Pages

Jumat, 02 Oktober 2015

222. SEJARAH HAJI

Berangkat dari adanya beberapa ayat yang berbicara tentang haji menggunakan kata al-nas. Lihat saja misalnya pada surat al-hajj ayat 27 yang artinya, kumandangkanlah (umumkanlah) kepada manusia agar mereka melaksanakan ibadah haji. Demikian juga pada surah Ali Imran ayat 96, sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia (al-nas) adalah Bakkah (Ka’bah) yang diberkati.
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al Hajj : 27)
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.(QS. Ali Imran : 96)
Secara sederhana ayat di atas bermakna, rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah bakkah (Ka’bah) yang diberkati. Dengan kata lain, Ka’bah sebenarnya sudah dibangun sejak masa Nabi Adam. Oleh Al Quran, Ibrahim ‘alaihis salam bertugas mengangkatnya kembali (lihat surat Al-Baqarah:127), sampai akhirnya nanti, didirikan oleh bangsa Arab yang dipimpin oleh nabi Muhammad (ingat peristiwa Hajar aswad yang hampir menimbulkan pertumpahan darah).
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖإِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma'il (seraya berdo'a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al Baqarah : 127)
Ritual haji sarat dengan nilai-nilai universal. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sewaktu melaksanakan hajinya, yang pertama sekaligus yang terakhir, sempat berkhutbah di Ghadir Khum, yang belakangan oleh ahli sejarah dikenal dengan sebutan khutbah haji wada (khutbah haji perpisahan).Yang menarik adalah, isi pesan tersebut juga mengandung nilai-nilai universal, seperti berlaku adil, menghargai wanita, menghormati kehidupan, dan sebagainya.
Kedua, lanjutan yang pertama, ibadah haji dapat dimaknai sebagai perjalanan kesejarahan.Kendati ibadah haji adalah perjalanan dari profan (materi-dunia) ke sakral (ruhani dan spiritual), namun dimensi tarikhiyyahnya (kesejarahannya) juga sangat jelas. Nama-nama tempat seperti Madinah, Jabal Uhud, Bir Ali, Makkah, Arafah, Muzdalifah, Mina, shafa dan marwa, dan tempat lainnya, bukanlah sekedar nama untuk menunjukkan suatu tempat. Dibalik nama-nama itu ada peristiwa penting yang ikut menentukan perjalanan Islam sampai saat ini.
Kita harus memulai wacana tentang ibadah haji dari pribadi agung yang pertama kali mengajarkannya, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (`alayhi s-salam, semoga kedamaian bagi beliau), nenek moyang bangsa Arab dan Ibrani, serta bapak dari tiga agama monoteis: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dengan asumsi bahwa sepertiga penduduk bumi sekarang adalah Kristiani, seperlimanya adalah Muslim, dan sepertigaratusnya adalah Yahudi, tokoh yang mengajarkan ibadah haji tersebut ternyata dihormati oleh lebih dari separoh penghuni planet ini, dengan sebutan yang bervariasi: Abrahem, Abraham, Ibrahim, dan mempunyai julukan sangat mesra: Sahabat Tuhan (Khalilu l-Lah; Khafer Elohim; Amigo Dei; Friend of God).
Dalam Kitab Alquran, nama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam disebutkan 69 kali yang tersebar dalam 25 Surat dan merupakan peringkat kedua terbanyak disebutkan sesudah Nabi Musa ‘alaihis salam Berdasarkan informasi Alquran, ditambah dengan informasi dari Bereshith (Genesis), Kitab Taurat yang pertama, kita dapat menelusuri riwayat hidup Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau lahir dan dibesarkan di negeri Ur, tanah Kaldea, daerah muara Sungai Efrat (Irak sekarang) sekitar empat ribu tahun yang silam. Meskipun hidup di lingkungan masyarakat Mesopotamia yang menyembah benda-benda langit, Ibrahim sejak muda remaja telah memiliki sifat hanif, yaitu cenderung kepada kebenaran adanya Satu Tuhan. Sebagaimana diterangkan dalam Alquran Surat Al-An`am 74-83, Nabi Ibrahim menolak penyembahan bintang, bulan dan matahari, serta mendambakan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ  وَكَذَ‌ٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ  فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَـٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ  فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـٰذَا رَبِّي هَـٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ  إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ  وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗأَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ  وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ  الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ  وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗإِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar : "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata". Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al An’am : 74-83)
Tuhan dalam bahasa Mesopotamia disebut El atau Il (nama negeri Babel atau Babil berarti Pintu Tuhan). Anak keturunan Ibrahim kelak, yaitu bangsa Ibrani dan bangsa Arab, memodifikasi nama ini dengan penambahan huruf Ha (Dia), masing-masing menjadi Eloh dan Ilah. Nama yang terakhir ini kemudian diberi kata sandang (artikel definit) Al-, menjadi Al-Ilah atau Allah. Akan tetapi El dan Il sebagai nama Tuhan masih dijumpai dalam bahasa Ibrani dan Arab pada nama-nama Gabriel (Jibril), Michael (Mikail), Yishma`el (Isma`il), Yisrael (Israil), dan sebagainya.
Perlu diketahui bahwa masyarakat Mesopotamia memakai sistem bilangan dasar enam. Merekalah yang mewariskan kepada kita pembagian lingkaran menjadi 360 derajat, pembagian satu hari menjadi 24 jam, satu jam menjadi 60 menit, dan satu menit menjadi 60 detik. Sistem ini menjadikan bilangan tujuh sebagai sesuatu yang istimewa. Bilangan 60 habis dibagi 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, tetapi tidak habis dibagi tujuh. Itulah sebabnya satu minggu harus tujuh hari, dan sesuatu yang maksimal harus dinyatakan dalam jumlah tujuh. Oleh karena Allah berkomunikasi melalui wahyu-Nya dalam bahasa Nabi yang bersangkutan, maka manasik (tatacara) haji yang disyari`atkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam banyak melibatkan bilangan tujuh, seperti tujuh putaran thawaf, tujuh bolak-balik sa`i, dan tujuh lontaran terhadap jumrah.
Sang pemuda Ibrahim yang baru menikah dengan gadis pujaannya, Sarah, mengikuti keluarganya pindah dari Ur, menelusuri Sungai Efrat ke daerah hulu di utara, lalu menetap di Haran yang sekarang terletak di wilayah Turki. Penduduk Haran merupakan penyembah berhala dan diperintah oleh seorang raja yang zalim. Kitab Alquran tidak menerangkan nama raja ini, tetapi sumber sejarah Ibrani atau kisah Israiliyat menyebutnya Raja Nimrod, yang kemudian disalin menjadi Namrud atau Namruz dalam bahasa Arab. Dalam Alquran Surat Al-Anbiya 51-73 diterangkan bahwa Nabi Ibrahim mengobrak-abrik berhala-berhala sehingga sang raja murka dan membakar Ibrahim hidup-hidup. Akan tetapi Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dengan menjadikan api itu dingin. Kemudian datang perintah Allah agar Ibrahim meninggalkan negerinya.
وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ  إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَـٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ  قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ  قَالَ لَقَدْ كُنتُمْ أَنتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ  قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ  قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَ‌ٰلِكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ  وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ  فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ  قَالُوا مَن فَعَلَ هَـٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ  قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُقَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ  قَالُوا أَأَنتَ فَعَلْتَ هَـٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ  قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَـٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ  فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنتُمُ الظَّالِمُونَ  ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَـٰؤُلَاءِ يَنطِقُونَ  قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ  أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَقَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ  قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ  وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ  وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ  وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun) dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya".Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".  Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim". Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim".  Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan".Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa'at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?" Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al Anbiya : 51-73)
Lekh leka! (Pergilah engkau!), demikian perintah Allah yang tercantum dalam Kitab Bereshith (Genesis) 12 : 1, dari negerimu, keluargamu dan rumah bapakmu, ke tanah yang akan Kutunjukkan padamu. Kitab Alquran Surat Ash-Shaffat 99 merekam pernyataan Ibrahim : Inni dzahibun ila rabbi, sa yahdin (Sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku, kelak Dia menunjuki daku). Tanah yang dijanjikan Allah itu bernama Kanaan, bahasa Aram yang berarti ungu, sebab penduduknya terkenal memproduksi zat warna ungu (purple dyes).Dalam bahasa Yunani kata untuk ungu adalah phonix, sehingga mereka menyebut daerah itu Phoenicia.Bangsa Ibrani kelak menamainya Pelishtim, dan sejarawan Herodotus abad kelima SM mempopulerkannya sebagai Palaistine (Palestina).
Perintah Allah kepada Ibrahim itu disertai tujuh janji, sebagaimana tercantum dalam Kitab Bereshith 12 : 2-3, yaitu :
(1) Aku akan menjadikan engkau bangsa yang besar;
(2) Aku akan memberkati engkau;
(3) Aku akan membuat namamu masyhur;
(4) Engkau akan menjadi suatu berkat;
(5) Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau;
(6) Aku akan mengutuk mereka yang mengutuk engkau; dan
(7) Seluruh kaum di muka bumi melalui engkau akan diberkati.
Kenyataan menunjukkan bahwa dari tiga komunitas agama (Yahudi, Nasrani, Islam) yang mengaku sebagai anak-anak Nabi Ibrahim, hanya umat Islam yang setiap hari menyebut nama Ibrahim dengan penuh khidmat. Pada bagian akhir shalat mereka, dengan khusyuk umat Islam membisikkan kama barakta `ala ibrahim (sebagaimana Engkau telah menganugerahkan berkat kepada Ibrahim).
Nabi Ibrahim dalam usia yang makin lanjut belum juga memperoleh keturunan. Beliau tiada henti-hentinya berdoa kepada Allah: Rabbi habli mina sh-shalihin (Ya Tuhanku, karuniai daku anak yang saleh), sebagaimana tercantum dalam Ash-Shaffat 100.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.(QS. Ash Shaffat : 100)
Kitab Bereshith 16 : 3 mengungkapkan: Dan Sarah istri Ibrahim mengambil Hajar orang Mesir pembantunya, setelah Ibrahim menetap sepuluh tahun di tanah Kanaan, dan dia memberikannya kepada Ibrahim suaminya sebagai istri. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa Hajar adalah pembantu Sarah (naskah Ibraninya shifhah = pembantu, maid), dan sama sekali bukanlah budak atau hamba (amah dalam bahasa Ibrani). Juga perlu ditegaskan bahwa Hajar bukanlah gundik Ibrahim, melainkan istri yang sah. Kata pada akhir ayat Bereshith 16 : 3 yang digunakan untuk Hajar dalam naskah Ibrani berbunyi ishah (istri, wife) yang juga digunakan pada awal ayat untuk Sarah.
Firman Allah dalam Ash-Shaffat 101.
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(QS. Ash Shaffat : 101)
Hajar melahirkan seorang putra, yang diberi nama oleh ayahnya Yishma`el (dalam bahasa Ibrani) atau Isma`il (dalam bahasa Arab), yang berarti Tuhan mendengar, yaitu mendengar doa Nabi Ibrahim untuk memperoleh keturunan. Bereshith 16 : 16 menambahkan informasi Dan Nabi Ibrahim berusia 86 tahun ketika Hajar melahirkan Isma`il baginya.
Setelah Isma`il lahir, turunlah perintah Allah tentang kewajiban bersunat (khitan). Dalam Bereshith 17 : 10 tertulis Inilah perjanjian-Ku yang harus engkau pegang, antara Aku dengan engkau dan benihmu sesudah engkau, yaitu setiap laki-laki di antaramu haruslah disunat. Bagi yang ingkar kepada kewajiban ini, Bereshith 17 : 14 menegaskan Dan laki-laki yang tidak disunat kulit khatannya, maka orang itu harus dikeluarkan dari kelompoknya. Dia telah mengingkari perjanjian-Ku. Sekali lagi kenyataan menunjukkan bahwa umat Islam paling konsisten dalam melaksanakan kewajiban bersunat atau khitan ini.Jadi, mereka yang tidak disunat sudah tentu sangat tidak pantas untuk disebut atau mengaku sebagai anak-anak Ibrahim.
Tentang Isma`il, Aku mendengarkanmu, demikian firman Allah kepada Ibrahim dalam Bereshith 17 : 20. Dalam naskah Ibrani kalimatnya cuma dua kata: uleyishma`el shema`tika, dan sangat menarik bahwa kedua kata ini memiliki tiga huruf dasar yang sama yaitu shin, mem,`ayin. Aku akan memberkati dia dan membuatnya berketurunan sangat banyak. Dua belas pemimpin (melek) akan diperanakkannya, dan Aku akan menjadikannya bangsa yang besar.
Ternyata Allah mempunyai Rencana Besar untuk Nabi Ibrahim dan Isma`il. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan anak mereka yang masih kecil meninggalkan Kanaan ke arah selatan, menuju sebuah lembah yang bernama Baka atau Bakkah. Oleh karena mim dan ba sama-sama huruf bilabial (bibir), nama Bakkah lama-kelamaan berubah menjadi Makkah. Dalam bahasa Arab dan Ibrani, kata baka mempunyai dua arti: berderai air mata dan pohon balsam. Arti yang pertama berhubungan dengan gersangnya daerah itu sehingga seolah-olah tidak memberikan harapan, dan arti yang kedua berhubungan dengan banyaknya pohon balsam (genus Commiphora) yang tumbuh di sana.
Apakah keistimewaan lembah Bakkah itu? Allah menjelaskannya dalam Surat Ali Imran 96 :
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.(QS. Ali Imran : 96)
Inna awwala baitin wudhi`a li n-nasi la l-ladzi bi bakkata mubarakan wa hudan li l-`alamin (Sesungguhnya Rumah Allah Pertama yang didirikan untuk manusia benar-benar terletak di Bakkah yang diberkati dan petunjuk bagi seluruh alam).
Ternyata lembah Bakkah itu merupakan lokasi Rumah Allah (Baitu l-Lah dalam bahasa Arab, Beth Elohim dalam bahasa Ibrani) yang didirikan oleh generasi pertama umat manusia dari zaman Nabi Adam ‘alaihis salam Pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lembah itu sudah ditelantarkan, tiada manusia yang menghuni, dan Rumah Allah yang pertama itu hanya tinggal fondasinya saja. Ada cerita yang mengatakan bahwa Rumah Allah itu hancur oleh banjir pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam Bagaimana kejadian yang sebenarnya, hanya Allah yang tahu.
Kisah Hajar dan Isma`il dikumpulkan dan ditulis oleh sejarawan Muhammad ibn Jarir ath-Thabari (wafat 310 Hijri atau 922 Masehi) dalam bukunya yang termasyhur, Tarikh ar-Rusul wa l-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Para Penguasa), Jilid 1, hh. 275-283: Ketika mendapat perintah dari Allah untuk menuju Rumah-Nya, Nabi Ibrahim pergi bersama Hajar dan Isma`il disertai malaikat Jibril. Mereka sampai di Makkah yang cuma ditumbuhi pohon akasia, mimosa, balsam dan semak berduri. Rumah Allah saat itu tinggal dasarnya berupa lempung merah. Malaikat Jibril berkata, Allah memerintahkan engkau untuk meninggalkan mereka. Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Isma`il ke Hijir (di samping Ka`bah sekarang) dan membuat tenda di sana. Lalu Nabi Ibrahim berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku di lembah yang tiada tumbuhan berbuah, di samping Rumah-Mu Yang Suci, agar mereka tetap menegakkan salat. Maka jadikanlah hati manusia berpaling kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur (Surat Ibrahim 37).
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS. Ibrahim : 37)
Ketika Nabi Ibrahim akan pergi, Hajar bertanya, Apakah perintah Allah yang membuatmu meninggalkan kami? Nabi Ibrahim menjawab, Ya. Maka Hajar berkata, Jika demikian tentu Allah tidak meninggalkan kami untuk binasa. Maka Nabi Ibrahim kembali ke Kanaan, meninggalkan mereka berdua di Rumah Allah.
Masih kutipan dari Thabari: Isma`il menangis karena sangat kehausan. Hajar memasang telinga untuk mendengar suara yang mungkin membantunya memperoleh air. Dia mendengar suara di bukit Safa, lalu pergi ke sana tetapi tidak menemukan apapun. Lalu dia mendengar suara di bukit Marwah. Dia pergi ke sana, juga tidak menemukan apapun. Hajar kembali ke Safa, lalu balik lagi ke Marwah, dengan tidak merasa letih supaya anaknya dapat minum.
Bereshith 21 : 17-19 melengkapi kisah ini: Dan Allah mendengar suara anak itu, dan malaikat Allah memanggil dari langit dan berkata kepadanya, Apakah yang engkau susahkan, Hajar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat dia berbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu dan bimbinglah dia, sebab Aku akan menjadikannya bangsa yang besar. Dan Allah membuka mata Hajar dan dia melihat sebuah mata air.Dia pergi mengisi kirbat kulitnya dengan air, lalu memberi anak itu minum.
Kembali kepada uraian Thabari: Ketika Hajar sampai di Marwah setelah tujuh kali bolak-balik, tiba-tiba dia mendengar suara gemuruh dari lembah tempat dia meninggalkan Isma`il. Dia berlari menuju anaknya, dan mendapati mata air memancar dekat tempat dia berbaring.Hajar mengisikan air ke kirbat kulitnya sambil berseru, Zummi, zummi. Ada yang mengatakan bahwa itu bahasa Mesir yang berarti Berkumpul, berkumpul. Mungkin juga itu hanya ucapan Hajar menirukan bunyi air yang memancar. Hanya Allah yang Maha Tahu, tetapi dari ucapan Hajar itulah asal nama telaga Zamzam.
Adanya sumber air berupa telaga Zamzam membuat tempat itu layak dihuni. Maka datanglah rombongan suku Jurhum yang pemimpinnya bernama Mudad, memohon izin kepada Hajar dan Isma`il untuk menetap di sana.
Pada waktu-waktu tertentu, secara rutin Nabi Ibrahim dari Kanaan datang mengunjungi istri dan anak beliau di lembah Makkah yang lambat laun tumbuh menjadi suatu pemukiman.
Ketika Isma`il berusia 13 tahun datanglah ujian dahsyat yang tiada tara. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim agar berqurban menyembelih putranya yang satu-satunya itu! Sungguh suatu ujian yang sangat berat bagi seorang ayah, namun karena itu perintah Allah maka Nabi Ibrahim menyanggupinya tanpa keraguan. Ketika perintah Allah itu disampaikan Nabi Ibrahim kepada sang anak, dan ketika Isma`il ditanyai pendapatnya oleh sang ayah, maka Isma`il yang masih berusia remaja itu menjawab:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِي
"Wahai ayahanda, laksanakan apa yang diperintahkan Allah. Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar.”, sebagaimana tercantum dalam Surat Ash-Shaffat 102.
Nabi Ibrahim membawa Isma`il ke suatu bukit di sebelah timur Makkah, tempat yang sekarang bernama Mina. Tiga kali Iblis menggoda Nabi Ibrahim untuk membatalkan rencananya, tiga kali pula Nabi Ibrahim menolak godaan Iblis dengan lontaran kerikil.Tindakan Nabi Ibrahim ini kelak diabadikan dalam salah satu manasik (tatacara) haji, yaitu melontar tiga jumrah di Mina. Setelah Isma`il direbahkan pada batu landasan penyembelihan, dan pedang Nabi Ibrahim telah siap hendak menyentuh leher putranya, maka Allah berfirman agar Nabi Ibrahim mengganti sembelihannya dengan seekor domba. Firman Allah dalam Ash-Shaffat 106-107:
إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ  وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya ini benar-benar hanya ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor domba yang besar.” (QS. Ash Shaffat : 106-107)
Nabi Ibrahim tidak kehilangan putra, bahkan putranya bertambah satu lagi, sebab setelah peristiwa ujian qurban itu Allah memberikan kabar gembira bahwa istri pertamanya, Sarah, akan memberinya putra yang bernama Ishaq (dalam bahasa Arab) atau Yitshaq (dalam bahasa Ibrani), sebagaimana diterangkan dalam Ash-Shaffat 112:
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
“Dan Kami gembirakan dia dengan Ishaq, seorang nabi yang shaleh.”
 Ishaq kelak menurunkan bangsa Ibrani, sedangkan Isma`il kelak menurunkan bangsa Arab, terutama suku Quraisy di Makkah.
Sekarang marilah kita tinjau informasi Bereshith mengenai peristiwa qurban tersebut. Dalam Bereshith 22 : 2 perintah Allah kepada Nabi Ibrahim berbunyi: Ambillah anakmu yang satu-satunya, yang engkau kasihi, Ishaq(?), dan pergilah ke tanah Moriah dan kurbankan dia sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Aku firmankan kepadamu.
Ketika naskah Taurat dibakukan, para ulama Yahudi mengganti nama Yishma`el (Isma`il) pada Bereshith 22 dengan Yitshaq (Ishaq). Tetapi akal bulus Yahudi ini kelihatan sekali belangnya. Bereshith 22 : 2 jelas menyebutkan anakmu yang satu-satunya. Naskah Ibraninya berbunyi yahid, artinya satu-satunya. Hal ini berarti bahwa ujian Allah kepada Nabi Ibrahim terjadi sebelum Ishaq lahir, ketika Ibrahim baru mempunyai seorang putra, yaitu Isma`il. Kitab Taurat sendiri jelas menyebutkan bahwa Isma`il lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun (Bereshith 16 : 16), sedangkan Ishaq lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 100 tahun (Bereshith 21 : 5).
Dalam Al-Baqarah 75 dinyatakan bahwa kaum Yahudi mendengar firman Allah lalu mengubahnya setelah memahaminya padahal mereka mengetahui.
أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka merobahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?(QS. Al Baqarah : 75)
Skandal pengubahan nama Isma`il menjadi Ishaq dalam peristiwa qurban itu disebabkan umat Yahudi tidak rela keturunan Isma`il berperan dalam pelaksanaan janji Allah pada Bereshith 22 : 18 Dan semua bangsa di muka bumi akan diberkati melalui benihmu, karena engkau telah mendengarkan firman-Ku.
Janji Allah tersebut dipertegas dalam Al-Baqarah 124:
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim" (QS. Al Baqarah : 124)
Dan ketika Tuhannya menguji Ibrahim dengan perintah-perintah tertentu, maka Ibrahim memenuhi semuanya. Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam (pemimpin) bagi manusia. Ibrahim bertanya, Juga keturunanku? Allah berfirman, Perjanjian-Ku tidak mencakup mereka yang zalim.
Kemudian turunlah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim dan Isma`il untuk membangun atau merenovasi Rumah Allah (Baitullah) dengan meninggikan fondasi yang memang sudah ada. Al-Baqarah 127 memberikan informasi: yarfa`u ibrahimu l-qawa`ida mina l-baiti wa isma`il (Ibrahim meningkatkan fondasi Al-Bait bersama Isma`il). Oleh karena bangunan Rumah Allah yang didirikan Ibrahim dan Isma`il itu berbentuk kubus (ka’bah dalam bahasa Arab), lama-kelamaan Rumah Allah yang berukuran 12 x 10,5 x 15 meter itu dikenal dengan sebutan Ka’bah.
Perlu diketahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memiliki kebiasaan membuat semacam tempat berdiri untuk sembahyang (shalat) menghadap Allah, yang disebut magom (bahasa Ibrani) atau maqam (bahasa Arab). Di Kanaan beliau sempat membuat sebuah magom, sebagaimana tercantum dalam Bereshith 19 : 27, tetapi magom tersebut rupanya tidak dilestarikan. Di depan Ka’bah beliau juga membuat sebuah maqam.
Oleh karena itu, Allah mengabadikan maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim di depan Ka’bah itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Baitullah. Demikian tercantum dalam Al-Baqarah 125.
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma'il: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. Al Baqarah : 125)
Sebagai catatan kecil, entah mengapa istilah maqam (makam) digunakan dalam bahasa Indonesia untuk menyebut kuburan sehingga ada jemaah haji yang menyangka Maqam Ibrahim sebagai kuburan Nabi Ibrahim, padahal kuburan beliau terletak di Hebron atau Al-Khalil, daerah Tepi Barat, Palestina.
Setelah Ka’bah rampung dibangun, barulah turun perintah Allah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah mengunjungi Baitullah disebut hajj dalam bahasa Arab serta hagg dalam bahasa Ibrani (huruf Arab ha dan jim identik dengan huruf Ibrani heth dan gimel) yang berarti Perayaan Tuhan, Festival of God. Surat Al-Hajj 27 merekam firman Allah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

Wa adzdzin fi n-nasi bi l-hajj. Yatuka rijalan wa `ala kulli dhamir, yatina min kulli fajjin `amiq (Dan panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan segala jenis kendaraan, datang dari segenap penjuru yang jauh).
Wa arina manasikana (Dan tunjukkanlah kepada kami tatacara haji bagi kami), demikian permohonan Ibrahim kepada Allah yang tercantum dalam Al-Baqarah 128.
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al Baqarah : 128)
Oleh karena itu, Allah mengajarkan tatacara (manasik) ibadah haji kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Manasik haji yang pertama-tama adalah melakukan ihram, artinya mengharamkan atau mensucikan, yaitu mengenakan pakaian ihram serta tidak melakukan larangan-larangan ihram. Begitu jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Haram (Tanah Suci), mereka harus sudah menanggalkan pakaian mereka sehari-hari dan menggantinya dengan kain ihram. Ini suatu perlambang atau simbol bahwa di Rumah Allah manusia harus bersedia membebaskan diri dari segala atribut kekayaan, jabatan, dan status sosial yang disandangkan orang kepadanya. Di hadapan Allah, semua manusia tanpa kecuali berstatus sama, yaitu Hamba Allah.
Kemudian para jemaah haji harus melakukan wuquf (berdiam, jambore) di Padang Arafah, sekira 25 km di sebelah timur Makkah. Inilah upacara gladi resik berkumpulnya umat manusia di Padang Mahsyar pada Hari Akhirat nanti, sekaligus para jemaah haji melakukan reuni di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (Jannatu `Adn). Itulah sebabnya tempat wuquf itu dinamai Padang Arafah, artinya Padang Pengenalan agar manusia mengenali kembali persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa. Ketika melakukan wuquf, jemaah haji menyadari bahwa umat manusia yang bermacam-macam warna kulit, bahasa, dan adat-istiadat ternyata adalah saudara sedarah dan seketurunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Hujurat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu sekalian.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi.” (QS. Al Hujurat : 13)
Selanjutnya, para jemaah haji harus melakukan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Inilah tarian kosmos sebab Allah menakdirkan bahwa alam semesta hanya eksis karena gerakan thawaf. Jemaah haji meniru gerakan elektron-elektron yang berthawaf mengelilingi inti atom serta gerakan planet-planet yang berthawaf mengelilingi matahari. Hari Kiamat akan terjadi ketika thawaf alam semesta berhenti. Seluruh materi di jagat raya, dari partikel-partikel penyusun atom sampai benda-benda langit senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Ilahi yang mengatur mereka. Dengan melakukan thawaf diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka pun seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Ali Imran 83:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepada-Nya telah Islam (tunduk-patuh) segala yang di langit dan di bumi secara sukarela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan.” (QS. Ali Imran : 83)
Sesudah melakukan thawaf, jemaah haji harus melakukan sai, meniru gerakan Hajar bolak-balik tujuh kali antara bukit Safa dan bukit Marwah.Kata sai berarti usaha. Ternyata Hajar baru memperoleh anugerah air Zamzam dari Allah setelah dia melakukan sai (usaha) yang maksimal. Dengan melakukan sai diharapkan manusia menyadari bahwa kesuksesan dan kejayaan hanya dapat diraih melalui usaha atau perjuangan maksimal, bukan dengan sekadar berdoa sambil berpangku tangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam An-Najm 39-40: Bahwa manusia tidak memperoleh apa-apa kecuali apa yang diusahakannya (ma sa`a), dan bahwa usahanya (sa`yahu) akan segera terlihat nyata.
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ  وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”. (QS. An Najm : 39-40)
Sekarang kita teruskan perjalanan sejarah kita. Nabi Isma`il menikah dengan Ra`la binti Mudad, putri pemimpin Jurhum yang diceritakan di muka. Pernikahan ini membuahkan dua belas putra yang menurunkan bangsa Arab (Bani Isma`il). Nama-nama mereka tidak disebutkan dalam Alquran, tetapi tercantum lengkap dalam Bereshith 25 : 13-15. Yang banyak disebut-sebut adalah dua orang putra tertua, Nabit (Nebayot) dan Qaydhar (Kedar), sebab mereka berdua kelak menurunkan suku Quraisy penduduk Makkah. Sementara itu di Palestina, Ishaq menikah dengan Ribqah (Rebecca) dan berputra Ya`qub. Ya`qub yang bergelar Yisrael atau Israil mempunyai dua belas putra yang menurunkan bangsa Ibrani (Bani Israil).
Pada mulanya Bani Israil pun ikut serta dengan saudara-saudara mereka Bani Isma`il menunaikan ibadah haji ke Makkah sebagai sesama keturunan Nabi Ibrahim. Akan tetapi ketika bangsa Arab atau Bani Isma`il tersesat kepada penyembahan berhala, Bani Israil tidak lagi mengunjungi Ka’bah (Ibn Ishaq, Sirah an-Nabawiyyah, h.15). Namun, dalam Kitab Zabur dari Nabi Daud ‘alaihis salam tersurat kerinduan kepada Baitullah: Sungguh diberkati mereka yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berteguh hati menunaikan haji. Dan ketika tiba di Lembah Bakka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air (Zabur 84 : 5-6).
Hanya Allah yang tahu berapa lama Bani Isma`il tetap memegang teguh ajaran Tauhid dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Setelah beberapa abad, mereka tergelincir mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala. Ratusan berhala dipasang di sekeliling Kakbah dengan berbagai nama-nama aneh: Lata, Uzza, Manat, Hubal, Asaf, Nailah, dan entah apa lagi. Manasik atau tatacara haji juga dicampurbaurkan dengan upacara pemujaan berhala. Keadaan seperti ini berlangsung berabad-abad. Namun, akhirnya tibalah saatnya doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikabulkan, yaitu doa yang beliau sampaikan kepada Allah ketika mendirikan Ka’bah:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, bangkitkanlah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah 129).

Rabu, 12 Agustus 2015

221. BAYAN MAULANA SA'AD AL-KANDAHLAWI (IJTIMA' MALAYSIA)



Setiap manusia diatas permukaan bumi ini selalu berusaha. Setiap orang yang berusaha akan mendapat keyakinan atas apa yang diusahakan. Seorang petani yang usaha atas pertanian, maka akan dapat keyakinan atas pertaniannya. Seorang pedagang yang usaha atas perniagaan, maka akan dapat keyakinan untuk dapat sesuatu dari perniagaannya. Seorang pemerintah yang ada keyakinan atas pemerintahannya, yang usaha atas kekuasaannya, maka akan datang keyakinan atas kekuasaannya. Setiap orang berusaha dan dalam hati mereka ada keyakinan atas usaha yang mereka telah lakukan.
Hari ini usaha atas agama telah ditinggalkan, usaha atas iman telah ditinggalkan oleh manusia. Oleh karena itu, keyakinan atas agama telah keluar daripada hati manusia. Hari ini agama telah jadi satu benda yang ikhtiar dan infiradi (perseorangan), satu benda pilihan dan bersifat pribadi. Sedangkan agama adalah bersifat ijtima’i (berjamaah). Asalnya agama bersifat ijtima’i dan umum.Agama perlu diamalkan secara ijtima’i. Oleh karena tiada usaha atas agama, maka dari hati orang Islam sendiri sudah tidak ada keyakinan pada agama. Sudah tidak ada penggantungan pada agama bahwa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Puncak utama adalah karena usaha agama telah ditinggalkan.
Allah subhanahu wa ta’ala telah janjikan hidayah dengan usaha mereka yang bermujahadah, berusaha dan bersusah payah. Usaha yang bagaimana? Maulana berkata ada banyak cara usaha tetapi usaha yang dikehendaki ialah usaha yang mengikut kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara yang telah dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Usaha yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangunkan sahabat-sahabatnya. Usaha yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sediakan sahabat-sahabatnya. Melalui usaha itu, agama akan datang dalam kehidupan kita. Kita harus yakin dalam hati kita, bahwa satu-satunya cara yang pasti untuk dapat hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan perantaraan usaha dakwah illallah.
Usaha tersebut hendaklah dijalankan dengan cara yang telah dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus buat usaha dengan cara yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang telah ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus yakinkan dalam hati kita, bahwa hanya dengan usaha yang dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabat saja agama akan datang dalam kehidupan kita dan seluruh umat. Tidak ada cara lain. Usaha yang dibuat bukan dengan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat, maka bukan agama yang akan dating, tetapi di dikuatirkan kesesatan/fitnah yang akan datang. Dengan cara lain hidayah tidak akan datang.
Kalau di dalam hati kita ada sedikit keraguan, kita fikir ada banyak usaha, dan ini adalah salah satu usaha, dengan cara lain pun boleh dapat hidayah, maka kalau ada perasaan semacam ini, tidak ada yakin dalam hati, maka dia tidak akan dapat hidayah. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahu dengan sungguh-sungguh, mereka yang bermujahadah/bersusahpayah dengan cara yang Kami (Allah) kehendaki, pasti dan pasti Kami akan beri hidayah padanya. Kita harus ada keyakinan 100% bahwa bila buat usaha dengan cara yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dengan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabatnya, maka pasti hidayah akan datang. Usaha ini perlu dibangun dan dilaksanakan secara ijtimai dalam umat ini, barulah hidayah akan datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Yakin akan datang dalam hati kita hanya dengan perantaraan dakwah. Agama akan datang dalam diri manusia hanya dengan perantaraan yakin. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih berkata inilah jalannya untuk membina yakin, untuk membentuk yakin. Dengan perantaraan dakwah yakin akan dapat diubah, yakin akan dapat diperbaiki. Inilah langkah yang pertama dalam usaha kita dan usaha semua nabi-nabi ‘alaihis salam yaitu untuk membetulkan keyakinan. Bagaimana yakin dapat dibetulkan, sehingga dalam hati kita tidak ada keyakinan selain dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hati ada keyakinan bahwa segala sesuatu hanya berlaku dengan kudrat Allah subhanahu wa ta’ala, semua berlaku dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap perkara yang telah berlaku, akan berlaku, semuanya berlaku karena perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ini perkara yang paling dasar. Ini perkara yang paling penting, yang mana semua orang Islam harus faham. Kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa inilah keperluan yang paling penting. Inilah tanggungjawab yang pertama. Inilah tugas pertama kita yaitu untuk membetulkan yakin. Yakin yang betul dalam hati dan bulat hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih begitu berhati-hati dalam perkara ini. Satu orang telah berkata ‘secara kebetulan benda ini terjadi’. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih sangat marah. Manabisa kebetulan bisa terjadi. Ini perkataan orang yang tidak percaya pada tuhan. Dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala semua terjadi. Dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala perkara ini telah terjadi. Untuk membetulkan keyakinan kita, pertama kali harus membetulkan perbicaraan kita, harus membetulkan fikir kita. Dalam kehidupan kita 24 jam tidak ada satu perkataan pun yang keluar dari mulut kita yang bertentangan dengan kalimah laailaaha illallaah. Fikir kita, perbicaraan kita, pandangan kita, tidak ada sedikit pun yang bertentangan dengan kalimah laailaaha illallaah. Hari ini, dari pagi sampai petang, siang dan malam, perbicaraan kita, fikir kita, pendengaran kita, semua bertentangan dengan kalimah laailaaha illallaah. Dalam keadaan macam ini, bagaimana keyakina kita bisa betul?
Pertama kali kita harus membetulkan perbicaraan kita, fikir kita dan setiap orang Islam harus fikir bahwa ini kerja dia dan tanggungjawab dia. Setiap hari pergi jumpa manusia, bicara tentang kebesaran Allah, bicara tentang kehebatan Allah, bicara tentang kalimah laailaaha illallaah. Hari ini timbul salah faham dalam diri orang Islam sendiri, kita menyangka dakwah iman, dakwah kalimah adalah untuk orang kafir, bukan untuk orang Islam. Kenapa saya perlu dakwah kalimah, sedangkan saya sudah Islam? Dalam Al Quran, Allah subhanahu wa ta’ala telah terangkan bahwa orang yang paling berhak atas kalimah adalah orang Islam. Tuan punya kalimah ini ialah orang yang beriman. Dalam Al Quran, Allah subhanahu wa ta’ala telah perintah orang yang beriman supaya berterusan beriman pada Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Wahai orang-orang yang telah beriman, berimanlah kamu’. Yakni kamu harus usaha atas iman kamu, sehingga dapat datang agama yang sempurna dalam kehidupan kamu. Keseluruhan hidup kamu mengikut hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Usaha atas iman ini adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah perintahkan para sahabat radhiyallanhu ‘anhum selalu mentajdidkan (memperharui) iman mereka. Walaupun sahabat mempunyai iman setinggi gunung, tetapi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menyuruh mereka mentajdidkan iman mereka. Usaha atas kalimah adalah keperluan orang Islam, bukan untuk orang kafir. Harus usaha atas iman, sehingga dapat dihasilkan iman yang mantap, iman yang kuat, iman yang sempurna pada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga keseluruhan agama dapat datang dalam kehidupan. Seluruh Quran telah datang dalam kehidupan sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan perantaraan yakin. Sahabat berkata, ‘kami belajar iman sebelum kami belajar Quran’. Mereka membetulkan keyakinan mereka, dan keseluruhan Quran telah dapat mereka amalkan dalam kehidupan.
Perkara pertama yang kita dan seluruh umat harus faham bahwa kita perlu usaha atas iman. Inilah tanggungjawab saya, inilah kefarduan atas diri saya. Untuk membetulkan iman saya, untuk membetulkan yakin saya, saya harus lapangkan masa jumpa manusia untuk bicara tentang kalimah laa ilaaha illallaah, bicara tentang mahfum kalimah. Saya harus pergi dari rumah ke rumah jumpa manusia. Dalam perbicaraan, dalam muzakarah, dalam perbincangan, 24 jam, saya tidak boleh bicara perkataan yang bertentangan dengan kalimah laai laaha illallaah. Kita harus bicara tentang kalimah ini lagi dan lagi sebagaimana sahabat-sahabat telah buat. Sahabat telah pegang tangan sahabat yang lain, duduk sama-sama, mereka berbincang tentang iman, tentang kebesaran Allah, tentang kudrat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita harus rasa ini tanggungjawab kefarduan atas diri saya.
Dalam kalimah ini, pertama kali kita harus menafikan. Kita harus nafikan selain dari Allah, semuanya tak bisa berbuat apa-apa, yang berkuasa hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Tujuh petala bumi, tujuh petala langit, dari sebesar makhluk hingga sekecil makhluk, semuanya tidak bisa buat apa-apa, tidak ada kuasa untuk memberi manfaat atau mudharat. Yang berkuasa hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah nafikan segala-galanya, telah nafikan benda-benda yang bergerak, nafikan bintang, nafikan bulan, nafikan matahari, juga nafikan benda yang tidak bergerak, nafikan berhala-berhala. Beliau telah pecahkan berhala-berhala tersebut. Beliau telah nafikan segala-galanya. Beliau telah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau telah hadapkan tawajjuh beliau hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau bukan hanya berkata dengan lidah, bahkan beliau telah buktikan dengan perbuatannya. Pada ketika beliau hendak dicampakkan ke dalam api oleh Namrud, maka malaikat Jibrail ‘alaihis salam telah bawa malaikat yang jaga air, malaikat yang jaga gunung, malaikat yang mengatur angin, untuk membantu Ibrahim ‘alaihis salam, tetapi pada ketika itu beliau tidak jadikan malaikat-malaikat sebagai perantaraan. Beliau telah berpaling dari malaikat, beliau tidak berhajat pada malaikat. Beliau tidak memeletakkankan apa pun antara beliau dengan Allah subhanahu wa ta’ala, maka bantuan Allah telah datang secara langsung kepada Ibrahim ‘alaihis salam. Tanpa asbab, Allah subhanahu wa ta’ala bantu Ibrahim ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala perintah api yang panas agar menjadi dingin dan agar jadi keselamatan dan kesejahteraan untuk Ibrahim ‘alaihis salam.
Inilah perkara yang kita hendak belajar dari kisah Ibrahim ‘alaihis salam, bahwa kita tidak boleh meletakkan apa-apa antara kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Keyakinan kita hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Hari ini, secara umumnya di seluruh dunia telah terjadi kesalahfaham yang amat besar dikalangan orang Islam, karena mereka telah meletakkan antara mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala, asbab-asbab kebendaan dunia. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata syarat pertama untuk seseorang itu ambil faedah daripada kudrat Allah subhanahu wa ta’ala, dari khazanah Allah subhanahu wa ta’ala, dia harus buang langsung, tidak ada sedikit pun dalam hati dia keyakinan pada asbab kebendaan. Dia harus bersihkan keyakinan hati dia selain dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hari ini, orang Islam berusaha mengambil faedah daripada kudrat Allah subhanahu wa ta’ala untuk selesaikan masalah dengan perantaraan benda dunia. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata bahwa orang kafir pun buat, orang kafir pun pandai, orang kafir pun tahu yaitu mengambil faedah dari khazanah Allah subhanahu wa ta’ala melalui benda-benda dunia.
Allah subhanahu wa ta’ala maha pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala maha pemberi rezeki, tetapi orang kafir meletakkan benda-benda asbab antara mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Hari ini, orang Islam meletakkan toko, meletakkan pertambangan, meletakkan uang sebagai perantaraan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebenarnya, untuk dapat secara langsung dari khazanah Allah subhanahu wa ta’ala, adalah dengan perantaraan amal, bukan asbab. Perkataan yang keluar dari mulut orang Islam sendiri yang mengatakan dunia darul asbab, untuk dapat dari Allah subhanahu wa ta’ala harus ada asbab. Ini tidak betul. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkata syarat untuk dapat faedah/bantuan daripada Allah subhanahu wa ta’ala harus buang asbab dari hati. Harus keluarkan keyakinan asbab dari hati.
Ini perkara yang penting yang kita harus usaha, harus sadar, harus faham, kita perlu usaha atas iman agar datang dalam hati keyakinan yang bulat hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Perbicaraan kita mestilah perbicaraan yang mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala. Perbicaraan tentang kehebatan Allah subhanahu wa ta’ala. Perkara ini sangat penting sehingga baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, seorang nabi, bila ditanya tentang ashabul kahfi, maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata bahwa baginda akan memberi jawaban besok. Baginda terlupa untuk mengatakan “insya ‘Allah”. Maka 15 hari wahyu tidak turun. Selepas 15 hari baru wahyu turun. Allah subhanahu wa ta’ala tegur nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena tidak berkata insya ’Allah, yaitu ‘sekiranya diizinkan oleh Allah, saya akan jawab’. Begitu juga kita harus jaga perbicaraan kita. Setiap perkara yang terjadi, akan terjadi, telah terjadi, semuanya dinisbahkan hanya pada Allah subhanahu wa ta’ala. Semua berlaku dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah usaha yang pertama yang kita harus buat, bicara kebesaran Allah.
Pertama, kita perlu meyakini yang berkuasa hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, cara untuk dapat daripada Allah subhanahu wa ta’ala hanya dengan cara Nabi, muhammadur rasulullah. Makna beriman pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ialah kita meyakini akan segala apa yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada kita janji-janji Allah, perkara-perkara yang ghaib, tentang syurga, neraka, akhirat. Bila kita meyakini janji-janji Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, meyakini segala apa yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, semata-mata percayanya kita pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, itu adalah iman. Tanpa perkara ini, iman kita tidak sempurna. Syarat untuk iman kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, syarat untuk kesempurnaan iman ialah kita harus meyakini 100% segala yang dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada kita walaupun kita tidak nampak.
Di zaman Nabi, sahabat, orang kafir dan orang musyrik semua dengar perkataan nabi. Sahabat dengar perkataan nabi dengan penuh yakin. Benarlah kata-kata Allah dan Rasul. Orang musyrik dengar tetapi mereka berkata, apa yang terjadi semua tipu daya belaka. Bila terjadi sesuatu keadaan, orang beriman lihat pada janji Allah akan tetapi orang munafik bila terjadi sesuatu keadaan, mereka lihat pada keadaan tersebut, mereka tidak lihat pada janji Allah.
Dalam perang Khandak, bila berlaku tekanan, orang beriman lihat pada janji Allah. Mereka yakin 100% apa yang Allah dan Rasul janji. Orang munafik dalam keraguan. Mereka tidak yakin bahkan mereka berkata ini semua tipudaya belaka. Hari ini pun, orang Islam diseluruh dunia, bila berlaku keadaan, banyak orang Islam yang lemah iman, mereka merasa sangsi dan ragu pada janji Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana orang munafik lihat apa yang berlaku pada sahabat dalam perang Khandak, mereka ragu dan berkata macam-macam, mereka berkata janji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak betul. Orang beriman, apa pun keadaan yang berlaku, yakin dia 100%, tidak ada sedikit pun keraguan atas apa yang Allah dan Rasul telah janjikan. Sahabat-sahabat telah diuji atas keimanan mereka, diuji atas keyakinan mereka pada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ujian yang sulit-sulit.
Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah membeli seekor kuda daripada seorang ‘Arabi. Akad telah terjadi. Telah terjadi jual beli cuma pada ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bawa duit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajak ‘Arabi itu ikut baginda untuk pergi ambil duit. Dua pihak telah setuju. Dalam perjalanan, ada satu orang tawarkan pada ‘Arabi itu untuk beli kuda tersebut. Setelah berbincang, ‘Arabi itu setuju untuk menjual kuda pada orang kedua. Dia berkata, ‘wahai Muhammad, kamu mau beli kuda ini?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘aku kan sudah beli kuda itu, kita sudah setuju’.‘Arabi tu berkata, ‘aku tidak jadi menjual kuda ini pada kamu’. Dia telah nafikan kata-kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Arabi tu berkata, ‘kalau betul kata-kata kamu, bawakan saksi, tiada seorangpun yang melihat akad jual beli kita’. Satu orang sahabat, Hudzaimah bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, lewat di situ dan dia berkata aku bersedia jadi saksi. ‘Aku bersaksi bahwa baginda shallallahu ‘alaihi wasallam telah beli kuda kamu’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanya pada Hudzaimah radhiyallahu ‘anhu, ‘kenapa kamu berani jadi saksi atas perkara yang kamu tidak lihat’. Hudzaimah radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘wahai Rasulullah, engkau telah memberitahu kami mengenai syurga, neraka, mizan, mahsyar, kubur, kehidupan setelah mati, semua itu kami tidak nampak, tetapi kami yakin 100% apa yang telah nabi katakan. Apalagi perkara yang kecil semacam ini, kami pasti lebih percaya’. Begitu yakin para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan bahwa kekuatan saksi Hudzaimah sama dengan dua orang.
Inilah usaha yang kita harus buat. Jalan untuk dapat iman, yakin yang sempurna pada Allah dan Rasul. Pertama, hanya Allah yang berkuasa, hanya Allah yang buat segala-galanya. Kedua, caranya ialah cara Rasulullah. Tiada cara lain untuk kita ambil dari Allah hanya dengan cara perantaraan amal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hari ni, orang-orang Islam telah mengganggap bahwa cara untuk dapat khazanah Allah adalah dengan perantaraan asbab, dengan perantaraan makhluk, benda-benda dunia. Mereka jadikan warung dan toko mereka, ladang mereka, sebagai perantaraan untuk dapat dari Allah padahal dalam asbab, dalam benda-benda tidak ada janji Allah. Janji Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata di dalam amal dengan cara muhammadur rasulullah.
Allah subhanahu wa ta’ala telah ciptakan asbab untuk manusia sebagai imtihan, sebagai ujian bagi manusia. Allah subhanahu wa ta’ala hendak mengetahui hamba-hambanya, adakah mereka datang kepada Allah dulu atau pergi pada asbab dulu. Allah hendak melihat, bila kita ada masalah atau mengalami sesuatu keadaan maka kita pergi pada Allah, kita tawajjuh pada Allah dan kita gunakan cara yang Allah telah beri, cara yang mana ada janji Allah dengan perantaraan amal. Dengan perantaraan amal segala masalah kita akan diselesaikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau satu orang telah pergi pada asbab dulu, tidak pergi pada Allah subhanahu wa ta’ala terlebih dulu, maknanya dia telah utamakan asbab dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan selesaikan masalah dia.
Hari ini, orang Islam fikir, kita bisa buat asbab yang baik-baik, tanggungjawab untuk usaha atas asbab, yang sempurnakan Allah subhanahu wa ta’ala. Usaha atas toko, usaha atas ladang, usaha atas tambang dan kedepankan pada Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Aku sudah usaha, Engkau bagilah rezeki’. Itu bukan caranya. Caranya ialah dengan amal, dengan perantaraan shalat, perantaraan do’a, dengan perantaraan amal kita kedepankan pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka bantuan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang pada kita. Sebagaimana sahabat-sahabat, bila mereka menghadapi sesuatu keadaan, mereka akan kedepankan amal, mereka dahulukan amal daripada asbab. Hari ini kita buat asbab dahulu, bila asbab tidak berhasil, selepas itu baru minta dan memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sahabat pergi pada Allah subhanahu wa ta’ala dahulu. Dua keadaan berlaku, baik Allah subhanahu wa ta’ala beri bantuan pada mereka dengan amal mereka, tanpa perlu pergi pada asbab yaitu tanpa asbab Allah subhanahu wa ta’ala bantu mereka dan kadang-kadang Allah subhanahu wa ta’ala beri bantuan dengan perantaraan asbab. Sahabat buat amal dan juga asbab tetapi mereka dahulukan amal.
Perkara ini kita harus cerita lagi dan lagi. Bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada sahabat dan bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada nabi-nabi dan rasul-rasul. Ini bukan semata-mata sejarah. Hari ini kita baca, kita tulis kisah nabi sebagai satu sejarah sedangkan kisah nabi-nabi, kisah rasul, bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada nabi dan rasul, bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala pada sahabat, perkara ini dituntut untuk diceritakan lagi dan lagi untuk bentuk iman kita. Dalam Quran Allah subhanahu wa ta’ala cerita kisah nabi-nabi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Allah berfirman, ‘Kami ceritakan pada kamu kisah nabi-nabi dahulu yang akan memantapkan hati kamu’. Allah perintahkan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ceritakan pada sahabat. Perlu dibicara lagi dan lagi dalam dakwah kita supaya timbul dalam hati kita keyakinan pada bantuan Allah.
Hari ini orang berkata, mereka itu kan sahabat, mereka dapat bantuan karena mereka adalah sahabat nabi, sedangkan kita ini bukan sahabat, kita harus menggunakan asbab, kita harus usaha atas asbab. Sahabat dapat bantuan Allah subhanahu wa ta’ala karena amal yang diyakininya. Padahal janji bantuan Allah subhanahu wa ta’ala terbuka hingga hari kiamat. Bukan khusus untuk sahabat-sahabat saja. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Quran, ‘Kami pasti dan pasti akan bantu rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada hari akhirat’. Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji untuk bantu orang-orang yang beriman. Bantuan Allah subhanahu wa ta’ala bukan khusus untuk para sahabat saja. Janji Allah subhanahu wa ta’ala untuk setiap orang beriman hingga hari kiamat. Jika kita dapat wujudkan amal yang sama yang telah wujud dalam diri sahabat, kita juga akan dapat bantuan secara langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana sahabat-sahabat.
Dalam hadits diberitahukan, satu orang beriman hari ini sama dengan 10 orang sahabat dan ganjaran untuk satu orang beriman hari ini sama dengan 50 orang sahabat. Sahabat tanya, ‘adakah 50 orang dikalangan mereka?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘tidak, sama dengan 50 orang dikalangan kamu’.
Satu orang yang terima bantuan ghaib dari Allah subhanahu wa ta’ala di dunia, ini bukanlah maksud. Maksud amal ialah untuk dapat keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Tanda sempurna iman seseorang itu bukanlah sebab dia dapat bantuan ghaib Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, ‘apa tanda iman?’. Nabi tidak katakan tanda iman ialah bila seseorang itu dapat bantuan ghaib dari Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi katakan, tanda iman ialah bila buat amal baik, kamu rasanya gembira, dan bila buat amal yang buruk, kamu terasa sedih. Kita harus cerita tentang iman dan cerita tentang tanda-tanda iman.
Satu kumpulan sahabat telah datang jumpa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka katakan dalam diri mereka ada 15 sifat. 5 perkara yang kamu perintah kami beriman dengannya. 5 perkara yang kamu perintah kami beramal dengannya. 5 perkara yang telah ada dalam diri kami sejak zaman jahiliyah lagi.
5 perkara yang kamu perintah kami beriman:
1. beriman kepada Allah dan Rasul
2. beriman kepada malaikat
3. beriman kepada kitab-kitab
4. beriman kepada hari akhirat
5. beriman kepada takdir
5 perkara yang kamu perintah kami beramal:
1. kalimah laa ilaaha illallaah muhammadur rasulullah
2. shalat
3. zakat
4. puasa di bulan Ramadhan
5. haji
5 perkara yang harus ada dalam diri kami:
1. sabar ketika susah
2. syukur ketika senang
3. ridha dengan keputusan Allah
4. berani berhadapan dengan musuh
5. bila musuh ditimpa kesusahan, kami tidak gembira musibah yang menimpa mereka
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa mereka ini adalah orang-orang yang faqih. Faqih ialah orang yang mempunyai kefahaman yang sempurna tentang agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah iktiraf mereka sebagai fuqaha, udabaq. Maulana berkata, kalau kamu mahir dalam bahasa arab, namun kamu tidak akan mungkin sampai ke tahap kemahiran Abu Jahal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa mereka ini faqih, fuqaha, udabaq. Kalau pintu kenabian masih terbuka, mereka ini layak untuk jadi nabi karena ketinggian sifat yang mereka miliki. Ini sifat-sifat yang patut ada pada setiap orang beriman. Sifat orang beriman, sabar dan syukur. Keseluruhan sifat iman terkumpul dalam 2 perkara ini. Satu orang yang mempunyai sifat sabar dan syukur yang sempurna pada Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia ialah seorang yang mempunyai iman yang sempurna pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ini tanda iman.
Hari ini kita faham bahwa sabar itu ialah bila satu orang dipukul, dia tahan atas pukulan tersebut, maka dia orang yang sabar. Satu orang yang dapat nikmat, dapat kesenangan maka dia katakan dia bersyukur pada Allah subhanahu wa ta’ala. Keduanya ini bukan syukur dan bukan sabar. Sabar adalah kita menahan diri kita daripada perkara-perkara yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan syukur adalah kita menggunakan diri kita menurut perintah/kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.
Walaupun tiada makanan untuk dimakan, tiada pakaian untuk dipakai, tiada duit untuk dibelanjakan, dia boleh jadi seorang yang bersyukur pada Allah subhanahu wa ta’ala, ketika dia menggunakan apa yang ada menurut kehendak dan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah bukan balasan bagi nikmat. Satu orang yang dapat nikmat, sebagai balasan, dia beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala.
Iman adalah taat. Tanda iman dalam diri seseorang ialah dia ada sifat taat pada perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau seseorang itu, seumur hidup taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, walaupun tidak ada sesuap makanan, tidak ada seteguk air pun, dan Allah tidak memberi berbagai nikmat pun pada dia, maka diapun tetap harus beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala. Nikmat-nikmat dunia bukanlah balasan bagi ibadah, karena dunia ini begitu hina disisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dunia tidak layak jadi balasan untuk ibadah.
Satu orang yang telah mati, minta izin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk kembali ke dunia untuk bisa mengucapkan satu subhanallah. Dia sanggup untuk mengorbankan harta seluruh dunia untuk kembali dan buat satu amal, namun Allah subhanahu wa ta’ala tidak terima. Ini menunjukkan seluruh dunia ini tidak ada nilai dibandingkan dengan satu subhanallah. Kalau seluruh manusia, semua taat perintah Allah subhanahu wa ta’ala, beriman pada Allah subhanahu wa ta’ala, beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberi apapun balasan di dunia, itu merupakan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau seluruh manusia beribadah dan Allah subhanahu wa ta’ala masukkan semua ke dalam neraka, itu pun hak Allah subhanahu wa ta’ala. Tiada siapa pun ada hak untuk bertanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ‘kenapa demikian?’ Ibadah adalah semata-mata hak mutlak Allah subhanahu wa ta’ala dan setiap hamba Allah harus beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Apa yang kita fahami ialah bila kita ditimpa musibah kita hendaklah bersabar, nanti bantuan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang. Seandainya bantuan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan datang, keadaan tidak akan berubah melainkan dalam diri kita harus bersabar dan bertaqwa. Kedua sifat ini harus ada serentak. Kalau cuma hanya ada sabar, taqwa tidak ada, maka musibah yang datang disebabkan dosa-dosa yang kita telah lakukan, kesusahan tersebut tidak akan terangkat semata-mata hanya dengan bersabar. Sabar harus datang dengan taqwa. Dalam Quran, Allah sebut sabar dan taqwa sekali. Kedua sifat harus ada dalam diri, barulah bantuan Allah subhanahu wa ta’ala akan datang dan Allah subhanahu wa ta’ala akan ubah keadaan.
Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaihmemberikanpemisalan, satu orang sabar tanpa taqwa, seperti seorang pencuri yang ditangkap polisi. Polisi pukul dia. Dia do’a agar polisi tersebut diazab oleh Allah. Azab Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan turun pada polisi itu. Kenapa? Karena pencuri tidak ada taqwa. Dia cuma sabar saja. Allah subhanahu wa ta’ala tidak terima doa buruk dia pada polisi. Untuk dapat bantuan Allah subhanahu wa ta’ala, untuk Allah subhanahu wa ta’ala ubah keadaan yang menimpa orang Islam harus ada sifat sabar dan taqwa.
Dalam Quran, Allah subhanahu wa ta’ala cerita kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Seluruh kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam berkisar pada kedua sifat yaitu sabar dan taqwa. Allah subhanahu wa ta’ala telah ubah keadaan beliau dan keluarkan beliau dari segala masalah. Begitu juga dengan bani Israil dan Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala telah keluarkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan bani Israil dari cengkaman Fir’aun dan Allah subhanahu wa ta’ala binasakan Fir’aun. Orang Islam do’a laknat atau keburukan bagi banyak musuhnya, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengubah keadaan, bantuan Allah subhanahu wa ta’ala tidak datang, musibah tidak hilang, hal ini karena sabar dan taqwa tidak ada dalam diri orang Islam.
Orang Islam amalkan agama tetapi masih gagal. Dua sebab kegagalan, adalah :
Pertama, karena orang Islam tidak ada keyakinan bahwa kejayaan dalam agama.
Kedua, karena mengganggap bahwa beberapa amal yang dia telah lakukan itu adalah agama.
Agama adalah himpunan keseluruhan amal. Ibadah adalah satu himpunan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Mentaati segala hukum-hukum tersebut disebut ibadah. Maulana Zakariyya rahmatullah ‘alaih berkata bahwa ibadah ada 10 perkara. Shalat, puasa, zakat, haji, zikir, tilawah, tijarah, dakwah, ihtimam (ambil berat) akan sunnah dan tunaikan hak-hak tetangga. Satu orang yang hendak dapat kejayaan harus amalkan agama yang sempurna dalam kehidupan. Dari segi dunia, bila asbab tidak sempurna maka tidak akan memberikan hasil seperti yang dikehendaki. Sedangkan dia itu, tidak ada janji Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau lengkap pun masih tidak ada janji Allah subhanahu wa ta’ala.
Adakah dengan agama yang tidak sempurna kita bisa dapat kejayaan? Untuk dapat kejayaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, pertama harus ada keyakinan bahwa dengan agama kita akan dapat kejayaan. Kedua, kita harus amalkan agama yang sempurna dalam kehidupan. Oleh karena itu, usaha dakwah yang kita buat hari ini adalah dakwah kepada agama yang sempurna. ‘Deen yang kamil’, dengan membawa agama yang sempurna dalam kehidupan.
Usaha kita bukan bicara saja. Bahkan kita harus tunjukkan, musyahadahkan agama yang sempurna dalam diri kepada manusia. Ini yang terjadi pada sahabat-sahabat. Sahabat pergi ke seluruh dunia, mereka membawa agama yang sempurna secara amali dalam kehidupan mereka. Seorang sahabat sudah cukup untuk mendatangkan hidayah untuk satu negara. Hari ini, banyak jamaah bergerak ke seluruh dunia tetapi masih belum cukup untuk mendatangkan hidayah ke seluruh dunia. Kenapa? Kita harus bergerak dengan membawa agama yang sempurna dalam diri. Bukan hanya bicara tentang iman, bukan hanya dakwah dengan perbicaraan, bahkan kita juga harus dakwah dengan amalan. Sahabat-sahabat bergerak dengan membawa agama yang sempurna dalam kehidupan dan jadi asbab hidayah untuk seluruh dunia. Kita harus buat usaha dengan penuh yakin, tarbiyah/ tazkiah (bersih) untuk diri dan hidayah untuk seluruh alam. Hidayah seluruh alam adalah pasti, bila buat usaha yang telah dibuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Dengan usaha dakwah, Allah subhanahu wa ta’ala akan ubah yakin dan keadaan.
Allah subhanahu wa ta’ala telah jelaskan dalam Quran, tentang suatu kaum yang mana Allah subhanahu wa ta’ala telah buat keputusan untuk dibinasakan sebab maksiat yang mereka telah buat. Satu golongan mencoba untuk menasihatkan mereka supaya mereka berhenti daripada maksiat. Satu golongan orang-orang shaleh yang tidak buat maksiat telah tegur orang yang mencoba hendak mengubah tadi. Apa faedah yang kamu dapat bila memberi nasihat pada mereka, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah buat keputusan untuk binasakan mereka. Golongan yang buat usaha tadi jawab, pertama, supaya kami tunaikan tanggungjawab kami pada Allah. Kedua, moga-moga mereka akan bertaqwa dan tinggalkan maksiat tersebut. Kaum yang Allah telah buat keputusan pun diharap mereka bisa berubah, apabila mereka didakwahi. Kita harus yakin dengan perantaraan dakwah Allah akan ubah yakin dan ubah keadaan. Kaum yang telah diberi peringatan, mereka masih dalam maksiat, Kami telah selamatkan mereka yang telah beri peringatan tadi.
Satu orang yang buat dakwah dengan yakin, pasti dia akan selamat dari azab Allah. Kalau tidak, bila Allah subhanahu wa ta’ala turunkan azab, semua akan kena, orang shaleh yang tidak buat maksiat pun akan ditimpa azab. Hanya mereka yang telah berusaha bersungguh-sungguh dengan berbagai upaya mereka, untuk mengubah keadaan tadi, mereka akan diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hadits, ibarat dalam kapal. Satu orang membuat lubang. Yang akan binasa, bukan orang yang membuat lubang saja, bahkan seluruh penghuni kapal akan tenggelam. Ahli ibadah, ahli zikir, orang shaleh, orang maksiat, semuanya akan tenggelam bersama dengan orang yang melubangi kapal tadi. Kecuali ada orang yang mau melarang dan mencegah. Orang yang telah berusaha untuk mencegah daripada membuat lubang.
Masalah di depan kita bukan hanya masalah diri kita saja. Masalah hari ini adalah masalah seluruh alam, seluruh manusia. Kita dipertanggungjawabkan untuk seluruh manusia di seluruh dunia. Allah subhanahu wa ta’ala akan ambil kerja dari mereka yang dalam hati dia ada fikir, bagaimana agama yang sempurna dapat datang dalam diri saya dan diri seluruh umat di seluruh alam. Bagaimana agama dapat diamalkan 100% di seluruh dunia. Ini tanggungjawab kita. Satu orang yang buat maksiat, kalau kita tidak usaha atas dia, maka dia akan jadi asbab turunnya azab Allah dan semua akan binasa.
Kita harus yakin dengan usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang akan dapat hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di jalan yang lurus dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bawa manusia ke jalan yang lurus. Satu orang yang berada di jalan yang lurus, maka dia akan dapat Allah.
Satu orang sahabat telah dakwah pada satu kaum dia, dari pagi hingga petang, akhirnya seluruh kaum dia telah masuk Islam. Bila orang kafir didakwahkan dan kesannya dia masuk Islam, apalagi orang Islam sendiri yang didakwahkan kepada Islam. Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam telah jadikan setiap orang sahabat sebagai da’i. Jin-jin juga telah beriman kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka juga dijadikan da’i. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk manusia dan jin. Satu kumpulan jin telah mendengar bacaan Quran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka telah beriman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kembali kepada kaum mereka dan dakwah kaum mereka masuk Islam. ‘Sahutlah seruan nabi yang telah dihantar oleh Allah subhanahu wa ta’ala’. Jin-jin juga telah buat kerja dakwah.
Setiap sahabat adalah da’i, baik dari golongan mana saja, kabilah mana saja, kulit putih, kulit hitam, negara mana saja, siapa saja tanpa pengecualian, setiap orang adalah da’i. Secara ummumi, setiap orang terlibat dalam dakwah. Kerja dakwah bukan untuk orang tertentu saja. Kerja dakwah adalah kerja setiap umat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanggungjawab untuk buat kerja dakwah. Inilah kerja umat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap lapisan umat perlu dibangunkan atas kerja dakwah. Bila tidak ada ummumiat dalam usaha dakwah, telah menjadi sebab utama terjadi kemurtadan dalam umat ini.
Bila usaha dakwah dibuat secara ummumiat maka pintu untuk orang masuk Islam akan terbuka luas dan pintu untuk orang Islam keluar dari Islam akan tertutup rapat. Bila kerja dakwah tidak dibuat, pintu untuk orang masuk Islam telah ditutup dan pintu untuk orang Islam keluar dari Islam telah dibuka. Maulana Yusuf pesan agar mau membaca kitab hayatus sahabah. Jadikan kitab ini senantiasa kita untuk menelaah, khususnya untuk orang yang buat usaha ini.Apakah bentuk/cara usaha yang sahabat-sahabat telah buat dan umat nabi harus ikut. Bila baca kitab hayatus sahabah akan terbentuk mizaj seorang da’i. Fikir, sifat, tabiat sebagai seorang da’i.
Dalam hayatus sahabah ada satu kisah bagaimana Ikrimah bin Abu Jahal. Ikrimah ialah anaknya Abu Jahal. Abu Jahal musuh Islam yang besar. Anaknya telah masuk Islam dan menjadi pejuang Islam dan telah korbankan nyawa untuk Islam. Bagaimana perkara seperti ini boleh terjadi? Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapat tawanan kota Mekkah, Ikrimah telah lari keluar dari Mekkah. Dia telah naik sampan menuju ke arah Yaman. Ditengah laut, datang ribut taufan. Sampan hendak tenggelam. Dia katakan pada pembawa sampan, apakah cara untuk selamat? Pembawa sampan tadi tidak tanya kamu pandai berenang atau tidak. Dia katakan, kalau kamu ingin selamat kamu harus ucap kalimah ikhlas. Dakwah telah jadi ummumiat di zaman nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pembawa sampan pun buat dakwah. Dalam keadaan genting macam itu pun dia buat dakwah. Ikrimah Tanya apa itu kalimah ikhlas? Dia jawab, laa ilaaha illallaah. Ikrimah berkata karena hendak lari dari kalimah itulah aku datang sini. Aku hendak lari ke Yaman sebab aku hendak lari dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ditepi pantai, isteri dia memberi isyarat supaya dia kembali. Kisah yang panjang, akhirnya Ikrimah telah masuk Islam. Bila dakwah telah dijalankan secara umum, orang yang hendak lari dari Islam, jalan telah ditutup, dia terpaksa masuk Islam. Hari ini dakwah tidak dijalankan secara umum. Kita anggap kerja dakwah ini kerja golongan orang tertentu saja. Bila hilang ummumiat dalam usaha dakwah, pintu kemurtadan telah terbuka luas. Kita harus usahakan setiap umat atas kerja dakwah.
Kita mengganggap usaha yang dibuat sekarang ini berlainan dengan usaha yang dibuat oleh sahabat. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih berkali-kali katakan, inilah usaha yang sahabat telah buat. Usaha yang sama, kerja yang sama. Selagi kita tidak yakin ini adalah usaha yang telah dibuat oleh sahabat-sahabat, maka sejauh itulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan datangkan kesan, sebagaimana kesan yang Allah subhanahu wa ta’ala telah datangkan pada sahabat. Bantuan, ganjaran, nusrah, pahala, fadhilat, kelebihan yang sahabat dapat, kita tidak akan dapat selagi kita anggap usaha yang kita buat tidak sama sebagaimana usaha yang sahabat telah buat. Kita harus meletakkankan kelebihan/ganjaran yang Allah subhanahu wa ta’ala telah janjikan di depan kita. Maulana katakan kita harus selalu baca kitab hayatus sahabah. Kita buat usaha dengan yakin pada janji-janji tersebut. Kalau tidak, usaha yang kita buat akan jadi semacam satu gerakan, satu persatuan saja yang tidak mendatangkan perubahan pada umat, tidak akan mendatangkan kesan apa-apa. Kita harus buat usaha dengan penuh yakin. Inilah kerja yang telah dibuat oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Segala bantuan yang sahabat dapat, kita pun akan dapat bila kita buat usaha ini.
Matlamat usaha ini bukan untuk bawa umat kepada amal infiradi, yaitu ibadah, tetapi untuk membawa umat kepada kerja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana seluruh ummat Islam ambil bagian dalam kerja dakwah dan dakwah dijadikan sebagai maksud hidupnya. Sepagi atau sepetang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sepagi di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, akan mendahului selama 500 tahun. Kapan saja, bila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sahabat telah menumpukan pada amal infiradi yang menyebabkan dia menangguhkan untuk keluar di jalan Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan terus menerangkan pada sahabat tentang kelebihan keluar di jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatasi amal infiradi.
Abdullah Rawahah radhiyallahu ‘anhu telah diputuskan untuk keluar di jalan Allah bersama dengan jamaah. Jamaah telah keluar diawal pagi, sedangkan dia telah menangguhkan keluar, karena hendak melaksanakan kelebihan shalat Jum’at di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia fikir dia ada kuda yang cepat dan bisa mengejar jamaah. Selepas shalat Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapati Abdullah Rawahah radhiyallahu ‘anhu masih ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam panggil dia. ‘Kenapa tidak berangkat keluar?’ Abdullah Rawahah radhiyallahu ‘anhu menangguhkan keluar di jalan Allah, bukan sebab kerja dunia. Dia  terlewat keluar di jalan Allah sebab agama, sebab hendak shalat Jum’at dibelakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanya, ‘berapa lama kamu terlewat? ’Dia jawab, ‘sepagi’. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan, ‘kamu tahu tidak, berapa banyak mereka telah mendahului kamu? ’Dari segi masa, mereka telah mendahului kamu selama 500 tahun dan dari segi jarak, mereka telah mendahului kamu sejauh masyrik dan maghrib (timur dan barat).
Maulana tidak faham, hari ini bila kita dengar hadits kelebihan keluar di jalan Allah, kita anggap kelebihan ini untuk satu perkara yang khusus, yaitu berperang. Berperang bukan maksud karena tidak ada seorang nabi yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membinasakan manusia. Nabi-nabi dihantar oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk jadi asbab hidayah, agar umatnya mengamalkan perintah Allah. Nabi berpesan, dakwah dahulu selama 3 hari, bila mereka masuk Islam itu lebih baik untuk kamu dari unta-unta merah. Bila satu orang masuk Islam, sahabat akan takbir dengan kuat sekali mengatasi kegembiraan mereka dapat menawan satu negara. Maksud berjihad bukan untuk berperang, tetapi atas maksud kerja dakwah untuk mengajak manusia pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Hari ini orang anggap kerja dakwah ini adalah salah satu daripada amal-amal baik. Pemahaman seperti ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah hapus. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Abdullah Rahawah radhiyallahu ‘anhu, “kalau kamu menginfakkan harta seluruh dunia pun kamu tidak dapat mengejar mereka, yaitu saudara kaum muslimin yang telah berangkat ½ hari sebelum kamu.” Kita fikir, bagaimana kalau kita tidak keluar di jalan Allah bisa menandingi dengan saudara kita tang keluar di jalan Allah. Berapa selisih waktu dan jarak untuk bisa memasuki syurganya Allah. Subhanallah!! Sungguh sangat jauh. Karena itu, kerja dakwah ini mengatasi segala kerja-kerja amal yang lain. Kita harus ada yakin bahwa kita akan dapat ganjaran dan kelebihan yang sama sebagaimana sahabat-sahabat telah dapat. Kalau tidak ada yakin, kita tidak akan dapat kesan yang sama.
Tuan-tuan fikir, apa yang tuan-tuan patut buat, bangun dan bagi nama untuk keluar dijalan Allah, 4 bulan dan untuk ulama’ 1 tahun. Insya Allah………………………..! Semua bersedia.