Pages

Minggu, 26 Juli 2015

220. RIWAYAT ISRAILIYYAT MENURUT PERSPEKTIF ISLAM




Kita sering mendengar secara bebas kisah-kisah Israiliyat di dalam ceramah-ceramah atau pengajian yang ada di masjid atau mushalla. Ada kalanya perkara tersebut di luar pengetahuan kita, bahkan ketika mendengar pertama kalinya terasa seolah tidak masuk akal dengan kisah yang diceritakan. Namun, bagaimanakah pandangan Ulama Islam terhadap kisah-kisah ini? Adakah para ulama’ terdahulu menolak untuk menerima cerita Israiliyyat?
Asal Kalimah
1. إسرائيليات – kata jama’ kepada kalimah إسرائيليةyang dinisbahkan kepada Bani Israel. Sebenarnya yang dimaksud dengan Israel ialah Nabi Ya’kub ‘alaihis salam, dan Bani Israel ialah anak-anak serta keturunannya hingga zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Maryam ayat 58 : 58.
أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَـٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“Mereka itulah sebahagian dari Nabi-nabi Yang telah dikurniakan Allah nikmat Yang melimpah-limpah kepada mereka dari keturunan Nabi Adam, dan dari keturunan orang-orang Yang Kami bawa (dalam bahtera) bersama-sama Nabi Nuh, dan dari keturunan Nabi Ibrahim, dan (dari keturunan) Israil- dan mereka itu adalah dari orang-orang Yang Kami beri hidayah petunjuk dan Kami pilih. apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Ar-Rahman, mereka segera sujud serta menangis.”
Sejak dahulu, mereka dikenali dengan nama Yahudi di samping golongan Nasrani yang beriman dengan Nabi Isa ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan pada beberapa tempat berkenaan dengan Bani Israel sebagai tanda sifat kebaikan yang ada pada Nabi Ya’kub ‘alaihis salam sehingga keturunannya akan mengikuti jejak langkah yang telah ditinggalkan serta meninggalkan perbuatan yang keji dan tercela.
2. Ada sesetengah pendapat menyatakan bahwa Israiliyyat membawa beberapa maksud :
• Cerita-cerita terdahulu dan riwayat yang banyak bersumberkan daripada golongan Yahudi dan Nasrani.
• Riwayat yang disampaikan oleh perempuan Yahudi atau Nasrani.
• Perkara yang masuk ke dalam kitab karangan ulama’ silam atau terdahulu, terutamanya dalam bidang tafsir yang mempunyai silsilah jalur riwayat baik dari orang Yahudi atau Nasrani. Adapun riwayat yang tiada asalnya dan tergantung atau berdiri sendiri maka ia dianggap sebagai khurafat, atau kisah-kisah palsu.
Namun, berdasarkan pengertian ini kita melihat riwayat Israiliyyat banyak mengambil sumber daripada Yahudi disebabkan banyaknya bilangan mereka di Tanah Arab dibandingkan masyarakat Nasrani. Kemudian setelah beberapa orang dari kalangan mereka memeluk agama Islam, dan meriwayatkan kisah-kisah yang terdapat dalam agama lama mereka kepada kaum muslimin.
Sejarah Ringkas Kemunculan Israiliyyat
Pada tahun 70M, masyarakat Yahudi datang ke Tanah Arab melarikan diri dari Syam setelah musnahnya Haikal dan menetap di kawasan Yastrib, Taima’, Himyar, dan Wadi Al-Qura’. Tetapi orang Arab hanya mengetahui tentang agama Yahudi ini setelah suatu waktu ketika masyarakat Yaman memeluk agama ini hasil dakwah Tubba’ (seorang raja Yaman yang ingin menyerang Makkah - Madinah sebelum Islam tetapi kemudian tidak jadi, baca juga dalam blog ini kisah tentang Raja Tubba’) yang membawa bersamanya dua orang pendeta yang menyebarkan ajarannya di sana.
Berbeda dengan keadaan orang Nasrani yang sering ditindas oleh berbagai golongan seperti penyembah berhala, kaum Yahudi dan kerajaan Byzantine. Kesannya, mereka lari ke Tanah Arab karena ingin menjauhkan diri dari penindasan yang disebabkan perbedaan agama ini. Dakwah Nasrani di tempat baru mereka telah membuahkan hasil ketika beberapa orang telah memeluk ajarannya seperti Waraqah bin Naufal, Imruul Qais, kabilah Ghassan, dan sebagainya.
Dengan adanya dua masyarakat besar ini yang menjadi nama agama mereka yaitu Yahudi dan Nasrani, yang dikenal juga dengan Ahli Kitab, memberikan dampak yang besar pada kehidupan masyarakat Arab. Selain itu, aktivitas perniagaan juga sedikit banyak membuka peluang kepada masyarakat Arab dalam mengenali dua agama ini. Setelah kedatangan Islam, telah terjadi dialog dan pembahasan antara kaum Muslimin dan Ahli Kitab seperti yang banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Akibatnya, banyak di kalangan mereka yang memeluk agama Islam setelah jelas dan nyata di hadapan mereka bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah agama yang benar. Namun, ada yang baik Islamnya sedangkan sebagian yang lain menjadi munafiq, sebagai dalang bagi kaum Yahudi dan musyrikin dalam menghancurkan Islam dari dalam.
Perselisihan antara dua kelompok ini (Muslimin dan Ahli Kitab) tidak terhenti sampai pembahasan atau dialog biasa. Pernah terjadi dialog antara Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu bersama dengan pendeta, kisah seorang muslim memukul seorang Yahudi setelah Yahudi tersebut mengatakan : Tidak, sebenarnya Nabi Musa adalah manusia pilihan sekalian alam, dan berbagai permasalahan yang menunjukkan perselisihan pendapat di kalangan mereka. Tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu itu berperanan sebagai orang tengah yang menjelaskan keadaan yang sebenarnya terhadap kesalahfahaman yang terjadi antara dua golongan ini. Perkara ini berterusan sampai zaman para sahabat ketika mereka bertindak sebagai pihak rujukan masyarakat pada ketika itu setelah wafatnya baginda shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pada zaman tabiin, pendustaan dan pemalsuan banyak terjadi karena menuruti hawa nafsu sehingga menyebabkan manusia tidak dapat membedakan antara suatu yang baik dan buruk. Ada di kalangan para tabiin (asal Yahudi atau Nasrani yang memeluk agama Islam) mengambil sikap sangat mempermudah dalam meriwayatkan sesuatu, sehingga bukan kisah Israiliyyat saja yang diriwayatkan, bahkan khurafat dan dongeng yang tidak mempunyai dasar atau sandaran. Faktor lain yang membantu penyebaran ini ialah dakwaan mereka yang mengatakan para sahabat dan tabiin berkeinginan untuk mengetahui semua perkara dari kisah ummat dan para nabi terdahulu yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnu Khaldun rahmatullah ‘alaih menyebutkan dalam kitabnya, “Muqaddimah Ibnu Khaldun” bahwa penyebaran Israiliyyat ini adalah disebabkan dua perkara :
1. Keadaan masyarakat Arab pada waktu itu yang buta huruf.
2. Sifat manusia yang ingin mengetahui semua perkara.
Di samping itu, kisah-kisah ini tidak ada kaitannya dengan hukum-hakum (hukum fiqih) yang seterusnya menyebabkan ia terus ditulis dan diceritakan kepada orang banyak.
Pembagian Israiliyyat
Para ulama’ telah membagi Israiliyyat kepada tiga bagian yaitu :
1. Bagian yang selaras dengan syariat dan Al-Quran; seperti kisah Al-Jassasah yang diceritakan oleh Tamim Ad-Dariy dan diakui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (hadith dalam Sahih Muslim, kitab Fitnah, bab Kisah Al-Jassasah). Antara lain ialah kisah Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Nabi Khidir, kisah Juraij seorang ‘abid dan sebagainya yang turut diceritakan di dalam Al-Quran dan hadith Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kisah-kisah yang seperti ini berfungsi sebagai sokongan atau penguat kepada apa yang telah disebutkan oleh keduanya.
2. Bagian yang bertentangan dengan syariat dan Al-Quran : seperti mencemarkan sifat atau muruah kenabian dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam ketika menyebutkan bahwa baginda Yusuf ‘alaihis salam yang berkeinginan atau ada hasrat pada isteri pembesar Al-Aziz, kisah nabi Daud ‘alaihis salam dan sebagainya yang mengaitkan para nabi dengan dosa syirik, zina dan sebagainya. Dalam hadith Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَكِتَابُكُمْ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْدَثُ تَقْرَءُونَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوا كِتَابَ اللَّهِ وَغَيَّرُوهُ وَكَتَبُوا بِأَيْدِيهِمْ الْكِتَابَ وَقَالُوا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أَلَا يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنْ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلًا يَسْأَلُكُمْ عَنْ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ
“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Ibn Syihab dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bahwa Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab padahal kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih baru kemurniannya dan belum terkotori? Sedang ahlu kitab menceritakan kepada kalian dengan mengubah-ubah kitabullah dan menggantinya, dan mereka tulis alkitab dengan tangannya dan mereka katakan, ‘Ini dari sisi Allah’ untuk mereka tukar dengan harga yang sedikit, tidak sebaiknya ilmu yang yang kalian miliki mencegah kalian dari bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah, takkan kulihat lagi seseorang diantara mereka bertanya kalian tentang yang diturunkan kepada kalian.” (Hadits ke-6815 riwayat Imam Bukhari)
Abdullah bin Mas’ud ‘alaihis salam pernah menyatakan : (Janganlah kamu bertanya kepada Ahli Kitab karena mereka tidak memberikan petunjuk kepada kebenaran bahkan menyesatkan kamu. Maka, kamu akan mendustakan yang benar dan membenarkan yang bathil).
3. Bagian yang tidak terdapat dalam syariat dan Al-Quran, baik selaras atau bertentangan : bagian ini paling banyak didapati pada zaman sekarang namun tiada larangan padanya dan tidak juga mendustakannya. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan :
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ الْآيَةَ
“Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Usman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Ali bin Al Mubarak dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata, ‘Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa arab untuk pemeluk Islam! Spontan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian benarkan ahli kitab, dan jangan pula kalian mendustakannya, dan katakan saja ‘(Kami beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu) ‘.” (Hadits ke-6814 riwayat Imam Bukhari).
Contoh kisah pada bagian ini termasuk nama Ashabul Kahfi dan bilangan mereka, kisah burung dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, pohon yang dimakan oleh Nabi Adam ‘alaihis salam dan sebagainya. Para ulama’ mengatakan kebanyakan kisah bagian ini adalah khurafat dan dongeng dengan dosa menyebarkannya lebih besar daripada manfaat yang ada padanya. Hal ini karena, suatu kitab tafsir contohnya akan bertukar kepada kitab lain yang penuh dengan cerita yang tidak boleh diterima akal dan syara’ karena ia merupakan khayalan dan rekaan pendeta terdahulu yang disebarkan karena ingin menjauhkan masyarakat Yahudi daripada kitab Taurat yang asli. Bukan itu saja, perbuatan ini juga kadang-kadang bertujuan memberikan khidmat kepada raja dan pembesar pada waktu itu.
Pendirian Ulama’ Tentang Israiliyyat
Sejak zaman dahulu berbagai usaha telah dilakukan oleh para ulama’ dalam membersihkan kisah Israiliyyat yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. Namun, usaha ini amat susah dan memerlukan kepada kesungguhan dan dilakukan dalam tempo yang berkepanjangan. Tanpa disadari, kisah-kisah ini mudah disebarkan kepada masyarakat awam tanpa pengawasan, yang menyebabkan ia terus diwarisi dari satu generasi ke generasi yang lain. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan :
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار
“Telah bercerita kepada kami Abu ‘Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy telah bercerita kepada kami Hassan bin ‘Athiyyah dari Abi Kabsyah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa-apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”.Imam Malik rahmatullah ‘alaih menyebutkan : Maksud hadits ialah dibenarkan meriwayatkan daripada mereka selagi dia adalah perkara kebaikan. Adapun pada perkara yang diketahui bahwa ia adalah dusta maka ia dilarang.” (Hadits ke-3202 riwayat Imam Bukhari)
• Imam As-Syafie rahmatullah ‘alaih mengatakan : “Bahwa baginda shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbicara dusta, jadi maksud hadits ialah – ceritakanlah daripada Bani Israel pada perkara yang kamu tidak ketahui bahwa ia adalah dusta. Adapun perkara yang dibenarkan maka tidak menjadi suatu dosa kepada kamu untuk meriwayatkannya.” Inilah maksud dari hadits baginda shallallahu ‘alaihi wasallam :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْمَرْوَزِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي نَمْلَةَ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ مُرَّ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَتَكَلَّمُ هَذِهِ الْجَنَازَةُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَعْلَمُ فَقَالَ الْيَهُودِيُّ إِنَّهَا تَتَكَلَّمُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ فَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُ وَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Tsabit Al Marwazi telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Namlah Al Anshari dari Ayahnya bahwa ketika ia sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu di sisi beliau ada seorang Yahudi, lewatnya jenazah di hadapan beliau. Lalu orang Yahudi itu berkata, “Wahai Muhammad, apakah jenazah ini berbicara?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab: “Allah lebih mengetahui.” Orang Yahudi itu pun berkata, “Sesungguhnya jenazah tersebut berbicara.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang diceritakan oleh orang-orang ahli kitab kepada kalian maka janganlah kalian percayai atau kalian dustakan. Tetapi katakanlah, ‘aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya’. Jika mereka dusta maka kalian tidak mempercayainya dan jika benar maka kalian tidak mendustakannya.” (Hadits ke-3159 riwayat Imam Abu Daud).
Yang tidak menyebutkan keizinan dan larangan ketika meriwayatkan kepada perkara yang dipastikan kebenarannya.
• Imam Ibnu Hajar rahmatullah ‘alaih mengatakan : (ولا حرج yaitu janganlah menyempitkan dada kamu dengan apa yang kamu dengar daripada perkara yang mengagumkan dan itu yang banyak berlaku kepada mereka. Apa yang dimaksudkan dengan jangan bersusah-payah ialah pada pihak yang menceritakan kisah Israiliyyat disebabkan di dalamnya terdapat perkataan yang tidak baik seperti dalam surah Al-Maidah ayat 24 :
قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
“Mereka (Menolak dengan) berkata: “Wahai Musa, Sesungguhnya Kami tidak akan memasuki negeri itu selama-lamanya selagi kaum itu masih berada di dalamnya; oleh itu pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan perangilah mereka. sebenarnya Kami di sinilah duduk menunggu”. (QS. Al Maidah : 24)
Dan surah Al-A’raf ayat 138 :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami bawakan Bani Israil ke sebarang laut (Merah) itu lalu mereka sampai kepada suatu kaum Yang sedang menyembah berhala-berhalanya. (Melihat perkara yang demikian) mereka (Bani Israil) berkata: “Wahai Musa buatlah untuk Kami suatu Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan”. Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum Yang jahil.” (QS. Al A’raf : 138)
Pendapat Ibnu Hajar Asqalani rahmatullah ‘alaih ini merupakan pemahaman yang baik dalam memahami maksud hadits karena ada beberapa perkataan dan ungkapan dalam kisah Israiliyyat yang bisa membawa kepada kekufuran. Tetapi, ia hanya diceritakan sebagai suatu peringatan dan manfaat bersama.
Adapun hadits ke-3159 riwayat Imam Abu Daud di atas, ia ditujukan kepada mereka bukannya kita, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyuruh di dalamnya supaya meriwayatkan sesuatu daripada Ahli Kitab, bahkan seolah-olah beliau mengajar kepada umat Islam supaya beradab ketika berbicara dengan mereka sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surah Al-’Ankabut ayat 46 :
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu berdebat Dengan ahli Kitab melainkan Dengan cara Yang lebih baik, kecuali orang-orang Yang berlaku zalim di antara mereka; dan Katakanlah (kepada mereka): “Kami beriman kepada (Al-Quran) Yang diturunkan kepada Kami dan kepada (Taurat dan Injil) Yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah satu; dan kepadaNyalah, Kami patuh Dengan berserah diri.” (QS. Al ‘Ankabut : 46)
• Imam Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaih menyebutkan dalam kitab “Ma’arij Al-Ushul” : (Al-Quran adalah sendiri pada zatnya, dan orang yang membaca Al-Quran tidak berhajat kepada kitab-kitab terdahulu yang menjelaskannya. Berbeda dengan orang Nasrani contohnya, mereka memerlukan kepada kitab Taurat untuk memahami hukum-hukum dalam agama mereka). Kemudian beliau berkata lagi : (tetapi hadits-hadits yang menceritakan tentang Israiliyyat ini disebutkan untuk memberikan sokongan bukannya sebagai suatu pegangan).
Kesimpulan :
Berdasarkan pendapat para Imam yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan seperti berikut :
1. Boleh meriwayatkan kisah Israiliyyat yang sesuai dengan syariat Islam dan hanya sebagai penguat/sampingan bukan pokok/pegangan.
2. Boleh meriwayatkan kisah pada bagian ketiga – yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah – hanya sebagai i’tibar seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaih.
3. Tidak boleh meriwayatkannya pada perkara yang bertentangan dengan ajaran agama – bagian yang kedua – melainkan perlu diingkari dan dijelaskan kesalahannya.
Rujukan :
1. Al-Quran Al-Karim.
2. Sahih Al-Bukhari, karangan Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mughirah Ibn Bardizbah al-Bukhari.
3. Sahih Muslim, karangan Abul Husayn Muslim ibn al-Hajjaj Qushayri al-Nisaburi.
4. Al-Israiliyyat Wal Maudhu’at Fi Kutub At-Tafsir, karangan Dr. Muhammad bin Abu Syahbah.
5. Al-Israiliyyat Wal Maudhu’at Wa Bida’ At-Tafasir Qadiman Wa Haditsan, karangan Hamid Ahmad At-Tahir Al-Basyuni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar