Dalam beberapa hadits disebutkan tentang
berapa jumlah dzikir yang dianjurkan untuk dibaca di dalam shalat, setelah
shalat atau di luar shalat. Mulai dari bacaan 1 kali, 3 kali, 7 kali, 10 kali,
33 kali dan lainnya. Berikut ini akan disebutkan jumlah-jumlah yang secara
jelas dianjurkan dalam beberapa hadits untuk dibaca lebih dari seratus kali.
Sekaligus ini sebagai bantahan atas sebagian orang di masayarakat kita yang
“mengharamkan” membaca dzikir dengan hitungan-hitungan tertentu.
Yang sangat ironis adalah bahwa di antara
mereka yang “mengharamkan” membaca dzikir dengan hitungan-hitungan tertentu ada
yang mengaku dirinya sebagai ahli hadits, lalu ia mengatakan bahwa jumlah
bilangan terbanyak untuk dzikir yang disebutkan dalam sunnah adalah seratus
kali saja. Karena itu, menurutnya, jika seseorang membaca dzikir tertentu
dengan hitungan lebih dari seratus kali maka hukumnya haram. Hasbunallah
1. Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dari
sahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَتَيْ مَرَّةٍ فِيْ يَوْمٍ لَمْ يَسْبِقْهُ أَحَدٌ كَانَ قَبْلَهُ وَلاَ يُدْرِكُهُ أَحَدٌ بَعْدَهُ إِلاَّ بِأَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ” قَالَ الْحَافِظُ الْهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ إِلاَّ أَنَّهُ قَالَ: فِيْ كُلِّ يَوْمٍ” وَرِجَالُ أَحْمَدَ ثِقَاتٌ.
“Barang siapa membaca: “La Ilaha Illallahu
Wahdahu La Syarika Lahu Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli
Syai’in Qadir” sebanyak dua ratus kali dalam sehari,
maka tidak ada seorangpun sebelumnya yang bisa mendahuluinya dan tidak ada
seorang-pun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang melakukan amal
yang lebih afdlal darinya”.
(Al-Hafizh al-Haytsami berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan
ath-Thabarani. Hanya saja dalam riwayat ath-Thabarani lafazhnya adalah “Fi
Kulli Yaum…”. Dan perawi-perawi riwayat Ahmad adalah orang-orang tsiqat
(Orang-orang terpercaya).
2. Imam an-Nasa-i meriwayatkan dalam kitab ‘Amal
al-Yaum Wa al-Lailah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَصْبَحَ وَمِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَمْسَى لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِنْه إِلاَّ مَنْ قَالَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ.
“Barangsiapa membaca: “La Ilaha Illallahu
Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli
Syai’in Qadir” sebanyak seratus kali di pagi hari, dan seratus kali di sore hari, maka tidak ada seorangpun yang bisa
mengunggulinya, kecuali orang yang membaca lebih afdlal darinya”.
3. Dalam riwayat lainnya dalam kitab ‘Amal
al-Yaum Wa al-Lailah, al-Imam an-Nasa-i juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَتي مَرَّةٍ لَمْ يُدْرِكْهُ أَحَدٌ بَعْدَهُ إِلاَّ مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ أَفْضَلَ.
“Barangsiapa membaca: “La Ilaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa
Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak sebanyak dua ratus kali, maka tidak ada
seorangpun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang membaca sama
dengan yang dibacanya atau yang lebih afdlal darinya”.
4. Dalam kitab ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah
al-Imam an-Nasa-i juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ فِيْ يَوْمٍ مِائَتَيْ مَرَّةٍ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ لَمْ يَسْبِقْهُ أَحَدٌ كَانَ قَبْلَهُ وَلاَ يُدْرِكُهُ أَحَدٌ كَانَ بَعْدَهُ إِلاَّ مَنْ عَمِلَ أَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ.
“Barangsiapa membaca: “La Ilaha Illallahu
Wahdahu La Syarika Lahu Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak sebanyak dua ratus kali dalam
sehari, maka tidak ada seorangpun sebelumnya yang bisa mendahuluinya dan tidak
ada seorang-pun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang melakukan
amal yang lebih afdlal dari amalnya”.
5. al-Imam Muslim meriwayatkan dalam
Shahih-nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِيْنَ يُصْبِحُ وَحِيْنَ يُمْسِيْ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ )رواه مسلم (
“Barangsiapa membaca di pagi dan sore hari:
“Subhanallah Wa Bihamdih” sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorangpun di
hari kiamat nanti yang bisa mengunggulinya kecuali orang yang membaca seperti yang dibacanya atau lebih banyak darinya”. (HR. Muslim)
6. Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dari
Ummu Hani’ binti Abu Thalib, bahwa ia (Ummu Hani’) berkata: “Suatu ketika
aku bertemu dengan Rasulullah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku ini sudah
tua dan mulai lemah, karenanya perintahkan aku dengan suatu amalan yang bisa
aku kerjakan sambil duduk”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Bacalah:
سَبِّحِيْ اللهَ مِائَةَ تَسْبِيْحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِيْنَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ، وَاحْمَدِيْ اللهَ مِائَةَ تَحْمِيْدَةٍ تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسَرَّجَةً مُلْجَمَةً تَحْمِلِيْنَ عَلَيْهَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَكَبِّرِيْ اللهَ مِائَةَ تَكْبِيْرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةً مُتَقَبَّلَةً، وَهَلِّلِيْ اللهَ مِائَةَ تَهْلِيْلَةٍ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ ) حسّن إسنادَه الحافظ الهيثميّ والحافظ المنذريّ في الترغيب والترهيب(
“Bacalah tasbih seratus kali, sungguh itu
sebanding dengan seratus budak yang engkau
merdekakan dari anak keturunan Nabi Isma’il. Bacalah hamdalah seratus kali,
sungguh itu sebanding dengan seratus ekor kuda berpelana dan dikekang yang
membawa perbekalan perang di jalan Allah. Bacalah takbir seratus kali, sungguh
itu sebanding dengan seratus unta yang engkau sedekahkan dan diterima oleh
Allah. Dan bacalah tahlil seratus kali, maka ia akan memenuhi antara langit dan
bumi. Dan pada hari itu tidak ada amal seorang-pun yang diunggulkan atas kamu
kecuali orang yang melakukan seperti yang engkau lakukan”. (Hadits ini dihasankan oleh al-Hafizh al-Haitsami dan
al-Hafizh al-Mundziri dalam kitabnya at-Targhib Wa at-Tarhib).
Faedah Hadits:
Hadits-hadits ini menunjukkan adanya beberapa
jumlah untuk dzikir-dzikir tertentu; seratus atau dua ratus kali, tanpa melarang
jika dilebihkan, bahkan menganjurkan. Karena di akhir hadits-hadits tersebut
disebutkan bahwa yang bisa menyamai orang-orang yang berdzikir dengan
bilangan-bilangan tersebut adalah orang yang berdzikir dengan jumlah yang sama
atau lebih banyak dari pada itu. Ini artinya dianjurkan untuk berdzikir dengan
jumlah yang lebih banyak dari yang disebutkan. Oleh karenanya para ulama kita
yang merupakan Ahl al-‘Ilm Wa al-Fahm berkata: “Adanya hadits-hadits
yang menganjurkan untuk membaca dzikir tertentu dengan bilangan tertentu tidak
berarti haram jika berdzikir kurang dari bilangan tersebut atau lebih darinya.
Karena yang dimaksud oleh hadits-hadits tersebut adalah untuk menunjukkan
keutamaan tertentu, bagi dzikir tertentu, dengan jumlah tertentu tersebut. Sementara
itu di sisi lain banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang secara mutlak
menganjurkan untuk berdzikir tanpa menyebutkan jumlah atau bilangan tertentu.
Bahkan banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan anjuran untuk
berdzikir sebanyak-banyaknya”.
Dengan demikian berdzikir dengan jumlah
berapapun adalah hal yang diperbolehkan, karena anjuran untuk memperbanyak
dzikir bersifat umum tanpa dibatasi dengan bilangan tertentu. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً )الأحزاب (41-42:
“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah
kalian (menyebut nama Allah), denagn dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan
bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.
(QS. al-Ahzab: 41-42)
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا )الأحزاب (35:
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut
(nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. al-Ahzab: 35)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
أَكْثِرْ مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ) رواه ابن أبي شيبة وحسّن إسناده الحافظ ابن حجر(
“Perbanyaklah membaca “La Haula Wa La Quwwata
Illa Billah”. (HR.
Ibn Abi Syaibah dan dinilai Hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajar)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
اِسْتَكْثِرُوْا مِنَ البَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ ، قيل :وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: التَّكْبِيْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتَّحْمِيْدُ وَالتَّسْبِيْحُ وَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) رواه ابن حبان والحاكم وصحّحاه وأحمد وأبو يعلى وإسناده حسن(
“Perbanyaklah oleh kalian dari al-Baqiyat
ash-Shalihat! Kemudian ditanyakan kepada Rasulullah: Apakah al-Baqiyat
ash-Shalihat itu wahai Rasulullah?
Beliau menjawab: “Takbir, Tahlil, Tahmid, Tasbih dan La Haula Wa La Quwwata
Illa Billah”. (HR. Ibn Hibban, al-Hakim dan keduanya
menyatakan Shahih. Juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang
Hasan)
Kedua ayat dan kedua hadits tersebut
menganjurkan untuk memperbanyak dzikir tanpa dibatasi dengan batasan bilangan
tertentu. Melainkan dengan sebanyak apapun yang diinginkan. Banyak bisa berarti
ratusan atau ribuan. Dengan demikian boleh bagi seseorang untuk merutinkan
dzikir tertentu dengan bilangan tertentu, baik ratusan, ribuan, lebih dari pada
itu, atau kurang dari pada itu. Bukankah amalan yang paling dicintai oleh Allah
adalah yang dirutinkan meskipun sedikit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دُوْوِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ) أخرجه مسلم في صحيحه(
“Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai
oleh Allah adalah yang terus menerus dirutinkan meskipun sedikit”.
(HR. Muslim)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa dalam berdzikir boleh dengan bilangan tertentu seperti bilangan-bilangan
yang disebutkan dalam hadits. Juga boleh berdzikir dengan bilangan yang ia
tentukan sendiri, yang ia rutinkannya. Boleh juga berdzikir sebanyak-banyaknya
berapapun jumlahnya tanpa batas tertentu, atau bahkan tanpa dihitung sekalipun.
DZIKIR MENGGUNAKAN TASBIH
Al-Muhaddits asy-Syekh as-Sayyid ‘Abdullah
al-Ghumari dalam Itqan ash-Shan’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, menuliskan
sebagai berikut:
وَالسُّبْحَةُ تَضْبِطُ الأَعْدَادَ الْمَأْثُوْرَةَ، وَلِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ، فَالسُّبْحَةُ مَشْرُوْعَةٌ.
“Tasbih bisa menghitung jumlah-jumlah dzikir
yang dianjurkan dalam sunnah. Dan karena alat-alat untuk ibadah memiliki hukum
yang sama dengan tujuannya itu sendiri; yaitu ibadah, maka berarti tasbih juga
disyari’atkan (Artinya,
karena dzikir disyari’atkan maka alat untuk berdzikir-pun disyari’atkan)” [Itqan ash-Shun’ah, h. 45].
Para ulama menyatakan bahwa berdzikir dengan
menggunakan tasbih hukumnya boleh berdasarkan hadits-hadits berikut:
1. Hadits riwayat Sa’d ibn Abi Waqqash radhiyallahu
‘anhu bahwa dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
melihat seorang perempuan sedang berdzikir. Di depan perempuan tersebut
terdapat biji-bijian atau kerikil yang ia digunakan untuk menghitung dzikirnya.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:
أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُعَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِيْ السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِيْ الأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذلِكَ وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذلِكَ وَالْحَمْدُ لله مِثْلَ ذلِكَ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ مِثْلَ ذلِكَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ مِثْلَ ذلِكَ ) رواه الترمذي وحسّنه وصحّحه ابن حبّان والحاكم وحسّنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار(
“Aku beritahu kamu cara yang lebih mudah dari
ini atau lebih afdlal. Bacalah: “Subhanallah ‘Adada Ma
Khalaqa Fi as-Sama’, Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Fi al-Ardl, Subhanallah
‘Adada Ma Baina Dzalika, Subhanallah ‘Adada Ma Huwa Khaliq”, (Subhanallah -maha
suci Allah- sebanyak makhluk yang Dia ciptakan di langit, Subhanallah sebanyak
makhluk yang Dia ciptakan di bumi, Subhanallah sebanyak makhluk yang Dia
ciptakan di antara langit dan bumi, Subhanallah sebanyak semua makhluk yang Dia
ciptakan). Kemudian baca “Allahu Akbar” seperti itu. Lalu baca “Alhamdulillah”
seperti itu. Dan baca “La Ilaha Illallah” seperti itu. Serta baca “La Hawla
Wala Quwwata Illa Billah” seperti
itu. (HR. at-Tirmidzi dan dinilainya Hasan. Dinyatakan Shahih oleh Ibn Hibban
dan al-Hakim. Serta dinilai Hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajaiyr dalam Takhrij
al-Adzkar).
2. Hadits diriwayatkan dari Umm al-Mukminin,
salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bernama
Shafiyyah radhiyallahu 'anha. Bahwa beliau (Shafiyyah) berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، فَقَالَ: لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذَا؟ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ؟ فَقَالَتْ: عَلِّمْنِيْ، فَقَالَ: قُوْلِيْ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ مِنْ شَىْءٍ ) رواه الترمذي والحاكم والطبرانيّ وغيرهم وحسّنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار(
“Suatu ketika Rasulullah menemuiku dan ketika
itu ada di hadapanku empat ribu biji-bijian yang aku gunakan untuk berdzikir.
Lalu Rasulullah berkata: Kamu telah bertasbih dengan biji-bijian ini?! Maukah
kamu aku ajari yang lebih banyak dari ini? Shafiyyah menjawab: Iya, ajarkanlah
kepadaku. Lalu Rasulullah bersabda: “Bacalah: “Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa
Min Sya’i” (HR. at-Tirmidzi, al-Hakim, ath-Thabarani
dan lainnya, dan dihasankan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Nata-ij
al-Afkar Fi Takhrij al-Adzkar)
Faedah Hadits:
Dalam dua hadits ini Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mendiamkan, artinya menyetujui (iqrar), dan tidak
mengingkari sahabat yang berdzikir dengan biji-bijian dan kerikil-kerikil
tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menunjukkan
kepada yang lebih afdlal dari menghitung dzikir dengan biji-bijian atau
kerikil. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan
kepada sesuatu yang lebih afdlal (al-afdlal), hal ini bukan berarti untuk
menafikan yang sudah ada (al-mafdlul). Artinya, yang sudah adapun (al-mafdlul)
boleh dilakukan.
Dari iqrar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini dapat diambil dalil bahwa bertasbih dengan kerikil atau biji-bijian ada keutamaan atau faedah pahalanya. Karena seandainya tidak ada keutamaannya, berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujui ibadah yang sia-sia, yang tidak berpahala, dan jelas hal ini tidak mungkin terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mendiamkan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Syekh Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits Sa’d ibn Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu di atas, dalam kitab Syarh al-Misykat, menuliskan sebagai berikut:
Dari iqrar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini dapat diambil dalil bahwa bertasbih dengan kerikil atau biji-bijian ada keutamaan atau faedah pahalanya. Karena seandainya tidak ada keutamaannya, berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujui ibadah yang sia-sia, yang tidak berpahala, dan jelas hal ini tidak mungkin terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mendiamkan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Syekh Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits Sa’d ibn Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu di atas, dalam kitab Syarh al-Misykat, menuliskan sebagai berikut:
وَهذَا أَصْلٌ صَحِيْحٌ لِتَجْوِيْزِ السُّبْحَةِ بِتَقْرِيْرِهِ صَلّى اللهُ عَليْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّهُ فِيْ مَعْنَاهَا، إِذْ لاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمَنْظُوْمَةِ وَالْمَنْثُوْرَةِ فِيْمَا يُعَدُّ بِهِ.
“Ini adalah dasar yang shahih untuk
membolehkan penggunaan tasbih, karena tasbih ini semakna dengan biji-bijian dan kerikil tersebut. Karena tidak
ada bedanya antara yang tersusun rapi (diuntai dengan tali) atau yang terpencar
(tidak teruntai) bahwa setiap itu semua adalah alat untuk menghitung dzikir” [Syarh al-Misykat, j. 3, h. 54].
3. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ) رواه الديلميّ في مسند الفردوس (
“Sebaik-baik pengingat kepada Allah adalah
tasbih” (HR. ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus)
Faedah Hadits:
Hadits ini adalah hadits Dla’if. Hadits ini
bukan Maudlu’ (palsu) seperti dikatakan oleh Nashiruddin al-Albani. Hadits ini
mendukung dua hadits shahih di atas yang membolehkan bertasbih dengan tasbih.
Maka hadits ini boleh dimaknai: bahwa “Sebaik-baik pengingat kepada Allah
adalah alat dzikir yang dinamakan tasbih”.
Al-Muhaddits asy-Syekh ‘Abdullah al-Harari
dalam risalahnya berjudul at-Ta’aqqub al-Hatsits ‘Ala Man Tha’ana Fima Shahha
Min al-Hadits, menuliskan sebagai berikut:
ثُمَّ حَاصِلُ بَحْثِنَا أَنَّ الَّذِيْ تُعْطِيْهِ الْقَوَاعِدُ الْحَدِيْثِيَّةُ أَنَّ حَدِيْثَ: نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ ضَعِيْفٌ بِهذَا السَّنَدِ لَكِنَّهُ لاَ يُمْنَعُ الْعَمَلُ بِهِ، وَإِنَّمَا يُمْنَعُ الْعَمَلُ بِالضَّعِيْفِ – سِوَى الْمَوْضُوْعِ- إِذَا كَانَ شَدِيْدَ الضَّعْفِ وَهُوَ الَّذِيْ يَنْفَرِدُ بِهِ كَذَّابٌ، أَوْ مُتَّهَمٌ بِالْكَذِبِ، أَوْ مَنْ فَحُشَ غَلَطُهُ، فَهذَا السَّنَدُ لاَ يُعْلَمُ فِيْهِ أَحَدٌ مِنْ هؤُلاَءِ، وَلاَ نَصَّ أَحَدٌ مِنَ الْحُفَّاظِ بِهذَا التَّفَرُّدِ فِيْهِ، وَيَنْطَبِقُ عَلَيْهِ الشَّرْطُ الآخَرُ وَهُوَ الدُّخُوْلُ تَحْتَ أَصْلٍ عَامٍّ. وَالأَصْلُ العَامُّ هُنَا مَا يُؤْخَذُ مِنْ حَدِيْثِ التَّسْبِيْحِ بِالْحَصَى مِنْ صِحَّةِ الاسْتِعَانَةِ عَلَى الضَّبْطِ لِلْعَدَدِ بِكُلِّ مَا هُوَ فِيْ مَعْنَاهَا، فَلاَ مَانِعَ مِنْ جِهَةِ الْحَدِيْثِ مِنَ الْعَمَلِ، عَلَى أَنَّهُ قَدْ جَوَّزَ الْعَمَلَ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ مِنْ غَيْرِ قَيْدٍ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِيْ دَاوُدَ وَابْنِ مَهْدِيٍّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ كَمَا فِيْ التَّدْرِيْبِ وَغَيْرِهِ مِنْ كُتُبِ الاصْطِلاَحِ.
“Kemudian kesimpulan pembahasan kita sesuai
kaedah-kaedah ilmu hadits, bahwa hadits “Ni’ma al-Mudzkkir as-Subhah” adalah
Dla’if dengan sanad ini. Tetapi tidaklah dilarang mengamalkan hadits ini.
Melainkan yang dilarang adalah mengamalkan hadits dla’if -selain maudlu’ (palsu)- apa bila hadits tersebut
sangat lemah (Syadid adl-Dla’f). Hadits yang sangat lemah adalah hadits yang
hanya diriwayatkan oleh seorang kadzdzab (pendusta), atau dituduh berdusta atau
sangat parah kesalahannya dalam meriwayatkan hadits. Sedangkan dalam sanad
hadits ini tidak terdapat perawi-perawi seperti itu, dan tidak ada seorang ahli
hadits-pun yang menyatakan adanya tafarrud di dalamnya (hanya diriwayatkan oleh
perawi dengan sifat-sifat yang disebutkan). Dalam hadits ini juga terdapat
syarat lain (untuk dibolehkan mengamalkan hadits Dla’if yang bukan Maudlu’ dan
bukan Syadid adl-Dla’f), yaitu masuk dalam dalil umum. Dan dalil umum dalam
masalah ini diambil dari hadits bertasbih dengan kerikil dari sisi bahwa
dibenarkan menggunakan alat untuk menghitung jumlah dzikir dengan apapun yang
semakna dengan kerikil. Jadi jika dilihat kondisi hadits ini, tidak ada
larangan untuk mengamalkannya. Apalagi ada sebagian ahli hadits seperti al-Imam
Ahmad ibn Hanbal, Abu Dawud, Ibn Mahdi, Ibn al-Mubarak yang membolehkan
mengamalkan hadits Dla’if tanpa syarat atau ketentuan apapun seperti disebutkan
dalam Tadrib ar-Rawi dan buku-buku ilmu Musthalah al-Hadits yang lain” [at-Ta’qqub al-Hatsits, h. 64-65].
Bahkan al-Muhaddits asy-Syekh ‘Abdullah
al-Ghumari dalam Itqan ash-Shun’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, hlm. 45-46, menegaskan
bahwa ketika orang berdzikir menggunakan biji-bijian, kerikil atau tasbih,
sesungguhnya dia menghitung dzikir dengan jari-jari tangannya juga, karena dia
menggunakan jari-jarinya untuk mengambil dan memegang biji-bijian atau kerikil
tersebut, ia juga menggunakan jari-jarinya untuk menggerakkan dan memutar
tasbih tersebut. Berarti ia memperoleh pahala seperti halnya bila dia hanya
menggunakan jari-jarinya untuk menghitung dzikirnya tersebut. Dengan demikian
menghitung dzikir dengan biji-bijian, kerikil atau tasbih, berarti masuk dalam
kesunnahan berdzikir dengan menggunakan jari-jari tangan yang disebutkan dalam hadits
Yusairah [Itqan ash-Shun’ah, h. 45-46]. Dalam hadits Yusairah ini Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَالتَّقْدِيْسِ، وَلاَ تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ، وَاعْقِدْنَ بِالأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُوْلاَتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ ) أخرجه ابن أبي شيبة وأبو داود والترمذيّ(
“Bacalah oleh kalian Tasbih, Tahlil dan Taqdis, dan jangan lupa
memohon rahmat Allah, dan hitunglah dengan jari-jari tangan karena nanti di
akhirat jari-jari tersebut akan ditanya dan nantinya akan berbicara dan
menjawab”. (HR. Ibn Abi Syaibah, Abu Dawud dan
at-Tirmidzi)
Antara Menghitung Dzikir Dengan Jari Atau
Tasbih
Dzikir yang dibaca oleh seseorang jika
dihitung dengan jari-jari tangan kanan itu lebih afdlal. Karena hal itu yang
dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Warid) dengan
perkataan dan dengan perbuatannya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan oleh
‘Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam ketika bertasbih beliau menghitungnya dengan jari-jari
tangan kanannya (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim dan al-Baihaqi dalam
Sunan-nya).
Namun demikian, hal ini bukan berarti
menghitung dzikir dengan sesuatu yang lain tidak boleh, walaupun memang yang
lebih afdlal menghitung dengan jari-jari tangan. Dengan dalil bahwa suatu
ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati salah seorang
istrinya yang bernama Shafiyyah radhiyallahu ‘anha meletakkan empat ribu
biji kurma dihadapannya yang ia gunakan untuk menghitung tasbihnya (HR.
at-Tirmidzi, al-Hakim, ath-Thabarani dan lainnya). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam tidak melarang, serta tidak mengingkari perbuatan
Shafiyyah radhiyallahu ‘anha tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam hanya menunjukkan kepada Shafiyyah radhiyallahu ‘anha terhadap
yang lebih mudah dan lebih afdlal, seperti yang telah kita kemukakan di atas
dengan dalil-dalilnya.
Demikian juga ada beberapa sahabat lain yang
menghitung bacaan dzikirnya dengan biji kurma, kerikil atau benang yang
disimpulkan. Di antaranya sahabat Abu Shafiyyah radhiyallahu ‘anhu;
salah seorang bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal dalam kitab az-Zuhd, dan
kitab al-Jami’ fi al-‘Ilal wa Ma’rifat ar-Rijal. Juga seperti yang diriwayatkan
oleh al-Imam al-Baghawi dalam kitab Mu’jam ash-Shahabah.
Termasuk di antaranya sahabat Sa’d ibn Abi
Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abi
Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, dan Ibn Sa’d dalam kitab ath-Thabaqaat. Juga
di antaranya sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana
diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibn Ahmad dalam kitab Zawaa-id az-Zuhd, al-Hafizh
Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah al-Auliya’, serta diriwayatkan adz-Dzahabi dalam
kitab Tadzkirah al-Huffazh dan kitab Siyar A’lam an-Nubala’.
Kemudian pula di antaranya sahabat Abu
ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam
Ahmad ibn Hanbal dalam kitab az-Zuhd, dan lainnya.
Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa hukum
menghitung dzikir dengan tasbih atau semacamnya adalah boleh, tidak haram,
walaupun yang lebih baik (afdlal) menghitungnya dengan jari tangan kanan. Hukum
yang serupa dengan ini adalah tentang shalat Rawatib al-Faraidl (Qabliyyah dan
Ba’diyyah). Bahwa yang lebih afdlal shalat sunnah Rawatib tersebut dilaksanakan
di rumah, namun bukan berarti haram jika shalat sunnah tersebut dilakukan di
masjid.
Bahkan al-Faqih al-‘Allamah Ibn Hajar
al-Haitami dalam kitab al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, menuliskan bahwa
sebagian ulama telah merinci tentang keutamaan berdzikir antara dengan
jari-jari atau dengan untaian tasbih. Beliau menuliskan sebagai berikut:
إِنْ أَمِنَ الْمُسَبِّحُ الْغَلَطَ كَانَ عَقْدُهُ بِالأَنَامِلِ أَفْضَلَ، وَإِلاَّ فَالسُّبْحَةُ أَفْضَلُ.
“Jika orang yang berdzikir tidak khawatir
salah hitung maka menghitung dzikir dengan jari-jari tangan hukumnya lebih
afdlal. Namun jika ia khawatir salah
hitung maka menghitung dengan tasbih lebih afdlal” [al-Fatwa al-Kubra, j. 1, h. 152].
Amaliah Para Ulama Salaf Dan Khalaf
Berikut ini sebagian para ulama Salaf dan
para ulama Khalaf yang berdzikir menggunakan kerikil, biji kurma, atau semacam
ikatan yang disimpulkan menjadi untaian tasbih. Di antaranya ialah:
1. Shafiyyah radhiyallahu ‘anha.
Beliau adalah Umm al-Mu’minin, salah seorang istri Rasulullah . Dalam
menghitung dzikir beliau menggunakan biji-biji kurma atau kerikil-kerikil
seperti yang telah kita sebutkan di atas. Hadits ini diriwayatkan oleh
at-Tirmidzi, al-Hakim, dan ath-Thabarani.
2. Abu Shafiyyah radhiyallahu ‘anhu.
Beliau adalah salah seorang bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Dalam menghitung dzikirnya beliau menggunakan kerikil-kerikil
atau biji-biji kurma. Hadits ini dituturkan oleh al-Imam al-Baghawi dalam kitab
Mu’jam ash-Shahabah, al-Hafizh Ibn ‘Asa-kir dalam kitab Tarikh Dimasyq, al-Imam
Ahmad ibn Hanbal dalam kitab az-Zuhd dan kitab al-Jami’ Fi al-‘Ilal Wa Ma’rifah
ar-Rijal, al-Imam al-Bukhari dalam kitab at-Tarikh al-Kabir, al-Imam Ibn Abi
Hatim dalam kitab al-Jarh Wa at-Ta’dil, Ibn Sayyid an-Nas dalamkitab ‘Uyun
al-Atsar, al-Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman, dan Ibn Katsir dalam
al-Bidayah Wa an-Nihayah.
3. Sa’ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu
‘anhu. Beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam terkemuka. Dalam berdzikir beliau menggunakan kerikil dan
biji-biji kurma. Diriwayatkan oleh Ibn Sa’d dalam kitab ath-Thabaqat al-Kubra,
dan Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf.
4. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkemuka ini memiliki
benang dengan simpulannya sebanyak dua ribu bundelan. Sebelum tidur beliau
berdzikir dengan menggunakan alat ini hingga selesai. Hadits ini diriwayatkan
oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah al-Awliya’, ‘Abdullah ibn Ahmad dalam kitab
Zawa-id az-Zuhd, adz-Dzahabi dalam kitab Tadzkirah al-Huffazh dan Siyar A’lam
an-Nubala’. Juga diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berdzikir dengan mempergunakan
biji kurma atau kerikil sebagaimana disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab
Sunan, dan Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnad.
5. Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini berdzikir dengan
biji kurma ‘Ajwah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal dalam
kitab az-Zuhd.
6. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini berdzikir dengan
biji-bijian seperti yang dituturkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam kitab
al-Mushannaf.
7. Abu Muslim al-Khaulani rahimahullah,
sebagaimana dituturkan oleh Abu al-Qasim ath-Thabari.
8. Al-Imam al-Junaid al-Baghdadi rahimahullah.
Beliau adalah pemimpin kaum sufi (Sayyid ath-Tha’ifah ash-Shufiyyah). Dalam
berdzikir beliau mempergunakan untaian tasbih, sebagaimana dituturkan oleh Ibn
Khallikan dalam kitab Wafayat al-A’yan, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi dalam
kitab Tarikh Baghdad, dan al-Qadli ‘Iyadl dalam kitab al-Ghun-yah –Fahrasah
Syuyukh al-Qadli ‘Iyadl–).
9. Al-Hafizh al-Muhaddits al-Mujtahid Yahya
ibn Sa’id al-Qaththan rahimahullah. Belaiu adalah ulama terkemuka yang
telah mencapai derajat mujtahid mutlak. (w 198 H). dalam berdzikir selalu
mempergunakan untaian tasbih, seperti yang dituturkan oleh adz-Dzahabi dalam
kitab Tadzkirah al-Huffazh dan kitab Siyar A’lam an-Nubala’.
10. Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah.
Ahli hadits terkemuka, yang digelar dengan “Amir al-Mu’minin Fi al-Hadits”.
Dalam berdzikir beliau mempergunakan untaian tasbih, sebagaimana diituturkan
oleh muridnya sendiri, yaitu al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Jawahir Wa
ad-Durar.
11. Abu Sa’id ‘Abd as-Salam ibn Sa’id ibn
Hubaib al-Maliki rahimahullah (w 240 H) yang lebih dikenal dengan nama
Sahnun. Beliau mengalungkan tasbih di lehernya dan berdzikir dengannya, seperti
dituturkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’.
12. Al-Kharsyi al-Maliki rahimahullah (w
1101 H). Penulis Hasyiyah ‘Ala Mukhtashar Khalil, atau yang di sebut dengan
Hasyiyah al-Kharsyi.
13. Dan masih banyak para ulama lainnya.
Perkataan Sebagian Ulama Tentang Tasbih
1. Perkataan al-Junaid al-Baghdadi rahimahullah.
Al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki dalam kitab al-Ghun-yah, (Fahrasat Syuyukh al-Qadli
‘Iyadl). (Kitab berisi tentang guru-guru al-Qadli ‘Iyadl sendiri), meriwayatkan
dari salah seorang gurunya, bahwa guru al-Qadli ‘Iyadl ini berkata:
سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ الْحَبَّالَ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ أَبَا الْحَسَنِ بْنَ الْمُرْتَفِقَ الصُّوْفِيَّ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ أَبَا عَمْرِو بْنَ عَلْوَانَ وَقَدْ رَأَيْتُ فِيْ يَدِهِ سُبْحَةً فَقُلْتُ: يَا أُسْتَاذُ مَعَ عَظِيْمِ إِشَارَتِكَ وَسَنِيِّ عِبَارَتِكَ وَأَنْتَ مَعَ السُّبْحَةِ فَقَالَ لِيْ: كَذَا رَأَيْتُ الْجُنَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ وَفِيْ يَدِهِ سُبْحَةٌ فَسَأَلْتُهُ عَمَّا سَأَلْتَنِيْ عَنْهُ فَقَالَ لِيْ: كَذَا رَأَيْتُ أُسْتَاذِيْ بِشْرَ بْنَ الْحَارِثِ وَفِيْ يَدِهِ سُبْحَةٌ فَسَأَلْتُهُ عَمَّا سَأَلْتَنِيْ عَنْهُ فَقَالَ لِيْ: كَذَا رَأَيْتُ عَامِرَ بْنَ شُعَيْبٍ وَفِيْ يَدِهِ سُبْحَةٌ فَسَأَلْتُهُ عَمَّا سَأَلْتَنِيْ عَنْهُ فَقَالَ لِيْ: كَذَا رَأَيْتُ أُسْتَاذِيْ الْحَسَنَ بْنَ أَبِيْ الْحَسَنِ الْبِصْرِيَّ وَفِيْ يَدِهِ سُبْحَةٌ فَسَأَلْتُهُ عَمَّا سَأَلْتَنِيْ عَنْهُ فَقَالَ لِيْ: يَا بُنَيَّ، هذَا شَىْءٌ كُنَّا اسْتَعْمَلْنَاهُ فِيْ الْبِدَايَاتِ مَا كُنَّا بِالَّذِيْ نَتْرُكُهُ فِيْ النِّهَايَاتِ، أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ تَعَالَى بِقَلْبِيْ وَيَدِيْ وَلِسَانِيْ.
“Aku mendengar Abu Ishaq al-Habbal berkata: Aku mendengar Abu al-Hasan ibn al-Murtafiq
ash-Shufi berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr ibn ‘Alwan berkata ketika aku melihat
tasbih di tangannya dan aku berkata kepadanya: “Wahai Guru-ku, dengan keagungan
isyaratmu dan ketinggian tutur katamu masih juga-kah engkau menggunakan
tasbih?!”. Beliau berkata kepadaku: “Demikian ini aku melihat al-Junaid ibn
Muhammad dan di tangannya ada tasbih, lalu aku bertanya kepadanya tentang apa
yang engkau tanyakan kepadaku, maka al-Junaid berkata kepadaku: Demikian ini
aku melihat guruku Bisyr ibn al-Harits dan di tangannya ada tasbih, lalu aku
bertanya kepadanya tentang apa yang engkau tanyakan kepadaku, maka Bisyr
berkata kepadaku: Demikian ini aku melihat ‘Amir ibn Syu’aib dan di tangannya
ada tasbih, lalu aku bertanya kepadanya tentang apa yang engkau tanyakan
kepadaku, maka ‘Amir berkata kepadaku: Demikian ini aku melihat guruku;
al-Hasan ibn Abu al-Hasan al-Bashri dan di tangannya ada tasbih, lalu aku
bertanya kepadanya tentang apa yang engkau tanyakan kepadaku, maka al-Hasan
berkata kepadaku: “Wahai anak-ku, tasbih ini adalah alat yang kita pakai saat
kita memulai mujahadah kita, dan kita tidak akan pernah meninggalkannya di saat
kita telah sampai pada puncak tingkatan kita sekarang. Aku ingin berdzikir;
menyebut Allah dengan hati, tangan dan lidahku” [al-Ghunyah, h. 180-181].
2. al-Imam an-Nawawi rahimahullah (w
676 H) dalam kitab Tahdzib al-Asma’ Wa al-Lughat, menuliskan sebagai berikut:
وَالسُّبْحَةُ بِضَمِّ السَّيْنِ وَإِسْكَانِ الْبَاءِ خَرَزٌ مَنْظُوْمَةٌ يُسَبَّحُ بِهَا مَعْرُوْفَةٌ تَعْتَادُهَا أَهْلُ الْخَيْرِ مَأْخُوْذَةٌ مِنَ التَّسْبِيْحِ.
“Subhah -dengan harakat dlammah pada huruf
sin dan ba’ yang di-sukun-kan- adalah sesuatu yang dirangkai dan digunakan untuk berdzikir, umum
diketahui dan biasa digunakan oleh Ahl al-Khair. Subhah diambil dari kata
Tasbih” [Tahdzib al-Asma’ Wa al-Lughat, j. 3, h.
143-144].
Mari kita renungkan perkataan al-Imam
an-Nawawi rahimahullah: “Ta’taduha Ahl al-Khair”, artinya; Tasbih adalah
alat yang biasa digunakan oleh Ahl al-Khair, yakni biasa digunakan oleh para Atqiya’,
orang-orang yang mulia dan orang-orang saleh, serta lainnya. Demikian juga para
wali Allah menggunakannya. Apakah pantas bila kemudian ada orang berkata:
“Menggunakan tasbih adalah kebiasaan ahli bid’ah dan orang-orang musyrik?!”.
Hasbunallah.
3. al-‘Allamah asy-Syaikh Ibn ‘Allan rahimahullah
dalam Syarh al-Adzkar, menuliskan sebagai:
وَحَاصِلُ ذلِكَ أَنَّ اسْتِعْمَالَهَا فِيْ أَعْدَادِ الأَذْكَارِ الْكَثِيْرَةِ -الَّتِيْ يُلْهِيْ الاشْتِغَالُ بِهَا عَنْ التَّوَجُّهِ لِلذِّكْرِ- أَفْضَلُ مِنَ الْعَقْدِ بِالأَنَامِلِ وَنَحْوِهِ، وَالْعَقْدُ بِالأَنَامِلِ فِيْمَا لاَ يَحْصُلُ فِيْهِ ذلِكَ سِيَّمَا الأَذْكَارُ عَقِبَ الصَّلاَةِ وَنَحْوُهَا أََفْضَلُ، وَاللهُ أَعْلَمُ.
“Kesimpulannya, bahwa menggunakan tasbih
dalam bilangan atau jumlah dzikir yang banyak -yang jika seseorang sibuk dengan
bilangan yang banyak tersebut hingga ia tidak dapat konsentrasi dalam dzikir-
hal itu lebih afdlal daripada menghitung dengan jari-jari tangan dan semacamnya. Sedangkan menghitung dengan
jari-jari tangan dalam dzikir-dzikir yang tidak mengganggu konsentrasinya,
apalagi seperti dzikir seusai shalat dan semacamnya, maka itu lebih afdlal
(dari pada menghitung dengan tasbih)”
[Syarah al-Adzkar, j. 1, h. 252].
Karenanya banyak dari para ulama kita yang
memfatwakan kebolehan berdzikir dengan mempergunakan tasbih. Bahkan banyak pula
di antara mereka yang menulis karangan khusus tentang kebolehan berdzikir
dengan tasbih ini. Di antaranya adalah: al-Hafizh as-Suyuthi rahimahullah
yang telah menulis risalah berjudul al-Minhah Fi as-Subhah, al-Hafizh Ibn
Thulun rahimahullah menulis al-Mulhah Fima Warada Fi Ashl as-Subhah, Ibn
Hamdun rahimahullah dalam Hasyiyah-nya, Ibn Hajar al-Haytami rahimahullah
dalam al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, al-Muhaddits Muhammad Ibn ‘Allan ash-Shiddiqi
asy-Syafi’i rahimahullah dalam I-qad al-Mashabih Li Masyru’iyyah
Ittikhadz al-Masabih, Muhammad Amin ibn ‘Umar rahimahullah yang lebih
dikenal dengan nama Ibn ‘Abidin dalam Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘Ala ad-Durr
al-Mukhtar, al-Muhaddits Syekh ‘Abdullah al-Ghumari rahimahullah dalam
Itqan ash-Shan’ah Fi Tahqiq MA’na al-Bid’ah, al-Hafizh al-Muhaddits asy-Syekh
‘Abdullah al-Harari rahimahullah dalam at-Ta’aqqub al-Hatsits dan
Nushrah at-Ta’aqqub, serta masih banyak para ulama lainnya.
Kerancuan Kalangan Yang Membid’ahkan Dan
Mengharamkan Tasbih
Sebagian kalangan yang mengharamkan
mempergunakan tasbih secara membabi buta karena kebodohannya berkata: “Memakai
tasbih adalah kebiasaan dan lambang orang-orang Nasrani”..
Jawab:
Hasbunallah. Pernyataan seperti ini sangat gegabah dan sangat berlebih-lebihan. Tidak pernah ada seorang ulama-pun yang mengatakan seperti ini. Bahkan orang Islam awam sekali-pun tidak mengatakan demikian. Sebaliknya, seluruh ulama Salaf dan ulama Khalaf mengatakan boleh berdzikir dengan mempergunakan tasbih, dan karenanya banyak di antara mereka yang mengamalkan hal itu.
Para ulama dari empat madzhab, para ulama hadits, para Sufi dan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, semuanya sepakat membolehkan penggunaan tasbih dalam hitungan dzikir. Adapun golongan yang menyempal, seperti Wahhabiyyah, yang mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir dan menganggapnya sebagai bid’ah yang sesat, adalah faham ekstrim yang baru datang belakangan. Jelas, faham semacam ini menyalahi apa yang telah diyakini oleh mayoritas umat Islam. [Lihat klaim “ahli bid’ah” terhadap orang-orang yang mempergunakan tasbih, diungkapkan oleh salah seorang pemuka Wahhabiyyah, bernama ‘Abdullah ibn Muhammad ibn Abd al-Wahhab, dalam buku berjudul al-Hadiyyah as-Saniyyah, h. 47].
Hasbunallah. Pernyataan seperti ini sangat gegabah dan sangat berlebih-lebihan. Tidak pernah ada seorang ulama-pun yang mengatakan seperti ini. Bahkan orang Islam awam sekali-pun tidak mengatakan demikian. Sebaliknya, seluruh ulama Salaf dan ulama Khalaf mengatakan boleh berdzikir dengan mempergunakan tasbih, dan karenanya banyak di antara mereka yang mengamalkan hal itu.
Para ulama dari empat madzhab, para ulama hadits, para Sufi dan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, semuanya sepakat membolehkan penggunaan tasbih dalam hitungan dzikir. Adapun golongan yang menyempal, seperti Wahhabiyyah, yang mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir dan menganggapnya sebagai bid’ah yang sesat, adalah faham ekstrim yang baru datang belakangan. Jelas, faham semacam ini menyalahi apa yang telah diyakini oleh mayoritas umat Islam. [Lihat klaim “ahli bid’ah” terhadap orang-orang yang mempergunakan tasbih, diungkapkan oleh salah seorang pemuka Wahhabiyyah, bernama ‘Abdullah ibn Muhammad ibn Abd al-Wahhab, dalam buku berjudul al-Hadiyyah as-Saniyyah, h. 47].
Padahal al-Imam as-Suyuthi rahimahullah
dalam risalah al-Minhah Fi as-Subhah menuliskan sebagai berikut:
وَقَدْ اِتَّخَذَ السُّبْحَةَ سَادَاتٌ يُشَارُ إِلَيْهِمْ وَيُؤْخَذُ عَنْهُمْ وَيُعْتَمَدُ عَلَيْهِمْ كَأَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، كَانَ لَهُ خَيْطٌ فِيْهِ أَلْفَا عُقْدَةٍ فَكَانَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يُسَبِّحَ بِهِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ أَلْفَ تَسْبِيْحَةٍ، قَالَهُ عِكْرِمَةُ. وَفِيْ مَوْضِعٍ ءَاخَرَ: وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ وَلاَ مِنَ الْخَلَفِ الْمَنْعُ مِنْ جَوَازِ عَدِّ الذِّكْرِ بِالسُّبْحَةِ، بَلْ كَانَ أَكْثَرُهُمْ يَعُدُّوْنَهُ بِهَا وَلاَ يَرَوْنَ ذلِكَ مَكْرُوْهًا.
“Tasbih ini telah dipakai oleh para panutan
kita, tokoh-tokoh ternama, ulama-ulama sumber ilmu dan sandaran ummat, seperti
sahabat Abu Hurairah. Beliau punya benang yang memiliki dua ribu bundelan. Beliau tidak beranjak tidur hingga berdzikir
dengannya sebanyak dua belas ribu kali, seperti diriwayatkan oleh ‘Ikrimah”.
Di halaman lain as-Suyuthi rahimahullah berkata: “Tidak pernah dinukil dari seorang-pun, dari ulama Salaf dan ulama Khalaf yang melarang menghitung dzikir dengan tasbih. Melainkan kebanyakan ulama justru menghitung dzikir dengan menggunakan tasbih, dan mereka tidak mengganggap hal itu sebagai perkara makruh”.
Di halaman lain as-Suyuthi rahimahullah berkata: “Tidak pernah dinukil dari seorang-pun, dari ulama Salaf dan ulama Khalaf yang melarang menghitung dzikir dengan tasbih. Melainkan kebanyakan ulama justru menghitung dzikir dengan menggunakan tasbih, dan mereka tidak mengganggap hal itu sebagai perkara makruh”.
Dengan demikian, para panutan kita terdahulu
seperti yang disinggung oleh al-Imam as-Suyuthi di atas, baik dari kalangan
sahabat Nabi, para tabi’in dan generasi-generasi setelah mereka, yang di antara
mereka adalah para ulama atqiya’ dan shalihin, mereka semua banyak yang
mempergunakan tasbih dalam menghitung bilangan dzikirnya. Dari sini kita
katakan kepada mereka yang mengharamkan penggunaan tasbih:
“Apakah kalian akan mengatakan bahwa jajaran
para ulama Salaf dan para ulama Khalaf tersebut sebagai orang-orang yang
menyerupakan diri dengan kaum Nasrani dan menghidupkan lambang-lambang mereka?!
Apakah menurut kalian bahwa para ulama yang membolehkan dan mempergunakan
tasbih, seperti al-Hasan al-Bashri, al-Junaid al-Baghdadi, an-Nawawi, Ibn Hajar
al-‘Asqalani, as-Suyuthi, Ibn Hajar al-Haitami dan lainnya, bahwa mereka semua
tidak memahami agama?
Hukum Dzikir Menggunakan Tasbih, Fatwa Al-'Allamah al-Syaikh Prof. Dr.
Ali Jum'ah Muhammad (Mufti Negeri Mesir)
Diikuti
dari : Dar Iftaa Mesir
Berzikir
dengan menggunakan tasbih ataupun alat lainnya untuk menghitung jumlah zikir
adalah perbuatan yang disyariatkan dan diakui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Perbuatan ini juga dilakukan oleh kalangan salaf tanpa ada
seorang pun yang mengingkarinya.
1.
Diriwayatkan dari Shafiyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi saya ketika
saya sedang berzikir menggunakan empat ribu biji kurma. Saya berkata, "Saya
bertasbih dengan biji-biji kurma ini." Maka beliau shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, "Maukah kamu kuajari sesuatu yang dapat
memberikan pahala lebih banyak dari bertasbih yang kamu lakukan?"
"Tentu saja. Ajarilah aku." Beliau lalu bersabda,
سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ
"Maha
suci Allah sesuai jumlah makhluk-Nya." (HR. Tirmidzi dan dishahihkan
oleh Hakim serta disepakati oleh adz-Dzahabi).
2.
Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwa dia dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi seorang wanita yang
sedang bertasbih dengan menggunakan biji-biji kurma. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ
أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ،
وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ
مَا خلق بَيْنَ ذَلِكَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللَّهُ
أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ مِثْلُ ذَلِكَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ مِثْلَ
ذَلِكَ
"Maukah
engkau kuberitahu sesuatu yang lebih mudah bagimu dan lebih afdal dari
perbuatan ini?" Lalu beliau melanjutkan, "Maha suci Allah sesuai
jumlah makhluk yang Dia ciptakan di langit. Maha suci Allah sesuai jumlah
makhluk yang Dia ciptakan di bumi. Maha suci Allah sesuai jumlah makhluk yang
Dia ciptakan di antara keduanya. Maha suci Allah sesuai seluruh makhluk yang
Dia ciptakan. Allah Maha Besar seperti itu juga. Segala puji bagi Allah seperti
itu juga. Tiada tuhan selain Allah seperti itu juga. Tiada daya dan upaya
selain dengan Allah seperti itu juga." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi –dia
menghasankannya--, Nasa`i dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan
Hakim).
3.
Diriwayatkan dari Qasim bin Abdurrahman, dia berkata, "Abu Darda`
mempunyai sejumlah biji kurma yang dia simpan di dalam sebuah kantung. Jika dia
melaksanakan salat di pagi hari, dia akan mengeluarkannya satu per satu untuk
bertasbih hingga habis." (HR. Ahmad dalam kitab az-Zuhd dengan
sanad shahih).
4.
Diriwayatkan dari Abu Nadhrah al-Ghifari, dia berkata, "Seorang syaikh
dari Thufawah bercerita kepadaku, "Saya bertamu kepada Abu Hurairah di
Madinah. Saya tidak pernah menemukan seorang sahabat Rasulullah saw. yang lebih
berusaha untuk menghormati tamunya melebihi beliau. Pada suatu hari, ketika
saya sedang berada di rumahnya, beliau sedang berbaring di atas ranjang. Di
sampingnya terdapat kantung yang berisi kerikil atau biji kurma yang dia
gunakan untuk menghitung jumlah bacaan tasbih. Di sisi bawah ranjang itu
terdapat seorang budak perempuan hitam miliknya. Jika kantung itu telah habis
isinya, dia lalu memberikannya kepada budaknya itu. Budak itu lalu mengumpulkan
isi kantung itu dan memasukkannya ke dalamnya lalu menyerahkannya kembali kepada
beliau." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi –dia menghasankannya—dan Nasa`i).
5.
Diriwayatkan dari Nu'aim bin Muharrar bin Abu Hurairah dari kakeknya, Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia dahulu mempunyai sebuah tali yang
mempunyai seribu ikatan. Dia tidak tidur sampai bertasbih dengan tali itu
dahulu. (HR. Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitab Zawâid az-Zuhd dan Abu
Nu'aim dalam Hilyah al-Auliyâ`).
Hal
itu juga diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, Abu Said al-Khudri, Abu
Shafiyah maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Fatimah binti
Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum serta para sahabat dan
tabi'in lainnya.
Sejumlah
ulama juga ada yang menyusun kitab yang berisi anjuran melakukan zikir dengan
memakai tasbih, di antaranya adalah al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitabnya al-Minhah
fis Sibhah, Syaikh Muhammad bin 'Allan ash-Shiddiqi dalam Îqâd
al-Mashâbîh li Masyru'iyyati Ittikhâdzi al-Masâbîh, dan al-Allamah Abu
al-Hasanat al-Laknawi dalam kitabnya Nuzhat al-Fikr fî Sibhat adz-Dzikr.
Al-Hafizh
as-Suyuthi berkata setelah menyebutkan hadis dan atsar di atas, "Jika
menggunakan tasbih tidak lebih dari sekedar ingin menyamai para tokoh di atas,
mengikuti perilaku mereka dan mengharap keberkahan dari mereka, maka alasan ini
pun cukup untuk dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting. Lalu bagaimana
jika tasbih itu mengingatkan kita kepada Allah ta'ala, karena kebanyakan orang
jika melihat tasbih akan langsung ingat (berzikir) kepada Allah. Ini merupakan
salah satu faedahnya yang paling utama. Karena itulah, sebagian salaf
menamakannya sebagai tasbih. Tidak pernah dinukil, baik dari kalangan salaf
maupun khalaf (ulama belakangan), larangan menghitung zikir dengan tasbih.
Bahkan, sebagian besar mereka justru menggunakannya untuk menghitung zikir dan
tidak menganggapnya sebagai hal yang makruh."
Wallahu
subhânahu wa ta'âlâ a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar