Pages

Senin, 11 Juni 2012

14. CARA ABUBAKAR RADHIYALLAHU ANHU MENYELESAIKAN MASALAH UMMAT DENGAN DAKWAH

Khuruj Fi Sabilillah
 
Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat ketika itu terjadi goncangan hebat didalam ummat islam. Banyak masalah bermunculan yang harus dihadapi ummat islam ketika itu :
1. Orang murtad dimana-mana
2. Orang islam tidak mau membayar zakat
3. Nabi-nabi palsu bermunculan
4. Musuh Islam di luar madinah sudah siap menyerang ummat islam.
Ketika itu kira-kira 1 minggu, 7 hari saja, sahabat-sahabat di kota Madinah semuanya buntu, tidak mempunyai jalan keluar atau solusi. Orang-orang di Madinah hanya memikirkan bagaimana nasib orang-orang islam dan siapa yang akan menggantikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini saja kesibukan sahabat selama seminggu. Asbab kefakuman sahabat ini, tidak ada fikir untuk agama, maka tidak ada lagi yang keluar di jalan Allah, semua rombongan tertunda. Akibatnya ketika itu karena tidak ada fikir agama adalah 100.000 orang islam menjadi murtad. Satu minggu saja sahabat ini vakum dari dakwah, dari keluar di jalan Allah, walaupun di jaman itu hidup ulama-ulama besar dan sahabat-sahabat yang besar dan kuat, 100.000 orang murtad dari islam. Lalu Nabi palsu bermunculan, dan tentara Romawi sudah sampai di perbatasan siap masuk ke Madinah untuk menghancurkan ummat islam.
Setelah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dilantik menjadi khalifah, bagaimana cara Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyelesaikan  masalah ini. Keputusan pertama yang dibuat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah segara mengirimkan rombongan yang tertunda pergi di jalan Allah, yaitu yang telah dibentuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memutuskan untuk mengirim seluruh orang beriman yang laki-laki untuk keluar di jalan Allah semuanya. Para sahabat bingung dengan keputusan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Mereka memikirkan jika semua laki-laki keluar dijalan Allah, maka siapa yang akan menjaga madinah dari musuh, siapa yang akan menjaga ummul mukminin dan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan suara lantang berkata, “Kalian tetap keluar di jalan Allah, nanti Allah yang akan menjaga semuanya.” Ketika itu yang orang-orang fikirkan adalah keselamatan orang-orang islamnya, padahal yang harus dirisaukan adalah bagaimana menyelamatkan agamanya terlebih dahulu. Inilah yang difikirkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Inilah perbedaan fikir yang mencolok antara satu orang sahabat ini melawan fikir sahabat-sahabat yang lain. Disini ada perbedaan pendapat diantara sahabat yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya.
Ketika itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yakin sepenuhnya jika kita menolong agamaNya, maka Allah pasti akan menolong mereka. Jika kita keluar di jalan Allah untuk melaksanakan perintah Allah, maka pasti Allah akan tolong kita. Jadi keputusan Abu Bakar ini untuk mengeluarkan seluruh laki-laki ke luar madinah di jalan Allah ini sungguh tidak masuk diakal bagi sahabat yang lainnya. Apalagi ketika itu hewan-hewan buas bisa masuk kapan saja memangsa wanita dan anak-anak di Madinah, jika semua laki-lakinya keluar dari Madinah. Secara logika laki-laki yang ada seharusnya dibagi menjadi dua yaitu yang menjaga dalam kota dan yang menjaga diluar kota atau yang pergi di jalan Allah. Tetapi disini Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu justru menyuruh laki-lakinya untuk semuanya keluar, pergi di jalan Allah.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyelesaikan masalah dengan menggunakan 2 prinsip :

1.  Prinsip Taqwa :
“Saya tidak rela agama berkurang di jaman kekhalifahan saya ini walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat di leher hewan qurban.”
à   Takwa ini maksudnya adalah Sempurna Amal. Jadi atas dasar prinsip ini, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak rela dijamannya agama ini berkurang sedikitpun walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher hewan korban. Fikirnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ini adalah bagaimana agama dapat sempurna diamalkan oleh umat islam ketika itu. Inilah prinsip yang digunakan untuk menghadapi orang-orang islam yang tidak mau membayar zakat. Jadi mereka diancam akan diberantas jika mereka tidak mau membayar zakat.

2.  Prinsip Tawakkul :
“Keluarkan semua laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Nanti biar Allah yang menjaga Ummul mukminin, keluarga nabi dan wanita-wanita di madinah.”
à   Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lebih rela melihat keluarga Nabi dalam bahaya, dibanding  harus melihat agama dalam bahaya. Jadi bagi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, derajat Agama ini lebih utama dibanding keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummat islam itu sendiri. Agama lebih penting untuk diselamatkan dibandingkan ummat itu sendiri. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, mengirimkan semua laki-laki keluar dijalan Allah dan berserah diri kepada Allah atas keadaan di Madinah inilah Tawakkalnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Prinsip ini yang digunakan untuk menghadapi orang murtad, nabi palsu, dan musuh islam yang mau menyerang madinah dari luar.
Disinilah terdapat 2 perbedaan pemikiran dan menyangkut kepada masalah keimanan. Dimana Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yakin jika semua pergi di jalan Allah mendakwahkan agama Allah, maka nanti Allah akan selesaikan semua masalah : orang murtad, nabi palsu, yang tidak mau bayar zakat, dan pasukan romawi yang sudah siap menyerang.
Hanya dalam waktu tempo 3 hari saja setelah semua pergi di jalan Allah akhirnya masalah terselesaikan : Madinah tetap aman, 100.000 orang murtad masuk islam lagi, orang membayar zakat lagi, Nabi palsu dapat ditumpas, dan Pasukan Romawi mundur.
Jadi risaunya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu  ini adalah Islamnya atau Agamanya dulu, bukan orang-orang Islamnya. Hari ini ada pemikiran seperti yang terjadi ketika sahabat berbeda pendapat dahulu. Sekarang kebanyakan kita ini risaunya adalah orang-orang islamnya, seperti orang islam ada yang dibunuh, diperkosa, diperangi, hak-haknya dirampas, kekurangan makan, miskin keadaannya, pengungsi-pengungsi, ini boleh saja. Tetapi seharusnya yang lebih penting lagi adalah risau atas islamnya. Akibat islamnya tidak dijaga, sehingga Allah tidak menjaga ummat islam. Ini karena islam itu sendiri sudah diacuhkan oleh orang islam.
Kita lihat hari ini orang islam kebanyakan tidak shalat, masjid kosong. Shalat berjamaah di masjid sudah tidak diacuhkan oleh umat saati ini. Lalu sunnah-sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah ditinggalkan oleh orang islam, bahkan dianggap aneh bagi yang mengamalkannya. Kehidupan orang islam sudah seperti kehidupan orang yahudi dan nasrani, tidak ada bedanya dengan cara-cara atau kehidupan orang kafir, sulit dibedakan mana yang beriman dan mana yang kafir. Semua kehidupan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah ditinggalkan oleh ummat islam itu sendiri. Tetapi begitu terjadi musibah, semua orang berpikir sama, “Apa dosa saya ? Kenapa ini bisa terjadi, musibah seperti ini ? Kenapa Allah tidak tolong kita ?”. Ummat islam diusir, dibunuh, dijajah, diperkosa hak-haknya, tetapi fikirnya hanya diri mereka sendiri saja (“Apa dosa saya ?”). Padahal jemaah-jemaah dakwah sudah datang mengajak kepada sunnah, kembali kepada amal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, amalkan islam, taat pada perintah Allah. Walaupun perkara-perkara ini sudah didengar berkali-kali, tetapi tetap saja sama tidak ada peningkatan amal. Ditaskil, diminta untuk keluar di jalan Allah tidak mau, maka itulah akibatnya, musibah banyak datang. Tetapi fikirnya “Apa dosa saya ?”. Islamnya sudah kita tinggalin, kita acuhkan, tetapi ketika musibah tiba-tiba datang tidak terpikir amal-amal kita yang buruk, bahkan bertanya, “Kenapa Allah tinggalkan kita ? kenapa Allah tidak tolong kita ?”
Inilah sifat manusia, ketika senang mereka beramai-ramai meninggalkan perintah Allah, melupakan Allah, tidak mempedulikan kehendakNya. Tetapi ketika musibah datang baru nangis-nangis kepada Allah minta ditolong. Sudah menjadi sifat manusia hanya ingat kepada Allah dikala susah dan suka melupakan Allah dikala senang. Bahkan ketika kesusahan itu datang bisanya hanya merengek minta tolong tetapi tidak mau memikirkan apa yang Allah kehendaki atas dirinya saat itu dan tidak mau memikirkan kekurangan atau keburukan amal yang telah dia perbuat. Orang seperti ini bagaimana do’anya mau di dengar oleh Allah ? Jadi kalau mau masalah ummat selesai, kirimkan rombongan untuk pergi di jalan Allah sebanyak-banyaknya secara bergiliran. Nanti Allah akan selesaikan masalah yang ada pada ummat ini sebagaimana Allah selesaikan masalah yang terjadi pada kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu  .

Mudzakaroh “Learning By Doing” – Belajar dengan Beramal
Hari ini banyak orang yang membicarakan tentang pengorbanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhu  untuk agama. Namun masalahnya pada hari ini tidak semua orang yang mengerti dan memahami maksud dan kepentingan dari pengorbanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum tersebut. Ini disebabkan karena kita tidak melakukan pengorbanan yang sama seperti mereka. Untuk bisa merasakan pengorbanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Sahabat dalam memperjuangkan agama maka kita harus ikuti napak tilas mereka. Seperti pelatih renang dan orang yang baru mau belajar berenang. Walaupun si pelatih ini juara dunia dan juara olimpiade renang dan ahli dalam menjelaskan tentang air dan teknik renang kepada muridnya, tetapi jika si murid renang ini tidak terjun ke air maka dia tidak akan mampu memahami apa yang dikatakan dan dijelaskan gurunya. Tetapi jika si murid sudah terjun ke air, maka dia akan tau apa yang dirasakan dan dimaksud gurunya. Semakin dicoba dan diusahakan semakin mengerti dia akan penjelasan gurunya, sampai pada akhirnya dia bisa berenang bahkan menjadi sehebat gurunya. Ini karena si murid tersebut sudah merasakannya langsung pengorbanan gurunya ketika berada di dalam air.
Begitu juga mengapa hari ini umat sangat jauh dari agama, sehingga yang tinggal hanya pengetahuan atau teori saja, bangunan-bangunan saja, tulisan-tulisan saja, ini dikarenakan umat tidak dilibatkan dalam pengorbanan untuk agama sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melibatkan para sahabat dalam pengorbanan untuk agama. Sehingga hari ini umat hanya tahu saja tetapi tidak ada kefahaman dan kerisauan terhadap agama.
Tujuan dari keluar di jalan Allah itu sendiri sebagai individu adalah dalam rangka islah atau perbaikan diri, sebagaimana trainingnya atau latihannya seorang tentara yang dikirim ke barak untuk peningkatan qualitas. Ketika tentara ini balik ke barak maka dia akan di evaluasi kekurangannya dan akan menjalankan traning atau latihan-latihan kembali dalam rangka meningkatkan kualitas. Sehingga ketika tentara balik ke medan pertempuran  maka kemampuan dan kesiapannya akan menjadi lebih tambah baik lagi. Jadi kita perlu mengembalikan umat islam ini kepada baraknya agar bisa dilatih kembali dan ditingkatkan qualitasnya. Namun hari ini permasalaannya ummat hari ini sedang terjangkit penyakit lemah Iman. Asbab lemah Iman ini ummat tidak ada gairah atau tidak ada kekuatan untuk memperbaiki diri, atau meningkatkan amal ibadah. Maka untuk mengobati lemah iman ini perlu perawatan khusus. Ibarat orang sakit maka mesjid ini adalah rumah sakitnya orang beriman agar orang beriman ini dapat terperbaiki Iman dan Hatinya. Jika kita sakit badan maka kita bisa pergi ke dokter dan tinggal di rumah sakit. Tetapi rusaknya hati atau iman ini hanya Allah yang bisa memperbaiki yaitu di rumah sakitnya orang beriman, di mesjid. Jika mesjid tempat pabriknya perbaikan untuk orang beriman sudah tidak digunakan lagi, maka bisa dijamin bahwa kehidupan ummat saat ini sudah terjangkit banyak penyakit hati dan penyakit iman.
Mengapa diri kita bisa terperbaiki dengan keluar di jalan Allah ? Dengan keluar di jalan Allah maka kita akan mempunyai waktu khusus untuk memperbaiki keimanan dan amaliat kita. Kita keluar di jalan Allah ini adalah latihan meninggalkan perkara-perkara yang kita cintai sebagaimana sahabat telah meninggalkan perkara-perkara yang mereka cintai demi agama Allah. Dengan demikian akan terbentuk dalam diri kita keyakinan bahwa bukan kitalah yang memelihara keluarga kita tetapi Allah lah yang memelihara keluarga kita. Dengan keluar di jalan Allah kita akan mendapatkan kefahaman dan perasaan yang dirasakan oleh sahabat ketika mereka berkorban untuk agama di jalan Allah sampai tidak ada lagi yang bisa mereka korbankan untuk agama Allah.
Semakin bertambah pengorbanan kita maka akan semakin bertambah pemahaman kita atas pengorbanan sahabat untuk agama Allah. Sampai pada akhirnya kecintaan pada agama akan timbul, ketaqwaan dalam menjalankan perintah Allah akan meningkat, dan kehidupan agama kita, keluarga kita, kerabat kita, tetangga kita, akan terperbaiki. Dengan keluar di jalan Allah kita akan mendapatkan banyak pelajaran seperti dari bertemu dengan ulama-ulama untuk mendapatkan pengajaran dari mereka, berteman dengan orang-orang sholeh, menambah pertemanan, meningkatkan ilmu dan wawasan, menambah pengalaman, merasakan napak tilas nabi dan sahabat sehingga wujud didalam diri kita kecintaan sahabat pada agama, kerisauan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap ummat, dan lain-lain.

Da’i ini hanya mempunyai 2 keadaan saja :
1.  Maqomi
2.  Khuruj Fissabillillah
Khuruj Fissabillillah atau Keluar di Jalan Allah ada 2 cara :
1.  Nishab  à  Waktu Keluar yang di istiqomahkan
2.  Takaza  à  Pembentangan Kepentingan Agama
Namun untuk dapat menggerakkan ummat ke arah kebaikan ini diperlukan risau dan fikir yang sungguh-sungguh, sebagaimana risau dan fikir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu juga dalam menyiapkan Ummat ini diperlukan sifat-sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Sahabat. Para Sahabat ini dimuliakan oleh Allah karena memiliki sifat-sifat dan qualitas-qualitas yang Allah sukai. Jika kita bisa mendapatkan qualitas atau sifat ini, maka kemuliaan yang Allah berikan kepada para Sahabat radhiyallahu ‘anhum, juga akan Allah berikan kepada kita. Sifat, Risau, dan Fikir ini akan datang melalui keadaan-keadaan mujahaddah atas agama, pengalaman berjuang untuk agama.
Bagaiaman cara mendapatkan Sifat, Risau, dan Fikir ini :
1. Pergi Khuruj Fissabillillah ( Keluar di jalan Allah )
2. Membuat Amal Maqomi
Inilah kepentingan kita bawa fikir ketika kita pergi di jalan Allah :
1.  Bagaimana diri kita bisa terperbaiki atau meningkat qualitasnya
2.  Bagaimana Amal Maqami dapat wujud di masjid yang dikunjungi
3.  Bagaimana rombongan dari mesjid itu bisa keluar di jalan Allah
Sedangkan maksudnya Dakwah ini adalah untuk memenuhi takaza ( pembentangan atau penawaran kerja agama ) yang ada, bukan nishab ( waktu yang di istiqomahkan untuk keluar ) saja. Jika waktunya nishab tetapi datang takaza, maka tinggalkan nishab untuk memenuhi takaza. Sahabat-sahabat radhiyallahu ‘anhum menurut ulama, nishab harian mereka itu 12 jam untuk agama, sisanya buat selain agama. Sahabat meluangkan waktu mereka untuk mesjid itu 12 jam, sedangkan takazanya mereka 24 jam, kapan saja diminta mereka siap tinggalkan semua. Jadi sahabat ini nishab 12 jam, sedangkan kesiapan mereka untuk ditaskil ( dipanggil ) memenuhi takaza, yaitu 24 jam. Jadi dengan gerak yang dilakukan seperti sahabat ini maka Allah akan tolong ummat islam. Maksud daripada Dakwah ini adalah memenuhi takaza, dimana daerah yang belum islam, dimana daerah yang belum mengucapkan syahadat, dimana daerah yang belum dimasuki jemaah, dimana daerah yang belum hidup amal mesjid Nabawi ? kita siap berangkat kapan saja. Keadaan sahabat itu seperti itu, siap kapan saja berangkat ketika dibentangkan takaza.
Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman :
“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”
Keadaannya di jaman Nabi ini beda dengan kita, ketika itu para sahabat selalu dalam keadaan siap mengambil takaza lagi dan lagi. Sekali tasykil sahabat itu lamanya mereka pergi di jalan Allah adalah 4 bulan full, yaitu di jaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika mereka pulang dari ambil takaza, ternyata ada takaza lagi, sehingga mereka berangkat lagi 4 bulan di jalan Allah. Inilah kehidupan sahabat dalam memenuhi takaza agama. Dalam setahun berarti sahabat ini 8 bulan di jalan Allah dan hanya 4 bulan saja tinggal di kampungnya. Sahabat ini 4 bulan dikampungnya adalah 2 bulan untuk masjid, dan sisanya 2 bulan lagi adalah 1 bulan di rumah bersama keluarga dan 1 bulan (24 jam x 30 hari = waktu sahabat di pasar / di sawah selama 1 tahun) lagi untuk buat kerja yang mampu memenuhi keperluan untuk 1 tahun.
Allah telah ringkaskan buat sahabat kerja untuk 1 tahun dapat dilakukan dalam 1 bulan saja. Ini karena apa ? ini adalah berkat amalan dakwah sehingga kehidupan sahabat ini penuh dengan keberkahan. Sedangkan kita kini kerja satu tahun tidak cukup untuk satu bulan, berbeda dengan keberkahan yang didapat oleh para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah yang terjadi jika ummat telah meninggalkan kerja dakwah ini, maka Allah akan cabut keberkahan rizki dari kehidupan ummat. Kalau ummat islam ini kembali kepada amalan dakwah, sibuknya mengambil takaza, maka kerja 3 hari saja bisa mencukupi kerja satu bulan. Tetapi jika ummat islam sibuk mengurusi dunia saja, tinggalkan amalan dakwah, tidak mau mengambil takaza agama, maka kerja 1 bulan tidak bisa mencukupi keperluan 3 hari, tidak ada keberkahan. Ini semuanya karena manusia sudah melecehkan Allah dan perjuangan untuk agama Allah. Padahal semua rezki itu datang dari Allah, dan sedangkan syetan itu hanya menakut-nakuti kita.
Allah berfirman :
“Inna syaithon ya adzikumul fakro waya’murukum bil fahsya…”
artinya : “Setan itu menakut-nakuti kamu dengan kefakiran.”
Setan akan membisikkan :  “Kalau kamu korban, ambil takaza lagi, lalu ambil takaza lagi, maka miskin kamu nantinya. Bangkrut nanti usaha kamu. Terlantar nanti rumah tangga kamu.” Masalahnya hari ini kita lebih percaya pada perkataan syetan dibanding percaya pada perkataan Allah. Sedangkan Allah menjanjikan kepada yang pergi di jalan Allah ampunan dan keuntungan-keuntungan.
Keuntungan Dunia-Akherat  :
1. Keuntungan dunia           à   Rizki yang berkah
2. Keuntungan Akherat      à      Ampunan ( masuk surganya Allah )
Allah berfirman :
وَ الَّذينَ آمَنُوا وَ هاجَرُوا وَ جاهَدُوا في‏ سَبيلِ اللَّهِ وَ الَّذينَ آوَوْا وَ نَصَرُوا أُولئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَ رِزْقٌ كَريمٌ
“Walladziina’aamanuu wahaajaruu wajaahaduu fiissabillillaahi walladziina awaw wa nasharuu ulaaika humul mukminuuna haqqan lahum maghfirotuw warizqun kariim.” (QS Al Anfal 8 : 74 )
Artinya : Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah ( Muhajjir ) serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman ( Anshar ) dan memberi pertolongan (kerja sama antara Muhajjir dan Anshar / orang tempatan), mereka itulah orang-orang yang beriman  dengan Haq ( yang benar-benar beriman ). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.”
Keadaan dalam kerja dakwah ini hanya 2 saja :
1.  Muhajjir   à    orang-orang yang Hijrah untuk agama Allah
2.  Anshar   à  orang-orang yang Nushroh (memberi pertolongan)
Orang yang melakukan 2 keadaan ini, merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenarnya, Iman yang Haq. Apa yang Allah ganjarkan untuk mereka ? Allah akan ampuni dosa-dosa mereka dan Allah akan berikan mereka rizki yang mulia. Siapa bilang orang yang dakwah akan menjadi miskin ? Sedangkan Allah mengatakan akan memberikan ampunan dan rizki yang mulia lagi. Bagaimana datangnya rizki yang mulia ? itu adalah kerjanya Allah, bukan kerjanya kita. Sedangkan kerja kita :
1.  Buat Amalan Dakwah à Maqomi dan Intiqoli (Khuruj Fissabillillah)
2.  Nusroh  à   Menolong para Muhajjirin / Pendatang
Kita jangan memikirkan kerjanya Allah. Allah itu Maha Tahu bagaimana cara mendatangkan rizki yang mulia itu. Kerja Dakwah ini bukan kerja yang susah, tetapi kerja yang sangat mudah. Saking mudahnya dapat diberikan dan dibawa oleh semua orang dari yang Raja, yang jelata, yang cendikia, yang tidak pernah sekolah, yang tua, yang muda, yang miskin, yang kaya, yang ulama, yang awam, yang sehat, dan yang sakit  sekalipun. Lalu bagaimana caranya ? mudah saja, yaitu ngikut saja, ikutin saja programnya. Dengan cara ikut-ikutan saja, mengikuti jalan ini, maka dia akan faham dan mengerti maksudnya.

Contoh :
Seperti di kampung, ketika seseorang belajar bagaimana menanam padi. Dia tidak dikasih kuliah ama petani, atau dimasukin ke kampus pertanian. Bagaimana cara nyangkul, cara menggaruk, cara menyebar benih, cara menanam, cara membersihkannya, cara mengatur air, ini tidak ada kuliahnya sama sekali. Lalu bagaimana cara belajarnya ? yaitu dengan mengikuti bapak kita atau petani ke sawah, belajar langsung dengan mengikuti apa yang mereka lakukan di sawah. Belajar langsung dengan pengamalannya, “Learning by Doing”.
Bapak pagi-pagi bangun habis shalat bawa cangkul langsung ke sawah, maka kitapun demikian juga bawa cangkul ke sawah. Bapak mencangkul disawah, kita lihat sebentar, lalu kita ikut nyangkul. Ini caranya, ikutin saja, amalkan saja, lama-lama mahir juga, lama-lama faham juga, karena sehari-hari begitu saja kerjanya maka lama-kelamaanpun jadi bisa. Tanpa kuliah, tanpa masuk keperguruan tinggi, seseorang bisa langsung menjadi petani. Sekarang kalau kita lihat orang-orang yang lulus dari perguruan tinggi bidang pertanian, dengan gelar professor, doktor, ahli pertanian, yang nanam padi juga bukan mereka, tetapi menanam orang kampung juga, para petani lapangan lansung yang tidak pernah sekolah. Yang mengirim beras ke kota itu siapa ? yang mengirim beras kepada orang-orang pintar di kota itu adalah orang bodoh-bodoh juga dari desa yang mengirimkannya. Justru beras datangnya dari mereka yang tidak pernah kuliah dikirim kepada ahli-ahli pertanian yang kuliah.
Ashabul Kahfi adalah satu rombongan pemuda yang risau terhadap iman, dan bagaimana menyelamatkan Iman. Mereka bermusyawarah, mengambil keputusan untuk melarikan diri dari kemaksiatan yang ada. Mereka hijrah ke gunung, dan kehutan-hutan. Mereka mengambil keputusan tidak mau mati dikampungnya demi menyelamatkan iman mereka. Dalam perjalanan ikutlah seekor anjing, karena ngikut saja, mengekor perjalanan pemuda ashabul kahfi ini, maka anjingpun Allah selamatkan juga.
Pemuda-pemuda ini adalah mereka yang cinta pada Allah dan cinta kepada Iman. Mereka ini risau atas keselamatan iman mereka. Sehingga mereka buat keputusan bahwa mereka harus pergi dari kampung mereka, menjauhi suasana kemaksiatan, dan tinggal di goa. Atas fikir mereka ini, maka Allah selamatkan mereka. Sedangkan anjing yang cuman ngikut-ngikut mereka saja, Allah selamatkan juga. Inilah keberkahan dengan mengikuti jejak langkah orang yang pergi di jalan Allah untuk menyelamatkan Iman.
Anjing ini binatang najis, dan tidak berakal, tidak mengerti apa-apa, tetapi karena dia ngikut saja, maka selamat juga. Ketika pemuda itu berjalan, si anjing berjalan juga. Ketika si pemuda berhenti, si anjing berhenti. Ketika pemuda-pemuda itu masuk ke dalam goa, si anjingpun ikut-ikutan masuk juga. Ketika para pemuda itu tidur, maka si anjingpun ikut tidur. Akhirnya ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun. Anjing Ashabul Kahfi ini adalah satu-satunya anjing yang masuk surga. Kalau anjing saja ikut pergi dijalan Allah diselamatkan, apalagi kita yang beriman mau keluar di jalan Allah.
Sedangkan kita ini ummat yang da’i, modal kita bukan tinggal dihutan, masuk kegoa mengucilkan diri, tidur disana, kita ini bukan yang seperti itu. Kita bukan lari dari tempat yang penuh dengan kemungkaran dan kemaksiatan, bahkan kita tetap berada ditempat yang seperti itu dengan buat kerja untuk merubah tempat itu menjadi tempat yang penuh dengan ketaatan kepada Allah. Nanti Allah akan tolong kita dan selamatkan kita. Sedangkan orang-orang yang ikut-ikut kitapun juga akan Allah selamatkan, walaupun tidak mengerti apa-apa, tidak pernah ke madrasah, tidak bisa ngaji, Insyaallah akan diselamatkan juga. Jadi kerja ini sangat mudah, ikut saja dengan rombongan, lalu ikutin amalannya, seperti anjingnya ashabul kahfi yang Allah selamatkan juga. Jika anjing yang mengikuti ahli ibadah saja selamat, apalagi anjing yang mengikutin para ahlul dakwah.

Mudzakaroh Pentingnya Memakmurkan Mesjid
Nabi shallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan kita warning, peringatan, kepada kita dalam mafhum hadits dikatakan nanti di akhir zaman jika kita tidak buat dakwah, maka akan terjadi :
1. Tidak tertinggal dari Islam melainkan hanya sekedar nama saja
    à Hari ini di KTP orang Indonesia banyak yang menyatakan agamanya Islam tetapi kelakuan dan kehidupannya jauh dari yang dicontohkan Nabi shallahu ‘alaihi wasallam
2. Tidak tertinggal dari Al Qur’an hanya sekedar tulisannya saja
    à Hari ini berapa banyak masjid yang ramai dari ukiran-ukiran kaligrafi Al Qur’an tetapi kosong dari amal agama mesjidnya.
3. Tidak tertinggal dari masjid melainkan hanya bangunan-bangunan megah saja
    à Hari ini orang berlomba-lomba membangun masjid tetapi tidak memikirkan bagaimana memakmurkannya, sehingga masjidnya kosong dari jemaah.
Hari ini masjid banyak dimana-mana tetapi kosong dari amal agama. Di Kordova, Spanyol, Mesjid Kordova pernah menjadi pusat perkembangan Islam di dunia, namun kini telah menjadi pusat pariwisata, bahkan didalamnya terdapat gereja. Ini asbab ditinggalkannya Dakwah sehinggah fungsi mesjid telah hilang dan orang tidak ada lagi yang peduli dengan masjid.
Di Indonesia saja ada ± 300.000 masjid, dan di jakarta berapa banyak masjid mewah dan megah. Namun berapa banyak mesjid yang 5 waktu orang ramai shalat berjamaah. Dan berapa banyak yang sudah makmur hidup dengan Amalan mesjid Nabawi ?
Hari ini orang ke masjid bukan bertambah keimanannya, tetapi malah makin rusak seperti dipakai untuk berbisnis, membicarakan aib orang lain, dipakai sebagai sarana untuk politik, hujat menghujat orang lain.  Hari ini di Masjid bukan terlihat suasana akherat tetapi  malah suasana maksiat kepada Allah seperti wanita yang memakai pakaian yang terlihat auratnya. Padahal di jaman Nabi, ketika orang kafir masuk mesjid ke mesjid Nabi, setelah keluar telah bisa menjadi orang beriman.
Di zaman Nabi shallahu ‘alaihi wasallam setiap ada masalah bisa langsung ke masjid, lalu pulang-pulang masalah bisa terselesaikan dan hati bisa tenang. Beda kita hari ini, orang kafir ke mesjid malah dipakai foto-foto untuk pariwisata, dan ketika orang Islam ke mesjid bukannya hilang masalah malah tambah masalah, seperti ditagih sumbanganlah, musti berpihak pada siapalah dan lain-lain. Mengapa hari ini kita lihat orang ke masjid buat melaksanakan ibadah tetapi ketika keluar dari mesjid masih terus bermaksiat dan tidak berhenti dari berbuat dosa. Padahal Masjid ini Allah perintahkan dibangun atas dasar Taqwa, Takut kepada Allah. Tetapi mengapa ketaqwaan kita tidak bertambah ketika kita masuk ke masjid. Ini dikarenakan masjid tersebut tidak mempunyai ruh. Apa itu ruh dari mesjid yaitu amal-amal agama, dan inilah yang dibentuk oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dimesjid Nabawi yaitu membuat Amal Mesjid.
Apa itu Amal Masjid Nabawi yaitu Dakwah, Taklim, Dzikir Ibadah, dan Khidmat. Sehingga orang yang tadinya kafir masuk ke masjid nabawi keluar-keluar sudah masuk Islam. Ini dikarenakan di mesjid hidup amal-amal agama. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam itu sendiri adalah Ketua Masjid pertama, Awallun Takmir Masjid, yang kerjanya memikirkan bagaimana Masjid Nabawi ini dan masjid-masjid kecil disekitar Madinah bisa makmur dengan jemaah dan amal-amal agama.
Caranya adalah dengan mengirimkan rombongan Dakwah dan menerima rombongan orang-orang yang mau belajar agama. Inilah fikir Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, bahkan ketika hijrah ke madinah yang Nabi shallahu ‘alaihi wasallam fikirkan pertama kali bukannya tempat tinggal untuk dirinya, dimana keluarga dia tinggal, tetapi bagaimana mesjid dapat berdiri. Di sekitar Madinah ini ada mesjid-mesjid kecil dimana Nabi shallahu ‘alaihi wasallam mengirim rombongan dakwah ke mesjid-mesjid itu dan menerima rombongan atau perorangan dari mesjid-mesjid itu buat belajar agama kepada beliau shallahu ‘alaihi wasallam.
Madinah sebelum Islam masuk merupakan kota yang tidak kalah Jahilnya dari Mekkah. Di Madinah ketika islam belum masuk terdapat banyak sekali rumah-rumah perjudian, pelacuran, bahkan orang-orangnya bisa dibilang Jahil dan Barbar. Namun asbab dihidupkannya Dakwah dari Mesjid Madinah oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, ini seperti cahaya yang menerangi kegelapan. Jadi bagaimana kita bisa menghilangkan kegelapan, maka perlu kita hadirkan amalan nuraniat, atau amalan yang dapat menghadirkan nur cahaya dari Allah. Jika cahaya masuk kegelapan pasti hilang. Sehingga lambat laun rumah-rumah yang mempunyai bendera putih atau lambang kemaksiatan ketika itu perlahan-lahan lenyap dari kota madinah asbab dakwahnya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Lalu penduduknya menjadi orang-orang yang Allah muliakan dan kotanya diberi gelar Al Munawaroh yaitu tempat terpancarnya Cahaya atau Hidayah.
Begitu juga kalau kita sering ke masjid, maka sepulangnya kita dari mesjid, kita akan menjadi sarana untuk menghantarkan nur rahmat dan hidayah Allah kepada rumah-rumah kita. Masjid ini adalah pusat turunnya rahmat dan nur hidayah Allah. Jadi Masjid ini adalah generatornya Nur Hidayah dan kita adalah kendaraannya untuk menyebar Nur Hidayah tersebut. Jika generatornya mati, maka matilah sarana penyebar rahmat dan hidayah. Bagaimana caranya kita bisa memakmurkan atau menghidupkan mesjid ? yaitu dengan menghidupkan amalan-amalan mesjid Nabi shallahu ‘alaihi wasallam.
Apa itu Amal Masjid Nabawi :
1.  Dakwah Illallah
à Mengajak manusia taat kepada Allah
2.  Taklim wa Taklum
à Belajar dan Mengajar
3.  Dzikir Ibadah
     à Dzikir, Baca Qur’an, Sholat berjamaah, Do’a, Sholat Sunnat, Adab-adab
4.  Khidmat
     à Melayani Mesjid dan Memenuhi Hajat Orang
Masjid ini adalah jantung dari suatu kota atau desa atau daerah. Jika masjidnya baik dalam artian hidup amal-amal agama seperti amal masjid Nabawi, maka baiklah daerah itu. Tetapi jika masjidnya mati, gersang dari jemaah dan amal-amal agama, berarti matilah daerah itu, maksudnya daerah itu bisa di asumsikan terdapat banyak masalah.
Masjid yang hidup dengan amal agama dan ramai jemaahnya, maka daerahnya akan makmur, seperti hidup sillaturhami, ukhuwah yang baik, rukun, tentram, dan damai. Setiap ada masalah maka dapat diselesaikan oleh jemaah masjid itu melalui musyawarah, sillaturahmi, dan gotong royong. Tetapi daerah yang masjidnya mati dari amal agama dan sepi dari jemaah, maka daerahnya akan timbul banyak masalah seperti permusuhan antar tetangga, ketidak pedulian sosial, dan kejahatan akan berkembang dari premanisme, perjudian, permabukan, sampai perzinaan akan tersebar di daerah itu. Dan ini adalah suatu kenyataan yang terjadi dibanyak daerah.
Jika yang haq tidak ditegakkan dan disebar, maka yang bathil akan masuk dan tersebar. Jika tidak ada dakwah atas yang haq maka dakwah yang bathil akan masuk. Apa itu dakwah yang bathil yaitu ajakan untuk berjudi, membeli minuman keras, dan lain-lain, secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi.
Penting saat ini kita fikirkan bagaimana masjid-masjid yang ada ini dapat makmur dengan amal agama. Allah perintahkan pada kita di dalam Al Qur’an untuk memakmurkan masjid-masjid Allah bukan hanya satu tetapi setiap orang memakmurkan banyak masjid.
إِنَّما يَعْمُرُ مَساجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ...
 “Innama ya’muru masajidallahu man amanna billahi wal yaumil akhir…”
Artinya : Hanyalah yang memakmurkan mesjid- mesjid Allah ialah orang- orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian...” (QS At Taubah 9:17).
Dari masjid ini kebaikan akan tersebar. Hidupkan dakwah dari mesjid maka nanti Allah akan perbaiki keadaan umat. Jika setiap dari kita ini sungguh-sungguh dalam dakwah maka nanti Allah akan perbaiki amal-amal kita.
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ قُولُوا قَوْلاً سَديداً  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكُمْ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ فَقَدْ فازَ فَوْزاً عَظيماً
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (qoulan sadida), niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amal- amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.(QS Al Ahzab 33 : 70-71 ).
Apa itu perkataan yang benar atau Qoulan Sadida yang bisa memperbaiki amal-amal ibadah kita dan menjadi asbab ampunan terhadap dosa kita ? Allah berfirman :
وَ مَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعا إِلَى اللَّهِ وَ عَمِلَ صالِحاً وَ قالَ إِنَّني‏ مِنَ الْمُسْلِمين
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak untuk taat kepada Allah mengerjakan amal yang saleh dan berkata:" Sesungguhnya aku termasuk orang- orang yang berserah diri"  (QS Fushshilat  41 : 33 ).
(dakwah à waman Ahsanu Qoulan mimman da’a Illallah)”
Jadi kita ajak orang kepada Allah bukan kepada figur, kepada organisasi, kepada partai, kepada harta benda, tetapi hanya kepada Allah. Sedangkan segala sesuatu selain Allah ini adalah dunia atau mahluk. Hari ini orang saling ajak mengajak kepada golongannya, ini malah akan memecah belah islam. Seperti firqoh-firqoh atau aliran-aliran yang ada, mereka mengajak orang kepada golongannya masing-masing. Apa yang mereka lakukan adalah membenarkan firqoh mereka dan menyalahkan yang lain sehingga terpecah belah semuanya. Jika ummat sudah terpecah belah maka pertolongan Allah tidak akan turun, dan jika umat sudah saling menghujat maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah.
Pada hakekatnya, yang benar itu hanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya saja, itulah yang seharusnya jadi acuan kita, bukan alirannya. Kalau ditanya siapa yang paling benar, jawab saja yang paling benar itu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat RA, cukup itu saja. Kita ikuti saja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat sadhiyallahu ‘anhum, yaitu mereka yang sudah jelas-jelas ada jaminannya dari Allah. Bukan aliran kita, atau aliran saya, atau guru saya, atau pendapat saya yang bener, tetapi yang bener itu hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Jadi bagaimana semua aliran yang ada sama-sama bahu membahu bersatu bersama memikul tanggung jawab dakwah ini. Jangan sampai perbedaan yang ada malah membuahkan perpecahan antar umat dan terhalangnya umat dari tanggung jawab meneruskan risalat kenabian. Tetapi jadikan perbedaan ini sebagai rahmat dan wacana keilmuan untuk dipelajari.
Pernah dalam suatu riwayat tentang 2 pimpinan Islam terbesar di Indonesia yaitu Buya Hamka dari Muhammadiyah dan KH. Idham Khalid dari Nahdlatul Ulama pergi Haji bersama. Ketika shalat subuh hari pertama maka KH Idham Khalid memimpin shalat subuh berjamaah sebagai Imam. Ketika itu KH Idham Khalid menyadari dibelakangnya ada Buya Hamka dari Muhammadiyah yang menganut faham sholat subuh tanpa Qunut. Walaupun KH Idham Khalid adalah dari NU yang menganut Qunut ketika subuh, tetapi ketika itu malah melakukan sholat subuh tanpa Qunut seperti Muhammadiyah. Hari esoknya, ketika Buya Hamka menjadi Imam Subuh, beliau menyadari dibelakangnya ada KH Idham Khalid dari NU yang memakai Qunut ketika subuh, maka ketika itu beliau memilih melakukan Subuh tidak seperti biasanya ala muhammadiyah tetapi ala NU yaitu dengan menggunakan Qunut.
Inilah toleransi dan akhlaq yang baik yang dicontohkan oleh 2 ulama besar dalam menghadapi perbedaan. Bukannya kita malah saling menyalahkan atau saling menghujat dengan keyakinan, “saya yang paling benar”. Kebenaran itu pada hakekatnya hanya Allah yang tau, dan siapa yang paling benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Selama dia mengakui Allah dan Rasulnya maka mereka saudara kita. Jangan kita pernah merasa menjadi yang paling baik dan paling benar karena ini sifatnya setan. Posisikan diri kita sebagai orang yang ingin menambah ilmunya, dengan demikian kita akan siap menerima perbedaan. Inilah maksud dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa perbedaan diantara umatku ini adalah Rahmat. Sedangkan yang bukan rahmat dan mendatangkan Laknat adalah jika perbedaan menjadi perpecahan dan permusuhan.

Perhatian :
Jadi kerja dakwah ini adalah kerja untuk seluruh umat islam. Inilah tanggung jawab ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penerus risalat kenabian. Atas perkara ini perlu kita keluar di jalan Allah untuk bisa melatih diri kita menghidupkan Amal Mesjid Nabawi dari latihan 3 hari, 40 hari sampai, 4 bulan, tergantung kesiapannya. Inilah salah satu tujuan kita keluar di jalan Allah bagaimana masjid-masjid yang didatangi oleh rombongan khuruj fissabillillah dapat hidup amal-amal masjid Nabawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar