Ilmu ataukah Pengetahuan?
Maka hendaknya kita berfikir, apakah ilmu yang kita miliki, ataukah pengetahuan? Untuk memiliki pengetahuan, tidaklah disyaratkan Islamnya seseorang. Orang bukan Islam pun bisa mendapatkan pengetahuan agama. Saya merasa sangat heran dengan pembicaraan pada malam hari yang menceritakan bahwa wanita bukan Islam yang tetangganya hafal kitab Bahasyti Zewar.
Pagi harinya saya ceritakan bahwa semalam saya mendengar berita yang sangat mengherankan. Kita seringkali merasa bangga bahwa sudah hafal kitab ini dan itu. Padahal, untuk menghafal pengetahuan tidaklah disyaratkan Islamnya seseorang. Dia seorang yang bukan Islam pun mampu berpengetahuan agama.
Perbanyak Istighfar, Jaga Wudhu
Berfikirlah selalu, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan dari diri saya. Maka akan kita dapatkan nur dalam kitab itu. Pengetahuan hanya berhubungan dengan otak. Sedangkan anggota tubuh tidak bergerak berdasarkan otak. Anggota tubuh bergerak atas perintah hati. Karena itulah, ilmu yang ada dalam hati akan bermanfaat. Dalam hadits dikatakan bahwa yang bermanfaat adalah ilmu yang ada dalam hati.
Lidah berkata atas dasar ilmu yang di otak. Sedangkan seluruh anggota tubuh bergerak atas dasar ilmu yang di hati. Di dalam hadits, keduanya dipisahkan. ‘llmun fil qalbi dan ‘ilmul lisan. Yang bermanfaat ada yang ada dalam hati. Karena itulah, untuk mendapatkan nur ilmu diperlukan banyak persyaratan.
Syarat pertama adalah adanya ketaqwaan dalam diri. Bila tidak, kita akan seperti pelajar sekolah umum. Kitab hadits di tangan, dengan kecerdasan, isi kitab bisa dihapal. Tetapi tidak akan ada ketaatan. Ilmu menuntut ketaqwaan dalam kehidupan. Ilmu adalah barang yang suci. Benda yang suci hanya akan menempati tempat yang suci.
Hindari Pembicaraan Sia-sia
Karena itulah hendaknya menghindari pembicaraan sia-sia dan mengamalkan sunnah dengan kesungguhan. Amalkan sunnah dua-duanya. Baik sunnah ibadah maupun sunnah adat. Sebab, semua ilmu bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ada jalan lain bagi ilmu selain beliau. Maka seseorang yang memilih jalan di luar sunnah untuk mendapatkan ilmu, dia tidak akan mendapatkan nur ilmu.
Baik sunnah adat maupun sunnah ibadah mesti diperhatikan. Banyak penuntut madrasah yang tidak memperhatikan sunnah ibadah. Mereka berfikir, “Itu adalah nafilah. Nafilah adalah untuk orang-orang awam, sedangkan kita kan sibuk belajar ilmu.”
Sibuk dalam ilmu apa? Meninggalkan sunnah dan jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan ada ilmu.
Tulisan dijadikan tujuan dan maksud dilupakan. Muthala'ah kitab hingga larut malam dan shalat subuh kelewatan hingga qadha. Muthalaah kitab hingga larut malam dan shalat sunnat Zhuhur terlewat.. Perhatikan. Dapatkan ilmu dengan jalan ibadah. Bukan dengan jalan kecerdasan.
Penghalang pertama paling besar yang saya lihat dalam menuntut ilmu adalah pembicaraan sia-sia. Yang kedua adalah tidak beradab pada orang yang menjadi sumber ilmu dan tempat pengambilan ilmu. Tidak beradab seperti ini adalah penghalang terbesar. Sebab pembicaraan sia-sia, ilham tidak akan datang dalam pembicaraan kalimah thayyibah. 
Sebagian penuntut madrasah berfikir bahwa ini sudah banyak sekali. Untuk mengasah otak, tidak apalah membaca kitab sambil melihat teka teki silang. Disembunyikan di dalam kitab, waktu pelajaran berlangsung ia melihat ke situ.
Pelajar madrasah yang berotak rendah sibuk dalam hadits, fiqh, usul fiqh. Yang mengherankan adalah bahwa yang berotak rendah, bagaimana bisa mendapatkan ketenteraman dengan kebohongan untuk mencapai kejujuran. Ia bertanya, “Mau dengar cerita lucu tidak?”
Dalam hadits dinyatakan bahwa seseorang yang yang berdusta untuk melucu juga seorang pendusta. Pembicaraan sia-sia adalah penghalang ilmu. Suatu ketika Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bawakan sufrah makan, biar kita main-main..”
Salah seorang muridnya berkata, “Apa yang tuan katakan?” Beliau menjawab, “Sejak aku berpisah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga hari ini, semua perkataan yang aku ucapkan adalah dengan penuh pertimbangan. Hari ini terlontar dari lidahku satu kata yang tidak ada artinya.”
Ketika itu beliau langsung memerintahkan untuk berdoa. “Bacalah doa ini, bacalah doa ini!”
Bila hati mulai mengarah pada pembicaraan sia-sia, maka berdoalah seperti ini.
Baca di Hayatush Shahabah;
اللَّهمَّ إِني أَسألُكَ الثَّبَاتَ في الأمر ، والعزيمةَ على الرُّشدِ ، وأسألُكَ شُكْرَ نِعْمَتِك ، وحُسنَ عِبَادَتِك، وأسألُك قَلبا سَليما ، ولِسَانا صَادِقا ، وأسألُك مِن خَيرِ ما تَعلَمُ ، وأعُوذُ بِك من شَرِّ ما تَعْلَمُ ، وأستغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
Meminta hati bersih agar diilhamkan ke hati kita apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sukai dari kita. Juga;
لِسَاناصَادِقا
Maksudnya agar jangan sampai ada pembicaraan sia-sia keluar dari lidah kita. Perkataan yang sebenarnya adalah yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya;
وأسألُك مِن خَيرِ ما تَعلَمُ
“Aku mengharapkan pembicaraan yang baik dariMu.
وأعُوذُبِك من شَرِّماتَعْلَمُ
Doa ini diucapkan shahabat Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu tatkala ada satu kalimat sia-sia keluar dari lidahnya. “Bawakan sufrah makan, agar kita boleh bermain-main.” Kita selama menuntut ilmu hendaknya senantiasa meminta hakikat ilmu dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Penghalang terbesar dalam mendapatkan ilmu adalah kemaksiatan. Dari kemaksiatan timbul lupa. Dengan kedurhakaan muncul kelupaan. Diberitahukan juga obatnya dan obatnya adalah istighfar.
Imam Suyuthi memberitahukan satu istighfar khusus yang menguatkan otak.
أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم بديع السموات والأرض وما بينهما من جميع جرمي وإسرافي على نفسي وأتوب إليه
Ini adalah istighfar dari Imam Suyuthi untuk menguatkan otak. Termasuk untuk menguatkan otak juga adalah makan kacang almond.
Perhatikan, taufiq untuk beramal tidak akan didapatkan dengan makanan jasmani. Taufiq untuk beramal didapatkan dengan makanan ruhani.
Maka dari mana datang ilmu, dari sanalah hendaknya makanannya diambil. Dan dari mana tubuh berasal, dari sanalah diambil makanannya.
Makanan Tubuh dari Bumi, Makanan Ruh dari Langit
Karena itulah hendaknya kita jaga dzikir kita dan bacaan Al Quran kita. Kita yang sibuk menuntut ilmu terkadang mengatakan;
يجوز لطالب العلم ما لا يجوز لغيره
Begitu jauhnya kalimat ini dimaknai. Kalimat ini dikatakan dengan maksud bahwa boleh bagi seorang penuntut ilmu untuk menanyakan sesuatu yang tidak boleh ditanyakan oleh seseorang yang bukan alim. Itu maksudnya. Tetapi ada yang mengartikan bahwa seorang penuntut ilmu boleh melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama atau syariat, yang tidak diperbolehkan bagi selain mereka. Alasannya adalah;
يجوز لطالب العلم ما لا يجوز لغيره
Padahal mereka adalah orang yang mestinya paling takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam ketaatan. Dahulu, orang belajar untuk menuntut ilmu Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan ketaatan. Sebaliknya hari ini orang menuntut ilmu untuk mengurangi ketaatan.
Hadirin yang mulia,
Kita sering kali terjebak dalam kesalahfahaman yang menghalangi kita dari ilmu. Kita sering berfikir, yang penting menghabiskan waktu di madrasah, yang penting menghabiskan waktu di madrasah, yang penting menghabiskan waktu di madrasah. Dan hanya itu, tidak ada lainnya.
Akbar berkata, “Kuliah itu membangun kata."
Membangun apa? Membangun kata.. Semua kurikulum adalah membangun kata. Semua kuliah membentuk kata, sedangkan manusia membentuk manusia. Ilmu tersebar dengan amal. Ilmu yang sekarang kita miliki adalah amal orang terdahulu. Dan amal orang sekarang akan menjadi ilmu orang di masa mendatang. Boleh jadi hanya ilmu yang berpindah dari ummat ke ummat. Bukan amal.
Ini hanyalah pengetahuan. Karena itulah hendaknya kita dapatkan ilmu dengan jalan ketaqwaan. Dan kita sampaikan ilmu itu sebagai amanat kepada ummat. Bagaimana menyampaikannya?
Sebagai amanat. Sampaikan ilmu kepada orang lain untuk ketaatan. Bukan untuk pengetahuan. Sampaikan ilmu tanpa imbalan apa pun.
لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً – لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً
Saya tidak menginginkan apa pun dari kalian.
Ini ada dalam dakwah setiap Nabi. Karena itulah hendaknya sampaikan ilmu pada ummat tanpa imbalan apa pun. Ini adalah amanat ummat. Harus disampaikan kepada ummat. Tetapi disampaikan dengan jalan amal.
Dengan Amal Terbentuk Amal
Ilmu berpindah dengan jalan amal. Bagaimana berpindah? Dengan amal. Karena itulah hendaknya mulai sekarang sebarkan ilmu dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dapatkan ilmu dengan jalan para sahabat.
Yakni dengan meniru madrasah Ash-haabus Shuffah. Para pelajarnya tidak meminta apa-apa imbalan. Tidak minta makanan maupun pakaian dari madrasah. Tidak meminta apa pun. Murid madrasah Suffah yang paling kelaparan adalah yang menjadi muhaddits terbesar, yaitu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Paling singkat waktunya. Menjadi alim terbesar. Yang sangat penting adalah bahwa mereka tidak meminta apa pun. Bila kita tidak meminta apa pun, maka jadilah kalian penuntut ilmu. Dan bila kalian mempunyai permintaan-permintaan, berarti bukan pelajar lagi. Penuntut ilmu adalah yang menuntut ilmunya murni, tidak menginginkan apa pun. Selain ilmu, tidak menginginkan apa pun.
Hadirin yang mulia,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengajar yang memiliki sebelas rumah. Berapa rumah? Sebelas rumah. Lalu, apa yang dilakukan oleh para penuntutnya? Para penuntut beliau ke hutan untuk mencari kayu bakar. Lalu kayu bakar itu dibawa ke kota untuk dijual. Hasilnya dibelikan hewan untuk disembelih, lalu dagingnya dikirimkan ke rumah para isteri beliau. Kerja siapa? Para pelajar. Sedangkan hari ini para pelajar malah menerima beasiswa.
Pemilik Harta Nishab Menerima Zakat
Seseorang datang dan mengadu, “Saya sudah empat tahun di madrasah, tetapi tidak ada hasil sama sekali.” Dia ini sangat kaya. Ayahnya pengusaha besar kulit.
Saya bertanya, “Kitab ambil dari mana?”
“Dari madrasah. Makan, tinggal, listrik, air dari madrasah semua.”
Saya berkata, “Bagaimana akan dapat ilmu, sedangkan engkau bukan mustahiq zakat.”
Dia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”
“Jangan gunakan sebarang kemudahan madrasah sekalipun - makan dan kitab jangan ambil dari madrasah. Sedangkan tinggalmu di madrasah hendaknya kamu ganti dengan sumbangan ke madrasah.”
Rumahnya cukup jauh, kira-kira 20-22 km. Dia pesan pada keluarga di rumah supaya disiapkan makanan dari rumah dan dikirimkan ke madrasah. Dia berfikir bahwa ayahnya memberikan zakat dalam jumlah besar ke madrasah. Maka berarti ia juga mempunyai hak yang besar di situ, sehingga disiapkan pakaian dan kemudahan khusus untuknya. Ayahnya banyak berjasa pada madrasah karena memberikan banyak zakat. Maka madrasah sudah semestinya memberikan perhatian khusus. Dan dia sendiri termasuk rajin dalam belajar. Tetapi mengapa tidak ada hasilnya? Sebabnya adalah zakat ayahnya, kotoran harta rumahnya menjadi penghalang baginya. Maka, sejak saat itu ia taubat. “Saya tidak akan makan dari madrasah.”
Apa yang terjadi kemudian. Sebulan kemudian ia datang dan mengatakan bahwa keadaannya berubah. Allah buat itu semua. Dan kesediaan itu dari mana datangnya? Keluar empat puluh hari tiap tahun secara istiqamah. Sekarang sudah menjadi ulama. Niat juga keluar setahun. Di sini sering saya sampaikan kepada para pelajar, “Jangan sekali menganggap benda apa pun di sini sebagai milik pribadi.
وَمَنْ كَانَ غَنِيّاً فَلْيَسْتَعْفِفْ، وَمَنْ كَانَ فَقِيراً فَلْيَأكُلْ بِالْمَعْرُوفِ
Harta Ijtima'i seperti Harta Anak Yatim
Saat sakit, Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Para tabib menganjurkan aku supaya minum madu.” Beliau kumpulkan orang-orang di masjid. Kepada mereka beliau berkata bahwa, aku disuruh minum madu. Di Baitul Maal ada madu, tetapi aku hanya boleh memakainya bila kalian semua mengizinkan. Bila tidak, maka memakai madu dari Baitul Maal tanpa izin kalian adalah haram bagiku.”
Hadirin yang mulia,
Karena ketaqwaan keluar dari diri kita, maka ilmu juga keluar. Sedangkan yang masih ada ini hanya pengetahuan saja. Hari ini, di manakah para ustadz dan para asatidzah? Seorang ustadz mengatakan, “Bila hari ini kambing makan dari rumput madrasah - biasanya diberi rumput di rumah - maka susunya harus diberikan kepada madrasah (Darul Ulum Deoband). Mengapa? Karena hari itu kambing sempat makan rumput madrasah. Padahal begitu mulai makan langsung dipalingkan. Sebab itu, susu hari itu jangan diminum di rumah, tetapi dikirimkan ke madrasah. Bila ustadz-ustadz seperti ini, mana mungkin Allah subhanahu wata’ala tidak memberikan ilham untuk mendidik para pelajarnya?
Karena itulah hendaknya kita jangan menganggap apa pun sebagai milik pribadi kita. Apa pun yang didapatkan, hendaklah diambil dengan istighna. Bila tidak berhak, atau tidak membutuhkannya, berikan pada yang lainnya. Dan bila memerlukannya, ambillah disertai istighfar. 
Bila seseorang menggunakan harta ijtimai disertai istighfar, dia akan terbebas dari keburukannya. Sedangkan yang mengambilnya dengan perasaan berhak - ini adalah hak saya - dia tidak akan selamat dari keburukan harta ijtimai.
Di sana sering saya sampaikan kepada teman-teman, “Mengapa kalian berikan uang zakat kepada madrasah? Mestinya, uang yang kalian belanjakan untuk memenuhi kesenangan kalian, hendaklah kalian sisihkan dan berikan kepada madrasah. Sedangkan uang zakat hendaknya kalian berikan kepada para mustahiq.
Kenapa? Sebab, Nur Ilmu tidak akan didapatkan dengan kotoran harta. Zakat itu kotoran harta bukan? Dan bila memang berhak menerima walaupun seorang kaya, maka ia memang berhak. Sebagian kawan kita mengatakan, Uang yang kita belanjakan untuk memenuhi kesenangan kita, hendaknya kita sisihkan dan berikan kepada madrasah. Sedangkan uang zakat hendaknya kita carikan para mustahiq."
Hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala
Karena itulah hadirin yang mulia,
Hendaknya kita fikirkan juga bahwa dengan ilmu ini sudah sejauh mana hubungan kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Bagaimana caranya? Kita belajar dengan tertib para sahabat. Dan mengajar dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisalkan ilmu yang beliau bawa seperti awan tebal. Dalam awan tebal ada tiga hal.
Di dalamnya ada ketinggian dan gerak. Ada apa? Ketinggian dan gerak. Dan awan tebal itu datang sendiri.
Ada satu ketertipuan di zaman ini. Kami mendengar bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa ulama adalah sumur ilmu. Maka siapa yang menginginkan ilmu, hendaklah ia datang sumur sendiri. Sebagaimana seorang yang kehausan datang ke sumur. Sumur tidak mendatangi orang yang kehausan. Orang yang menginginkan ilmu hendaknya menyiapkan peralatan, bawa timba dan tali, lalu datang ke tempat ulama. Sebab ulama itu adalah sumur.
Padahal bukan begitu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memisalkan ilmu yang ada pada beliau seperti sumur. Beliau memisalkan ilmu yang beliau bawa seperti awan tebal. Awan itu bergerak, sedangkan sumur diam. Awan itu bergerak, sedangkan tabiat sumur itu, merasa tidak berhajat pada yang lain. Sumur itu rendah, sedangkan awan tinggi. Di mana kejumudan, di mana gerak. Di mana gerak, di mana istighna?
Waktu ada yang duduk untuk penerimaan para penuntut baru, seorang ustadz berkata, “Itu tolong diuji dahulu. Kalau memang layak diterima maka terima saja. Bila kecerdasannya kurang, maka jangan diterima.”
Kita ini mengajar dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengajar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga Abu Thalib. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjadi pakar hadits sedangkan Abu Thalib tidak menerima Islam. Usaha beliau untuk keduanya sama. Mengapa? Beliau memisalkan bahwa dalam pengajaran beliau yang seperti hujan itu ada tiga jenis tanah.
Pertama adalah tanah yang menyerap air dan menumbuhkan berbagai macam rumput dan pepohonan. Kedua adalah tanah yang menampung air sehingga orang-orang bisa minum darinya dan memberi minum hewan mereka. Ketiga adalah tanah yang dihujani dan air ditumpahkan begitu saja.
Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghujankan ilmu beliau untuk mereka yang mengambil manfaat saja. Semuanya dihujani. Maka ada yang menyerap, ada juga yang tidak. Yang mau menyerap sukses, yang tidak menyerap gagal. Dan beliau tidak pernah mengatakan agar yang segolongan ini diajari dan yang segolongan ini jangan.
Karena itulah hendaknya kita semua niat, Insya Allah subhanahu wa ta’ala akan menuntut ilmu dan menyampaikannya pada ummat sebagai amanat. Bukan sebagai pekerjaan. Jangan lantas bertanya apakah kita akan dapat pekerjaan atau tidak? Satu hal yang mengherankan adalah banyak ulama yang bertebaran ke sana ke mari dengan dalih bahwa mereka tidak mendapatkan tempat untuk mengajar, sehingga tidak mengajar.
Maulana Muhammad Ilyas rahmatullah ‘alaih mengatakan bahwa madrasah dan pesantren yang ada sekarang ini adalah sesuatu yang baru. Pada zaman dulu setiap orang menuntut ilmu di masjid. Sedangkan madrasah-madrasah yang ada sekarang adalah sesuatu yang baru, yakni karena tuntutan keadaan sekarang.
Dahulu ilmu didapatkan di masjid. Dan masjid adalah tempat yang didatangi setiap orang muslim. Sedangkan madrasah, tidak setiap orang muslim datang kepadanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan setiap orang sahabatnya sebagai pengajar. Di zaman sekarang, yang disebut alim hanya mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan setiap orang sebagai pengajar.
بلِّغُوا عني ولو آية
"Sampaikan dariku walau satu ayat.."
Maknanya bila dikau mengetahui akan satu ayat sekalipun, maka engkau adalah pengajar dan penyampai ayat itu.
Hilangkan Pertentangan
Hilangkan pertentangan antara tabligh dan taklim dalam usaha kalian. Apabila tabligh dan taklim dipertentangkan, berarti mempertentangkan dua hal yang sama-sama dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, pekerjaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin bertentangan antara satu dengan lainnya. Ada sebagian kawan kita mengatakan, “Kalau sibuk mengajar, bagaimana pula dengan tablighnya?” Ini adalah perkataan yang sangat zalim. Bahkan ada yang begitu dangkal pemikirannya menganggap bahwa dirinya memiliki bashirah yang sempurna dalam kerja dakwah ini. Ia membedakan antara tabligh dan taklim. Padahal, dari situ nampak kerendahan bashirah tablighnya. Bahkan ada yang berlebihan sehingga mengatakan, “Saudaraku, engkau diciptakan untuk tabligh. Mengapa malah sibuk dalam taklim?” Apa beda tabligh dan taklim?
Mengajar orang yang datang itu taklim, sedangkan mendatangi untuk mengajar yang tidak datang itu tabligh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada semua yang hadir agar menyampaikan pada yang tidak hadir.
Bagi yang hadir , beliau adalah pengajar. Sedangkan untuk yang tidak hadir, beliau jadikan para pelajar sebagai pengajar bagi mereka. Bukankah begitu? Karena itulah diadakan nisab keluar satu tahun. Ini dengan harapan, Insyaallah dengan sebab kalian, kerja ini akan sampai ke madrasah-madrasah. Terkadang ada yang datang mengatakan, “Tuan, bolehkah tunjukkan sebuah madrasah tabligh?”
Saya jawab, “Dikau mencari madrasah tabligh. Sedangkan yang saya inginkan adalah dikau mencari madrasah yang belum tabligh agar kau hidupkan kerja dakwah di sana. Ini adalah tanggung jawab yang besar. Akan menjadi kerja yang besar. Bila ini berjalan terus maka berakibat orang-orang tabligh di madrasah tersendiri, sedangkan yang bukan tabligh di madrasah yang berbeda pula.
Padahal, setiap orang dari ummat mesti dibawa ke dalam dakwah. Cari madrasah yang belum ada kerja dakwah, kemudian beri tahukan, “Saya bersedia untuk berkhidmat di madrasah. Satu, dua, atau tiga jam tiap hari. Pagi hari saya mengajar, petang saya berdagang. Dan sisa waku dari keperluan saya pergunakan di masjid. Dan saya minta cuti empat puluh hari setiap tahun. Paling tidak, di waktu lapang/cuti, untuk menyampaikan ilmu yang telah saya pelajari dan saya ajarkan kepada ummat.
Bila ia menerima perjanjian itu, mengajarlah di sana. Bila tidak, maka usahakan di tempat lain. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa pekerjaan kita bukan mengajar. Perhatikanlah, menjalankan semua cabang usaha agama adalah tanggung jawab semua ummat. Dan menyampaikan gerak usaha agama ke semua cabang agama adalah tanggung jawab kita. Bagaimana tabligh dan taklim bisa bertentangan? Bagaimana satu diutamakan keatas yang lainnya?
Kalau mengutamakan, silakan sekehendaknya. Ini lebih utama, atau yang ini lebih utama. Bila kita sudah mulai mengutamakan keatas sesuatu yang lain, tentu tidak akan terlepas dari perselisihan. Jelas sekali. Seseorang yang mengutamakan sesuatu, tidak akan selamat dari perselisihan.
Dan;
إذا تعارضا تساقطا
"Apabila saling bertentangan, maka saling berguguran."
Kemudian akan saling merendahkan dan menghina serta mengunggulkan bagian yang ada pada dirinya. Ini adalah perbuatan mengadu domba, antara madrasah dan tabligh, antara tabligh dan taklim. Musibah besar..
Musibah terbesar dalam agama adalah bila dua hal yang sama-sama dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipertentangkan. Suatu kerja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mungkin bertentangan dengan kerja beliau lainnya.
Hadirin yang mulia,
Karena itulah, hendaknya dengan ilmu tumbuh keagungan ilmu dan ulama. Bila dengan ilmu tidak tumbuh pengagungan ilmu dan ulama, itu adalah kebodohan.
Dari manakah ilmu?
Karena itulah hendaknya ilmu dari ummat disampaikan kepada ummat dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tumbuhkan dalam diri ummat rasa keinginan untuk menuntut ilmu dari ummat. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengguncangkan ranting pohon di depan sahabat Salman lalu beliau bertanya, “Tidakkah engkau bertanya mengapa aku guncangkan ranting ini?”
Kerja Seorang Mufti juga Memunculkan Peminta Fatwa
Pekerjaan seorang mufti bukan hanya memberi fatwa. Apa yang mesti dilakukan? Memunculkan peminta fatwa. Bila tidak bertanya apa pun, hendaknya bertanya, “Mengapa tidak menanyakan apa pun pada saya?”
Beliau menggoncangkan ranting pohon sehingga daun berguguran lalu berkata, “Bila seorang mukmin berwudhu dengan baik, dosanya akan berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran.”
Hal yang menjadi perantara sampainya ilmu kenabian kepada ummat, itulah yang dilakukan sahabat kepada orang-orang setelah mereka. Bukan hanya menerangkan hadits, tetapi juga mengguncangkan ranting pohon lalu bertanya, “Mengapa kamu tidak bertanya kenapa aku melakukan ini?”
“Ya, mengapa engkau melakukan itu?”
“Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya mengapa aku tidak menanyakan penyebab beliau lakukan itu. Aku pun lantas bertanya dan beliau menjelaskan hadits ini.”
Cara Pengajaran Nabawi telah Keluar dari Ummat
Ilmu memang masih ada, tetapi cara pengajaran Nabawi telah hilang. Semakin berkurang cara pengajaran Nabawi, semakin mengarah kepada formalitas. Mengarah ke mana? Kepada formalitas. Dan bila ilmu sudah menuju formalitas, maka akan menjadi bahan dagangan. Buku dicetak untuk perdagangan.
Pencetak dan pedagang buku sama-sama tidak tahu apa isi buku. Menjual kitab adalah pekerjaannya. Dia bodoh. Sebab, dari ilmu itu, manfaat apa yang ia dapatkan? Manfaat duniawi.
Saya sangat sedih karena ada seorang penuntut yang mendapatkan satu set baru kitab Hayatush Shahabah yang dicetak dan dibagikan oleh kedutaan Saudi. Dia katakan bahwa ia tidak memerlukannya. Maka, ia pun menjual pada seorang kawannya.
Lalu ia buat pakaian. Mengapa demikian? Tatkala ilmu bukan dimaksudkan untuk ketaatan, maka jadilah perdagangan. Karena itulah hendaknya cara memberi dan mengambil ilmu hendaknya seperti cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat.
Pengajaran cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Menumbuhkan Ketaatan
Pengajaran cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menumbuhkan ketaatan, dan bila ditinggalkan, maksud ilmu akan terlupakan. Maksud ilmu adalah ketaatan. Perbedaan dan kebencian bukanlah maksud ilmu. Perbedaan akan menjadi rahmat bila itu wujud dalam amal. Bila tidak, perbedaan bukanlah rahmat, bahkan menjadi musibah;
إذا كنت لا تدري فتلك مصيبة - وإن كنت تدري فالمصيبة أعظم
"Bila engkau tidak tahu, maka itu adalah musibah, namun bila engkau tahu maka musibah lebih besar lagi."
Yakni karena orang yang tahu tetapi tidak beramal, maka ilmu tanpa amal menjadi musibah yang lebih besar baginya. Karena itulah hendaknya kita selalu berhati-hati, beristighfar, mementingkan sunnah. Sebab, ilmu ini untuk tarbiyah. Dan pesantren bukanlah tempat pengajaran kitab, tetapi tempat tarbiyyah/pendidikan.
Semalam saya sampaikan kepada para muqimin bahwa markaz adalah tempat tarbiyah, bukan tempat transit. Yang penting sudah lulus madrasah. Bukan begitu. Karena itulah hendaknya kita mendisiplinkan diri dengan ketaqwaan, dengan beristighfar, dengan perhatian pada sunnah-sunnah. Jaga pandangan. Hindarkan diri dari yang sia-sia. Jauhkan diri dari benda-benda luar.
Jangan berfikir, “Kami kan belajar, maka kami pelajari ini dan itu.”
Suatu saat, Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu membaca kitab taurat. Maka dengan gembira, dia sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia juga membaca itu. Ada tambahan pengetahuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat marah. Beliau kumpulkan para sahabat, berkhutbah di hadapan mereka.
Begitu murkanya beliau sehingga sahabat-sahabat menghunus pedang-pedang mereka sambil bertanya-tanya tentang siapa yang menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu rupa. Mereka pun tahu bahwa sahabat Umar telah mempelajari ilmu lain di samping yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan kitab itu sudah dimansukh (hukumnya tidak berlaku lagi).
Karena itulah hadirin yang mulia,
Semua pembicaraan sia-sia dinyatakan Al Quran bahwa itu adalah untuk menyesatkan. Semua buku-buku yang tidak jelas itu akan menghilangkan istikhlas. Istikhlas adalah melakukan satu pekerjaan dengan penuh tumpuan sehingga pandangan tidak mengarah pada yang lain. Seperti kereta kuda. Ada kan kereta kuda di sini? Kudanya diberi kaca mata kuda. Sebab, bila kuda melihat ke kiri kanan jalan, maka akan menghambat perjalanannnya.
Jangan menoleh kanan kiri. Yang mesti kalian lihat adalah apa yang diinginkan ilmu dari kita. Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya inginkan dari kita. Hindarkan diri dari buku-buku luar. Sebab, semua peralatan dan buku-buku itu akan menjadi penghalang ilmu. Ahli bathil selalu mengusahakan agar ilmu tidak berjalan. Karena itulah hendaknya kalian hindarkan diri dari benda-benda luar. Yang penting bukan menyelesaikan waktu. Bukan. Intipatinya adalah tarbiyyah.
Hendaknya kita kita lakukan sesuai dengan itu.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَولانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا وَمَولانَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ في العالمين إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ . رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ . رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ انك َأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ. اللهم اغفر لنا وللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات اللهم ألّفْ بين قُلُوبِنَا اللهم أصلِحْنا وأصلِحْ ذاتً بيننَا واهْدنَا سُبُلَ السلام، ونَجنّاَ من الظلماتِ إلى النورِ اللهم وفقنا لما تحب وترضى من القول والعمل والفعل والنية والهدى واجعل آخرتنا خيرا من الأولى اللهم الهمنا مراشد امورنا وأعذنا من شرور نفوسنا يا مُصَرِّفَ القلوب صرف قلوبنا على دينك يا مثبت القلوب ثبت قلوبنا على طاعتك اللهم إن قلوبنا ونواصينا وجوارحنا بيدك، لم تملكنا منها شيئا فإذا فعلت ذلك بنا اللهم كن أنت ولينا واهدنا إلى سواء السبيل. اللهم كن أنت ولينا واهدنا إلى سواء السبيل. صلى الله تعالى على خير خلقه محمد وعلى أله وصحبه أجمعين