Pages

Sabtu, 14 Juli 2012

23. KISAH SYAIKH SALAFY AS SA'DI

Kisah Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di (Seorang Ulama Salafy Guru Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin Ulama Wahabi kontemporer yang sangat populer mempunyai seorang guru yang sangat Alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahabi (Salafy), yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di.Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahhabi.

Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.


Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid Al-Haram bersama halaqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk.


Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan tawaf yang mereka lakukan. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat.


Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya.


Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.


Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Badwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT.


Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu,  “Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik.


Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.”  Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menuju halaqah al-Imam al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan prihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu.


Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi baduwi tersebut.


Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu,  “Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”


Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi badwi itu pun segera mendatangi halqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka.


Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid ‘Alwi dan duduk di sebelahnya.


Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan tata krama layaknya seorang ulama.


Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi:  “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”  Sayyid ‘Alwi menjawab:  “Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”


Syaikh Ibnu Sa’di berkata:  “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”  Sayyid ‘Alwi menjawab:  “Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50:9)


Allah SWT juga berfirman mengenai Ka’bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3:96).


Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”  Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi.


Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi:  “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”


Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di:  “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi Baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik.Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”


Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya.


Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.  Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina al-Imam ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani.


Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

22. TUDUHAN PALSU TERHADAP USAHA DAKWAH DAN TABLIGH

Kabar Dusta dan Fitnah: Ahli Usaha dakwah dan tabligh menyembah kuburan di Markas Nizhamuddin

 Mereka berkata, markas jamaah tabligh di India adalah tempat kemusyrikan, karena biasa memuja dan menyembah kuburan syaikh Nizhamuddin awliya

Fitnah para pembohong/ pendusta 
Tuduhan bahwa jamaah tabligh menyembah kubur di Nizhamuddin India adalah fitnah dan dusta. Hal ini pasti bohongnya, karena dari kalimat tuduhan tersebut dapat dipastikan bahwa si penuduh belum pernah mengunjungi Masjid Banglawali di kampung Nizhamuddin, New Delhi, India.
Berita atas tuduhan ini sangat menyesatkan banyak orang, sehingga ada sebagian orang yang mempercayainya begitu saja, dan memvonis bahwa jamaah dakwah dan tabligh memang telah melakukan kemusyrikan dan menyimpang dari akidah islam.
Namun bagi mereka yang sudah pernah hadir dan menyaksikan langsung hal ihwal dan keadaan disana yang sebenarnya, tentu mereka akan tertawa terbahak-bahak atas kebohongan yang sungguh nyata tersebut. 

Seandainya para pendusta itu benar-benar telah hadir dan menyaksikan tempat yang benar, bukan ke tempat yang salah, pasti mereka akan menyesali bahwa apa yang mereka tuduhkan itu adalah salah sama sekali dan suatu fitnah yang besar.!!
Salah seorang tokoh senior sekaligus penanggung jawab usaha dakwah dan tabligh di Indonesia, pada suatu ketika bertemu dengan seorang ustadz yang menyinggung masalah ini. Ustadz tersebut langsung menuduh bahwa Jamaah tabligh telah melakukan kemusyrikan dengan menyembah kuburan di Nizhamudin, India.
Mendengar hal itu, maka orang tua dari jamaah tabligh ini berkata, “ Dari mana bapak mendapatkan sumber berita itu?” Kemudian Ia menjawab, “Saya mendapatkannya dari sumber yang terpercaya.” Tokoh jamaah tabligh tersebut bertanya, “Apakah bapak sudah meneliti kebenaran berita itu?” Kemudian ustadz tersebut berkata, “Itu tidak perlu, karena saya mempercayai kebenaran berita itu”. Tokoh jamaah tabligh itupun menyahut, “Masya Alloh, hadits-hadits Nabi saw saja, bapak seleksi dengan ketat keshahihannya dan kedhaifannya, mengapa berita yang demikian palsu bapak telan bulat-bulat?!!”
Demikianlah yang terjadi. Dan hal ini menguatkan keyakinan, bahwa para penuduh yang menyatakan bahwa jamaah tabligh telah menyembah kuburan di Nizhamuddin awliya India, adalah para PENDUSTA/PEMFITNAH yang tidak pernah sama sekali meneliti maupun memeriksa kebenaran berita tersebut. Dan mereka hanya membenarkan tuduhan tersebut, hanya disebabkan tertutupnya hati dari kebenaran yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu, mari kita simak, bagaimana sebenarnya keadaan yang sesungguhnya mengenai tuduhan tersebut.

Makam Syaikh Nizhamuddin Awliya
Basti Nizhamuddin adalah nama sebuah kampung di kota Delhi, India. Basti bermakna kampung dalam bahasa Urdu. Didalamnya terdapat sebuat tempat penziarahan yang luas namun padat didatangi bukan hanya oleh kaum muslimin awam, namun juga oleh orang-orang hindu.
Disitulah kuburan/makam Syaikh Nizhamuddin Awliya, seorang waliyullah yang sangat terkenal. Beliau adalah seorang dai sekaligus pejuang besar yang telah banyak berjuang menegakkan islam di kawasan India dan Pakistan. Sayangnya, kuburan beliau dianggap oleh orang-orang jahil sebagai kuburan yang sangat bertuah dan keramat., sehingga sebagian mereka berkeyakinan akan mendapatkan keberkahan dari kuburan tersebut jika mereka menziarahinya.
Oleh sebab itu, tidak heran jika ditempat tersebut menjadi tempat yang ramai didatangi oleh berbagai kalangan manusia yang telah tertipu akidah mereka. Diantara mereka ada sebagian dari kalangan kaum muslimin dan sebagian lain—yang tidak kalah ramai—juga datang dari kalangan non muslim.
Tempat tersebut sangat jelas berbeda sama sekali dengan markas atau pusat perhimpunan Jamaah tabligh dari seluruh dunia, yaitu di kampung yang sama; Nizhamuddin tetapi di Masjid Banglawali, bukan di kuburan Syaikh Nizhamuddin Awliya.
Inilah yang telah banyak mengecoh orang-orang. Bagi anda yang baru pertama kali ke India pun biasanya akan terkecoh mengenai hal ini. Biasanya, sejak pintu keluar dari Air Port New Delhi, orang-orang hingga agen-agen perjalanan ataupun supir-supir angkutan (yaitu orang-orang hindu) sudah sangat akrab dengan rute tujuan Nizhamuddin Awliya. Anda cukup menyebutkan tujuan Basti Nizhamuddin awliya, maka mereka akan memahaminya bahwa anda akan berkunjung ke kubur syaikh nizhamuddin awliya tersebut.
Dan seandainya anda tidak mengenal tempat yang anda tuju mereka akan mengantarkannya ke tempat kuburan keramat syaikh nizhamuddin awliya, bukan ke tempat perhimpunan jamaah tabligh yang dimaksud, yaitu di Masjid Banglawali.
Inilah kekeliruan yang sangat merusak citra jamaah tabligh. Apabila tidak diluruskan maka akan menjadi finah yang keji dan persangkaan buruk secara umum. 
(Sumber: Kupas tuntas jamaah tabligh jilid 2)

21. RAJA TUBBA'

Raja Tubba’ melakukan perjalanan dari Yaman ke berbagai negeri  ditemani 400 ulama. Setiap kali memasuki negeri, maka rakyat negeri itu selalu mengelukan dan memuliakannya. Suatu ketika sampailah di kota Mekkah al Musyarrafah. Tidak seperti penduduk negeri lainnya, warga Mekkah tidak memberikan sambutan yang hangat. Sikap ini membuat Raja Tubba’ menjadi heran. Raja bertanya kepada para ulama’ yang menemaninya,”Mengapa penduduk negeri ini tidak memuliakan kita?” Diantara ulama’ menjawab,”Mereka adalah penduduk Mekkah, dimana seluruh warganya sangat menghormati dan memuliakan Ka’bah. Itulah sebabnya mereka tidak memuliakan dan mengagungkan Raja.”
Raja Tubba’ merasa tidak senang dengan sikap warga Mekkah. Timbul niat dalam hatinya untuk menghancurkan bangunan Ka’bah yang dimuliakan oleh orang Mekkah, batu demi batu. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala kala itu juga menurunkan bala’ berupa penyakit di kepala Raja Tubba’. Penyakit itu menimbulkan bau yang busuk, sehingga orang-orang tak mau duduk di dekatnya. Banyak tabib didatangkan untuk mengobatinya, namun tidak satupun usaha yang dilakukan para tabib itu dapat menyembuhkan penyakit sang raja.
Para ulama’ yang menemani Raja Tubba’ menjadi penasaran, dan diantaranya ada yang berkata,”Mengapa tidak satupun dari para tabib yang dapat menemukan obatnya untuk bisa menyembuhkan penyakit raja?” Salah seorang ulama’ yang mempunyai pandangan luas, mendapat ilham dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ulama’ itu berkata kepada raja,”Saya akan beritahukan obat dari penyakit raja, dengan syarat semua orang harus keluar dari tempat ini karena saya ingin bermusyawarah berdua saja dengan raja.” Raja memerintahkan semua orang yang sedang bersamanya untuk meninggalkan mereka berdua. Raja berkata,”Nah, mereka telah keluar, sekarang katakanlah apa yang menjadi obat untuk penyakitku ini.” Orang alim itu berkata,”Akan aku beritahukan obat itu, namun sebelumnya ceritakanlah kepadaku, apakah raja ketika sampai di Mekkah ini menyembunyikan sesuatu yang tidak baik di hati raja.” Raja menjawab,”Sesungguhnya aku telah menyimpan niat yang buruk dalam hatiku, yaitu aku akan menghancurkan rumah (ka’bah) ini, batu demi batu, karena penduduk Mekkah ini tidak mau mengagungkan dan menghormati aku.” Orang alim itu menjawab,”Ketahuilah wahai raja, niat buruk raja ini menyebabkan Allah murka dan memberikan penyakit yang tidak ada obatnya, kecuali Allah yang menyembuhkannya. Sekarang jika raja ingin sembuh, maka maka bertaubatlah, urungkan niat raja, sehingga Allah akan mengampuni dan menyembuhkan penyakit raja.” Raja Tubba’ menyesali sikapnya dan berkata,”Baiklah, saat ini juga aku batalkan niat burukku.” Seketika itu juga Allah menyembuhkan penyakit raja Tubba’.
Setelah beberapa lama tinggal di Mekkah, raja Tubba’ bersama rombongannya melanjutkan perjalanan dan sampailah di Madinah. Pada saat itu Madinah masih merupakan hamparan tanah yang kosong dan tandus. Para ulama’ yang menemaninya berkata kepada raja,”Wahai raja, kami ingin tinggal di tempat ini.” Raja menjadi heran dan berkata,” Apa yang menyebabkan kalian ingin tinggal di tempat tandus begini. Bukankah kita telah sepakat untuk melakukan perjalanan bersama?” Diantara ulama’ itu berkata,”Sesungguhnya tempat ini adalah tempat hijrahnya nabi akhir zaman. Dalam waktu dekat ini akan diutus nabi akhir zaman dan kemudian akan berhijrah ke tempat ini. Kami ingin agar anak keturunan kami kelak menjadi pengikut dan sahabat nabi akhir zaman.” Raja Tubba’ berkata,”Kalau begitu, aku akan menitipkan surat kepada kalian untuk diberikan kepada nabi akhir zaman itu. Serahkanlah surat itu jika dia telah diutus dan berhijrah ke tempat ini.”
Raja Tubba’ menulis sepucuk surat yang distempel dan kemudian surat itu diserahkan kepada ulama’ yang telah memberikan saran kepada raja sehingga akhirnya raja sembuh dari penyakitnya.
Telah diriwayatkan bahwa pengikut raja Tubba’ adalah merupakan kakek moyang para sahabat Anshor. Sedangkan ulama’ yang dititipi surat adalah leluhur dari Abu Ayyub al Anshori. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, rumahnya Abu Ayyub al Anshori inilah yang dijadikan sebagai tempat tinggal Nabi dan Abu Ayyub menyerahkan surat dari Raja Tubba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ibnu Ishaq rahmatullah ‘alaih dan lainya meriwayatkan bahwa surat yang ditulis Raja Tubba’ berbunyi : “Amma ba’du. Aku adalah Raja Tubba’ I. Sesungguhnya aku beriman kepadamu dan beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu. Aku berada dalam agama dan sunnahmu. Aku beriman kepada Tuhanmu, Tuhan segala sesuatu. Aku juga beriman kepada syariat agama yang bersumber dari Tuhanmu. Jika aku dapat bertemu denganmu, itu adalah suatu kenikmatan bagiku. Jika tidak, berilah aku syafaatmu dan di hari kiamat jangan lupakan diriku, karena aku adalah ummatmu yang terdahulu dan aku telah berbai’at sebelum kedatanganmu. Aku memeluk agamamu dan agama Ibrahim ‘alahis salam.”
Surat itu ditutup dengan kalimat sebagaimana firman Allah dalam surat ar Rum (30) ayat 4:
لِلّهِ اْلاَمْرُمِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ
Artinya :”Bagi Allah urusan sebelum dan sesudahnya”  (QS. Ar Rum (30) : 4)
Raja Tubba’ meninggal 1000 tahun sebelum  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al Anshori al Qurtubi, al Jami’ul Ahkamil Qur’an, Juz 16, hal. 145, Dar Ihyaut Turatsul Arabi, 1985/1405 H, Beirut, Lebanon)

20. SILSILAH USAHA DAKWAH DAN TABLIGH

Usaha dakwah dan tabligh ialah satu usaha yang sangat mulia.Ia bukanlah satu gerakan, persatuan maupun jamaah tabligh` karena usaha ini telah dibuat oleh para anbiyaa`(Nabi) alaihish shollatu wassalam yang telah dihantar oleh Allah subhanahu wata’ala sebanyak 124.000 yaitu mengajak manusia supaya kenal Allah, beriman dengan Allah, yakin dengan kudrat Allah, yakin penyelesaian masalah ada di dalam amal agama bukan di dalam `maal`(kebendaan). Ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah diberi peluang untuk buat usaha yang sangat mulia ini karena sebelum kita diwujudkan (dilahirkan dimuka bumi), usaha ini hanya ditugaskan oleh Allah untuk para Anbiya alaihish shallatu wassalam, yang mana mereka termasuk orang yang maksum dan suci.
Selama ini banyak keraguan banyak orang mengenai silsilah kerja Nabi ini. Banyak yang mencemooh orang yang melakukan kerja dakwah yang mulia ini. Sesungguhnya usaha ini adalah usaha yang haq (benar) dan merupakan hadiah terbesar untuk Ummat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Usaha ini mempunyai silsillah bersambung sampai kepada Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih berkata bahwa "Usaha yang aku buat ini bukan usaha yang dibuat sekarang. Andai aku lakukan usaha yang ada sekarang maka aku bukan melangkah kedepan, malah aku ketinggalan sejauh 1400 tahun. Inilah ketinggian fikir seorang penyambung usaha yang mulia.” Perlu kita ketahui juga bahwa ada beberapa amalan tariqat yang juga mempunyai silsilah sampai kepada Rasulullah. Tapi itu bukan maksud utama untuk ummat ini diutus, sehingga Allah letakkan ummat ini pada satu kedudukan yang tertinggi dibanding ummat terdahulu.
Telah diturunkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan terus pada para Ulama’ hingga saat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari perhimpunan Haji Wada', 9 Dzulhijjah tahun 9 Hijrah, hari jum’at, selepas shalat ashar "Sampaikan dari ku walaupun satu ayat.."

Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam
||
Abdullah bin 'Umar bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu
||
Abu Qasiyyah rahmatullah ‘alaih
||
Hassan bin Autiyyah rahmatullah ‘alaih
||
Auza'i rahmatullah ‘alaih
||
Dahhak bin Makhlash rahmatullah ‘alaih
||
Amirul Mukminin Fi Hadits wa Imamul Muhaditsin,
Muhammad bin Isamail bin Al-Barzabah Al-Bukhari rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Yusuf Al-Qarbawi rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Ahmad At-Tarukhi rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad Abdullah Muhammad bin Muzaffar Al-Ra'udi rahmatullah ‘alaih
||
Abdul Awwal Abdul Rahman bin Isa al-Harawi rahmatullah ‘alaih
||
Abu Hussain bin Mubarak Al-jabiili rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Ibrahim At-Tanukhi rahmatullah ‘alaih
||
Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Hajar Al-Ashtolani Al-Khinani rahmatullah ‘alaih
||
Zainul Abidin Muhammad bin Zakariyya Al-Ansari rahmatullah ‘alaih
||
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Ar-Romawi rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Ahmad bin Quddus rahmatullah ‘alaih
||
Ahmad Al-Qusyayi rahmatullah ‘alaih
||
Ibrahim Al-Qurdi rahmatullah ‘alaih
||
Abu Tahir bin Ibrahim Al-Qurdi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad bin Abdul Rahim rahmatullah ‘alaih
||
Syah Waliyullah Muhaditsin Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Abdul Aziz Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Bin Ishaq Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad bin Ali Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Abdul Ghani Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Rasyid Ahmad Gangohi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Ilyas bin Ismail Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Yusuf bin Ilyas Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana 'Inamul Hassan Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Saad Al-Kandahlawi dan Maulana Zubairul Hassan Al-Kandahlawi (ulama yang menjadi syura usaha dakwah dan tabligh sekarang)

Seorang Islam yang sebenarnya tidak sepatutnya menunggu banyak bukti untuk beriman dan beramal shaleh. Apa yang dibawa oleh Rasulullah sepatutnya diikuti walaupun tanpa adanya bukti-bukti yang lain. Katakanlah "aku beriman kepada Allah dan RasulNya tanpa bukti dan dalil"....
Wallahu'alam....

19. TANDA-TANDA IMAN LEMAH

1. Sering melakukan maksiat dan jatuh kepada yang haram.


2. Hatinya menjadi keras dan tidak peduli peringatan.


3. Tidak merasakan nikmatnya ibadah serta sulit khusyu' dalam shalat.


4. Terasa malas dalam melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah.


5. Sempit dada, kurang sabar dan cepat mengeluh.


6. Malas membaca Al Qur'an dan tidak terkesan dengan peringatannya.


7. Malas berdzikir dan beribadah kepada Allah.


8. Tidak merasa marah melihat larangan Allah dilanggar.


9. Senang terkenal dan ingin dipuji manusia.


10. Menjadi bahil dan pelit dengan hartanya.


11. Suka mengatakan apa yang tidak diperbuat.


12. Menganggap biasa hal hal yang makruh dan syubhat.


13. Menganggap remeh kebaikan kebaikan yang kecil.


14. Tidak prihatin dengan penderitaan kaum muslimin.


15. Pecah hati dengan saudara seiman yang dicintai karena Allah.


16 .Hilangnya rasa tanggung jawab kepada agama


17. Merasa senang bila saudaranya kehilangan nikmat.


18. Labil dan hilang keseimbangan ketika ditimpa musibah.


19. Suka adu mulut dan berdebat.


20. Hatinya sangat bergatung kepada dunia.


21. Senang mengutip perkataan manusia yang tidak mengenal Allah sebagai referensi dari pada kalam Allah dan sunnah Rasulullah dan para ulama' 'amilin.


22. Terlalu berlebihan dam melayani dirinya dan keluarganya, seperti masalah makanan, pakaian,rumah kendaraan dan seterusnya. 

18. TANGGUNGJAWAB UMMAT ADALAH USAHA DAKWAH DAN TABLIGH

Dakwah dan Tabligh adalah kerja Para Nabi dan Rasul serta Ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-qur’an  dan hadits turun dalam suasana dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Shahabat, sehingga dikatakan Al-qur’an dan Hadits adalah kalam dakwah. Alqur’an menceritakan kisah 25 nabi yang buat dakwah, kisah orang shalih yang buat dakwah (Ali Iimran, Maryam, Habib  an Najjar dalam surat yasin dan sebagainya), jin yang buat dakwah, binatang yang ikut dakwah (ashabul kahfi, burung hud-hud, semut –surat an Naml dan sebagainya), kisah kaum yang menentang dakwah, bantahan terhadap pernyataan orang kafir dan sebagainya. Berikut ini adalah beberapa pembahasan tentang usaha dakwah dan tabligh.
A. Dakwah adalah yang paling ditakuti oleh orang kafir
B. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
C. Dakwah adalah maksud diciptakannya (tugas) ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
D. Dua Amalan Orang Mukmin yang Allah subhanahu wa ta’ala juga mengamalkannya
E. Dakwah (mengajak  kepada  kebaikan  dan  mencegah  kemungkaran)  adalah tugas semua muslim bukan tugas ulama saja (tugas ulama adalah mengajar dan  menunjukan jalan yang lurus (fatwa-fatwa) dan sebagainya)
F. Kesalahan memahami ayat Al-qur’an dalam QS. Al Maidah 105.
G. Jika  dakwah  ditinggalkan, tidak bisa memahami hakekat al-qur’an dan hadits, doa tidak makbul dan sebagainya)
PEMBAHASAN
A. Dakwah adalah yang paling ditakuti oleh orang kafir
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ ما وَصَّى بِهِ نُوحاً وَ الَّذي أَوْحَيْنا إِلَيْكَ وَ ما وَصَّيْنا بِهِ إِبْراهيمَ وَ مُوسى‏ وَ عيسى‏ أَنْ أَقيمُوا الدِّينَ وَ لا تَتَفَرَّقُوا فيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكينَ ما تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبي‏ إِلَيْهِ مَنْ يَشاءُ وَ يَهْدي إِلَيْهِ مَنْ يُنيبُ
Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan- Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang- orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki- Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) - Nya orang yang kembali (kepada- Nya). (QS. Asy Syura : 13)
Orang musyrik paling takut dengan dakwah karena jika kewajiban dakwah (sesuai sunnah) sudah disampaikan kepada mereka maka :
- Jika ia menerima dakwah islam maka ia akan sukses dunia dan akhirat
- Jika ia menolak dakwah islam, maka pasti ia akan di adzab dengan adzab yang pedih didunia dan akhirat. Inilah yang mereka (Yahudi, Nasrani, Majusi)  takuti! 
B. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
1.    Dakwah pada diri sendiri dan keluarga
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْليكُمْ ناراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَ الْحِجارَةُ عَلَيْها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ ما أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ ما يُؤْمَرُونَ
Hai orang- orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At Tahrim : 6)
2. Dakwah kepada tetangga, sahabat dan orang-orang dekat/kerabat
وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ
Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat.”(QS. Asy Syu’ara : 214)
3. Dakwah kepada Ummat di daerah sendiri dan daerah lain
وَ هذا كِتابٌ أَنْزَلْناهُ مُبارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذي بَيْنَ يَدَيْهِ وَ لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرى‏ وَ مَنْ حَوْلَها وَ الَّذينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَ هُمْ عَلى‏ صَلاتِهِمْ يُحافِظُونَ
“Dan ini ( Al Qur'an ) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab- kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umulkura (Mekah) dan orang- orang yang di luar lingkungannya. Orang- orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.” (QS. Al An’am : 92)
4. Dakwah kepada Ummat diseluruh dunia
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَ لَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَ أَكْثَرُهُمُ الْفاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang- orang yang fasik.(QS. Ali Imran :  110 )
C. Dakwah adalah maksud diciptakannya (tugas) ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
1.    Maksud diciptakannya manusia adalah untuk ibadah
وَ ما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah- Ku.(QS. Adz Dzariyat : 56)
أَ لَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَ الطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلاتَهُ وَ تَسْبيحَهُ وَ اللَّهُ عَليمٌ بِما يَفْعَلُونَ
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada- Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing- masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. An Nur : 41)
2. Maksud diciptakannya manusia adalah sebagai khalifatullah (wakil-wakil Allah dimuka bumi)
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, mereka berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan seorang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?”. Ia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”(QS. Al Baqarah : 30)
3. Maksud diciptakannya Ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk dakwah
قُلْ هذِهِ سَبيلي‏ أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلى‏ بَصيرَةٍ أَنَا وَ مَنِ اتَّبَعَني‏ وَ سُبْحانَ اللَّهِ وَ ما أَنَا مِنَ الْمُشْرِكينَ
"Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang- orang yang mengikutiku mengajak (kamu ) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang- orang yang musyrik.”(QS. Yusuf : 108)
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَ لَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَ أَكْثَرُهُمُ الْفاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang- orang yang fasik.(QS. Ali Imran :  110 )
Hasan Basri rahmatullah ‘alaih. mengatakan : “Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka dialah khalifatullah di bumi, dan dialah khalifaturrasul dan dialah khalifatul kitab (al-qur’an)”(Kitab Hilyatul-Auliya’, Bahkan perkataan ini terdapat pada kitab  amr bil  ma’ruf nahi ‘anil munkar – Ibnu Taymiyah).
D. Dua Amalan Orang Mukmin yang Allah subhanahu wa ta’ala juga mengamalkannya
1.    Allah subhanahu wa ta’ala berdakwah
وَ اللَّهُ يَدْعُوا إِلى‏ دارِ السَّلامِ وَ يَهْدي مَنْ يَشاءُ إِلى‏ صِراطٍ مُسْتَقيمٍ
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki- Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS.Yunus : 25].
2. Allah subhanahu wa ta’ala bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْليماً
Sesungguhnya Allah dan malaikat- malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang- orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab : 56)
E. Dakwah (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran)  adalah tugas semua muslim bukan tugas ulama saja (Tugas ulama adalah mengajar dan  menunjukan jalan yang lurus (fatwa-fatwa) dan sebagainya)
1. Ayat Al-Qur’an
ادْعُ إِلى‏ سَبيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَ جادِلْهُمْ بِالَّتي‏ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبيلِهِ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125).
وَ ذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرى‏ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنيْنَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang- orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat : 55)
يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَ رَبَّكَ فَكَبِّرْ  
Hai orang yang berkemul (berselimut) (2) ,bangunlah, lalu berilah peringatan! (3) dan Tuhanmu agungkanlah! (QS. Al Muddatstsir : 1-3)
2. Hadits Nabi
- Dari Anas radhiyallahu ‘anhu beliau meriwayatkan bahwa kami berkata : “Wahai Rasulullah, adakah betul kami tidak berhak (patut) mengajak kepada kebaikan sehingga kami mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak berhak (patut) mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran?Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Tidak bahkan serulah kepada kebaikan walaupun kalian belum mengamalkan semua kebaikan dan cegahlah kemungkaran walaupun  kalian belum meninggalkan semuanya  dengannya.” (HR Imam Thabrani dalam Al Ausath dan Jami’ush Shaghir)
- Dari Abu Sa’id al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa melihat kemungkaran dihadapannya maka rubahlah dengan tangannya. Sekiranya tidak mampu maka rubahlah dengan lidahnya. dan sekiranya tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya dan yang sedemikian itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Imam Muslim).
F. Kesalahan memahami ayat Al-qur’an dalam QS Al Maidah : 105
Dari Abu bakar ashidiq radhiyallahu ‘anhu berkata : “Wahai manusia! Kalian membaca ayat ini :
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَميعاً فَيُنَبِّئُكُمْ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al Maidah : 105)
Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang berbuat dhalim. tetapi ia tidak menghentikan kedhaliman itu dengan tangannya, maka hampir saja Allah subhanahu wa ta’ala. menimpakan adzabnya secara menyeluruh.” (HR Tirmidzi katanya hadits ini shahih. Bab Turunya adzab ketika kemungkaran tidak dicegah, Hadits nomor 2168).
Keterangan :
Makna dhahir  ayat Al Qur’an dalam Hadits diatas adalah : “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al Maidah : 105)
Kalau memang pengertiannya seperti itu , mengapa mereka diperintahkan melakukan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu apabila seseorang melakukan tugasnya (amar ma’ruf nahi munkar), tetapi orang yang diajaknya tidak mau mengikuti, maka ia tidak akan dipersalahkan, karena ia telah melaksanakan tugasnya. Karena sesungguhnya kewajibannya hanyalah menyuruh (kepada kebaikan) dan melarang (dari kemungkaran), bukan memaksa orang untuk menerimanya . Wallahu a’lam (An-Nawawi -Syarah Muslim II/22, Syaikh Yusuf al Khandahlawi dalam Muntakhab Ahadits, hadits no. 19 bab Dakwah dan Tabligh)
G. Jika dakwah ditinggalkan
1. Diharamkan keberkahan wahyu (Tidak bisa memahami hakekat Al-Qur’an dan Hadits)
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila ummatku mengagungkan dunia maka akan dicabut darinya kehebatan islam, apabila mereka meninggalkan amr bil ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi ‘anil munkar (mencegah kemungkaran maka diharamkan atasnya keberkahan wahyu dan apabila mereka saling caci mencaci maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah subhanahu wa ta’ala. (HR Hakim dan Tirmidzi – Dari kitab Durrul Mantsur).
2. Diadzab sebagaimana diadzabnya Bani israil
Dari Urs bin ‘amirah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab masyarakat banyak disebabkan kejahatan segelintir orang, sehingga segelintir orang itu melakukan suatu kejahatan yang sebenarnya mampu dicegah oleh masyarakat banyak, tetapi mereka tidak berusaha mencegahnya. Ketika terjadi demikian, maka Allah akan membinasakan semuanya, masyarakat banyak dan segelintir orang tersebut” (HR Imam Thabrani dan sanad-sanadnya tisqat/terpercaya – Majmauz Zawaa’id VII/528).
- |Tafsir (surat Al Maidah [5] :78).
لُعِنَ الَّذينَ كَفَرُوا مِنْ بَني‏ إِسْرائيلَ عَلى‏ لِسانِ داوُدَ وَ عيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذلِكَ بِما عَصَوْا وَ كانُوا يَعْتَدُونَ
Telah dilaknati orang- orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. Al Maidah : 78 ) 
3. Doa tidak dikabulkan
Dari Hudzaifah al Yamani radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ”Demi dzat yang nyawaku dalam kekuasaannya! kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ! atau (jika tidak), Allah akan mengirimkan pada kalian adzab dari-Nya, kemudian kalian berdoa (meminta tolong kepada-Nya), tetapi Dia tidak menerima doa kalian.” (HR Tirmidzi, katanya hadits ini hasan. Bab tentang amr ma’ruf nahi munkar, hadits nomor 2169).
4. Dibangkitkan pemimpin yang dhalim
Abu Darda radhiyallahu ‘anhu salah seorang shahabat yang masyhur berkata : “Tetaplah kamu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kalau tidak Allah subhanahu wa ta’ala akan membangkitkan pemimpin (raja) yang dhalim yang memerintah kamu. Dia (aja dhalim) tidak akan  menghormati orang tua kamu dan tidak akan menaruh belas kasihan kepada yang muda-muda dikalangan kamu. Pada masa itu, doa orang-orang shalih tidak akan diterima, Kamu inginkan bantuan tapi bantuan tidak akan diberikan, kamu mohon keampunan tetapi Allah swt  tetapi kamu tidak akan diampuni”.
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَ يُثَبِّتْ أَقْدامَكُمْ
Hai orang- orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).
5. Pintu hidayah tertutup, banyak orang Islam murtad
6. Orang Islam banyak yang mati tanpa mengucapkan kalimah tayyibah
7. Orang-orang munafiq banyak memberontak (pada pemimpin/khalifah)
8. Orang kafir berani menyerang/membunuh orang Islam
9. Muncul Nabi-nabi palsu/aliran-aliran sesat.
10. Kemaksiatan merajalela
11. Keberkahan rezeki dicabut (Harga barang-barang naik, susahnya mendapatkan makanan  dsb)…
12. Amalan sunnah dianggap asing (aneh)
13. dan sebagainya