Pages

Rabu, 12 Desember 2012

98. BACAAN DI DALAM SHALAT

 
http://www.riaupos.co.id/thumb/foto/perang-dan-shalat.jpg


Shalat adalah ibadah yang diwajibkan Allah bagi umat Islam, 5 kali dalam sehari semalam. Shalat yang dilakukan dengan tepat, benar dan khusyu’ memberikan efek positip bagi jasmani dan rohani seseorang. Sebaliknya shalat yang dilakukan tidak dengan tepat dan benar , tidak akan memberikan efek yang berarti bagi jasmani maupun rohani yang bersangkutan. Karena pentingnya khusyu’ dalam shalat, maka perlu kita mengusahakan bagaimana shalat kita betul-betul dilaksanakan shalat secara khusyu’. Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita bahwa : “Yang pertama-tama diangkat dari ummat ini ialah khusyu’ sehingga tidak terlihat seorangpun (yang melaksanakan shalat) yang khusyu’.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Shalat yang khusyu’ adalah shalat yang dilakukan dengan sungguh sunguh penuh kesadaran dalam rangka mengabdi pada Allah. Shalat adalah sarana komunikasi antara seorang hamba dengan Khaliknya. Shalat adalah merupakan kebutuhan manusia kepada Allah. Orang yang khusyu’ berdialog dengan Allah didalam shalatnya mengadukan berbagai masalah dan persoalan yang dihadapinya. Shalat adalah sarana untuk beridialog yang disediakan Allah bagi seorang hamba yang membutuhkanNya. Karena itu Allah melarang seseorang mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk, hingga ia mengerti setiap kalimat yang diucapkannya didalam shalat, sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,….(QS. An Nisa : 43)

Seseorang akan mendapatkan hasil dari kualitas shalat yang dikerjakan. Amar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya seseorang yang selesai dari shalatnya ia tidak mendapatkan pahala kecuali hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga dan seperdua shalatnya itu”  (HR. Abu Dawud).

Hadits diatas menggambarkan kondisi shalat yang dilakukan oleh setiap orang sehingga hasilnya berbeda-beda disebabkan karena tingkat kekhusukan yang berbeda pula. Allah menilai shalat seseorang dari kekhusukannya, banyak orang yang mengerjakan shalat namun dilakukan hanya sekedar memenuhi kewajiban dan dilaksanakan tidak dengan khusyu’. Allah mengingatkan dalam salah satu hadits Qudsi :

Allah ‘Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku.” “Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajahnya lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. BagiKu dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya.” (HR. Ad-Dailami)

Pelaksanaan shalat melibatkan unsur dhahir (jasmani) dan unsur bathin (rohani). Unsur dhahir seperti sikap tubuh, gerakan dan bacaan shalat adalah unsur fisik yang bisa diamati dengan panca indra. Unsur bathin seperti fikiran dan hati adalah unsur kegiatan shalat yang tidak bisa diamati dengan panca indra. Bagian dhahir dari orang yang shalat dapat diamati dengan panca indra sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut ini:

Dari Ummi Ruman radhiyallahu ‘anha, ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : ”Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melihat aku ketika aku shalat, kadang kadang aku berdiri condong kekiri, kadang kadang kekanan (melihat hal itu) maka Abu bakar radhiyallahu ‘anhu menghardikku dengan keras sehingga hampir saja aku membatalkan shalatku. Lalu beliau berkata “ Aku dengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Jika seseorang berdiri dalam shalat maka ia harus mendiamkan dengan menjaga anggota badannya jangan sampai bergerak gerak seperti bergeraknya orang Yahudi. Karena berdiam tanpa bergerak gerak dalam shalat termasuk kesempurnaan shalat”. (HR. Hakim dan Tirmidzi)

Allah menjanjikan kemenangan, keberuntungan dan kejayaan bagi orang yang khusyu’ dalam shalatnya sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mukminun ayat 1-2.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”.

Untuk memperbaiki mutu shalat dibutuhkan latihan yang serius dan sungguh sunguh. Merubah suatu kebiasaan yang sudah dikerjakan selama bertahun tahun bukanlah perkara mudah. Kita tidak akan bisa melakukan shalat khusyu’ hanya dengan belajar dan berlatih selama satu hari saja. Kita harus melatih unsur dhahir dan bathin kita untuk melakukan shalat dengan khusyu’. Bagaimana melakukan gerakan shalat dengan tenang, tertib dan tidak tergesa gesa. Bagaimana menikmati setiap gerakan shalat dengan tenang dan relaks. Bagaimana mensinkronkan fikiran dan hati agar fokus pada bacaan yang dibaca dalam shalat. Semua itu butuh latihan yang serius dan sungguh sungguh. Kita bisa saja mengikuti latihan shalat khusuk satu atau dua hari. Namun itu baru sebatas penguasaan ilmunya saja. Untuk dapat melakukan shalat dengan khusyu’ dan benar kita harus melatih ilmu yang sudah didapat itu dengan sungguh sungguh. 
 

Berikut ini latihan membaca bacaan di dalam shalat dan memahami artinya.

Bacaan di dalam shalat adalah sebagai berikut :

Takbiratul Ihram

اللهُ اَكْبَرْ

Allaahu akbar

Artinya : Allah Maha Besar

Do’a iftitah atau do’a pembukaan, yaitu :

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَّالْحَمْـُدِللهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِىْ فَطَرَالسَّمَواَتِ واَلْاَرْضَ حَنِيْفًامُّسْلِماًوَّمَااَناَمِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلاَتِىْ وَنُسُكِىْ وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِـيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ اُمِرْتُ وَاَناَمِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wanusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahuu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Artinya : “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesarannya, sebanyak puji-pujian itu bagi Allah. Maha suci Allah pada pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku dengan sebaik-baiknya kehadirat Allah yang menjadikan tujuh lapis langit dan bumi, hal keadaanku tetap beragama islam dan aku bukanlah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku bagi Allah Tuhan yang memiliki sekalian alam, tiada sekutu baginya dan aku adalah dari golongan orang muslimin.”

اَللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَاياَيَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ  اَللَّهُمَّ نَقِّنِىْ مِنَ الْخَطَاياَ كَماَ يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ  اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَاياَيَ باِلْماَءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

Allaahumma baa’id bainii wabaina khataayaa-ya kamaa ba‘adta bainal masyriqi wal maghrib. Allaahumma naqqinii minal khataayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanas.  Allaahummaghsil khataayaa-ya bil maa-i wats-tsalji walbarad.

Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan di antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.”

Surat Fatihah, yaitu :

أَعُوْذُ بِاِللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A-‘uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim

 Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ . مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ . اَمِيْـنَ

Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. ihdinashshiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin. Aamiin.

Artinya : “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memiliki sekalian alam. Raja yang menguasai hari pembalasan. Kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas diri mereka, dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai atas diri mereka dan bukan jalan mereka yang telah sesat. Perkenankanlah permohonan kami.”

Membaca Ayat dalam al qur’an.

Misalnya surat Al Ikhlas :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Bismillaahir rahmaanir rahiim. Qulhuwallaahu ahad. Allaahushshamad. Lamyalid walamyuulad walam yakullahuu kufuwan ahad.

Artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah bahwa Allah itu Esa. Allah tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada seorangpun yang menyerupai Dia.”

Surat Al Falaq

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ . قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Bismillaahir rahmaanir rahiim. Qul a-'uudzu birabbil falaq. Minn syarri maa khalaq. Waminn syarri ghaasiqin idzaa waqab. Waminn syarrinn naffaatsaati fiil 'uqad. Waminn syarri haasidin idzaa hasad.

Artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Surat An Nas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ . قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Bismillaahir rahmaanir rahiim. Qul a-'uudzu birabbinn naas. Malikinn naas. Ilaahinn naas. Minn syarril waswaasil khan naas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurinn naas. Minal jinnati wann naas.

Artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Rob/yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia, dari golongan jin dan manusia.”

Tasbih dalam ruku’ :

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيـْمِ وَبِحَمْدِهِ ×3

Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdihi 3x.

Artinya : “Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan dengan segala puji-pujiannya.”

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى

Subhaanaka allaahuma rabbanaa wabihamdika allaahumaghfirlii.

Artinya: “Segala puji bagi-Mu, Ya Allah Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu yan Allah ampunilah aku”.

I’tidal :

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . رَبَّنـَالَكَ الْحَمْدُمِلْءُالسَّمَوَاتِ وَمِلْءُالْاَرْضِ وَمِلْءُمَاشِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Sami’allaahu liman hamidah. Rabbanaa lakal hamdu, mil-us samaawaati wamil-ul ardhi wamil-umaa syi’ta minn syai-im ba’du.

Artinya : “Mendengarlah Allah dari orang yang memujinya. Wahai Tuhan kami, bagi Engkau segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki dari sesuatu sesudah itu.”

رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Rabbanaa walakalhamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi.

Artinya : “Ya Tuhan kami, (hanya) untukMu lah (segala) pujian yang banyak, baik, dan diberkahi padanya ”.

Tasbih dalam sujud :

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلاَعْلَى وَبِحَمْدِهِ ×3

Subhaana rabbiyal-a’laa wabihamdihi 3x.

Artinya : “Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan segala puji bagiNya.”

Do’a antara dua sujud :

رَبِّ اغْفِرْلِىْ وَارْحَمْنِىْ وَاجْبُرْنِىْ وَارْفَعْنِىْ وَارْزُقْنِىْ وَاهْدِنِىْ وَعَافِنِىْ وَاعْـفُ عَنِّىْ

Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa ‘aafinii wa’fu’annii.

Artinya : “Ya Tuhanku ampunilah dosaku, kasihanilah aku, cukupilah aku, angkat derajatku, berilah aku rizki, pimpinlah/ tunjukilah aku, sehatkanlah aku dan ma’afkanlah kesalahanku.”

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى

Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii.

Artinya : “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rizki untukku”.

Tasyahhud awal :

اَلتَّحِيّـَاتُ الْمُـبَاركَاَتُ الصَّلَوَاتُ الطَّـيِّبَاتُ للهِ اَلسّـَلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَاالنَّبِىُّ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَركَاَتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْناَ وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيـْنَ اَشْهَدُاَنْ لَااِلـَهَ اِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَـيِّدِنَامُحَمَّدٍ

Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Artinya : “Segala kehormatan, berkah, shalawat/rahmat dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan keselamatan tetap terlimpahkan kepada engkau wahai Nabi, demikian pula rahmat dan berkah Allah. Dan mudah-mudahan keselamatan juga dilimpahkan kepada kita semua dan kepada hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah berikanlah rahmat kepada junjungan kita nabi Muhammad saw. Dan juga kepada keluarga junjungan kita nabi Muhammad saw.”

اَلتَّحِيَّاتُ لِلّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّباَتُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهاَ النَّبِيُّ  وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْناَ وَعَلَى عِباَدِاللهِ الصَّالِحِيْنَ.  أَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 Attahiyyaatu lillaahi washshalawaatu waththayyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh. Assalaamu’alainaa wa’ala ‘ibaadillaahi shshaalihiin. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah waasyhadu annamuhammadan ‘abduhu warasuuluh.

Artinya : “Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah kepunyaan Allah, Semoga keselamatan bagi Engkau, ya Nabi Muhammad, beserta rahmat dan kebahagiaan Allah. Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya”.

Tasyahhud akhir :

اَلتَّحِيّـَاتُ الْمُـبَاركَاَتُ الصَّلَوَاتُ الطَّـيِّبَاتُ للهِ اَلسّـَلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَاالنَّبِىُّ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَركَاَتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْناَ وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيـْنَ اَشْهَدُاَنْ لَااِلـَهَ اِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَـيِّدِنَامُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْـمَ وَعَلَى اَلِ سَيّـِدِنَااِبْرَاهِيـْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيـْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيـْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad. Kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahiim. Wabaarik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad. Kamaa baarakta ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidina Ibraahiim. Fil ‘aalmiina innaka hamiidum majiid.

Artinya : "Segala kehormatan, berkah, shalawat/rahmat dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan keselamatan tetap terlimpahkan kepada engkau wahai Nabi, demikian pula rahmat dan berkah Allah. Dan mudah-mudahan keselamatan juga dilimpahkan kepada kita semua dan kepada hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah berikanlah rahmat kepada junjungan kita nabi Muhammad saw. Dan juga kepada keluarga junjungan kita nabi Muhammad saw. Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada junjungan kita nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berikanlah berkah kepada junjungan kita nabi Muhammad dan kepada keluarganya. Sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada junjungan kita nabi Ibrahim dan kepada keluarganya. Di seluruh alam sesungguhnya Engkau adalah maha terpuji lagi termulia."

Catatan :
Pada waktu membaca laa ilaaha illallaah, jari telunjuk kanan kita diacungkan ke depan.

اَللّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَوَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْياَ وَالْمَمَاتِ, وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannam. Wamin ‘adzaabil qobri. Wamin fitnatil mahyaa walmamaati. Wamin syarri fitnatil masiihiddadjaal.

Artinya : “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari siksa jahannam dan siksa kubur, begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari jahatnya fitnah dajjal (pengembara yang dusta)”.



Salam :

اَلسَّـلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah.

Artinya : “Keselamatan semoga tetap atas kamu semua, demikian pula rahmat Allah.”

CARA MENEGUR IMAM

Caranya ma’mum menegur imam atas kekeliruan yang ada di dalam shalat adalah sebagai berikut : Bagi laki-laki membaca tasbih سُبْحَانَ اللهِ (Subhaanallah)

Bagi perempuan memukulkan tapak tangan kanannya ke atas belakang tangan kirinya.

DO’A QUNUT

أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ, وَقِنِيْ بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ, وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ,وَلاَيَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ, فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَاقَضَيْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ, وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ.

Allaahummahdinii fiiman hadaiit. Wa’aafinii fiiman ‘aafaiit. Watawallanii fiiman tawallaiit. Wabaariklii fiimaa a’thaiit. Waqinii birahmatika syarramaa qadhaiit.fainnaka taqdhii walaa yuqdhaa ‘alaiik. Wainnahuu laayadzillu man walaiit. Walaa ya’izzu man ‘aadaiit. Tabaarakta rabbanaa wata’aalaiit. Falakalhamdu ‘alaa maaqadhaiit. Astaghfiruka wa atuubu ilaiik. Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadinin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi washahbihi wabaaraka wasallam.

Artinya : “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau tunjukkan. Dan sehatkanlah kami sebagaimana orang yang telah Engkau sehatkan. Dan kasihanilah kami sebagaimana orang yang telah Engkau kasihi. Dan berilah berkah kepada kami dalam rizki yang telah Engkau berikan. Dan jagalah kami dari kejelekan taqdir yang telah Engkau tentukan. Sesungguhnya Engkaulah yang dapat menentukan dan bukannya yang ditentukan. Sesungguhnya tidak akan merasa hina orang yang telah Engkau beri pertolongan. Dan tidak akan merasa mulia orang yang Engkau musuhi. Maha suci Engkau, ya Tuhan kami dan Engkau Maha Tinggi pula. Bagimu adalah segenap puji atau segala sesuatu yang telah Engkau tentukan. Aku mohon ampun dan bertaubat kepadaMu. Semoga Allah tetap mengaruniai rahmat kepada nabi Muhammad, yakni nabi yang ummi dan kepada segenap keluarga serta sahabatnya dan Allah juga memberikan keberkahan dan keselamatan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar