Pages

Senin, 24 Desember 2012

103. BAYAN PROF. SALMAN KHAN



ALIGARH UNIVERSITY, ELECTRO DEPT. ALIGARH, INDIA

 
Aligarh Muslim University, India
Kejayaan dan keberhasilan kehidupan dunia dan akherat hanya terletak pada Agama. Setiap orang mempunyai standard yang berbeda terhadap kesuksesan. Padahal standard kesuksesan seseorang ini telah Allah tetapkan, namun kita tidak mampu memikirkannya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan sahabat dan kehidupan mereka sebagai model untuk ditiru. Walaupun secara teknis cara hidup mereka berbeda dengan kita sekarang. Kesuksesan itu hanya terjadi bila manusia ini dapat memasuki surganya Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)
Kesuksesan hidup di dunia adalah kehidupan yang dapat mengantar manusia ini ke surganya Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kehidupan yang kita jalani ini tidak dapat mengantar kita ke Surganya Allah subhanahu wa ta’ala, maka ini bukanlah kehidupan yang sukses. Tetapi ini kehidupan yang akan mendatangkan kecelekaan, penderitaan, dan kemalangan lahir dan bathin, dunia dan akherat.
Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in kehidupannya lapar berhari-hari sampai perutnya ditahan dengan batu, disiksa, baju tambalan, rumah kecil, tetapi justru mereka yang dinyatakan telah sukses oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an. Sahabat dikejar-kejar musuh, meninggalkan keluarga, harta benda, dan perdagangannya semua dilakukan demi kepentingan Agama. Inilah kehidupan orang-orang yang telah Allah Ridhoi dan mereka Ridho kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Beda dengan musuh-musuh Allah :
1. Fir’aun dan Namrud hidup sebagai Raja yang besar pada jamannya
2. Qorun hidup sebagai pengusaha yang bergelimang harta
3. PM Hamman seorang perdana mentri yang sukses karir politiknya
4. Kaum Saba yang sukses dengan pertaniannya
5. Kaum Ad yang sukses dengan ilmu kesehatannya
6. Kaum Madyan yang sukses dengan perekonomiannya
7. Kaum Tsamud yang sukses dengan teknologi perumahannya.
Walaupun dari segi keduniaan mereka telah mencapai kejayaan dan kesuksesan tetapi mereka ini menurut Allah adalah orang-orang yang gagal. Mereka ini adalah orang-orang yang Allah hinakan di dunia dan di akherat. Ini karena mereka gagal mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Sahabat walaupun keduniaannya jauh dari keduniaan dan kesuksesan kaum-kaum terdahulu, tetapi mereka ini yang Allah telah nyatakan kesuksesannya.
Kekurangan pada diri kita bukanlah berarti kegagalan. Sahabat Amr bin Jamuh radhiyallahu ‘anhu, ia adalah seorang yang lemah dan cacat kakinya, tetapi ia telah sukses dunia dan akherat asbab pengorbanan yang dia lakukan untuk agama. Sahabat faham betul mengenai pentingnya Iman dan Amal. Bilal radhiyallahu ‘anhu secara status ia adalah seorang budak sebelum masuk Islam, dan banyak disiksa, tetapi setelah agama wujud dalam diri Bilal radhiyallahu ‘anhu, langkah kakinya saja dapat didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga ketika Bilal radhiyallahu ‘anhu masih hidup. Ini baru yang namanya sukses dan jaya dunia dan akherat.
Sebelum mati seseorang tidak akan tahu apakah ia seorang yang sukses atau tidak. Seseorang akan mengetahui apakah dia telah sukses setelah dia mati. Saat ini setiap manusia harus berusaha jika ingin sukses dunia dan akherat. Tanpa usaha atas Iman dan Amal maka manusia akan celaka dunia dan akherat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا. وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَّهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya selama-lamanya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An Nisa’ : 56-57)
Orang yang tidak beriman, ia tidak akan tahu cara mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan. Tetapi orang yang beriman tidak boleh tidak tahu cara mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan ini. Allah telah berikan cara kepada orang beriman untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akhirat. Zaman boleh berubah bahkan lebih maju, namun cara untuk mendapatkan kebahagiaan tidak pernah berubah dari pertama manusia diciptakan sampai manusia yang terkahir mati. Kalau ingin bahagia dari dulu hingga kini tetap sama, yaitu hanya dengan cara mengikuti kemauan Allah subhanahu wa ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dilahirkan di suatu kaum yang beradab dan mempunyai kebudayaan yang tinggi seperti di China, Persia, atau di Romawi. Ini karena Allah tidak letakkan kesuksesan dan kejayaan dalam peradaban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dilahirkan di zaman yang teknologi canggih seperti sekarang. Allah subhanahu wa ta’ala hanya meletakkan kejayaan dan kesuksesan hanya dalam mentaati perintah-perintahNya. Di jaman yang paling Jahil dan tidak beradab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan, dan membawa cahaya hidayah di tengah kegelapan dan kemasiatan. Sehingga apa yang diusahakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membawa perubahan pada peradaban dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’ : 107)
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu berdakwah sendirian dari pintu ke pintu. Demi kerja dakwah ini beliau melewati banyak kesusahan dan penderitaan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dimusuhi, diboikot keluarganya, dicaci maki, disakiti, namun ini tidak mengurangi kerja dakwah beliau. Bahkan beliau ketika perintah Dakwah turun dari Allah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam katakan kepada istrinya bahwa kini sudah tidak ada waktu lagi untuk istirahat. Beliau pergi pagi dengan pakaian yang bersih lalu pulang sore dengan pakaian yang kotor. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam faham tentang pentingnya kerja agama ini. Bahkan sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditawarkan harta, jabatan, dan wanita oleh para petinggi Quraish untuk menghentikan kerja dakwah ini. Mereka beranggapan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah keluar dari cara hidup leluhur mereka. Tapi apa kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun mereka mampu memberikan bulan di tangan kanan dan matahari di tangan kirinya, maka itupun tidak akan bisa menghentikannya dari kerja dakwah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam faham bahwa kebahagiaan dan kesuksesan bukan datang dari kebendaan dan kekuasaan yang kita miliki, tetapi dari menjalankan perintah-perintah Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menafikan semua kebendaan demi usaha dakwah ini, sementara kini kita telah menafikan usaha dakwah ini demi kepentingan dunia.
Harta dan jabatan bukanlah standard ukuran keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam menjalani hidup ini. Keberhasilan dan kegagalan hidup hanya dapat dilihat dari sejauh mana manusia menjalankan perintah-perintah dan sejauh mana manusia mewujudkan cara hidup Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupannya. Seluruh kebendaan dan kenikmatan dunia ini bukanlah tolak ukur kebahagiaan seseorang, tetapi 23 tahun kehidupan kenabian inilah satu-satunya tolak ukur kebahagiaan yang telah Allah tetapkan. Inilah aturan dan ketetapan yang Allah telah buat untuk manusia. Manusia kini sibuk bagaimana hidupnya dapat mempunyai nilai, tetapi Allah telah jadikan kehidupan Nabi selama 24 jam sebagai tolak ukur nilai kehidupan. Cara hidup selain yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada nilainya disisi Allah. Hanya apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernilai disisi Allah.
Seluruh kehidupan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama 24 jam dapat di ikuti dan di ketahui. Tidak ada yang tersembunyi dari kehidupan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semuanya dapat diketahui oleh semua sahabatnya sebagai pengajaran dan contoh untuk semua manusia. Seluruh anggota tubuh ini telah Allah berikan informasinya bagaimana menggunakannya dan untuk apa digunakan. Semuanya telah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, cara dan standard penggunaan anggota tubuh ini sehingga dapat mendatangkan nilai disisi Allah. Segala aktifitas yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun itu cara berjalannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah dihitung oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai amal shaleh.
Dalam mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akherat, kita tidak perlu ilmu lain, selain yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu-ilmu selain dari yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hanya keperluan saja, bukanlah tujuan yang sebenarnya. Orang yang yakin akan bahagia dengan ilmu-ilmu selain yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, inilah mereka yang tertipu oleh dunia. Ilmu yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu yang bisa membawa manusia kepada Allah dan Surganya. Selain Ilmu yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini bisa menjadi jebakan setan agar manusia cinta dunia dan segala perhiasannya sehingga meninggalkan Allah dan akheratnya. Dimata Allah tanpa Iman dan amal, dunia dan segala isinya tidak ada nilainya, walaupun hanya sebelah sayap nyamuk.
Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: hasan sahih’)
Ilmu Dunia yang bernilai disisi Allah adalah yang digunakan untuk kepentingan agama dan Dakwah. Seperti menjadi dokter untuk dakwah dikalangan dokter, menjadi polisi untuk dakwah dikalangan polisi, menjadi pedagang untuk berdakwah dikalangan pedagang, dan lain-lain.
Saat ini manusia mengira mereka dapat menghasilkan sesuatu dengan jerih payah mereka. Mereka kira rizki akan bertambah asbab ilmu dan usaha mereka yang meningkat pula. Mereka menyangka seluruh kebendaan dan status yang mereka miliki adalah hasil dari pengorbanan dan usaha mereka. Seperti Qorun, seorang pedagang yang kaya raya, ketika ditagih untuk bayar zakat dia tidak mau. Musa ‘alaihis salam berkata bahwa seluruh kebendaan yang dia miliki semuanya datang dari Allah dan milik Allah. Qorun malah menentangnya dengan berkata, “Ini adalah hasil dari jerih payah saya dan karena kecerdasan saya.” Hari inipun jika kita melihat seseorang bertengkar karena harta maka jawaban seperti inilah yang keluar dari mereka.
Sahabat dahulu tidak meletakkan yakinnya pada asbab-asbab seperti kebendaan, perdagangan, dan status yang mereka miliki. Tetapi sahabat meletakkan yakinnya pada Allah Ta’ala, sebagai Rabbul Asbab bukan pada asbabnya. Allahlah yang memberi keuntungan bukan perdagangan. Hari ini yakin kita telah keliru, kita yakinnya pada toko kita, perdagangan kita, kantor kita, yang memberi kita hidup, tanpa itu bagaimana kita bisa hidup. Sehingga ketika kita diminta untuk berkorban di jalan Allah sulit sekali bagi kita untuk dapat meninggalkannya. Berbeda dengan sahabat, walaupun ketika sedang panen usaha mereka, namun ketika panggilan agama datang mereka langsung tinggalkan semua itu. Ini karena yakin mereka sudah benar. Kita lupa dengan toko yang sama, usaha yang sama, kantor yang sama, perdagangan yang sama, seseorang dapat Allah buat bangkrut dan celaka dunia dan akherat.
Keyakinan sahabat kepada Allah ini telah membuat mereka mampu menafikan segala hal yang mereka miliki. Sehingga keyakinan mereka ini dapat mendatangkan Qudratullah dalam kehidupan mereka. Seperti berjalan diatas air, menghalau lahar api kembali ke lubangnya, memerintahkan sungai nil, menghentikan gempa, mendatangkan hujan, menghidupkan keledai mati, dan menjewer singa, ini semua perkara yang biasa bagi sahabat. Do’a mereka sangat Ijabah sehingga mampu mendatangkan Qudratullah dan Nusratullah, ini karena level Iman dan Amal yang sampai di tingkat yang Allah mau. Bagaimana cara meningkatkan Iman sampai ke level para sahabat. Ini hanya bisa dilakukan jika ada usaha atas Iman dan Amal yaitu dengan menjalankan Usaha Dakwahnya Nabi. Ummat turun imannya karena meninggalkan kerja ini. Sahabat korbankan harta, keluarga, dan diri, seluruhnya untuk usaha ini. Sehingga karena ini Allah berikan kesuksesan pada mereka di dunia dan di akherat. Jika kita berbuat seperti Sahabat maka Allah akan berikan kita kesuksesan yang sama.
Jika kita sudah bisa meninggalkan hal-hal yang kita cintai untuk keluar di jalan Allah, barulah Allah akan berikan kita kesuksesan dan kefahaman agama seperti para sahabat. Setiap orang tidak akan sama tingkat kesuksesan dan kefahamannya karena ini tergantung pada pengorbanan setiap orang. Inilah cara Allah mendistribusikan kebahagiaan dan kesuksesan, tergantung pada Do’a dan pengorbanan kita yang sungguh-sungguh atas agama Allah.
Jangan takut atas perkara Rizki karena semua itu telah Allah atur dan Allah mempunyai caraNya sendiri dalam menyalurkan rizki itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud : 6)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim).
Tidak ada hubungannya antara rizki dan usaha kita. Seperti kisah 2 orang murid lulus dari universitas dengan gelar dan nilai yang sama. Tetapi setelah lulus yang satu mendapat kerja dengan gaji yang tinggi dan yang satu pengangguran tidak ada penghasilan apa-apa. Jadi semuanya telah diatur Allah, gelar kita tidak dapat menjamin apa-apa selain apa yang Allah telah tetapkan. Inilah bukti bahwa keduniaan yang kita miliki tidak bisa menjamin rizki yang telah ditetapkan oleh Allah. Apakah mereka kedua-duanya bisa bahagia, tentu bisa asal mereka mau taat pada perintah Allah. Jika yang berpenghasilan tinggi dia tidak taat dan yang pengangguran dia bisa taat pada perintah Allah, maka yang berpengangguranlah yang akan bahagia dan Allah berikan kesuksesan dunia dan akherat. Karena tolak ukur kesuksesan dan kebahagiaan ini hanya pada ketaatan terhadap perintah-perintah Allah saja. Kebahagiaan akan datang kepada mereka yang mau taat pada perintah-perintah Allah, walaupun dia tidak punya gelar dan penghasilan apapun. Dan ini dapat dimulai dari keyakinan di hati terhadap agama.
Untuk mendapatkan keyakinan yang sempurna secara bertahap marilah kita belajar dengan pengorbanan dalam usaha dakwah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dan sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Insya Allah bersedia 4 bulan di jalan Allah………………….

Jumat, 21 Desember 2012

102. BAYAN MAULANA UMAR PALANPURI



 Maulana Umar Palanpuri
Pengalaman manusia itu adalah khilaf/berbeda-beda tetapi kesan amal itulah sebenarnya merupakan haqiqat. Allah subhanahu wa ta’ala mewujudkan khasiat atau kegunaan pada setiap benda yang diciptakanNya. Dan dalam diri manusia Allah mewujudkan pula roh. Tugasnya ialah untuk tarbiyah bagi badan yang dzahir. Dengan adanya roh maka badan akan senantiasa sehat serta kestabilan wujud dalam kehidupan keseharian.
Setiap anggota badan akan berfungsi mengikuti ketentuan masing-masing. Kesan kesehatan pada perasaan dan hati, maka sifat senyum, senang, tenang dan gembira akan bias didzahirkan. Apabila kita tidur, fungsi dzahir tadi akan hilang sehingga mata, telinga, mulut dan anggota lain tidak akan berfungsi lagi. Dan sifat itu hilang sama sekali bila telah datang daripada maut/kematian.
Roh takluk kepada beberapa keadaan :
1.   Tidur di alam dunia ini adalah seumpama mati (lihat arti doa bangun tidur).
اَلْحَمْـدُ ْاللهِ الَّذِى اَحْيـَانـَا بَعْدَمَـا اَمـَاتَنـَا وَاِلَيْهِ النُّشُـوْرُ .
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepadaNyalah tempat kembali”
Bangun dari tidur sama seperti bangun dari tidur di Padang Mahsyar kelak.
2.   Di alam dunia kita tidur, kemudian bangun dan kemudian tidur kembali. Tidur yang sebenarnya ialah di Alam Kubur. Manusia diciptakan, kemudian dimatikan dan dihidupkan kembali.
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan tidak merasa payah karena menciptakannya itu, kuasa (pula) menghidupkan orang-orang mati? Ya, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Ahqaaf (46) : 33)
وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ
“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (QS. Al Hajj : 7)
Segalanya pasti terjadi dengan izinNya karena Allah subhanahu wa ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu.
3.   Seluruh manusia akan dibangkitkan kembali di Alam Akhirat.
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَ‌ٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A’raaf (7) : 57)
Disanalah segala amalan akan dibalas (sesuai dengan amalan yang dikerjakan ketika di dunia). Orang beriman jika masuk neraka maka api neraka pun akan menjerit: "Keluarlah kamu dari sini, aku mulai sejuk sekarang!" Ia akan buat "Jaulah" (ziarah) di neraka untuk menyelamatkan mereka yang mempunyai iman walau sebesar dzarah. Mereka yang ada sifat rahim/kasih sayang dalam diri manusia maka dia akan dikasihi dilangit. Dalam ta'lim kita dengar perkara ini supaya senantiasa mengasihi orang lain. Bila wujud kesatuan hati diantara kita ummat Islam maka pandangan Allah jatuh pada kita. Dengan demikian orang kafir akan tertarik, maka wujudlah dakwah.
Wujudnya dakwah pada : Lidah (percakapan), Anggota tubuh (amal perbuatan), Hati (perasaan dan keyakinan), Fikir (dakwah/ menyeru) untuk keluarga amat penting. Lihatlah keluarga Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan Nabi Ismail ‘alaihis salam. Bagaimana keluarga mereka? Tarbiyah atau pendidikan iman dan amal dimulai dari keluarga. Malah fikir seluruh alam (global) juga datang dan dimulai dari fikir keluarga dan fikir kampung. Inilah yang disebut amalan maqami.
Suatu hari saya (Maulana Umar rahmatullah ‘alaih) berjumpa dengan sekumpulan doktor yang tidak percaya kepada alam kubur. Kita terkadang yakin tentang apa yang tidak kita lihat ketika ada seorang yang pakar (ahli) memberitahu kita mengenainya. Pakar tadi ditanya oleh Maulana Umar : "Benarkah dalam tubuh manusia ada berbagai zat-zat tertentu?" Jawab mereka: "Benar karena kami telah membuat kajian bersama para pakar lainnya dalam bidang ini."
Kata Maulana Umar rahmatullah ‘alaih : "Walaupun saya tidak melihat bahan itu tetapi kepakaran kamu telah meyakinkan saya. Jadi begitulah juga Alam Akhirat. Yakinlah dengan kepakaran baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam."
Pada diri manusia ada 2 keadaan. Diluar kita nampak seperti sekarung gula, sebatang besi dan sebagainya. Dalam badan kita seperti karbohidrat, mineral, protein dan air yang tidak dapat kita lihat. Begitulah juga dengan alam akhirat. Didunia kita dapat melihat ular, keledai, kala jengking dan bermacam-macam jenis benda tetapi didalam kubur ada ular, kala jengking, dan api tetapi tidak nampak dengan mata dzahir kita ini, namun betul-betul ada karena telah disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Untuk itu buatlah usaha agama dengan perasaan takut dan penuh kebimbangan, karena kesan amal tidak mungkin hilang. Kesannya tetap wujud di dunia dan akhirat. Jadi mengapa terkadang amal itu tidak makbul…  jawabnya ialah karena amal yang dibuat tidak diiringi dengan keyakinan yang kuat dan benar.
Untuk mendatangkan roh (kekuatan) dalam amal maka kita perlu : 
1. Sahih Yakin - iman yang berasal dari dakwah dan pengorbanan
2. Sahih Tariqat - cara (sunnah) yang betul dari taklim masail
3. Sahih Qurb - penumpuan yang tepat (maqam Ihsan) dari amalan membaca al Quran, dzikir dan do’a
4. Sahih Jazbah - keghairahan dalam amal (Ihtisab) yang diperoleh dari taklim fadhail
5. Sahih Niat - niat yang betul dari kesempurnaan iman.
Untuk menyempurnakan amal dalam rangka ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka tunaikanlah pula hak saudara muslim kita. Supaya tidak ada seorang pun yang kita sakiti. Hindarkan dari menjadi muflis atau bangkrut di akhirat. Segalanya akan mulai wujud secara bertahap dalam suasana dakwah. Oleh karena itu iman akan mulai terbina. Sebagaimana kisah Abu Darda' radhiyallahu ‘anhu yang yakin dengan amalan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu diberitahu bahwa rumahnya terbakar namun beliau tetap yakin rumahnya selamat tidak terbakar, walaupun beberapa kali orang datang memberitahu rumahnya terbakar. Akhirnya terbukti kebenarannya walaupun rumah tetangga sekelilingnya terbakar.
Nasihat Maulana Umar : “Berdoa itu tidak terlalu susah untuk mengucapkan dengan lisan tetapi untuk mewujudkan keyakinan dalam hati itu amatlah rumit.” Dalam dunia ini keputusan Allah dilaksanakan secara berangsur-angsur secara sunnatullah. Seperti diciptaakannya dunia ini selama 6 hari. Segala proses pembinaan dan perubahannya secara bertahap dan berangsur-angsur. Sedangkan alam akhirat adalah telah ada tanpa melalui proses tahapan seperti di dunia dan tiada lagi proses secara berangsur-angsur. Seperti kubur, makhsyar, mizan dan sirath yang kecpatannya seperti kilat. Bila manusia dihisab di akhirat , maka manusia menjadi sangat gelisah dan akan mengalami kesengsaraan yang tidak tertahankan, sehingga manusia berkata :
يَارَبِّ ارْحَمْنِىْ وَلَوْ اِلَى النَّارِ
“Ya tuhan …..kasihanilah saya walaupun saya masuk neraka?”
Mereka para orang kafir memohon dengan sangat pilu, "Cepatkanlah penghisaban... kami tidak tahan lagi dengan segala kepedihan ini... walaupun keputusannya masuk neraka pun kami rela.” Padahal nanti kesengsaraan di neraka lebih pedih lagi dan lebih lama penderitaan dan kesusahannya. Pada waktu itu semua para Nabi pun tidak ada yang berani berbicara dan menghadapkan masalahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah kesengsaraan akhirat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan perkara tersebut dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in yang mendengar perkara itu juga bersama-sama menangis, mengenang suatu saat nanti hari penghisaban yang akan terjadi.
Kehidupan kita di dunia ini melalui beberapa peringkat yaitu perut ibu, perut dunia, perut kubur dan alam akhirat. Keadaan kita hidup di dunia ini melambangkan cara hidup akhirat. Oleh karena itu keperluan terpenting bagi manusia yang sebenarnya dibutuhkan adalah hidayah atau petunjuk Allah.
Hidayat ialah nur yang masuk ke dalam hati manusia dan memberi kefahaman tentang 1000 tahun yang telah lalu dan 1000 tahun kemudian. Apa yang ada di langit pun mereka faham. Malah segala yang diciptakan oleh Allah akan difahami pula. Sebenarnya tiada
kejayaan dalam benda-benda. Kejayaan hanya wujud dalam amal agama tetapi kejayaan dalam amal agama tidak nampak.
Dan ummat terbagi kepada 2 golongan :
1.Mereka nampak kejayaan dalam kebendaan. Jalan hidup mereka tidak betul.
2.Yakin kejayaan dalam amal maka mereka memilih cara hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kehidupan mereka susah payah demi amal cara sunnah Nabi. Sudah menjadi sunnatullah orang berpegang teguh kepada sunnah Nabi akan mengalami berbagai musibah dan bencana sebagai ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Ummat yang yakin dengan kebendaan merasa berjaya hanya ketika melihat perniagaan besar dan pengaruh yang kuat dari kebendaaan tersebut. Pokoknya tang dilihat hanya berdasarkan segala macam asbab. Sedangkan kejayaan dalam amal agama, segala asbabnya adalah yang ghaib seperti berkat, pahala, malaikat dan nusrah atau pertolongan Allah. Kejayaannya tidak dapat dilihat dengan mata dzahir, tetapi dengan mata hati atau bashirah.
Pemimpin kafir Quraisy telah menuduh para sahabat berjuang karena ada kepentingan. Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu membaca Al Quran semua penduduk Mekkah tertarik, sehingga mereka mula bimbang dan ragu. Tuhan mereka yang banyak (360 berhala) itu menciptakan seekor lalatpun tidak mampu.
Hari inipun orang yang buat usaha dakwah menghidupkan usaha Nabi dan para sahabat dianggap punya kepentingan lain, yaitu ingin menguasai masjid. Padahal dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in membuat amalan masjid sehingga masjid hidup 24 jam. Kejayaan mereka karena menghidupkan amalan masjid, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
اَلْمَسْجِدُ بَيْتُ كَلِّ تَقِيٍّ
“Masjid adalah rumahnya orang yang bertaqwa…”
Makhluk diciptakan oleh Allah dalam keadaan lemah. Hanya Allah yang Maha Berkuasa. Dengan satu perintah-Nya semuanya yang dikehendakiNya pasti terjadi. Manusia begitu juga sangat….sangat lemah. Jika seluruh manusia berkumpul dari keturunan sejak pertama beribu tahun yang lalu sampai hari kiamat, tidak akan mampu untuk menciptakan satu kaki nyamuk pun. Untuk itu kita perlu senantiasa membicarakan kebesaran Allah dan juga perlu sering mendengarnya, serta senantiasa menafikan kehebatan makhluk.
Ummat yang beriman kecil kelompoknya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“…Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba’ : 13)
Nabi Musa ‘alaihis salam pernah merayu ummatnya agar membantu dakwahnya (Hawariyyin). Baginda ‘alaihis salam  menerangkan dengan sungguh-sungguh tentang tugas dan kepentingan kerja ini. Tetapi tidak banyak yang mentaatinya. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menawarkan dirinya: "Siapakah diantara kalian yang mau membawa saya kepada keluarga kamu atau kampung kamu?" Rayuan demi rayuan dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi hanya sekelompok kecil saja yang tertarik dan mau menerima seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga bantuan ghaib datang dengan berbagai cara. Hanya penduduk Madinah saja yang mau menerima seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kenapa Orang Madinah yang mau menerima seruan dakwah, dapat dilihat dalam http://imandanamalshaleh.blogspot.com/search/label/Sejarah%20Madinah
Penduduk Madinah mempunyai kekuatan dalam iman, ibadat, mu’asyarat, muamalat dan akhlak. Segalanya mengikut ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang luar menjadi amat tertarik ketika melihat cara hidup mereka. Dari jahiliyah bertukar menjadi kehidupan yang baik. Bahkan di depan rumah sahabat dibangun sebuah rumah persinggahan yang kecil. Daging disediakan untuk musafir yang lewat. Setiap musafir dilayani dengan makan dan minum walaupun tanpa turun dari tunggangannya. Musafir dapat melihat kemakmuran Masjid Nabawi.
Masjid Nabawi telah dimakmurkan selama 24 jam. Kehidupan di Madinah dalam suasana kenyamanan dan keindahan dengan suasana ibadah yang penuh kesakralan sehingga musafir yang masuk Madinah seperti seorang yang masuk dari tempat yang panas ketempat yang "berhawa dingin." 'Mahol' yaitu suasana di Masjid Nabawi mengubah kerohanian musafir yang lewat, karena roh amal agama telah hidup pada setiap rumah orang Madinah. Contoh masjid diatas permukaan bumi ini ialah Masjid Nabawi. Dan kampung contoh adalah Madinah Munawwarah. Dalam 24 jam jumpa orang dan bawa ke masjid untuk hidupkan amalan jamaah masjid.
Di akhir zaman ini kita tidak dituntut untuk berkorban sebagaimana sahabat. Sedikit pengorbanan saja sudah memadai. Dalam hadits ada diberitahu bahwa : "Seorang yang buat usaha dakwah di akhir zaman ini dapat fadhilah 50 sahabat."
Dari Abu Umayyah Asy Sya’baniy berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah: “Ya Aba Tsa’labah apa yang engkau katakan tentang ayat Allah” :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ
“Hai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian, tidak akan bisa orang-orang yang sesat itu memberikan mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk...” (QS. Al Maidah : 105)
Berkata Abu Tsa’labah: “Demi Allah aku telah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat itu maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Beramar ma’ruf dan nahi mungkarlah kalian sehingga kalian melihat kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia sebagai perkara yang diagungkan, tiap orang merasa ta’jub dengan akal pemikirannya masing-masing maka peliharalah diri-diri kalian dan tinggalkanlah orang-orang awam karena sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran. Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.” Seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah pahala 50 orang dari mereka?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Pahala 50 orang dari kalian.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasai, Ibnu Hibban,  Abu Nuaim, dan Hakim)
Dalam peperangan, sahabat mendapat bantuan dari Allah karena sifat mereka adalah taqwa, sabar serta do’a dengan menangis. Bantuan ini tetap akan turun hingga hari Kiamat manakala ummat ini ada sifat sebagaimana sifat para sahabat. Para sahabat ditolong bukan hanya dalam Perang Badar. Terkadang pertolongan ini dilambatkan, karena Allah ingin melihat kerisauan kita. Perkara yang menyebabkan Allah menurunkan kekalahan kepada pihak musuh karena mereka mengedepankan sifat sombong dan congkak, bermegah-megah dengan keduniaan dan menghalangi orang yang membuat kerja agama seperti saat terjadinya Perang Badar. Sekarang asbab usaha dakwah yang kita kerjakan ini pertolongan Allah telah turun kepada kita. Yang jahat ditukar kepada baik dan yang kaya dapat tunaikan zakat. Duit untuk faqir miskin untuk menolong mereka sementara, tetapi untuk kerja agama, untuk pengorbanan dalam usaha agama, maka ianya akan berterusan.
Pertolongan Allah akan diangkat apabila :
1. Buat usaha agama dengan niat mencari dunia,
2. Kelemahan dalam jazbah,
3. Wujudnya pecah-belah,
4. Orang tidak taat.
Inilah yang terjadi dalam Perang Uhud, dimana saling berkaitan diantara satu dengan yang lain. Dalam Perang Uhud 1000 sahabat yang ikut dalam perang, tetapi 300 orang ada kepentingan yang lain. Golongan munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay kembali ke Madinah. Kekalahan sementara dirasakan oleh ummat Islam karena wujudnya golongan yang mementingkan dunia, yaituharta ghanimah atau rampasan perang.
Satu tamsil :
Seorang yang sedang sakit parah diberi obat oleh seorang dokter. Obat tersebut berupa antibiotic yang harus dilaksanakan secara tertib, baik cara berapa kali makan dan jumlahnya. Jika tidak sembuh dengan obat itu maka dokter tersebut terpaksa membedahnya. Demikian pula untuk orang yang ada penyakit rohani maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menghantarkan sahabat untuk buat dakwah. Dakwah adalah seperti obat antibiotik. Dakwah yang disertai dengan akhlak. Akhlak itu seumpama tertib berapa obat yang harus dimakan dan lama waktunya. Jika masih tidak sembuh maka terpaksa dipotong, kalau tidak ia akan berjangkit. Natijah penyakit jasmani adalah maut atau kematian. Namun natijah penyakit rohani adalah Neraka Jahannam. Dalam neraka mereka menjerit lalu diingatkan oleh Allah tentang dakwah dan peringatan yang diberikan ketika di dunia.
Fir’aun dan kaumnya yang musnah dahulu dihancurkan oleh Allah sendiri. Allah sendiri yang menjalankan "Operation". Sekarang Allah tidak akan menjalankan
“operation” seperti dulu tetapi secara berangsur-angsur atau pelan-pelan. Ketika sahabat menghadapi penderitaan oleh kaum kafir di Mekkah, mereka tidak membalas walaupun mereka mampu karena taat pada perintah Allah. Di Madinah barulah perintah "melawan" itu turun, sehingga terjadi peperangan.
Dalam perang Uhud, tentera kafir hampir kalah dan ghanimah telah ditinggalkan. Ini dilihat oleh pasukan yang sedang berjaga-jaga di atas bukit. Amirnya ialah Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Tercetus fikir dalam hati tentera tersebut, "Kita mesti turun untuk mengambil ghanimah dan membantu meringankan urusan mereka yang ada di bawah serta membantu memerangi musuh yang masih ada." Hanya tinggal 12 orang yang tetap patuh kepada Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Khalid bin Walid yang ketika itu belum masuk Islam mengambil kesempatan menyerang tentera Islam dari belakang. Khalid
hanya mengetuai 100 orang tentera kafir untuk melaksanakan serangan itu. Dalam peperangan itu 70 orang sahabat telah mati syahid. Seorang musyrikin bernama Abdullah Qaniah telah ‘mensyahidkan’ gigi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sempat pulan memecahkan topi besi baginda.
Dalam kerja ijtima’i/berjamaah, kita semua akan mendapat masalah walaupun hanya segelintir saja yang membuat amal tidak betul. Dalam peperangan Uhud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihebohkan telah wafat. Dalam hal ini sahabat mengambil sikap: "Nabi telah syahid, maka kitapun harus syahid pula atau kitapun teruskan perjuangan (usaha) sampai menemui syahid." Inilah tahapan dalam perang  Uhud :
1. Kemenangan,
2. Kekalahan sementara (karena bantuan diangkat oleh Allah),
3. Bantuan datang kembali, setelah sahabat kembali menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Iktibar dari peristiwa perang Uhud :
1. Seorang yang beriman tetapi kotor dengan keduniaan maka Allah akan tepis dan membuang kotoran itu.
2. Apabila sudah bersih, barulah bantuan didatangkan kembali.
Perlu diperhatikan bahwa janganlah meminta tepisan ini. Ia adalah ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya mintalah afiat dari Allah. Bila telah melakukan suatu kelalaian saat sedang dalam usaha agama, tepisan akan datang dari Allah untuk menyelesaikan kelalaian tersebut pada diri sendiri. Senantiasa selalu menyalahkan diri dan merasa bahwa diri kita amat banyak kekurangan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : "Semua kamu adalah orang yang bersalah." Tiada siapa yang betul. Siapa yang berkata bahwa dirinya betul maka dia telah menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara terbuka. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : "Orang yang terbaik diantara orang yang telah melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat, memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala."
Satu hari seorang yang telah berbuat satu dosa berdoa kepada Allah sedangkan  Maulana ada dibelakangnya : "Ya Allah, aku hina ini seperti anjing, ampunkanlah aku seperti anjing Ashabul Kahfi. Orang lain ada pelindung seperti shalat, taklim dan amalan baik yang lain. Aku ini tidak mempunyai kebaikan seperti mereka. Ya Allah... Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Maulana mendoakan si pendosa itu dari belakangnya. Kata Maulana, dia itu lebih baik dari orang yang buat usaha agama dengan sifat sombong dan takabur. Dan pada pagi harinya dia telah membuat pengakuan dalam ijtima' bahwa dirinya telah bertaubat.
Maulana minta dia untuk keluar 4 bulan untuk mengekalkan perasaan itu. Dia berkata pada Maulana : "Saya tetap tidak akan mengulangi perbuatan saya yang lalu." Selang beberapa lama setelah keluar 4 bulan dia datang dan mengucapkan terima kasih pada Maulana karena telah mentasykil dia keluar. Sekarang dia telah buat perniagaan yang kecil-kecil yang halal.
Dalam perang Uhud, Allah subhanahu wa ta’ala telah membersihkan orang yang ada cinta pada dunia, dengan mensyahidkan 70 orang sahabat. Allah hendak menguji untuk meningkatkan iman dan menaikkan derajat mereka disisiNya. Orang beriman dan tidak beriman sama-sama merasakan susah, tetapi kesusahan orang beriman adalah bermanfaat. Orang yang tidak beriman diberi peluang oleh Allah untuk menunjukkan kemegahannya seperti Fir’aun. Semua orang akan sama-sama mati, tapi yang berbeda adalah natijahnya, yaitu kejayaan atau kegagalan. Dalam usaha agama semua sama-sama membuat, yang membedakannya adalah cuma keikhlasannya atau tidak.
Bila ujian turun, Allah akan mengasingkan, sehingga dengan sendirinya orang yang tidak mempunyai iman tulen akan
dipinggirkan. Sedangkan sifat orang yang tidak tulen imannya, maka mereka suka duduk dipinggir berdekatan dengan lorong-lorong.
Maulana membaca ayat Al Quran, yang maksudnya bahwa bila nikmat datang maka merekalah orang yang paling
heboh dan berada di depan, tetapi bila ujian dating pada mereka, maka cepat-cepat lari ke pinggir lorong tadi, untuk menyatakan ketidaksukaannya. Sesungguhnya ujian Allah ini tetap akan datang bagi siapa saja untuk menghasilkan dan memilih siapakan yang benar-benar tulen imannya.
Apabila beri zihin atau jazbah dalam musyawarah janganlah memasukkan kepentingan diri kita serta taatlah pada setiap keputusan musyawarah. Orang yang menjadi jumindar atau amir musyawarah janganlah menjadi seperti pemerintah yang bersifat otoriter.
Siapa yang siap 4 bulan di jalan Allah untuk mengusakan iman yang tulen dalam dirinya, berdiri….