Pages

Senin, 11 Juni 2012

12. CARA MEMPERBAIKI DAN MENYELESAIKAN MASALAH UMMAT DENGAN DAKWAH


Satu-satunya cara terbaik memperbaiki ummat yaitu dengan cara mengenalkan agama kepada mereka dan memperbaiki keimanan mereka. Hanya dengan keimanan yang benar kepada Allah dan pengamalan agama yang sempurna maka kehidupan manusia akan terperbaiki. Namun Agama tidak mungkin bisa diamalkan secara sempurna tanpa keimanan yang benar. Dan untuk memperbaiki keimanan ini yang sifatnya ghaib hanya bisa menggunakan methode Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang caranya langsung diajarkan oleh Allah Ta’ala.
Imam Malik rahmatullah ‘alaih berkata :
“Tidak ada cara yang terbaik dalam memperbaiki Ummat saat ini selain cara yang digunakan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada kurun waktu awal Islam”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperbaiki ummat yaitu dengan cara berdakwah, yaitu mengenalkan agama kepada manusia. Hanya dengan adanya dakwah, ummat dapat mengenal kepada Allah dan manfaat daripada agamanya. Asbab adanya kerja dakwah ini maka Madinah yang tadinya kota penuh kemaksiatan menjadi kota pusat peradaban Islam. Sehingga Madinah mendapatkan gelar Al Munawarah, tempat terpancarnya cahaya. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan kehidupan seperti di madinah, atau bangsa yang Madani ( Bangsa Madinah ) yang kita idam-idamkan. Cara pertama adalah dengan mengirimkan rombongan dan menerima rombongan seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari masjid Nabawi. Ini perlu dilakukan agar ummat bisa mendapat tarbiyah yang sama seperti sahabat ketika pergi di jalan Allah dan belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjid  Nabawi. Apa targetnya ketika kita keluar di jalan Allah :

I.  Target Kedalam :
1.  Bagaimana dalam diri kita dapat terbentuk Sifat dan Qualitas Sahabat
2.  Bagaimana Amal Agama ini dapat sempurna kita kerjakan
3.  Bagaimana Fikir dan Risau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Kecintaan dan Kesedihan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Maksud Hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Kerja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi bagian dari kita juga.
4.  Tazkiyatun Nafs, Tazkiyatun Amal, Tazkiyatun Iman.

II.  Target Keluar :
1.  Membentuk Syuhbah ( Persahabatan dan Pertemanan à Ukhwah Islamiyah )
2.  Membentuk Biyah ( Suasana Amal / Maqomi : Dakwah, Taklim, Dzikir, Khidmat )
3.  Mengeluarkan Rombongan Fissabillillah ( Menyiapkan Ummat untuk terlibat dalam Dakwah )

Jika kerja dakwah ini dikerjakan dengan maksimal, maka hasil dari kerja dakwah ini adalah :

Ø § Dakwah ↑ – Iman ↑ – Amal ↑ – Ilmu  ↑ – Akhlaq ↑ – Maksiat ↓ – Ukhwah ↑ – Perpecahan ↓ :
à Ketika Agama wujud, maka :
·        keberkahan akan turun dari langit dan dari bumi,
·        ekonomi akan membaik,
·        orang akan lebih memilih hidup sederhana, sehingga harga barang akan turun,
·        import akan berkurang,
·        mata uang akan menguat,
·        harga akan stabil,
·        inflasi dapat ditekan.
·        Ketika ini kondisi umat akan membaik,
·        yang bathil akan lenyap,
·        keamanan dan ketentraman akan wujud,
·        kebaikan akan meningkat,
·        doa akan di dengar,
·        pertolongan Allah akan turun,
·       dan kejayaan umat islam akan kembali seperti zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ø § Dakwah ↓ – Iman ↓ – Amal ↓ – Ilmu ↓ – Akhlaq ↓ – Maksiat ↑ – Ukhwah ↓ – Perpecahan ↑ :
à Ketika ini Agama lemah/hancur/rusak, maka :
·        keberkahan akan Allah cabut,
·        kondisi umat akan memburuk,
·        orang banyak maunya,
·        permintaan akan barang meningkat, sehingga harga-harga akan naik,
·        ekonomi akan berantakan,
·        gap antara yang kaya dan yang miskin akan sangat mencolok,
·        korupsi dimana-mana,
·        kejahatan merajalela,
·        kerusakan dimana-mana.
·        Kita akan lihat orang akan berbondong-bondong keluar dari islam,
·        maksiat akan tersebar,
·        yang bathil akan masuk,
·        manusia mulai merusak,
·        keamanan dan ketentraman akan hilang,
·        doa tidak akan didengar,
·        pertolongan Allah tidak akan datang,
·        yang turun adalah adzab dari Allah,
·        dan islam akan dihinakan dimana-mana.
·        Ketika ini maka Allah akan datangkan berbagai macam bencana dan musibah kepada ummat manusia.

Jika Dakwah yang Haq ditegakkan maka kebaikan-kebaikan akan datang dan Maksiat akan lenyap. Tetapi jika Dakwah yang Haq tidak ditegakkan, maka Dakwah yang Bathil akan masuk dan Maksiat akan merajalela. Apa itu Dakwah yang bathil yaitu segala bentuk usaha yang mengajak manusia untuk bermaksiat kepada Allah dari iklan TV, cara berniaga, tempat-tempat hiburan, perjudian, fashion show, club-club malam untuk bermabuk-mabukan dan perzinaan.
Hari ini mengapa kejahatan gampang tersebar, bahkan semakin hari semakin canggih kejahatannya. Kejahatan makin maju padahal tidak ada sekolahnya untuk ilmu dan sistem kejahatan. Ini karena tidak perlu sekolah untuk jadi orang jahat, cukup berkumpul dan bertemu dengan pencuri maka kita akan mendapatkan keahlian mencurinya, begitu juga dengan pemabuk, penjudi, dan lain-lain. Padahal kalau kita perhatikan sekolah umum yang mengajarkan ilmu agama banyak, sarjana agama banyak, pesantren dan madrasah pendidikan agama ada dimana-mana, tetapi mengapa kini yang namanya kebaikan tidak tersebar?
Jawabannya adalah ini dikarenakan para Ahlul Kebaikan tidak menyebar, atau tidak adanya pergerakan orang-orang baik yang menyebarkan kebaikan. Sedangkan hari in yang bergerak adalah kejahatan dan para ahlul maksiat. Mereka bergerak, menyebar ke mana-mana, dan ketika bertemu saling mengajarkan sehingga tercipta suasana kejahatan diantara mereka. Jadi asbab adanya pertemuan dan pergerakan bisa membuat kejahatan makin tersebar dan semakin maju. Cukup dengan pergerakan saja, tidak perlu ada promosi dengan kata-kata, maka sesuatu itu dapat mudah tersebar. Seperti cara berpakaian group musik rock yang terkenal misalnya. Mereka para the rocker ini tidak banyak bicara, tetapi hanya bergerak bertemu orang, tau-tau yang lain sudah mengikuti gaya dan penampilan mereka. Begitu juga dengan kebaikan, mengapa kebaikan tidak tersebar, ini karena para ahli kebaikan, para ahli agama tidak bergerak. Mereka hanya duduk-duduk saja di tempatnya. Maka jika keadaannya seperti ini, bisa dipastikan kebaikan tidak akan tersebar dan tidak akan meningkat.
Mungkin akan datang suatu masa dimana kebaikan akan hilang dan kebathilan akan tersebar dimana-mana jika para ahlul agama dan ahlul kebaikan tidak mau bergerak menyebarkan yang haq. Dengan keluar di jalan Allah menyebar ke permukaan bumi memberi contoh yang baik dan mengajak orang kepada Allah maka kita sudah menyebarkan kebaikan dan menegakkan yang Haq.
Jadi untuk dapat menyelesaikan masalah ummat itu mudah saja, tidak usah banyak teori, cukup dalam sunnah saja, kehidupan sahabat sudah dapat menyelesaikan masalah semuanya. Caranya yaitu ummat islam kembali pada kerja dakwah ini dan keluar di jalan Allah, berganti-ganti atau bergiliran. Nanti Allah Ta’ala akan selesaikan semua masalah. Ummat islam dan amal islam akan menjadi kuat. 

Perumpamaan
Ummat islam ini di ibaratkan oleh ulama adalah seperti air. Air ini jika ia mengalir atau bergerak maka air ini adalah suci dan mensucikan. Jika aliran sungai ini melewati kotoran-kotoran dipinggiran sungai, maka pinggiran sungaipun akan terbersihkan dari kotoran. Tetapi jika air ini tidak bergerak seperti air yang ada dikubangan, maka air yang seperti ini akan membawa banyak masalah, seperti menjadi tempat najis, banyak kotoran, sarang penyakit, tidak bersih, tidak sehat, dan tidak bisa mensucikan. Semua kotoran menumpuk di air kubangan, atau di air yang tidak bergerak, berbeda dengan air yang bergerak atau mengalir.
Jadi kalau ummat islam ini tidak bergerak, maka masalah akan banyak timbul  dan ummat akan menjadi sarang kotoran sebagaimana air yang tidak bergerak yaitu menjadi air yang membawa masalah. Selama Ummat Islam dalam keadaan bergerak, berdakwah fissabillillah, maka Allah akan selesaikan semua masalah. Allah akan tolong ummat ini dan Allah akan ciutkan hati orang kafir terhadap ummat islam. Dan Allah akan bersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam hati ummat islam. Atas perkara inilah kita perlu membawa ummat ini untuk bergerak, pergi dijalan Allah untuk berdakwah. Inilah pergerakan memperbaiki ummat dalam Dakwah dan Tabligh, yaitu dengan mengirimkan rombongan dakwah pergi bergerak dijalan Allah dan memakmurkan mesjid Allah dengan amal-amal agama.

Dakwah membentuk Syuhbah (Persahabatan) dan Biah (Suasana Amal )
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatukan ummat ini dengan kerja dakwah. Sehingga timbul diantara mereka rasa sepenanggungan dan seperjuangan. Inilah yang terjadi antara kaum muhajjirin dan anshor di madinah. Inilah rasa yang dimiliki antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yaitu perasaan syuhbah, rasa persahabatan dan sepenanggungan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Biah akan datang  dengan membentuk suasana amal seperti di masjid Nabawi. Sehingga ketika suasana amal ini wujud di mesjid Nabawi bisa membuat seorang kafir masuk ke mesjid nabawi keluar-keluar sudah menjadi orang beriman.
Lalu bagaimana caranya membentuk Syuhbah dan Biah ini dikalangan umat ?
1.  Mengirimkan rombongan-rombongan dakwah untuk pergi di jalan Allah
à membentuk syuhbah diantara jemaah dan mesjid yang didatangi
1.     Menerima rombongan-rombongan dakwah dan para pelajar di mesjid-mesjid kita
à membuat suasana amal atau Biyah dengan program-program agama
Inilah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengenalkan agama yaitu dengan mengirimkan rombongan dakwah dan menerima rombongan atau orang-orang yang mau belajar di masjid Nabawi. Sehingga terbentuk suasana syuhbah, persahabatan antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan terbentuk pula suasana amal, biyah, dari orang-orang yang mau belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ke jaman Khulafaur Rasyidin jika orang masuk ke mesjid Nabawi maka akan terlihat halaqoh-halaqoh pembicaraan Iman dan pengajaran agama. Sehingga suasana ini di masjid Nabawi mampu memberikan kesan kepada orang-orang yang tidak mengenal agama. Sehingga ketika itu kita lihat banyak orang kafir masuk islam karena terkesan dengan suasana amal dan suasana persahabatan yang dibuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid Nabawi.
Ketika syuhbah dan Biyah sudah terbentuk, maka ketika itu akan terlihat orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Inilah cara Islam mengenalkan agama yaitu dengan dakwah sehingga terbentuk yang namanya syuhbah dan Biyah di kehidupan umat. Masalahnya mengenalkan agama dan mengamalkan agama adalah dua hal yang berbeda. Agar umat dapat mengamalkan agama diperlukan keimanan yang kuat. Sedangkan Iman ini akan kuat jika ada Hidayah dari Allah. Hidayah akan datang jika ada pengorbanan dari orang tersebut untuk membuat usaha atas Iman atau Hidayah. Inilah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik sahabat untuk mendapatkan yang namanya Iman, yaitu membuat usaha atas hidayah Allah.
Hari ini mengapa umat tidak bisa mengamalkan agama secara sempurna ini dikarenakan umat tidak di bawa kepada pengorbanan untuk agama seperti sahabat radhiyallahu anhum. Melalui pengorbanan akan datang kesadaran dalam beramal dan rasa tanggung jawab terhadap agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik sahabat untuk mendapatkan Iman dengan cara membawa mereka kepada pengorbanan untuk agama. Hanya dengan melalui pengorbanan untuk agama maka keimanan akan datang. Seperti Bilal radhiyallahu anhu ketika disiksa oleh Abu Jahal agar Bilal mau murtad dari islam. Bilal disiksa dipadang pasir yang panas terpanggang oleh panasnya padang pasir, tubuhnya ditiban batu besar yang melebihi bobot badannya saat itu, tetapi siapa yang di ingat oleh Bilal ketika itu ? “Ahad…Ahad”, yaitu Allah yang diingatnya, bukannya Abu Jahal yang menyiksanya ketika itu. Waktu bilal menyebut “Ahad..ahad..” ketika itulah Iman telah masuk. Mengingat Allah dalam keadaan susah dan bersabar atasnya inilah yang dapat mendatangkan Iman. Lalu bagaimana nasehat atau respon Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tahu Bilal radhiyallahu anhu di siksa ? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasehati Bilal radhiyallahu anhu untuk bersabar karena dibalik kesabaran dalam mujahaddah atas agama tersimpan rahasia-rahasia Allah berupa kefahaman agama dan kekuatan Iman. Ketika Bilal ditanya oleh seseorang kapan masa yang paling bahagia di dalam kehidupannya, Bilal menjawab yaitu ketika Abu Jahal menyiksanya dipadang pasir ketika itu. Saat itulah masa yang paling bahagia bagi Bilal karena saat itulah dia dapat merasakan manisnya Iman. Bilal radhiyallahu anhu dapat merasakan manisnya Iman dan kebahagiaan dalam beragama yaitu ketika dia berkorban untuk agama. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh sahabat-sahabat radhiyallahu anhu lainnya ketika mereka merasakan manisnya Iman melalui pengorbanan untuk agama.
Iman ini adalah bukan suatu benda yang dapat disentuh, atau dilihat oleh mata, atau dibeli oleh uang, tetapi keimanan ini adalah pemberian dari Allah. Allah berikan yang namanya Iman ini karena adanya keinginan dan usaha seseorang atas Hidayah atau Keimanan. Iman inilah yang memberikan kekuatan pada seseorang untuk dapat mengamalkan agama secara sempurna. Iman ini adalah seperti ruh pada jasad, ruh ini tidak nampak, tetapi mampu menghidupkan jasad manusia untuk bergerak. Dan Iman ini akan datang melalui pengorbanan seseorang atas Iman. Melalui pengorbanan inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik sahabat agar datang kepada mereka keimanan yang sempurna untuk dapat menerima dan mentaati seluruh perintah-perintah Allah. Pendidikan Keimanan yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat ini berlangsung selama 13 tahun sebelum perintah sholat turun. Hari ini mengapa orang susah sholat, ini dikarenakan belum adanya kesiapan atas keimanan mereka untuk menerima perintah-perintah Allah.
Kesempurnaan keimanan sahabat mampu membawa mereka ketingkat keyakinan bahwa ada harta tidak ada harta tidak ada masalah. Hari ini ummat karena kekurangan harta maka mereka berlaku anarkis, merusak, bahkan menjadi liar melebihi liarnya binatang. Beda dengan jaman sahabat, mereka mampu berkeyakinan bahwa harta yang mereka miliki tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah. Sehingga orang seperti Abu Bakar radhiyallahu anhu mampu menyerahkan seluruh hartanya uintuk agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam rumahnya sangat kecil, sangking kecilnya ketika hendak sholat saja harus menyingkirkan kaki Aisyah radhiyallahu anha. Pernah dapur nabi tidak mengepul asap selama 2 bulan berarti selama itu dirumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kekasih Allah tidak terdapat makanan. Pakaiannya hanya 2 helai saja dan makannnya dari roti gandum yang kasar yang untuk merngunyahnya saja harus menggunakan minyak samin agar lunak. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengeluh, bahkan setiap pulang selalu mengucapkan, “Bayyiti Jannati..” yaitu rumahku surgaku. Begitu juga ketika Allah menawarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi Nabi yang kaya tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menolaknya dan lebih memilih amalan sehari lapar dan sehari kenyang karena ketika lapar bisa bersabar dan ketika kenyang bisa bersyukur. Inilah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya yaitu mencari kebahagiaan dan kenikmatan dengan amal bukan kebendaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam faham dibalik amal ini ada pertolongan Allah untuk segala masalah.
Pertanyaannya sekarang adalah : “apakah itu mungkin mencari kenikmatan dan ketenangan hidup lewat amal walaupun keadaan kita susah ?” jawabnya mungkin dan bisa karena memang sudah ada buktinya dan contohnya yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat radhiyallahu anhum. Ini dikarenakan tingkat keimanan pada level tertentu mampu mendatangkan kenikmatan walaupun dalam keadaan susah. Inilah yang didakwahkan oleh para Nabi alaihis salam, Sahabat radhiyallahu anhum, Tabi’in, dan para ulama yaitu bagaimana umat bisa sampai pada derajat Iman yang sudah tidak terkesan pada keadaan baik miskin atau kaya, menang atau kalah, sehat atau sakit. Bagi orang yang sudah sampai pada derajat keimanan seperti itu, mereka hanya terkesan pada perintah Allah saja. Apa perintah Allah pada diri mereka pada saat itu, inilah yang menjadi prioritas orang-orang yang sudah sampai pada kesempurnaan Iman.
Jika keimanan sudah wujud dalam kehidupan umat, maka kehidupan umat akan sendirinya terperbaiki seperti kehidupan sahabat yang tadinya jahil menjadi kehidupan yang mulia. Bahkan Sahabat yang tadinya jahil asbab keimanan mereka maka kehidupan mereka menjadi percontohan ummat dan menjadi pusat peradaban manusia sedunia. Jika Iman sudah wujud dalam diri ummat, maka yang namanya tingkat kejahatan akan menurun, kehidupan sosial manusia akan membaik, ekonomi akan membaik, dan lain-lain. Ini semua asbab adanya perbaikan keimanan. Jika Iman baik, maka amal akan meningkat, akhlaq manusia akan membaik, perbuatan maksiat dari mencuri, berzina, mabuk-mabukan, penganiayaan, kerusakan akan berkurang. Suasana inilah yang perlu kita semua wujudkan, dengan Iman yang benar, manusia akan terhindar dari prilaku anarkis dan vandalisme. Langkah pertama untuk mendatangkan keimanan ini adalah dengan mengorbankan sedikit harta dan waktu kita untuk Khuruj Fissabillillah, pergi di jalan Allah, semampu kita. Tertib keluar dijalan Allah sekurang-kurangnya 3 hari setiap bulan, 40 hari setaip tahun dan 4 bulan seumur hidup.

Allah berfirman :
لَنْ تَنالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَ ما تُنْفِقُوا مِنْ شَيْ‏ءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَليمٌ
Artinya : “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaikan (Iman) yang sempurna, sebelum kamu menginfakkan (korbankan) sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya ” (QS Ali Imran 3 : 92 ).
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (mahfum) :
Artinya : “Tidak sempurna Iman kamu sebelum engkau mencintai aku melebihi perkara-perkara yang kamu cinta dari anak kamu, istri kamu, harta kamu, perdagangan kamu, kedua orang tuamu, bahkan dirimu sendiri.” (Al Hadits )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar