Pages

Jumat, 24 Januari 2014

198. TERSENYUMLAH !!! SENYUM ITU SEDEKAH 1

SENYUM ITU SEDEKAH
Semua orang pasti pernah tersenyum. Senyum adalah bagian dari gerak tubuh yang diekspresikan secara alamiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukan rasa senang, gembira, dan suka cita dengan mengembangkan bagian bibir sedikit.
Senyum merupakan ekspresi positif. Dengan tersenyum seseorang memberi kesan baik kepada orang lain. Terkecuali jika senyum itu diungkapkan dengan terpaksa. Memberi senyum merupakan kebaikan. Sebab dengan begitu ia menyenangkan orang lain. Pahalanya sama dengan seperti bersedekah. Itu sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senang tersenyum kepada orang lain.
Jarir bin abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita “Sejak aku masuk Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya, beliau selalu tersenyum kepadaku. (HR Bukhari). Nabi senantiasa mengekspresikan mukanya dengan senyum. Nabi juga mengajarkan kepada kita untuk berlemah lembut, sebab lemah lembut merupakan rahmat dari Allah.
Memang tersenyum merupakan hal sederhana. Banyak orang menyepelekannya. Padahal senyum kepada orang lain mengandung banyak manfaat.  Tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi orang yang melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah kamu keremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim).
Menyembuhkan Penyakit
Dari segi kesehatan, tersenyum sangat positif. Orang tersenyum akan memperoleh banyak manfaat untuk kesehatan tubuh dan kejiwaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membuktikan nya. Kondisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa sehat. Salah satu resepnya karena Nabi murah senyum ketika berinteraksi dengan keluarga maupun para sahabat.
Menurut penelitian senyum bisa memperdayai tubuh, sehingga perasaan bisa berubah. Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang di sekitar pasti ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia.
Senyum menghilangkan gejala stress. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan dan sedih. Senyum membuat sistem imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang rileks. Senyum juga membuat kita awet muda. Di samping itu juga senyum membuat kita terlihat sukses. Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dan bisa diandalkan.
Seorang dokter, Mark Stibich, Ph.D. menulis artikel tentang senyum di sebuah media di Amerika. Menurut dia senyum membuat orang lebih menarik. Orang banyak senyum punya daya tarik. Hal ini juga bisa membuat perasaan orang di sekitar nyaman dan senang. Sebaliknya orang yang cemberut, merengut, mengerutkan kening dan menyeringai membuat orang di sekitarnya menjadi tidak nyaman. Dipastikan orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman. Senyum juga bisa mengubah perasaan. Jika kita sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan mebuat perasaan menjadi lebih baik.
Senyum yang dianjurkan nabi adalah senyum yang tulus dan ikhlas. Ketulusan dan keikhlasan itu penting, sebab disitulah nilai pahala itu tersimpan. Senyum yang tulus itu hukumnya sunnah. Sama seperti sedekah. Tapi jika senyum diungkapkan secara terpaksa, maka akan bernilai lain. Sesuatu yang baik akan berubah menjadi jelek, bahkan dibenci Allah.
Senyum yang terpaksa bisa mengandung unsur kebohongan. Senyuman dibuat buat dan tidak jujur. Senyuman seperti ini bagian dari sifat munafik. Allah sangat membenci orang yang munafik. Salah satu cirinya adalah ia tersenyum namun sebenarnya benci kepada orang yang ia senyumi.
Senyum yang mengandung nilai sedekah adalah senyum yang tulus, ikhlas, tidak anipulative dan bertujuan menyenangkan orang lain. Ketika orang senang, ia ikut senang. Seperti itulah orang mukmin sejati,

Indahnya Bila Tersenyum

“Senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah. (al-hadits)
Kutipan hadits di atas adalah satu dari sekian riwayat Rasulullah
shallahu ‘alaihi wasallam tentang faedah senyum. Di antaranya, sebagai tips hidup bahagia, sikap manis dan ramah termasuk bisa menghapus dosa. Dan wajah yang berseri – seri juga termasuk akhlak yang baik, berkata Ibnu Mubarak : “Akhlak yang baik adalah wajah yang berseri-seri, menebarkan kebaikan dan tidak suka mengganggu.” Agar wajah berseri – seri mesti senyum kan??
Akhir – akhir ini di negara kita tercinta, senyuman sudah menjadi barang langka. Padahal, negara kita sudah di kenal sebagai orang-orang yang murah senyum. Kira-kira kenapa kok bisa berubah menjadi kecemberutan, bermuka sinis gitu yaa? Mmm..Mungkin bangsa kita ini memandang suatu persoalan secara emosional. Kalau begitu, tidak heran muncul kebencian, perseteruan tak pernah selesai. Padahal, dengan senyum persoalan yang cukup rumit pun bisa di selesaikan dengan baik. Tak perlu cemberut atau marah-marah ndak jelas. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya, “Kamu tidak akan pernah meraih simpati orang lain dengan harta benda yang kau miliki, tetapi kamu bisa menarik simpati orang dengan wajah ceria (senyum) dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la dan Baihaqi).
Di riwayatkan pula oleh Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah di tanya bagaimana sikap Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam jika di rumah. Di jawab, “Beliau orang yang paling lembut, murah senyum dan suka tertawa.” (HR. Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir).
MANFAAT SENYUM
Mm, ada sebuah penelitian bahwa senyum akan membawa energi bahagia pada tubuh. Ini sesuai dengan Teory Facial Feed Back Hypothesis yang di kemukakan oleh ahli di Amerika Serikat. Yaitu oleh Laird dan kawan-kawan. Selain Laird, Darwin dan Hodkinson juga menerangkan tentang terapi senyum. Unik memang. Berikut kesimpulannya, Ketika seseorang tersenyum otomatis otot Zygomatic mayor akan bergerak. Otot ini menarik sudut bibir ke atas sampai ke tulang pipi, akibatnya aliran darah ke otak meningkat. Walhasil, semua sel dan jaringan tubuh menerima oksigen, lalu menumbuhkan perasaan lepas dan bahagia. Subhaanallaah!!!
Satu lagi, tersenyum membutuhkan kordinasi 26 macam otot yang ada di wajah, sedang untuk merengut di butuhkan 62 macam otot kerutan. Sebab itu kenapa jika kita merengut 62 otot wajah kita yang di kencangkan sedang jika tersenyum 26 otot wajah yang di kendurkan. Jadi tersenyum juga menyehatkan bukan? Wajah murung bìsa cerah dengan senyuman saja. Ajaib bukan. Kita bisa lebih tenang dan siap mengobati perih di setiap hari kita. Kata orang murah senyum bisa awet muda. Ada juga yang mengatakan kalau senyum adalah obat panjang umur. Senyum juga bisa menebarkan rasa sayang pada saudara kita. Menjadi motifasi hidup, dan untuk menjadi simbol untuk berta’awun (tolong menolong) dalam kebaikan. Sekarang ayo budayakan senyum kepada saudara-saudara kita tapi jangan senyum-senyum sendiri 0k! Oya, jangan juga senyum yang bisa membawa fitnah. Mesti di jaga. Jangan keluar dari koridor syar’i. Sudah ngerti kan?? 0ya, kalau ada yang mau nambahin silahkan.
Hadits-hadits Mengenai Tersenyum
1. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu (HR at-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dll, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi).
Hadits selengkapnya, dari Abu Dzarr radhiyallahu ’anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. Tirmidzi)
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim.
2. Hadits pada di atas semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria(HR. Muslim, no. 2626).
3. Hadits di atas juga dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat yang mulia, Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku. (HR. al-Bukhari (no. 5739) dan Muslim (no. 2475)).
4. Aisyah radhiyallahu ’anha mengungkapkan, ”Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bersama istri-istrinya merupakan seorang suami yang paling luwes dan semulia-mulia manusia yang dipenuhi dengan gelak tawa dan senyum simpul.” (HR. Ibnu Asakir)
5. Aisyah radhiyallahu ’anha bercerita, “Tidak pernah saya melihat Raulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. al-Bukhari)
6. Diriwayatkan oleh At-TirmidziAl-Husein radhiyallahu ’anhu, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata, ”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan kita, betapa hal kecil yang sering kita anggap sepele dan kita abaikan, ternyata memiliki nilai yang berharga dalam pandangan agama.
7. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ad-Dailamy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak : tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi munkar, menyingkirkan penghalang (duri atau batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”
8. Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i radhiyallahu ’anhu, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi)
9. Jabir bin Samurah radhiyallahu ’anhu berkata, ia menceritakan tentang kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Beliau biasanya tidak berdiri dari tempat shalat di mana beliau shalat shubuh padanya kecuali setelah terbit matahari. Apabila matahari telah terbit barulah beliau berdiri. Sementara itu para sahabat bercakap-cakap membicarakan kejadian di masa jahiliyah, lalu mereka tertawa, sedangkan beliau hanya tersenyum. (HR. Muslim).
Mungkin kita sering berpikir bahwa sedekah itu berkaitan erat dengan harta benda seperti pemberian uang, pakaian, atau apa pun yang bisa langsung dinikmati penerima dalam bentuk materi. Hal itu juga mungkin yang ada dalam pikiran para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka sangat gelisah kemudian mempertanyakannya.
Karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan satu hari pun berlalu tanpa dirinya terlibat dalam kegiatan bersedekah. Di antara keistimewaan sedekah adalah menolak bala (musibah).
Dari Sayyid Ali Ar-Ridha, dari Sayyid Ja’far Ash-Shadiq, dari Sayyid Ali Zainal Abidin, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sedekah itu dapat menghindarkan diri dari kematian yang tidak baik, menjaga diri dari tujuh puluh macam bencana.”
Rasulullah Tersenyum Melihat Abu Bakar Dicaci Dan Dihina
Dengan kemuliaan dan kesempurnaan akhlak dan jiwanya, apabila Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dihina atau dicaci baginda tidak membalas sedikitpun, sama ada dengan perkataan mahupun tindakan. Baginda lebih memilih berdiam atau tersenyum kepada orang yang menyakitinya itu.
Oleh karena itu, ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam melihat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dicaci dan dihina oleh seorang lelaki dan tidak membalasnya, Rasulullah tersenyum melihatnya. Namun begitu, Abu Bakar pernah juga terpancing emosinya dan membalas caciannya, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam langsung pergi dari tempat tersebut.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan seperti berikut : Suatu ketika, dengan tiba-tiba ada seorang lelaki datang memaki dan menghina Abu Bakar. Pada ketika itu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk tidak jauh dari tempat Abu Bakar. Baginda melihat dengan heran dan tersenyum dengan sikap Abu Bakar yang tidak membalasnya. Kemudian ketika lelaki itu memaki di luar batas dan sangat menyakitkan, Abu Bakar terpancing untuk membalas dan menjawab seperlunya. Pada ketika itulah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam langsung pergi meninggalkan mereka. Maka ketika melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pergi, Abu Bakar segera mengikutinya.”
Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, lelaki itu telah memakiku sedang engkau tetap saja duduk. Namun ketika aku membalas sebagian perkataannya engkau langsung pergi."
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu : "Sebenarnya pada waktu itu sudah ada malaikat yang membalasnya. Apabila engkau membalas caciannya, maka syaitan pun hadir. Dengarlah wahai Abu Bakar, ada tiga perkara yang seluruhnya benar :
1.    "Tidak ada seorang hamba yang dianiaya, lalu ia memaafkan karena Allah, melainkan Allah akan memuliakan dengan pertolonganNya"
2.    "Tidak ada seorang lelaki pun yang membuka pintu pemberian dengan maksud untuk memelihara hubungan, melainkan Allah akan menambah pemberian itu hingga berlipat ganda"
3.    "Tidak ada seorang lelaki yang meminta-minta dengan maksud memperbanyak harta, melainkan Allah akan menguranginya"
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad)
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan menjawab tidaklah bertentangan denga syara, namun Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam lebih suka melihat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersikap diam dan tidak menjawab cacian orang itu. Karena sikap seperti ini merupakan cerminan daripada keluhuran budi pekerti dan akhlak yang mulia.
Rasulullah Tersenyum Pada Suapan Terakhir
Terkadang Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tertawa geli melihat tingkahlaku sahabatnya yang berbuat sesuatu tanpa berdasarkan kepada ilmu, atau melakukannya mengikut kehendak sendiri saja. Meskipun perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan syara, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tidak langsung memarahinya melainkan hanya menegurnya dengan bercanda.
Sikap ini pernah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam lakukan ketika mengingatkan seseorang yang makan tanpa membaca "Bismillahirrahmanirrahim" terlebih dahulu. Ketika itu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk dekat salah seorang sahabat yang sedang makan. Karena itu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tidak mendengar sahabat itu membaca basmallah saat akan memasukkan makanan. Namun ketika suapan terakhir, barulah sahabat itu membaca "Bismillah fi Awwalihi wa Akhirihi" (Dengan nama Allah di permulaan dan di akhirnya).
Mendengar ucapan tersebut, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam hanya tersenyum, lalu berkata: "Tadi syaitan ikut makan bersama dia, tetapi setelah dia menyebut nama Allah, maka syaitan pun takut dan memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya."
Rasulullah Tersenyum Pada Hari Terakhir
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tersenyum ketika melihat Abu Bakar mengimami shalat berjamaah saat baginda shallahu ‘alaihi wasallam sakit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Peristiwa itu terjadi pada hari Senin, yaitu hari wafatnya baginda shallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu baginda keluar dan memandang orang banyak yang sedang menunaikan shalat Subuh. Baginda shallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan bertakbir, membuka pintu kemudian berdiri di pintu rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Kaum Muslimin yang sedang mengerjakan shalat itu hampir saja terganggu saat menyaksikan baginda shallahu ‘alaihi wasallam sebagai luapan perasaan mereka. Lalu Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepada mereka agar mereka meneruskan shalat. Melihat sikap mereka seperti itu ketika dalam mengerjakan shalat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam hanya tersenyum : "Aku belum pernah melihat sikap orang yang shalat sangat rapi dan sangat baik seperti saat ini."
Setelah selesai shalat, kaum Muslimin pulang ke rumah masing-masing. Mereka menyangka bahawa baginda shallahu ‘alaihi wasallam telah sembuh dari sakitnya. Begitu juga dengan Abu Bakar yang menjadi imam menggantikan baginda. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kemudian pulang ke ruman yang letaknya tidak begitu jau dari Madinah.
Tidak lama kemudian, sampailah berita duka yang sangat mengejutkan kaum Muslimin yaitu wafatnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.

Dan Allah pun tersenyum melihat hambanya

Pada penjelasan sebelumnya telah diterangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala, tersenyum dengan perbuatan hamba-hambaNya. Ustadz Taufik Ali Zabady, dalam bukunya yang berjudul “Hatta Yadhhaka Allah Lana” menjelaskan beberapa amalan yang dapat membuat Allah tersenyum. Salah satu perbuatan yang dapat membuat Allah subhanahu wa ta’ala, tersenyum kepada hambaNya adalah ketika seseorang menyerbu pasukan musuh. Allahu Akbar!
Dari Ibnu Ishaq, aku diberitahu Ashim bin Umar bin Qatadah, dia berkata, ketika dua pasukan saling berhadapan pada perang Badar, Auf bin Afra’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat Rabb Tabaraka wa Ta’ala tersenyum karena hamba-Nya?”
Beliau menjawab, “Ketika Dia melihatnya menerjunkan diri dalam peperangan, dia bertempur tanpa mengenakan baju besinya.”
Maka Auf bin Afra’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu langsung melepas baju besinya, lalu merangsek ke depan, bertempur hingga terbunuh. (Sunan Al-Baihaqi, Kitab As-Siyar)
Ath-Thabrany mentakhrij dalam Al-Majma’ Al-Kabir, dengan isnad dari Abu Darda Auf bin Afra’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Ada tiga golongan yang Allah mencintai mereka dan Dia tersenyum kepada mereka serta menyampaikan kabar gembira tentang mereka, yaitu :
(Pertama), apabila pasukan musuh sudah tersingkap, lalu dia bertempur sendirian di belakangnya, entah dia terbunuh atau Allah memberikan kemenangan kepadanya serta melindunginya. Maka Allah berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku itu, bagaimana dia bersabar dengan mengorbankan dirinya karena Aku.
(Kedua), orang yang memiliki istri yang cantik dan tempat tidur yang empuk lagi bagus, lalu dia bangun dari sebagian waktu malam. Maka Allah berfirman, ‘Dia meninggalkan syahwatnya dan menyebut nama-Ku. Sekiranya dia menghendaki, tentu dia sudah tidur.’
(Ketiga), orang yang ikut dalam rombongan dalam suatu perjalanan. Dia memiliki hewan tunggangan, ketika orang-orang tidur malam dan lelap, maka dia bangun pada waktu sahur, dalam keadaan susah atau gembira. (HR. Ath-Thabrani dalam Majma’ Az Zawa’id, 2/255)
Menyerbu Pasukan Musuh, Bukan Menjerumuskan Kepada Kebinasaan
Abu Daud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan lain-lainnya meriwayatkan dari Abu Imran, dia berkata, “Kami berada di sebuah kota yang diduduki Romawi. Mereka mengerahkan satu pasukan besar untuk menghadapi kami. Maka orang-orang Muslim keluar seperti jumlah mereka atau bahkan lebih banyak. Yang memimpin pasukan Mesir adalah Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, yang memimpin golongan lainnya adalah Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu.
Tiba-tiba dari tengah pasukan muncul seseorang yang langsung menyerbu sendirian ke tengah pasukan Romawi. Maka orang-orang pun berteriak sambil mengucapkan, “Subhanallah, Dia telah menyeret dirinya kepada kebinasaan.”
Mendengar hal itu, Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Wahai manusia, kalian mempunyai penafsiran seperti itu. Dahulu pernah turun satu ayat kepada kami orang-orang Anshar, ketika Allah telah memuliakan kami dengan Islam dan banyak para pendukungnya. Pada waktu itu diantara kami saling berbisik-bisik sembunyi-sembunyi tanpa didengar Rasulullah SAW, “Sesungguhnya harta kami sudah lenyap. Sementara Allah telah memuliakan kita dengan Islam dan banyak pendukungnya.” Ketika kami lebih banyak mengurusi harta benda yang dahulu pernah habis, maka Allah menurunkan ayat yang mengembalikan apa yang dahulu pernah kami ucapkan, “Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah : 195). Kebinasaan yang dimaksud di sini ialah banyak mengurusi harta dan mengembangkannya, lalu kami tinggalkan peperangan.”Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu terus-menerus berjihad di jalan Allah, hingga dia dikubur di wilayah Romawi.
Adakah penafsiran yang lebih bagus daripada penafsiran yang diberikan Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, berkaitan dengan ayat di atas? Adakah seseorang yang kuasa menakwil ayat ini, dengan penafsiran yang berbeda dengan penafsirannya?
Ibnu Taimiyyah berkata : “Abu Ayyub mengingkari siapa pun yang menganggap seseorang menyerbu pasukan musuh sendirian adalah orang-orang yang membawa dirinya kepada kebinasaan, ketika dia lakukan hal itu dengan memisahkan diri dari pasukan Mujahidin di jalan Allah. Berbeda dengan orang-orang yang suka mengalihkan kalam Allah dari tempatnya, bahwa mereka menakwil ayat di atas dengan cara meninggalkan jihad di jalan Allah. Padahal ayat ini berupa perintah berjihad di jalan Allah dan melarang hal-hal yang menghambar jihad. (Qo’idah fil Inghimas, 5554)
Al Qasim bin Mukhaimirah, salah seorang Imam Tabi’in berkata tentang firman Allah, “Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan”, bahwa maksud kebinasaan di sini ialah tidak mau menafkahkan harta di jalan Allah. Sekiranya seseorang menyerahkan sepuluh dirham, maka hal itu belumlah seberapa.”
Al Imam Abu Hamid Al-Ghazaly rahimahullah berkata : “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang Muslim dalam kapasitas individunya harus menyerbu pasukan orang-orang kafir dan bertempur, meskipun tahu dia akan terbunuh. Tapi, sekiranya dia tahu bahwa tidak ada sesuatu yang dapat diandalkannya untuk menyerbu pasukan musuh, seperti orang buta atau orang yang memang secara fisik sangat lemah, maka hal itu haram dilakukan dan termasuk dalam keumuman makna kebinasaan. Yang boleh dilakukan ialah jika dia tahu dia tidak akan terbunuh atau dia tahu aksinya akan menciutkan nyali orang-orang kafir ketika mereka melihat sepak-terjangnya, sehingga mereka memiliki keyakinan bahwa semua orang Muslim tidak peduli terhadap nyawanya dan lebih menyukai mati syahid di jalan Allah, sehingga hal itu melemahkan persatuan mereka.” (Masyari’ Al-Asywaq, I/57)
Wallahu’alam bis shawab!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar