Pages

Tampilkan postingan dengan label Salafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salafi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2013

184. DIALOG IBNU ATHAILLAH AS SUKANDARI DENGAN IBNU TAIMIYAH.



 
Ibnu Taimiyyah, Gambar Ilustrasi dari Wikipedia

Dialog Ibnu Athaillah As Sukandari (w.709 H) dengan Ibn Taymiyah (w. 728 H). Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah Ditranslasi dari buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996).

Bismillaahir rahmaanir rahiim.

·        Abu Fadl Ibnu Athaillah As Sukandari (wafat 709 H), salah seorang imam sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih Madzhab Maliki, adalah penulsi karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq, sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686 H) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.
Ibn Atha'illah as- Sukandari adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah tareqat Syadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha'illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.
Melalui sirkulasi karya-karya Ibn Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru. Tetapi ia tetap merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk kesalehan populer yang digalakkan. Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan Tareqat Syadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
Sebagai ajaran Tareqat ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din, karya al-Ghozali, mewarisi anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atah'illah.
Ibnu Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibnu Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibnu Athaillah tak pernah menyebut Ibnu Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibnu Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif : sebagai “cendekiawan ilmu lahiriyah”. Satu Halaman berikut ini merupakan terjemahan Inggris pertama atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.
·         Abul Abbas Taqiuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah saja, lahir: 22 Januari 1263/10 Rabiul Awwal 661H– wafat: 1328/20 Dzulhijjah 728 H), adalah seorang pemikir dan ulama Islam dari Harran, Turki.
Di Damaskus ia belajar pada banyak guru, dan memperoleh berbagai macam ilmu diantaranya ilmu hitung, khat (ilmu tulis menulis Arab), nahwu, ushul fiqih. Ia dikaruniai kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al Quran. Kemampuannya dalam menuntut ilmu mulai terlihat pada usia 17 tahun. Dan usia 19, ia telah memberi fatwa dalam masalah masalah keagamaan.
Ibnu Taimiyah wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya Ibnul Qayyim, ketika beliau sedang membaca Al-Qur an surah Al-Qamar yang berbunyi "Innal Muttaqina fi jannatin wanaharin" . Ia berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Ia wafat pada tanggal 20 DzulHijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin.
Jenazah ia disalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah salat Zhuhur dihadiri para pejabat pemerintah, ulama, tentara serta para penduduk.
Naskah Dialog :

Dari Ushul al-Wushul karya Muhammad Zaki Ibrahim Ibnu Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar. Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tasawuf: Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah Als Sukandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerakan “Salafi”: Syaikh Ahmad Ibnu Abdul Halim Ibnu Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).

Kesaksian Ibnu Taymiyah kepada Ibnu Athaillah

Ibnu Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk shalat maghrib yang diimami Syaikh ibnu Athaillah. Selepas shalat, Ibnu Athailah terkejut menemukan Ibnu Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibnu Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamu ‘alaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.

IBNU ATHAILLAH : “Biasanya saya shalat di masjid Imam Husein dan shalat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?”

IBNU TAYMIYAH : “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apapun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku”

IBNU ATHAILLAH: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibnu Taymiyah?

IBNU TAYMIYAH: Aku tahu anda adalah seorang yg shaleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?

IBNU ATHAILLAH: Tentu saja, rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.

IBNU TAYMIYAH: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur’an juga disebutkan:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji” (Q.S Al Isra : 79).

Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu wafat, Rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.

Inilah syafaat yang dimiliki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.

IBNU ATHAILLAH: Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih! Maksud dari saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighasah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda, ”Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?”
”Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah?”

Disamping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimilikinya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?

Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al quran yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangka bertawasul atau mengambil perantara, atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi indallah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.
Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighasah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan minuman keras, dan mengebiri laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina.
(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini).

Lalu IBNU ATHAILLAH melanjutkan: “Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.
Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fushusul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).

Ketika Syaikhul Islam Izzuddin ibnu Abdi Salam memahami apa yang sebenarnya diucapkan dan dianalisa oleh Ibn Arabi (sebelumnya Syaikh Izzudin menfatwakan bahwa Ibnu Arabi sesat), menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.

Sedangkan mengenai pernyataan Imam as Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?”

IBNU TAYMIYAH: Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya”. Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al Quran dan Sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

IBNU ATHAILLAH: Sekarang, apakah Imam Ali radhiyallahu ‘anhu meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat Jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh dimanapun mereka ditemukan?

IBNU TAYMIYAH: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.

IBNU ATHAILLAH: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang msayarakat di jalan.

Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?
Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakah anda tidak memahami hal ini?

IBNU TAYMIYAH: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat Jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat Jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum “papa”.

IBNU ATHAILLAH: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?

IBNU TAYMIYAH: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.”

IBNU ATHAILLAH: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).
Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.

Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasul-NYA. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.

Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.
IBNU TAYMIYAH: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang shaleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.
Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filosof Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir”.

IBNU ATHAILLAH: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorang Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama sama apa-apa yang tersembunyi. Agar anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik rahmatullah ‘alaih telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”
Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja.

Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam shalat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran: ”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya”.
Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.

Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).

Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa:”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkab bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” “Adakah pernyataan yang seindah ini?”

IBNU TAYMIYAH: “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.”

*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.

Foot Note: 1. Ibn Atha’illah, Lata’if al minan fi manaqib Abi al Abbas. Pada bagian Lata’if al-minan wa al akhlaq, karya Sya’rani (Kairo, 1357) 2:17-18. 2. Lihat Ibn Al Imad, Shadharat al dzahab (1350/1931) 6:20; Al Zirikly, al A’lam (1405/1984) 1:221; Ibn Hajar, al Dhurrar al Kamina (1348/1929) 1:148-273; Al Maqrizi, Kitab al Suluk (1934-1958) 2:40-94; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah (1351/1932) 14:45; Subki, Tabaqat al Shafi’iyyah (1324/1906) 5:177. dan 9:23; Suyuti, Husn al Muhadara fi Akhbar misr wa al qahira (1299/) 1:301; Al Dawadari, al Durr al fakhir fi sirat Al Malik Al Nasir (1960) hal 200; Al Yafi’I, Mi’rat Al Janan (1337/1918) 4:246; Sya’rani, Al Tabaqat al Kubra (1355/1936) 2:19; Al Nabhani, jami’ karamat al awliya (1381/1962) 2:25.

Sabtu, 08 September 2012

56. RADIKALISME PEMIKIRAN SALAFI WAHHABI

Sebagai pengetahuan dan memberikan kesadaran pada ummat pentingnya saling menghormati, bekerjasama dan bersatu dalam menegakkan agama Allah, bukan saling memusuhi, merasa paling benar dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.

Buku Baru : Radikalisme Sekte Wahabiyah (Mengurai Sejarah Dan Pemikiran Wahabiyah) “ (Bhs. Malaysia)

 
BUKU INI
Judul : Radikalisme Sekte Wahabiyah (Mengurai Sejarah Dan Pemikiran Wahabiyah) “edisi revisi”
Penulis : Syekh Fathi al Mishri al Azhari
Penerbit : Pustaka Asy’ari
Cetakan : Tahun 2011
Penerjemah : Asyhari Masduqi, MA
Editor : Abu Zahra
Gambar Cover : Saif Abu Naya
Tebal halaman : 236 halaman
Harga : 50. 000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah) Sudah termasuk ongkos kirim khusus P. Jawa,
dan tambah 10.000 untuk luar P. jawa
Bila anda berminat silahkan hubungi email berikut: aboufaateh@yahoo.com, atau kirim pesan di kotak Facebook: http://www.facebook.com/profile.php?id=1789501505
Pengantar Penerjemah
Akar “Terorisme” Dalam Perbincangan
Telah banyak ruang diskusi dan karya ilmiah yang berusaha mencari sebab-sebab munculnya terorisme. Sebagian menemukan benang merah terorisme ada pada kemiskinan dan “kebobrokan” moral. Pertanyaannya sampai seberapa jauh pengaruh kemiskinan dan krisis moral dalam menyebabkan munculnya terorisme?. Krisis moral dan kemiskinan terkadang menjadikan orang berbuat kriminal tetapi pada batasan tertentu, tidak menjadikan tindakannya sebagai ideologi yang mengharuskan dia terus melakukan teror karena ada semangat “balasan kebaikan” (pahala) atas perbuatannya.
Sesungguhnya yang lebih membahayakan dari terorisme yang terbatas (baca kriminalitas) adalah gerakan teror yang muncul dari individu dan kelompok yang mereka sendiri bukanlah orang yang setiap harinya melakukan kriminal atau pembunuhan akan tetapi mereka berpengang teguh pada sebuah ideologi. Mereka menjadikan ideologi tersebut sebagai dasar dalam melakukan gerakan teror dan menjunjung tinggi “nilai-nilai” yang terdapat pada ideologi tersebut. Terorisme semacam ini akan muncul kapan saja tidak hanya disebabkan karena balas dendam atau counter attack atas perbuatan individu atau kelompok lain.[1]
Sebagian berusaha mencari akar terorisme pada kondisi ekonomi pada negara-negara tingkat tiga yang menurut mereka belum tersentuh oleh peradaban barat yang “menjunjung tinggi” HAM. Tesis ini mengatakan bahwa di antara mereka yang tersangkut masalah-masalah terorisme bukanlah dari kalangan orang kaya atau orang terpelajar yang pernah mengenyam pendidikan barat, karena menurut mereka orang kaya dan terpelajar tidak akan melakukan tindakan picik (teror), apalagi mereka mendapatkan pendidikan HAM di barat.
Inilah yang saya maksudkan dengan ideologi “terorisme” yang diusung oleh individu atau kelompok dengan berkedok agama. Padahal agama Islam mengajarkan kebaikan dan keadilan, dan melarang dari perbuatan munkar dan kejahatan. Karenanya, ketika kita mendengar adanya peristiwa terorisme di beberapa tempat selalu dikaitkan dengan agama Islam. Tuduhan ini pasti ditolak mentah-mentah oleh umat Islam dengan mengatakan bahwa Islam memerangi terorisme. Terkadang tuduhan itu ditujukan kepada sebagian generasi muda Islam yang mempunyai “ghirah Islamiyah” yang tinggi tanpa didasari nilai-nilai ajaran Islam yang benar.
Benar, sedikit tulisan yang mengkupas tentang ideologi “perusak” penyebab perpecahan di antara umat. Ideologi yang berkedok jihad untuk melegitimasi bombing, hijacking dan aksi teror lainnya. Sedikit tulisan yang mengupas masalah ini berdasarkan pendapat para ulama yang mu’tabar untuk memadamkan fitnah mereka.
Tuduhan dan serangan terhadap Islam dari musuh-musuh Islam semakin mengkristal dan bias kepentingan menganggap Islam adalah agama terorisme. Di pihak lain ketika ada usaha untuk mencari akar terorisme dari doktrin-doktrin “radikal” yang ditanamkan kepada generasi muda, muncul reaksi keras dari sebagian umat Islam sendiri dengan berdalih “hilangkan perbedaan ideologi” dan perkokoh “Wahdah al Ummah” dalam menghadapi serangan musuh-musuh Islam”.
Jujur, kita memang menginginkan wahwah al Ummat dan segala cara yang dapat merealisasikannya. Akan tetapi jangan sampai hal ini dijadikan oleh sebagian oknum untuk melindungi terorisme. Sebagian berpendapat bahwa membuka tabir masalah ini akan mengamcam kesatuan umat dan masuk dalam kategori ghibah muharramah serta melemahkan umat Islam itu sendiri. Saya berpendapat sebaliknya, bahwa ketika kita diam tidak melakukan tahdzir (menyebutkan kesalahan) terhadap gerakan separatisme mulai dari kepala sampai ekornya, itulah yang akan mengancam tatanan al Wahdah al Islamiyah. “Berbeda dalam kebenaran lebih baik dari pada bersatu dalam kebathilan”.
Buku yang ada di tangan pembaca tidak membahas tentang terorisme, akan tetapi buku ini mengupas tentang sebuah ideologi yang memuat doktrin merasa “paling benar sendiri”. Siapapun orangnya dan apapun alirannya kalau tidak sepaham dengan mereka maka tergolong kafir, musyrik, sesat, ahli bid’ah, halal darahnya, wajib diperangi dan lain sebagainya. Pasti pembaca dapat menangkap sebuah benang merah kaitan terorisme dengan sebuah ideologi.
Bagian kedua dari buku ini mengupas tuntas tentang kemiripan -kalau tidak mau dikatakan kesamaan- aqidah antara mereka yang mengklaim “Ahlussunnah” atau menamakan dirinya “salafi” dengan berdalih al Qur’an dan hadits serta perkataan “ulama mereka” dengan aqidah Yahudi yang semua tahu kalau mereka di luar Islam. Bahaya laten pasti lebih berbahaya dari yang terang-terangan melawan kita. Musuh dalam selimut jelas lebih susah untuk diketahui dari pada yang mengadakan perlawanan secara frontal. Berarti, kalau ada dua kelompok yang sama aqidahnya, satu terang-terangan melawan Islam sementara yang lain mengatasnamakan Islam, siapakah yang lebih berbahaya?
Daftar Isi
Pengantaar Penerjemah ~ iii
Daftar Isi ~ vii
Bagian Pertama
Pendahuluan ~ 2
Siapakah Muhammad ibn Addul Wahhab Dan Ibnu Taimiyah? ~ 9
Wahhabiyah mengkafirkan umat Islam ~ 16
Manhaj Wahhabiyah ~ 18
Mengenang tiga insiden ~ 25
Sekilas tentang klaim-klaim Wahhabiyah ~ 36
Tantangan ~ 90
Siapa yang dibela oleh Wahabiyah? ~ 91
Bagian kedua
Studi perbandingan aqidah Wahabiyah dan yahudi ~ 96
Pergulatan Ahlussunnah vs Ahlul Bathil ~ 99
Strategi musuh-musuh Islam ~ 99
Al Qur’an membuka “borok” yahudi ~ 101
Aqidah Munjiyah ~ 104
Bagian 1, persamaan aqidah wahabi dan yahudi ~ 112
Perbandingan aqidah wahabi dan yahudi ~ 112
Wahabiyah mengatakan Allah duduk ~ 113
Kesimpulan ~ 118
Bagian 2, Wahabiyah mengatakan Allah berbentuk dan bergambar ~120
Bagian 3, Wahabiyah mengatakan Allah mempunyai wajah ~ 122
Bagian 4, Wahabiyah mengatakan Allah bersuara ~ 125
Bagian 5, Wahabiyah mengatakan Allah mempunyai mulut dan berbicara dengan bahasa ~ 129
Bagian 6, Wahabiyah mengatakan Allah berubah dan baru ~ 132
Bagian 7, Wahabiyah mengatakan Allah memiliki anggota badan ~ 137
Bagian 8, Wahabiyah mengatakan Allah mempunyai kaki dan mata ~ 141
Bagian 9, Wahabiyah mengatakan Allah bertempat dan berarah ~ 144
Bagian 10, Wahabiyah mengatakan Allah bersifat buruk dan tercela ~ 150
Rencana Inggris buat Muhammad ibn Abdul Wahhab ~ 152
Mr. Hamford bertemu Muhammad ibn Abdul Wahhab di Nejed ~ 154
Ibn Abdil Wahhab melaksanakan 4 dari 6 poin ~ 156
Penduduk Makkah lebih tahu tentang sejarah Makkah ~ 157
Bagaimana cara mengetahui orang wahabi? ~ 159
Peringatan ~ 168
Siapa yang disembah oleh Wahhabiyah ~ 171
Ibnu Taimiyah dan yahudi ~ 173
Ibnu Baz dan yahudi ~ 174
Al Albani dan yahudi ~ 175
Al Albani mengatakan: Setiap yang tinggal di Palestina kafir ~ 176
Hammud at-Tuwaijiri dan yahudi ~ 177
[1] Ahmad Tamim, Bara’ah al Habib min Ahli al Irhab wa al Takhrib, (Kiev: – , 2005), hal. 6
—– catatan tambahan —–
Golongan Wahabi adalah pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab. Sebuah gerakan separatis yang muncul pada masa pemerintahan Sultan Salim III (1204-1222H). Gerakan ini berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan umat manusia dari kemusyrikan. Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya menganggap bahwa selama 600 tahun umat manusia dalam kemusyrikan dan dia datang sebagai mujaddid yang memperbaharui agama mereka. Gerakan wahabi muncul melawan kemapanan umat Islam dalam masalah aqidah dan syariah, karenanya gerakan ini tersebar dengan peperangan dan pertumpahan darah. Dengan dukungan dari Hijaz bagian timur yaitu raja Muhammad ibn Saud raja ad Dir’iyah, pada tahun 1217 H Muhammad ibn Abdul Wahhab bersama pengikutnya mengusai kota Thaif setelah sebelumnya mereka membunuh penduduknya, tidak ada yang selamat kecuali beberapa orang. Mereka membunuh laki-laki dan perempuan, tua, muda, anak-anak, bahkan bayi yang masih menyusu pada ibunya juga mereka bunuh. Mereka keluarkan semua penghuni rumah-rumah yang ada di Thaif, bahkan yang sedang shalat di masjid juga mereka bantai. Mereka rampas semua harta dan kekayaan penduduk Thaif dan mereka musnahkan semua kitab yang ada hingga berserakan di jalanan.
Dari Thaif kemudian mereka memperluas kekuasaannya ke beberapa kota seperti Mekkah, Madinah, Jeddah dan kota-kota lainnya. Hingga akhirnya pada tahun 1226 H Sultan Mahmud Khan II turun tangan dengan memerintahkan Raja Mesir Muhammad Ali Basya untuk membendung gerakan Wahabi ini. Dengan kekuatan pasukannya dan kegigihan Raja Muhammad Ali Basya sampai akhirnya mereka dapat mengambil alih kota Thaif, Mekkah, Madinah dan Jeddah dari kekuasaan golongan Wahabi.
SIAPAKAH MUHAMMAD IBN ABDUL WAHHAB?
Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Sulaiman ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rasyid at Tamimi lahir pada tahun 1115 H di pedesaan al Uyainah yang terletak disebelah utara kota Riyadl. Meninggal dunia pada tahun1206 H. Pertama kali dia menyebarkan ajarannya di aderahnya Huraimalan, banyak mendapatkan tantangan dari masyarakat sekitar. Bahkan ayahnya Syekh Abdul Wahhab juga menentangnya. Sejak Muhammad kecil ayahnya sudah mempunyai firasat buruk dan sering mengingatkan masyarakat dari kejahatan Muhammad. Ketidakcocokan Muhammad dengan ayahnya berlanjut hingga ia dewasa dan mulai menyebarkan ajarannya. Muhammad menganggap ayahnya cenderung mengikuti ajaran sufiyah dan berlebihan dalam mencintai orang-orang shalih. Tidak hanya dengan ayahnya, saudara kandungnya Syekh Sulaiman ibn Abdul Wahhab juga menentangnya. Bahkan beliau menulis 2 karangan sebagai bantahan terhadap Muhammad. Bantahan pertama beliau beri judul al Shawa’iq al Ilahiyah fi al Radd ‘ala al Wahhabiyah dan yang kedua berjudul Fashl al al Khitab fi al Radd ‘ala Muhammad ibn Abd al Wahhab. Karena banyaknya yang menentang ajarannya maka Muhammad lebih memilih berdakwah dengan sembunyi-sembunyi. Baru setelah wafatnya ayahnya dia berani lantang dalam menyebarkan ajarannya. Ia mulai dengan mengkafirkan umat Islam yang ziarah kubur, mereka yang bertawassul dan membalikkan ayat yang sebetulnya turun sebagai peringatan untuk kaum kafir ia pergunakan ayat ini untuk mengkafirkan umat Islam. Di antara ulama yang menetang ajaran Muhammad adalah gurunya sendiri yaitu Syekh Muhammad ibn Sulaiman al Kurdi pengarang Hasyiyah Syarh Ibn Hajar ‘ala Matn Bafadlal, di antara perkataan beliau:
“ Wahai putra Abdul Wahhab saya menasehatimu karena Allah ta’ala agar kamu menjaga lisan kamu dari menyesatkan umat Islam. Kalau kamu mendengar dari seseorang yang meyakini bahwa istighatsah dapat memberikan manfaat dari selain Allah maka ajarankan kepada orang tersebut ajaran yang benar dan jelaskan bahwa tidak ada yang dapat memberikan manfaat kecuali Allah. Kalau ia menolak kebenaran maka kafirkan orang tersebut. Tidak ada alasan bagimu untuk mengkafirkan mayoritas umat. Dan kamu telah menyimpang dari mayoritas umat, maka kekufuran lebih dekat terhadap orang yang menyimpang dari mayoritas umat karena ia telah mengambil jalan selain jalan umat Islam. Dan sesungguhnya serigala itu akan memangsa kambing yang terpencar dari gerombolannya”.
DI ANTARA AJARAN GOLONGAN WAHABI
Muhammad ibn Abdul Wahhab telah membuat agama baru yang diajarkan kepada para pengikutnya. Dasar ajarannya ini adalah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas Arsy. Keyakinan ini merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama salaf bersepakat bahwa barang siapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir. Sebagaimana hal ini ditulis oleh Imam al Muhaddits as Salafi ath Thahawi (227-321 H) dalam kitab aqidahnya yang terlenaldengan nama al ‘Aqidah ath Thahawiyah, beliau berkata: “Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.
Di antara keyakinan golongan Wahhabiyah ini adalah mengkafirkan orang yang berkata: “Yaa Muhammad…”, mengkafirkan orang yang berziarah ke makam para Nabi untuk bertabarruk (mencari berkah), mengkafirkan orang yang mengalungkan hirz (tulisan ayat-ayat al Qur’an atau dzikir yang warid dari Rasul ), padahal apa yang di dalam hirz tersebut hanyalah ayat-ayat al Qur’an dan sama sekali tidak terdapat lafadz-lafadz yang tidak jelas yang diharamkan. Mereka menyamakan perbuatan memakai hirz ini dengan penyembahan terhadap berhala.
Mereka (golongan Wahabi) dalam hal ini telah menyalahi para sahabat dan salafus salih. Telah menjadi kesepakatan bahwa diperbolehkan mengucapkan “Yaa Muhammad…” ketika dalam kesusahan. Semua umat Islam bersepakat tentang kebolehan ini dan melakukannya dalam praktek keseharian mereka, mulai dari sahabat nabi, para tabiin dan semua generasi Islam hingga kini. Bahkan Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam madzhab Hanbali yang mereka klaim di negeri mereka sebagai madzhab yang mereka ikuti, telah menyatakan kebolehan menyentuh dan meletakkan tangan di atas makam Nabi Muhammad, menyentuh mimbarnya dan mencium makam dan mimbar tersebut apabila diniatkan untuk bertabarruk (mendekatkan diri) kepada Allah dengan bertabarruk.
Mereka telah menyimpang dari jalur umat Islam dengan mengkafirkan orang yang beristighatsah kepada Rasulullah dan bertawassul dengannya setelah wafatnya. Mereka berkeyakinan bahwa orang yang bertawassul selain yang hidup dan yang hadir (ada dihadapan kita) adalah kufur. Atas dasar kaidah ini, mereka mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah tawassul ini dan menghalalkan untuk membunuhnya. Sebagaimana perkataan Muhammad ibn Abdul Wahhab:
“Barang siapa yang masuk dalam dakwah kita maka ia mendapatkan hak sebagaimana hak-hak kita dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban-kewajiban kita dan barang siapa yang tidak masuk (dalam dakwah kita) maka ia kafir dan halal darahnya”. Dan ia juga mengatakan: “Dan ketahuilah bahwa pengakuan mereka (umat Islam) dengan tauhid ar Rububiyah belum memasukkan mereka ke dalam Islam, dan penyebutan mereka terhadap para malaikat, para nabi, para wali untuk mendapatkan syafaat mereka dan untuk mendekatkan diri kepada Allah, hal itulah yang menghalalkan darah dan harta mereka”. Ajaran inilah yang diyakini oleh golongan Wahabi sekarang ini, bahwa menurut mereka orang yang bertawassul adalah musyrik. Sebagaimana perkataan Muhammad Ahmad Basyamil: “Sungguh aneh dan mengherankan Abu Lahab dab Abu Jahal lebih bertauhid dan lebih murni imannya dari umat Islam yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang shalih dan mengharapkan syafaat dari Allah ta’ala”.
Kalau kita mengamati beberapa pernyataan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya, kita dapat menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut dapat memicu gerakan separatisme dan pemikiran ekstrim yang menjurus pada gerakan terorisme. Karena mereka mengklaim bahwa mereka yang paling benar dan selain mereka sesat dan halal darahnya.

Terkini (2012) WAHABI JIHADY (QUTHBIYUN) : MEMBUNUHI ULAMA – ULAMA SUNNI MADZAB HANAFI DI DAGESTAN RUSIA

Adakah Wahhabi Irhabi Khariji di sebalik pembunuhan ulama’ di Rusia? Sejarah umat Islam boleh menjawabnya.

Ulama Rusia mati ditembak


BEBERAPA anggota polis memeriksa bangkai kereta yang membawa Ildus selepas ia hangus akibat letupan bom di Kazan, Rusia semalam.

MOSCOW – Seorang ulama wilayah Tatarstan, Rusia mati ditembak manakala seorang lagi ulama cedera dalam satu letupan bom kereta di Kazan, wilayah Tatarstan, kata beberapa penyiasat semalam.
Beberapa pemimpin tempatan menyatakan, kedua-dua serangan tersebut mempunyai kaitan dengan kritikan mereka terhadap golongan radikal Islam.
Jawatankuasa Siasatan Rusia memberitahu, Timbalan Mufti Tatarstan, Valiulla Yakupov ditembak mati ketika beliau meninggalkan rumahnya di Kazan semalam.
Menurut jawatankuasa itu, Ketua Mufti, Ildus Faizov cedera di kaki selepas bom pada keretanya meletup di pusat bandar tersebut.
Kedua-dua ulama berkenaan merupakan penentang pengikut fahaman Salafi atau Wahabi.
Jurucakap Jawatankuasa Siasatan, Vladimir Markin memberitahu beberapa agensi berita Rusia bahawa agensinya sedang menyiasat aktiviti kedua-dua ulama itu sebagai punca mereka diserang.
Berusia 49 tahun, Ildus menjadi Ketua Mufti Tatarstan pada tahun 2011 dan memulakan operasi membanteras golongan radikal Islam dengan memecat pendakwah Wahabi dan mengharamkan buku agama dari Arab Saudi.
Beliau turut dikritik media di Tatarstan kerana mengaut keuntungan daripada pakej mengerjakan haji anjurannya selain cuba mengawal sebuah masjid yang dikategori sebagai antara tertua dan terbesar di Kazan. – AP
Sumber: Kosmo
—————————————————————————-
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh; Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, Rahmat ke seluruh alam; Juga kepada ahli keluarga baginda dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;
1. Merujuk berita di atas. Al-Fatihah kepada Timbalan Mufti Tatarstan, Valiulla Yakupov. (Gambar di bawah) . Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau di kalangan orang-orang soleh. Amin.
2. Dan semoga Allah menyembuhkan Ketua Mufti Tatarstan, Ildus Faizov (Gambar di bawah). Berita yang sama banyak dilaporkan di dalam media-media antarbangsa yang lain seperti di sini dan di sini.
3. Peristiwa pembunuhan ulama’ yang disyaki didalangi oleh Wahhabi Irhabi ini sememangnya mengingatkan kita kepada banyak peristiwa berdarah umat Islam yang dilakukan oleh golongan Khawarij amnya dan Wahhabi khususnya (Rujuk Sejarah Kebangkitan Wahhabi di dalam Inwan al-Majd dan Tarikh Najd). Begitu ramai ulama’ yang terkorban di tangan Wahhabi Irhabi. Allahu al-Musta’an.
4. Negara-negara balkan sedang cuba bangkit dalam kewangan Islam seperti Kazakhstan sendiri telah menubuhkan Kaz Haj yang menyerupai model Tabung Haji dengan bantuan Amanah Raya Berhad (Malaysia) dan Tatarstan bercadang untuk mengintai peluang penerbitan sukuk dengan Amanah Raya Berhad (Malaysia).
5. Negara-negara Balkan sememangnya pernah menjadi pusat ilmu Islam sehingga digambarkan ketinggian ilmu di Bukhara menyamai perbincangan ilmu di Baghdad.
6. Semoga negara-negara Islam Balkan kembali bangkit dan semoga Allah menjauhkan mereka daripada fahaman-fahaman menyeleweng seperti Wahhabi, Syiah, Islam Liberal, Hizb al-Tahrir, dan lain-lain. Amin Ya Rabbal Alamin.

Ulama Sufi  (Madzab Hanafi) Terkemuka di Rusia Tewas Akibat Bom Bunuh Diri

Moskow Bom bunuh diri yang dibawa seorang perempuan, menewaskan seorang ulama Sufi terkemuka, Said Atsayev (74), di wilayah Dagestan, Rusia Selatan. Atas aksi brutal tersebut, Presiden Vladimir Putin menyerukan penghentian kekerasan agama. Seperti diberitakan Reuters, Selasa (28/8/2012), berdasarkan keterangan kepolisian setempat, aksi bom bunuh diri itu diduga dilakukan seorang perempuan. Pelaku memasuki kediaman sang ulama dengan berpura-pura menjadi peziarah dan meledakan bom dengan menarik sabuk yang melingkari pinggangnya.
Sebagai seorang pemuka agama terkemuka, Atsayev sangat begitu dikenal banyak kalangan di Dagastan. Begitu pula di pemerintahan, ulama ini namanya begitu populer.
Ribuan orang terus berdatangan ke prosesi pemakaman sang ulama di Dagestan sejak Selasa malam. Pemerintah daerah setempat mengumumkan hari berkabung atas insiden berdarah tersebut.
Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam aksi bom bunuh diri yang menewaskan Atsayev. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun merobek negara kita dengan memanfaatkan perbedaan etnis dan agama,” tegas Putin.
“Teroris, bandit, apapun ideologi yang mereka gunakan, hanya untuk satu tujuan, menabur kebencian dan ketakutan,” tegasnya lagi.
(ahy/ahy)

KISAH ASY-SYAHID SYEIKH NIZAR (ASWJ) DIBUNUH WAHHABI

ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH BERNAMA SYEIKH NIZAR AL-HALABY MATI SYAHID DIBUNUH DENGAN KEJAM OLEH TOKOH WAHHABI 


SYEIKH NIZAR HALABI MATI SYAHID DIBUNUH OLEH WAHHABI DAN WAHHABI MENGHALALKAN SEGALA PERBUATAN ZALIM TERUTAMA KE ATAS UMAT ISLAM DENGAN CARA MEMBUNUH




Lihat darah Syeikh Nizar masih mengalir menandakan beliau mati Syahid suci.

Sejak kebangkitan agama jahat: agama Wahhabi memang terkenal dengan radikal mereka membunuh ulama Islam. Al-Qodhi Zawawi mufti di tanah hijaz ketika kebangkitan agama Wahhabi mati dibunuh oleh Wahhabi. Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab saudara kepada pengasas agama Wahhabi iaitu Muhammad bin Abdul Wahhab pernah dicuba bunuh oleh saudaranya sendiri (muhammad b abd wahhab) dengan cara mengupah orang lain untuk membunuh beliau. Ratusan ulama dibunuh oleh Wahhabi dan ratusan ribu umat Islam awam dibunuh oleh Wahhabi. Yang amat menyedihkan adalah pembunuhnya adalah dari tokoh-tokoh agama Wahhabi bukan hanya pengikut mereka yang jahil murakkab.
Syeikh Nizar Al-Halaby seorang tokoh ulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan merupakan ketua Persatuan Islam di Lubnan tidak terlepas mati dibunuh dengan kejam oleh tokoh-tokoh Wahhabi. Beliau (Syeikh Nizar) juga merupaka ulama yang bersikap baik terhadap orang-orang Islam dan berhikmah dalam berdakwah. Walaupun beliau tidak pernah menjentik ataupun memukul Wahhabi beliau tetap dibunuh dengan kejam oleh Wahhabi. Dan sesudah kematian beliau keluarga beliau dan pendokong dibawah Persatuan yang diketua oleh beliau ketik itu tidak pula membalas pembunuh kejam Wahhabi itu walaupun dengan ludahan benci. Mereka yang bersama beliau tidak bertindak radikal terhadap Wahhabi walaupun Wahhabi turut menembak anak kepada Syeikh Nizar Al-Halabi Rahimahullah. Demikian Persatuan tersebut iaitu Persatuan Perusahaan Kebajikan Islamiah Lubnan (JAM’IYYAH AL-MASYARI’ KHOIRIYA AL-ISLAMIYYAH) terkenal dengan pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah Al-Asya’irah Al-Maturidiyyah diiktiraf sebagai persatuan keadilan dan kemurnian dalam segelap tindakan.
Pada pagi Khamis itu 31.Ogos. 1995/ 6. Rabiul Akhir tahun 1416H Syeikh Nizar bersama anak beliau dan pemandu kereta beliau masuk ke dalam kereta untuk menghantar Syeikh Nizar ke Pejabat Persatuan Islam di Lubnan. Sebelum mereka menggerakkan kereta sebuah kereta lain jenis Marcedes warna putih tiba-tiba datang bersama sebuah motosikal lantas turun dari kereta putih mereka dan terus menembak ke atas Syeikh Nizar dengan jarak yang amat dekat berkali-kali. Lihat! Wahhabi menembak ulama Islam berkali-kali kerana benci dengan Islam.

TOKOH WAHHABI YANG MEMBUNUH SYEIKH NIZAR HALABI. PEMBUNUH DI BAWAH MENGAKUI MEREKA BERFAHAMAN WAHHABI DALAM RAKAMAN TV BEIRUT






Beberapa hari selepas Wahhabi-wahhabi itu membunuh ulama Islam Syeikh Nizar mereka telah ditangkap oleh polis dan pihak keselamatan negara dan ternyata mereka yang membunuh itu mengakui mereka memang berfahaman Wahhabi Ibnu Taimiah dan Mujassimah. Mereka yang melakukan pembunuhan terhadap Syeikh Nizar adalah pembesar Wahhabi yang dibayar oleh ketua atasan mereka untuk membeli senjata. Mereka yang membunuh adalah bernama:
1- Munir Solah ‘Abboud,
2- Ahmad Qasam,
3- Wasim Muhammad Abdul Nasir,
4- Rabie’ Muhammad Nab’ah,
5- Muhammad Hamid (Abou Ubaida).

TOKOH WAHHABI & PEMBUNUH SYEIKH NIZAR BERNAMA MUNIR



- Berkata Munir ‘Abboud


(Tokoh Wahhabi&Pembunuh) : “


Startegi pembunuhan tersebut kami lakukan secara berpakat bersama sahabat kami untuk melakukan pembunuhan itu pada jam 8.30pagi dan kami menunggu (pembunuh memaki dengan kata yang termat kesat) Nizar Halabi, kami bertolak mengunakan kereta Marcedes putih dan apabila kami melihat (pembunuh memaki lagi seperti Wahhabi memaki Nabi) Nizar Halabi turun dari rumahnya menggunakan lif dan kemudian dia masuk dalam keretanya maka terus kami menembak dia (Syeikh Nizar) dan kami telah membunuhnya. Yang menembak kepada Syeikh Nizar adalah saya dan saudara saya bernama Umar. Saya bernama Abdullah. Saya bernama Munir Solah ‘Abboud. Saudara saya Umar Asy-SYamiy juga membawa kereta dan kemudian turun dari kereta lantas menembak Nizar Halabi si B*b*.
Aku tidak akan kesal sama sekali dan aku mahu hidup”.

Ulasan:
Lihat bagaimana pembunuh kejam ini memaki hamun dengan perkataan yang amat kesat seperti B*B* dan carutan yang lain ke atas ulama Islam yang telah dibunuhnya dengan bangga. Dia (pembunuh) menghalalkan hukum membunuh orang Islam tanpa sebarang syarat.
Betapa kejamnya seluruh pengikut dan tokoh Wahhabi ke atas ulama Islam.



TOKOH WAHHABI & PEMBUNUH SYEIKH NIZAR BERNAMA AHMAD QOSAM

- Berkata Ahmad Qasam (Tokoh WahhabiPembunuh):
” Kami berdua menembak Syiekh Nizar”.

WAHHABI & PEMBUNUH BERNAMA RABIE’

- Berkata Rabie’ Muhammad Nab’ah (Wahhabi&Pembunuh):


” Aku bersama saudaraku atas motor, tugas kami adalah menjaga dua orang sahabat kami yang menembak Nizar Halaby juga memastikan pembunuhan kami berjalan lancar. Bersama aku senjata api”.

WAHHABI & PEMBUNUH BERNAMA WASIM

- Wasim (Wahhabi&Pembunuh):


” Aku juga ketika itu mempunyai senjata api. Tugas aku adalah menjaga pembunuh. Kami semua bangga sangat kerana dapat membunuh dan kami menghukum semua Ahli Sunnah Wal Jama’ah sebagai Murtad halal darah”.


WAHHABI & PEMBUNUH BERNAMA ABOU UBAIDA

- Abou ‘Ubaida (Wahhabi Pembunuh&Drebar):

” Saya tinggal di Beirut, Musaibe. Tugas aku adalah membawa kereta. Kami telah terlatih membunuh orang Islam sejak zaman perang dahulu lagi. Aku berharap sangat dapat menembak Nizar Halabi”.

Ulasan:
Lihat bagaimana kekejaman Wahhabi terhadap ulama Islam dengan membunuh ulama Islam yang tidak bertindak ke atas mereka pun. Paling menyedihkan Wahhabi membiarkan orang Yahudi membunuh umat Islam waktu yang sama Wahhabi pula membunuh ulama Islam di negara lain. Wahhabi-wahhabi pembunuh tadi amat bergembira membunuh ulama Islam kerana inilah agama Wahhabi. Mereka tadi mengakui semua Wahhabi akan bertindak membunuh ulama Islam jika tidak menyokong Yahudi.Inilah kekejaman Wahhabi dan bukti keadilan ulama Islam Ahli Sunnah Wal Jamaa’ah seperti Syeikh Abdullah Al-Harari, Syeikh Nizar Halabi, Syeikh Abdullah Al-Ghumary dan selainnya.


KENANGAN SYEIKH NIZAR HALABI BERSAMA MUFTI DAGHISTAN YANG TURUT DIBUNUH OLEH WAHHABI


Nantikan paparan bagaiman Wahhabi dengan kejam membunuh Mufti Daghistan yang berfahaman Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Ku tinggalkan sementara kepada pembaca dengan video ini:

Syeikh Nizar Al-Halaby pernah berkata kepadaku dan semua:
“Aku tidak peduli sekiranya aku mati dibunuh kerana matiku dalam Islam dan jihad. Dibunuh akan seorang pejuang Islam itu adalah satu Sunnatullah bagi pendakwah kepada agama Ilah”.

Disusun oleh: Abu Syafiq (012-2850578)