Pages

Rabu, 07 November 2012

74. BAYAN KH. MUKHLISUN

http://www.wallsave.com/wallpapers/1024x768/pemandangan/953335/pemandangan-beautiful-953335.jpg


Allah menciptakan bumi yang nampaknya luas kalau dibanding langit pertama hanya laksana pasir ditengah padang pasir yang luas. Bintang-bintang yang jumlahnya ratusan trilyun per galaksi itu semuanya masih di langit pertama. Sedangkan kita tidak tahu berapa banyak galaksi yang ada.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk : 5)
Padahal ada bintang yang besarnya lebih besar dari bumi, sehingga bumi terlihat seperti pasir saja. Nanti langit pertama dibanding kedua laksana pasir ditengah padang pasir. Begitu pula langit kedua dibanding langit ketiga, langit ketiga dibanding langit keempat, dan keempat dibanding langit kelima, kelima dibanding langit keenam, dan langit keenam dibanding langit ketujuh, laksana pasir ditengah padang pasir. Alangkah besarnya langit ketujuh. Alangkah besarnya dzat yang menciptakan langit ke tujuh. Begitu juga langit ketujuh dibanding Kursi Allah subhanahu wa ta’ala, dan Kursi dibanding Arsy Allah subhanahu wa ta’ala, perbandingannya seperti pasir ditengah padang pasir. Jadi yang nampak dimata ini bukannya apa-apa dibanding yang tidak nampak. Yang nampak ini tidak nampak dibanding yang tidak nampak.
Nanti Indonesia ini dalam peta bumi ini kecil sekali. Jawa timur ini kecil dibanding indonesia. Magetan ini seperti titik saja dibanding jawa timur. Kita sendirian di magetan tidak akan nampak. Jadi Manusia itu kecil sekali, namun yang kecil ini yang diberi tanggung jawab oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah tidak pandang pada gunung-gunung ataupun lautan-lautan yang besar-besar, bahkan dunia ini tidak dipandang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Justru yang dipandang malah manusianya, ini karena manusia ini mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai Khalifah fil Ardhi, Khalifah di muka bumi.
Khalifah fil Ardi ini banyak diperebutkan, bahkan malaikatpun juga meminta tetapi oleh Allah tidak diberikan, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikannya. Bahkan Iblis, Azazil, juga berambisi ingin jadi khalifah. Mendengar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ingin mengangkat Khalifah fil ardhi, si Iblis Azazil ini langsung meningkatkan ibadahnya. Si Iblis ini meningkatkan ibadahnya bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi karena ingin diangkat sebagai khalifah fil ardhi. Maka ketika Nabi Adam ‘alaihis salam diangkat sebagai khalifah, setelah diberi ilmu oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka si Iblis ini jadi hasut.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَـٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ . قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ . قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ . وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ .
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah 31-34)
Jadi Adam ‘alaihis salam diangkat oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena ilmu yang sudah diajarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu inilah yang mengangkat derajat Adam ‘alaihis salam, diberi ilmu terlebih dahulu baru diangkat sebagai khalifah. Melihat keadaan ini si Iblis ini tidak suka, sehingga dia menghasut. Orang hasut itu maka dia akan menjadi tidak karuan saja. Sudah tidak jadi khalifah, hasut lagi. Singkat cerita, ketika Adam ‘alaihis salam diangkat jadi khalifah, semua diperintahkan Allah untuk sujud ke Adam ‘alaihis salam. Semua sujud, kecuali iblis yang menolak sujud karena tidak bisa menerima keputusan bahwa Adam ‘alaihis salam yang terpilih sebagai Khalifah fil Ardhi. Nabi Adam ‘alaihis salam diangkat ke surga, namun karena ulah orang hasut, asbab hasutan iblis, akhirnya Adam ‘alaihis salam dikeluarkan dari Surga.
Di Surga ini bagi Adam ‘alaihis salam semuanya boleh dilakukan kecuali memakan buah Khuldi. Ada ulama katakan, Nabi Adam ‘alaihis salam setelah makan buah khuldi ini dia ingin buang air. Sementara di surga tidak ada tempat untuk buang air, tempat buang air ini hanya ada di dunia. Makanan di surga ini tidak berserat kecuali buah khuldi, sehingga semua makanan di surga ini tidak akan menyebabkan seseorang akan buang air. Setelah Adam ‘alaihis salam makan buah khuldi akhirnya dia keluarkan dari surga untuk turun ke bumi. Adam ‘alaihis salam ini sebenarnya diturunkan ke bumi ini untuk diangkat derajatnya. Walaupun asbabnya harus dengan berbuat kesalahan dulu, yaitu dengan melanggar larangan memakan buah khuldi. Nampaknya seperti diturunkan derajatnya yaitu dari surga ke dunia. Maka untuk dapat menjadi Khalifah Fil Ardhi ini, maka Adam ‘alaihis salam harus turun ke bumi, kalau hanya di surga saja tidak bisa menjadi Khalifah fil Ardhi. Iman yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala adalah Iman bil Ghoib. Adam ‘alaihis salam diturunkan ke bumi agar bisa menyempurnakan Iman Bil Ghoib, kalau disurga terus tidak akan sempurna Imannya.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib...” (QS. Al Baqarah : 3)
Kalau nampak dimata, semua orang percaya. Iman itu tidak nampak tapi percaya. Ada 3 perkara :
1.  Ada tapi tidak nampak
2.  Tidak ada dan tidak nampak
3.  Ada dan Nampak
Nabi Adam ‘alaihis salam di surga dulu di layanin serba ada, mau makan serba ada, mau apa aja serba ada. Seperti seorang yang sowan pada Raja, silahkan makan, silahkan menikmati pelayanan, tetapi tidak ditemui oleh Rajanya itu sendiri. Namun setelah Nabi Adam ‘alaihis salam turun ke bumi ini, maka Allah subhanahu wa ta’ala memilihnya dan menghargainya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ  ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ  
“Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha : 121-122)
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
“Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha : 123)
Bahkan siapapun yang mengikuti petunjuk Allah, maka akan menjadi manusia pilihan Allah subhanahu wa ta’ala.
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),” (QS. Thaha : 121-122)
Tadinya mau ngapain aja dipersilahkan di surga, tetapi belum terlalu dihargai. Jadi diturunkan ke bumi ini merupakan suatu kehormatan. Dan Surga dan Neraka ini dibikin harus ada yang menempati. Kalau Nabi Adam ‘alaihis salam disurga terus maka Jahannam ini akan kosong terus. Sementara Allah ini telah bersumpah bahwa Dia akan memenuhi Neraka itu.
لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
…"Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As Sajadah : 13)
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“…Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al Mu’min (Ghafir) (40) : 60)
Maka Nabi Adam ‘alaihis salam diturunkan kebumi untuk di uji, mana dari keturunannya nanti yang akan dikembalikan ke surga lagi, dan mana yang dikirim ke Neraka. Sifat-sifat Allah ini akan nampak jika ada orang. “Dia itu sabar ?” “Kenapa ?” “Ya gak apa-apa, sabar aja ?” Lho orang sabar itu harus diuji, kalau tidak apa-apa ya semua orang bisa sabar. Contoh sifat Allah yang Maha Pengampun ini akan nampak bila ada orang yang maksiat.
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Kalau kalian tidak dusta/maksiat maka Allah akan hancurkan kalian. Nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan munculkan kaum yang lain, mereka suka berbuat maksiat, lalu mereka minta ampun, maka Allah akan ampuni.”
Kita ini sudah banyak dosa tinggal minta ampun saja kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak perlu nyari dosa, karena kita udah banyak dosa.
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
كل ابن ادم خطئ وخير الخطائين التوابين
“Setiap anak adam adalah berdosa dan sebaik-baik yang berdosa yang bertaubat.”
Kita shalat ini seribu dosa, kalo gak shalat satu dosa. Kita dakwah ini seribu dosa, tapi kalo gak shalat satu dosa. Kalau gitu gak mau dakwah dan gak mau shalat, jangan, dakwah aja. Orang shalat teringat anak, istri, bangunan. Ini dosa semua, tapi kecil-kecil, mudah diampuni. Kalau gak sholat dosanya cuman satu, yaitu gak shalat itu sendiri, tapi besar sekali, sulit diampuni.
Orang dakwah juga demikian, orang dakwah ini seribu dosa, teringat anak, teringat istri, masih membawa HP ketika keluar, dan sering kali belum berangkat sudah dihitung tanggal baliknya. Ini semua dosa, tapi kecil-kecil dosanya, mudah diampuni, kalo gak dakwah dosanya besar sekali, susah diampuni. Kalau gak dakwah itu dosa besar sekali ya pak Kyai ? lho kok gak tau toh. Kalo gak tau malah dosa terus, seperti kita punya keran dari PAM ngocor terus, padahal hanya untuk wudhu dan masak. Tau-tau rekening akhir PAM keluar 5 juta rupiah, padahal hanya dipakai hanya untuk wudhu dan masak. Trus ditanya, apakah kerannya gak ditutup ? tidak, yah jadi itu ngalir terus. Walaupun gak tau tetep bayar. Kita ini gak tau tetep dosa, bukan berarti gak dosa, dosa justru jalan terus karena kita gak tau dan tidak cari tau.
Orang pakai motor gak pakai helm, dijegat polisi, lalu dia beralasan sungguh mati pak polisi saya gak tau ada peraturan harus pakai helm. Tau gak tau, baca gak baca, pakai helm ini wajib, tetep dihitung sebagai pelanggaran kena tilang. Begitu pula kalau kita ini gak tau tentang syariat, gak tau itu bukan berarti gak dosa, tetep dosa.
Imam Ghazali rahimahullah memberi perumpamaan tentang singa. Orang dikejar singa, awas singa, saya tidak mau nengok, kalau tidak nengok saya tidak diterkam. Ini salah paham, ini nengok gak nengok tetep akan diterkam, bukan berati kalau nengok atau tidak ditengok gak diterkam, pasti diterkam. Sekarang ini yang terjadi kita diperingatin awas ada singa tapi kita sakit gak bisa lari. Awas singa, tapi gak bisa lari karena sakit. Sudah tau ada singa tapi gak bisa lari, sudah tau maksiat ini dosa, diancam neraka, tapi gak bisa lari.
Banyak orang sudah tau bahwa shalat ini wajib, kalaupun gak tau mudah diberi tahu. Tapi yang udah tau bahwa shalat itu wajib, tapi gak mampu menjalankan. Hari ini 100% semua orang tau bahwa shalat itu wajib, namun hanya berapa percent yang menjalankan. Hari ini semua orang tahu bahwa shalat berjamaah di mesjid itu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tidak berjamaah, tapi berapa banyak yang mau mengamalkannya. 95% orang tau fadhilah shalat berjamaah ini 27 derajat tetapi 95% nya juga tidak mengamalkan, ini karena sakit tadi. Sakit tapi tidak terasa sakit, tangan ini sakit tapi di cubit tidak terasa, ini namanya stroke, mati separoh, sakit parah namanya. Jadi bagaimana kita mengobati penyakit agar bisa sembuh. Tapi kalau tidak terasa sakit, maka tidak akan mau masuk rumah sakit. Kalau sakit tapi tidak terasa sakit, ini bahaya. Kalau sudah tau sakit sekarang bagaimana mengobatinya. Sakit seperti apapun selama orang masih hidup maka dia pasti ingin sembuh, kalau dia terasa sakit pasti dia ingin berobat. Orang yang terkena penyakit dalam ini lebih berat dibanding orang yang kena penyakit kulit.
Contoh : jika orang terkena parang awalnya berat tapi lukanya tambah lama tambah sembuh. Beda sama orang yang terkena sakit paru-paru atau jantung atau ginjal ini lebih berat dibanding orang yang terluka kulitnya karena parang. Ini karena yang sakit dalam ini awalnya ringan tapi tambah lama tambah berat, tambah lama tambah kronis. Begitu juga penyakit rohaniah atau agama, awalnya dikit tapi makin lama makin banyak dan makin parah. Kalau sakit jasmani ini paling paling mati ujungnya, sakit jantung ujungnya paling-paling mati, sakit paru-paru paling-paling ujungnya mati. Sedangkan penyakit rohaniah atau iman ini ujung-ujungnya paling-paling masuk neraka, lho kok masuk neraka paling-paling. Ini keliru namanya justru masuk Neraka ini yang harus paling dipikirkan dan dihindari, karena ini sakit yang menyebabkan penderitaan yang selama-lamanya.
Kalau ingin mengobati berarti kita harus mau masuk rumah sakit untuk di rawat, sedangkan penyakit Rohani ini pengobatannya di mesjidnya Allah subhanahu wa ta’ala. Masalahnya rumah sakit ini bukan hanya gedung saja atau mesjid bangunannya saja, didalamnya tidak seperti mesjid atau rumah sakit. Mesjid dan rumah sakit yang kita cari adalah yang di dalamnya fungsi dan keadaannya benar-benar mirip rumah sakit atau mesjid. Namanya rumah sakit tapi didalamnya tidak ada dokter, tidak ada perawat, tidak ada alat kedokteran, tidak ada obat, tidak ada ruang perawatan, ini bukan rumah sakit namanya. Hari ini ada mesjid, bangunan ada namanya tertulis dalam bahasa arab bahkan, tapi didalamnya seperti tempat wisata bahkan menjadi pasar tempat orang jual beli bukan ibadah, ini bukan mesjid namanya. Ada gedung seperti mesjid, di daerah Salatiga menuju Magelang, ternyata setelah didekati rupanya sekolah tinggi theology kristen. Kalau di Barat sana banyak gedung seperti gereja, ternyata mesjid, ini karena memang dulunya gereja dijual lalu dijadikan mesjid, hanya salibnya saja yang diturunkan.
Dengan Khuruj Fisabilillah didalamnya ada peralatannya yaitu :
1.  Peralatannya adalah Ushul-ushul Dakwah
2.  Enam Sifat adalah Obatnya
3.  Dokternya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sakit Rohaniah apa saja asal dia mau masuk dalam dakwah pasti bisa disembuhkan asal ikut tertib. Ini karena kerja dakwah ini adalah dosis tinggi, kalau dengan kerja dakwah tidak bisa sembuh, tidak mungkin sembuh dengan usaha-usaha lainnya. Kalau dengan dosis tinggi saja tidak bisa disembuhkan, maka sulit disembuhkan dengan obat yang lain. Semua yang merasa sakit insya allah kita berangkat semua.
Sakit kita itu parah tidak cukup dengan 3 hari, 40 hari aja tidak cukup, makanya perlu di ulang-ulang 4 bulan lagi berulang-ulang.
Faedah Dakwah ini banyak sekali, Allah memanjakannya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Janji Allah ini pasti lebih pasti daripada matahari terbit dari ufuk timur, tiap hari terbit dari ufuk timur, tapi suatu saat muncul di ufuk barat menjelang kiamat. Janji Allah tidak pernah meleset, suatu saat Allah bohong ini tidak mungkin dan tidak pernah. Bahkan kata masyeikh jika kita sudah menolong agama Allah kita masih ragu-ragu, ini kita berdosa. Hanya saja bentuk pertolongan Allah ta’ala ini kita tidak tau, tapi pasti ada pertolongan Allah, tidak boleh kita ragu-ragu, ini adalah janji dari Allah subhanahu wa ta’ala.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian…” (QS. An Nisa : 136)
Orang sudah beriman disuruh beriman lagi, ini maksudnya gimana? Wahai orang yang duduk, duduklah kalian, ini gimana ? kok orang sudah duduk disuruh duduk. Secara hukum ini gak boleh. Tapi ini kata-kata Allah : “Wahai orang-orang beriman, berimanlah kalian” jelas ini ada rahasianya disana. Ini maksudnya orang-orang yang beriman diminta untuk meningkatkan iman. Jadi kewajiban kita ini untuk meningkatkan iman.
آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ
"…Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman…” (QS. Al Baqarah : 13)
Tapi orang munafik berkata,
قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ
"…Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?..." (QS. Al Baqarah : 13)
Orang munafik menganggap para sahabat ini orang-orang bodoh. Maka Allah subhanahu wa ta’ala membantah :
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ
“…Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al Baqarah ; 13)
Ini karena kebodohannya yang menganggap orang pinter itu bodoh. Jadi iman yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala ini adalah imannya seperti imannya sahabat. Iman para sahabat sudah diterangkan banyak sekali di kitab Hayatus Sahabat, yang isinya adalah kargozari, laporan kisah kehidupan sahabat. Bahkan dalam Al Quran banyak sekali kargozari mengenai masalah-masalah dakwah. Namun kisah-kisah ini bukan dongeng untuk membuat orang ngantuk agar cepat tidur, bukan, tapi untuk dijadikan acuan sebagai tertib dakwah. Bagaimana Dakwahnya Nabi Nuh ketika itu dikisahkan dalam Al Quran :
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا
“Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,” (QS. Nuh : 5)
Maksudnya bahwa yang namanya dakwah itu harus dilakukan selama 24 jam, siang dan malam. Tidak boleh siang saja malam tidur, atau malam saja siang tidak.
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
“maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS. Nuh : 6)
Ini wajar orang kita dakwahi malah kabur, ini hal biasa, karena sudah Allah kabari di dalam Al Quran. Nabi Yusuf dalam penjara tetap melakukan dakwah kepada teman-temannya padahal di penjaran inikan sumpek, sempit, banyak problem, dan ruwet, kawannya cuman 2 orang tetapi Nabi Yusuf ‘alaihis salam tetap berdakwah. Hayatus Sahabat itu kitab tertib dakwah. Seseorang datang kepada Maulana Yusuf Al Khandalawi agar mau membuat buku khusus tentang tertib dakwah. Maulana Yusuf rahmatullah ‘alaih katakan bahwa sudah dia buat buku tersebut yaitu kitab Hayatus Sahabah. Jadi Hayatus Sahabah ini semua tertib dakwah sudah ada didalam kitab tersebut.
Nanti setelah dakwah dan mujahaddah baru nusroh ghoibiyah turun. Nabi Musa ‘alaihis salam diterangkan didalam Al Quran bahwa Nabi Musa AS nyantri ditempat Nabi Syuaib ‘alaihis salam untuk belajar agama selama 10 tahun. Namun kisah nyantrinya Nabi Musa ‘alaihis salam tidak diceritakan dalam Al Quran. Beda ketika Nabi Musa ‘alaihis salam mulai berdakwah semuanya langsung diceritakan oleh Allah dalam Al Quran. Baru pulang dengan istrinya dari Madyan untuk menengok ibunya yang sakit, tau-tau ditengah jalan melihat api, yang bukan sembarang api. Asbab Api yang dilihat oleh Musa ‘alaihis salam, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan wahyu :
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku…” (QS. Thaha : 14)
Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan kepada Musa ‘alaihis salam tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat selain Aku, Allah subhanahu wa ta’ala. Perkara ini ditalkinkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Musa ‘alaihis salam. Setelah itu Musa ‘alaihis salam ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala : Apa yang ada ditangan kamu wahai Musa ? Musa ‘alaihis salam menjawab : ini adalah tongkat saya yang saya gunakan untuk ini dan itu. Saya masih mempunyai hajat yang banyak pada tongkat ini.
Nabi Musa ‘alaihis salam menjelaskan manfaat dari tongkat tersebut padahal Allah subhanahu wa ta’ala baru saja mentalkinkan tentang siapa yang memberi manfaat dan mudharat terhadap sesuatu. Asbab ini Allah perintahkan Musa ‘alaihis salam melempar tongkatnya tersebut sehingga berubah menjadi ular yang besar, sehingga Musa ‘alaihis salam lari tunggang langgang melihat kejadian ini. Baru saja Musa ‘alaihis salam menjelaskan manfaat dari tongkatnya, kini sama Allah dirubah menjadi ular yang bisa memyebabkan Mudharat yang besar bagi Musa ‘alaihis salam. Lupa dengan pelajaran yang Allah kasih akibatnya menjadi mudharat bagi Musa ‘alaihis salam. Nabi Musa ‘alaihis salam tidak tau kehendak Allah sehingga menyebabkan tongkat yang tadinya bisa memberi manfaat menjadi mendatangkan mudharat yang besar, hingga lari.
Nabi Musa ‘alaihis salam belajar 10 tahun dengan Nabi Syuaib ‘alaihis salam tapi belum praktek, jadi ketika tongkat jadi ular, Musa ‘alaihis salam lari tunggang langgang. Maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa untuk menangkap lagi tongkat yang menjadi ular tersebut. Nabi Musa ‘alaihis salam berusaha menangkap ular tersebut yang besar dan lincah, padahal kalo besar tidak lincah tapi ini Allah jadikan lincah, dengan penuh rasa takut. Ketika perintah tangkap ular itu turun dari Allah subhanahu wa ta’ala dikatakan Nabi Musa mengamalkannya dengan penuh rasa takut kepada ular, tetapi lebih takut lagi kalo tidak mengamalkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Maka Nabi Musa ‘alaihis salam manangkap ular dengan sepenuh daya pikiran dan kekuatan sehingga ular tersebut itu menjadi tongkat lagi. Namun tongkat yang sudah tertangkap khasiatnya sudah beda. Sebelum tertangkap tongkat hanya digunakan untuk panduan jalan, mengambil buah, sama menggiring kambing, fungsi keduniaan saja. Setelah mendapat tarbiyah dari Allah subhanahu wa ta’ala, tongkat tersebut mendatangkan manfaat yang berbeda yaitu menjadi asbab hidayah. Asbab tongkat yang sudah di tarbiyah Allah subhanahu wa ta’ala tadi menyebabkan para ahli Fir’aun masuk islam, 4000 penyihir Fir’aun masuk islam, bani israil masuk islam. Kata Ulama, dunia orang mukmin ini seperti tongkat Nabi Musa ‘alaihis salam.
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوءْمِنْ
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai mukmin?
“Ya dunia ya ufuk alanafsi wal ahli walmaali walya fiya ala ma’rifun”
Ini adalah dunia saya saya infakkan : diriku, ahliku, hamba sahayaku, yang saya mempunyai hajat. “Alkiha” tinggalkan dunia 4 bulan saja.
Ketika ditinggalkan semua pada protes seakan-akan mudharat akibatnya, istri ngambek, anak nangis, tetangga gunjing, gak karu-karuan semuanya. Padahal kita minta tinggalkan tidak selamanya. Nanti setelah pulang kita pegang lagi dunia yang kita tinggalkan. Maka setelah pulang, dipegang lagi dunianya, tapi dunianya sudah beda fungsinya. Dulu sebelum berangkat 4 bulan dunianya digunakan untuk menambah kebendaan : memperbaiki rumah, membangun gedung, memperbanyak harta, membeli baju dan lain-lain. Namun setelah 4 bulan dunianya sudah berubah fungsinya yaitu justru digunakan untuk mengambil takaza-takaza, dikirim ke eropa, amerika, afrika, china, australia, dunianya kini menjadi asbab hidayah.
Dunia yang pertama hanya untuk kebendaan, tapi dunia yang kedua setelah ditarbiyah jadi untuk asbab hidayah seperti tongkat Musa ‘alaihis salam. Dunia yang masih dalam kantong ini harta benda yang disebut dunia, tetapi ketika sudah digunakan, disedekahkan, untuk agama ini menjadi amal. Dunia ini kalo sudah menjadi asbab hidayah ini bukan dunia lagi namanya, tetapi sedekah atau amal, yang tertinggal dalam kantong itu baru dunia. Selama masih dirumah itu namanya dunia, tetapi ketika sudah dipakai untuk Khuruj Fisabilillah menjadi hidayah itu amal namanya.
Dulu para sahabat yang fakir-fakir ini ngiri pada sahabat-sahabat yang kaya : “Ya Rasullullah, orang-orang kaya itu pahalanya banyak.” Jadi yang diirikan oleh sahabat itu amal pahalanya bukan kebendaannya. Mereka shalat, kita juga shalat, mereka puasa kita juga puasa, tetapi mereka bisa beramal dengan harta mereka, mereka bisa sedekah, mereka bisa haji, sementara kita tidak bisa. Ini yang diirikan para sahabat yang fakir terhadap sahabat yang kaya yaitu kemampuan mereka dalam beramal. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan, “Maukah kalian aku beri amalan yang dapat melebihi amal-amal mereka ?” mereka menjawab, “Mau ya Rasullullah.” Jawab mereka semangat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Baca Subhanallah 33 kalo, Alhamdullillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali setelah shalat.”
Lalu pulanglah mereka dan mengamalkannya. Setelah beberapa lama kemudia yang kaya dengar ada amalan seperti itu sehingga si sahabat yang kayapun ikut mengamalkan. Lalu para sahabat yang miskin tadi mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sahabat yang kaya sudah tahu amalan tersebut dan ikut mengamalkannya, sekarang kita tertinggal lagi oleh mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan, “Itu adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Ulama katakan maksudnya kalo diadu yang satu dengan amalan dan yang satu dengan maal, harta, maka yang menang adalah yang dengan amalan. Tetapi jika yang satu dengan amalan dan yang satu dengan maal plus amalan maka ini yang lebih baik adalah yang kedua yaitu dengan maal dan amalan. Satu lawan Dua yang menang yang Dua. Kalo orag fakir mengandalkan amalan sedangkan orang kaya mengandalkan hartanya atau maal saja maka yang menang adalah yang fakir dengan amalan. Tetapi kalo si kaya mengandalkan maal dan amalan, maka di bandingkan dengan si fakir, akan lebih menang yang dua yaitu si kaya yang menggunakan maal dan amalan. Jadi hadits ini untuk orang kaya.
Hadits itu ada dua ada untuk orang kaya, tetapi ada juga hadits untuk orang miskin. Ada hadist untuk laki-laki, tetapi ada juga hadits untuk perempuan. Ada Hadits untuk pemerintah tetapi ada hadits untuk rakyat umumnya. Masalahnya hadits orang kaya dipakai sama orang fakir, ini keliru namanya, tidak sesuai. Ini kejadian orang kaya mencari dan memakai haditsnya orang miskin. Orang miskin mecari dan memakai haditsnya orang kaya. Akhirnya ketika ketemu : Si Kaya bilang orang miskin gak boleh minta-minta nanti jadi begini dan begitu, Si Miskin ngeluarin dalil lagi orang kaya harus bersedekah memberi kepada si miskin kalo tidak nanti akan menjadi begini dan begitu, akhirnya gak karu-karuan hasilnya. Bukannya menggunakan haditsnya sendiri untuk diri sendiri tetapi malah mengunakan hadits orang lain untuk menekan yang lain, ini kacau namanya. Maka kita laki-laki ini tidak boleh menggunakan Hadits untuk perempuan, ini salah penggunaan namanya. Hadist tentang laki-laki dibaca oleh laki-laki itu sendiri untuk mentarghib laki-laki itu sendiri agar diamalkan bukan untuk menekan perempuan, begitu pula sebaliknya, ini yang benar.
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu tauladan untuk seluruh umat : ada tauladan sebagai suami, sebagai ayah, sebagai tetangga, sebagai panglima. Sebagai Rakyat ada petunjuknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diamalkan, untuk istri juga ada petunjuknya untuk diamalkan, sebagai suami seperti itu juga, dan yang lain-lain.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)
Ini contoh-contoh tauladan diberikan untuk ummat, tinggal ikut saja. Sampai dikatakan semua manusia ini buta yang melek hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau kita ikut terus dengan Rasullullah, maka insya allah ketika Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk surga kita juga akan ikut. Kalau Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk neraka apakah kita akan ikut ? oh itu tidak mungkin Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk neraka. Jadi kalau sama-sama orang buta, berdua jalan, tuntun tuntunan bisa celaka dua-duanya, bisa-bisa kecebur jurang.
Ajaibnya hari ini ada orang buta mengkritik orang melek atau orang yang melihat. Aneh tapi nyata, orang buta mengkritik orang melek. Si buta dituntun sama yang melihat, lalu si buta bilang, “Pak feeling saya bapak ini keliru.” Ini lucunya namanya kita yang buta mengkritik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam satu-satunya yang mampu melihat. Ini namanya orang buta mengkritik orang melek. Wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala ini “Sami’na wa atho’na” kami dengar kami taat. Ini ada ajaran islam liberal, padahal tidak ada yang namanya islam liberal, yang ada Iblis itu sendiri yang liberal. Jadi JIL ini bukan jaringan islam liberal, tapi jaringan iblis liberal. Mereka ini pola fikirnya bukan sami’na wa atho’na tapi “sami’na watakafarna”, kami dengar kami pikir-pikir dahulu, kami seminarkan dulu, kami logikan dulu. Ini memang benar tapi ini ada salahnya. Ini aneh, wong ayat quran itu “Qollallahu ta’ala…” kata-kata Allah subhanahu wa ta’ala itu dipikir-pikir dahulu ini hanya kerjaan jaringannya iblis laknatullah alaih. Hanya orang goblok dan bodoh menyalahkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berpikir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keliru, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala bisa salah, ini goblok atau tolol namanya, sama aja itu goblok atau tolol.
Ayat “Sami’na wa Atho’na” turun diwaktu sahabat tidak mampu untuk mengamalkan:
وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ ۖ
“… Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…” (QS. Al Baqarah : 284)
Diperlihatkan ataupun disimpan akan dihisab oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Umpamanya ada suatu alat perekam yang canggih bisa merekam suara dalam hati, kira-kira dengan rekaman itu kita bisa malu atau tidak, jika di dengarkan rahasia-rahasia hati kita. Jika kita pernah terbesit dihati ingin mencuri, berzina, atau perbuatan maksiat lainnya kira-kira malu tidak jika di dengarkan ke orang. Namanya orang gila ini adalah orang yang tidak bisa ngerem lisannya dari bisikan hati yang langsung terungkap melalui mulut. Jadi kalau kita tidak bisa ngerem lisannya dari isi hatinya berarti kita gila semua. Inilah yang dikeluhkan sahabat, mereka merasa tidak mampu jika sampai yang didalam hatipun akan dihisab. “Kemarin itu ketika di taklifkan itu yang saya mampu untuk dishisab, tetapi yang dalam hati ini juga mau dihisab, ini saya tidak mampu ya Rasullullah” kata sahabat. Kok yang dalam hatipun akan di hisab, sahabat tidak mampu. Maka Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam menekan, “Apakah kamu akan Sami’na wa assoyna, saya dengar saya akan maksiat, katakanlah kamu akan sami’na wa atthona, kami dengar kami taat.” Maka sahabat setiap bisikan hati ini gak karu-karuan, mereka menyebut, “Sami’na wa attho’na gufronaka”, “Kami dengar kami taat ampunilah saya”. Sehingga lisan ini sudah terlatih dengan “kami dengar kami taat maka ampuni kami ya Allah”. Sehingga turunlah ayat :
وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at". (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (QS. Al Baqarah : 285)
Ini ketika sahabat baru menerima saja, tidak mampupun masih sami’na watho’na, kok sekarang malah ada sami’na watafakarna. Sama-sama mahluk seorang jendral bicara ke prajuritnya memberi perintah, semua prajurit pasti akan sami’na watho’na, mereka bilang, “Siap…”, tidak ada prajurit yang bilang, “Insya Allah”. Ini karena mereka dilatih untuk siap, jendral ini tidak membayar prajurit, padahal jendral dan prajurit sama-sama dibayar oleh negara. Gak ada pernyataan jendral yang sudah memerintahkan prajurit, lalu si prajurit bilang, “nanti kalau saya mati gimana ?” atau “nanti saya musyawarahkan dulu sama istri” atau “nanti kalau saya tertembak gimana ?” ini resiko jadi tentara, kalau takut mati atau tertembak tidak usah jadi tentara. Tentara kok kayak gitu gak karu-karuan. Kita ini tentaranya Allah, ditasykil harus sami’na wa atho’na. Kita ini jadi gak karu-karuan ini akibat kita belajar dari orang kafir dan yahudi. Hampir seluruh ulama’ katakan :

إن هذا العلم دين فأنظروا عن من تأخذون دينكم

“Ilmu ini adalah agama lihatlah darimana kalian mengambil agama ini.”
Ini sama-sama muslim hanya saja yang satu ini dhoif ilmunya, jadi gak usah diambil. Imam Malik rahmatullah ‘alaih katakan bahwa dalam mesjid ini, mesjid nabawi, jika ada 70 orang yang jika dia berdoa akan lansung turun hujan, tapi saya tidak akan mengambil ilmu agama ini melainkan dari ahlinya. Untuk Doa mereka ahlinya, tapi untuk ilmu saya akan ambil dari ahlinya. Sedangkan orang-orang sekarang ini mengambil ilmu bukan dari ahlinya tetapi dari orang-orang kafir dan yahudi, sehingga guru-gurunya ke Neraka mereka ikut. Ilmu agama kok belajar dari van hauten, robert armstrong, gak karu-karuan hasilnya. Kenapa mereka ini belajar kok dari yahudi padahal masih banyak ulama-ulama yang ahlullah. Katakanlah ada air yang jernih dan bersih di alirkan lewat peralon dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terus mengalir singgah di ulama-ulama terus mengalir, masih bersih, lalu jatuh di comberan, yaitu yahudi dan nasrani, kira-kira mau gak minum dari comberan.
Orang kafir seperti hewan ternak. Bagi Allah ini orang kafir ini seperti :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf : 179)
Coba kamu kerbau bagaimana pendapat kalian ? ini aneh kerbau kok ditanyai pendapatnya. Maka kita pegang ilmu ini dari sanadnya dari pesantren-pesantren dari ulama-ulama yang Haqqoni dan yang Rabbani, ini suatu nikmat yang besar. Imam syafei bersyair :
“Kehidupan seorang pemuda, wallahi, dengan ilmu dan taqwa.”
Saya menafsirkan dengan ilmu itu dengan pesantren, dan taqwa itu dengan khuruj fisabilillah. Apalagi yang di pesantren, harus lebih lagi digalakkan keluar di jalan Allah. Ini sudah tidak dipesantren, tapi juga tidak khuruj fisabilillah, maka ini kata imam syafei yang tidak berilmu dan tidak bertaqwa : La’tibaro lizatihi yaitu seperti bangkai berjalan, Tidak punya arti apa-apa. Ilmu diambil sama-sama orang islam, sami’na wa athona, apa kata Allah pasti benar, apa kata rasullullah ini haditsnya shahih maka kita harus mengikuti. Imam syafei pernah ditanya oleh seseorang apakah kamu mengikuti semua hadits hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pedoman agamamu. Imam Syafei ditanya begini terkejut, dan balik bertanya, “Apakah kamu melihat saya sebagai orang gereja ?” atau melihat dari saya ada tanda-tanda nasrani atau yahudi, ada hadits Rasullulah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak diambil ?” Jadi orang-orang yang tidak mengambil hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya orang-orang yahudi dan nasrani.
Maulana Mustaqim katakan :
1. Sahabat ini ciri-cirinya à Sami’na wa atho’na ( kami dengar kami taat )
2. Yahudi ini ciri-cirinya à Sami’na wa assoyna ( kami dengar kami ingkari )
3. Kaum logika ini ciri-cirinya à Sami’na wa tafakkarna/ watajaddalna (kami dengar kami pikir dulu)
4. Kita umumnya ciri-cirinya à Sami’na wa nashina (kami dengar tapi lupa lagi 2x)
Mau taat tapi lupa, maka perlu sering-sering di ingatkan dengan khuruj fisabilillah. Manusia ini memang fitrahnya pelupa, maunya sih sami’na wa attho’na, tapi baru sampe di sami’na wa nashina, gak papa yang penting tidak menentang.
Didalam dakwah ini Allah subhanahu wa ta’ala memanjakan banyak sekali. Semua ahli langit dan ahli bumi mendoakan memohonkan ampun bagi kita yang sedang berjuang dijalan Allah mengajarkan kebaikan dengan berdakwah. Semuaanya dari nyamuk, belalang, burung, mendoakan ampunan untuk kita. Nyamuk mau nyokot kita tapi malah kita geplak, gak papa, padahal dia lagi mau memohonkan ampun untuk kita. Kata Ulama ini ada rahasianya kenapa semua mahluk di bumi ini mendoakan orang yang sedang berdakwah. Ini karena kelestarian dunia ini karena ada agama, bukan karena ada ekologinya, atau karena ada ekosistemnya, atau karena ada hutannya, bukan itu semua. Ini karena di dunia ini masih ada orang yang mengucapkan “La illaha illallah”.
Walaupun hutan rindang , lebat, dan banyak, ekologinya bagus, ekosistemnya jalan, tapi tidak ada yang mengcupakan “La illaha illallah” maka Allah akan gulung alam ini di kiamatkan. Sementara kelestarian “La illaha illallah” karena ada orang yang dakwah. Jadi semua hewan-hewan dan mahluk-mahluk di dunia dan di langit ini berhutang jasa kepada orang beriman atau manusia yang masih mengucapkan “La illaha illallah”. Para Ahli langit dan ahli bumi yang jumlahnya trilyunan banyaknya hanya Allah yang tau, memahami perkara jasa orang dakwah ini sehingga Allah masih jaga alam ini asbab adanya orang yang mengucapkan La illaha illallah. Asbab ini mereka doakan maghfiroh untuk kita walaupun kita sedang tertidur sekalipun. Tapi hanya yang ikut dakwah, kalau tidak dakwah ya tidak di doakan, gimana tidak mau ikut dakwah tapi minta di doakan.
Di dalam dakwah ini kita tinggal ikut saja Rasullullah, tidak perlu ngarang sendiri. Nanti kalau Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk surga kita tinggal ikut aja. Maualana Abdul Baqi dari Pakistan mengatakan, kalau kita sujud syukur dari sekarang hingga kita meninggal dunia karena dipilih Allah karena ikut usaha dakwah ini, maka itu nilainya kecil. Mengapa kecil ? karena hasilnya gak sebanding, dipilih ikut, tapi nanti di gabungkan sama sahabat masuk surga. Ini tidak sebanding dengan usaha yang kita lakukan dibanding dengan anugerah yang Allah kasih asbab dakwah ini. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
عن أنس بن مالك : أن أعرابيا قال لرسول الله صلى الله عليه و سلم متى الساعة ؟ قال له رسول الله صلى الله عليه و سلم ما أعددت لها ؟ قال حب الله ورسوله قال أنت مع من أحببت
"Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu : bahwa seorang arab baduwi bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kapan kiamat terjadi? berkata kepadanya Rasulullah - shallallahu ‘alaihi wasallam : “apakah yang telah engkau siapkan untuknya ?” baduwi itu berkata : “cinta Allah dan RasulNya.” Beliau bersabda : “engkau bersama yang engkau cintai." (HR Muslim)
قال أنس فأنا أحب الله ورسوله وأبا بكر وعمر فأرجو أن أكون معهم وإن لم أعمل بأعمالهم
"Berkata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: maka aku mencintai Allah dan RosulNya, juga Abu Bakar, Umar dan aku berharap akan dibangkitkan bersama mereka walau aku tidak melakukan amalan seperti yang mereka amalkan."
Ketika kita keluar kita belajar 6 sifat sahabat, perjuangan sahabat, cara berpikirnya sahabat, bicarakan sahabat. Diluar dakwah ini semua ngaku cinta sahabat, tapi tidak ada yang tahu siapa itu Saad bin Abi Waqqash, Khalid bin Walid, Thalhah, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhum. Justru yang mereka tahu itu malah seperti superman, batman, michael jackson, mak lampir, apa faedahnya tahu semua itu, ngakunya cinta sahabat. Pengetahuan itu untuk apa.
“Layadhurru jahlu walayanfa’u ilmu”
Siapa presiden Venezuella ? tahu atau gak tahu tidak ada manfaat dan mudharatnya. Banyak orang yang tahu tidak ada manfaat dan mudharatnya, tapi pingin tahu aja, ini untuk apa ? Beda dengan dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kalau tahu manfaatnya banyak kalau tidak tahu mudharatnya banyak. Bagaimana mengetahui Sunnah Rasul dan Fadhilah Dakwah. Jadi kalau di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mengucapkan “La illaha illallah”, maka Allah akan liquidasi dunia ini. Inilah sebabnya semua mahluk di dunia ini mendoakan kita, walaupun kita membunuh mereka, mebunuh nyamuk, membunuh ayam, membunuh serangga, tidak apa-apa mereka tetap mendoakan kita. Subhanallah, inilah kita manusia sebagai Khalifah fil Ardhi. Sebetulnya jin-jin itu takut pada manusia, ini karena khalifah fil ardhi ini manusia. Namun keadaannya kebalik karena kebanyakan manusia takutnya sama jin jadi gak karu-karuan.
Asbab Dakwah ini maka Allah akan kumpulkan kita bersama Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Masalahnya apa kita tidak malu nanti ketemu sahabat ? mereka berjuang ada yang sampai dipotong kepalanya, di tusuk dari kemaluannya, ditarik kuda hingga putus anggota badannya, hartanya habis untuk di jalan Allah. Namun ketika kita ditanya saya Alhamdullillah sudah 3 hari, saya sudah 40 hari, saya sudah 4 bulan, ini apa kalau dibandingkan sahabat. Nanti ada yang bilang kita ini sibuk jadi tidak ada waktu karena mencari rizki. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih katakan :
“Gunakan hartamu untuk agama atau nanti hartamu akan habis tapi bukan untuk agama”
“Gunakan waktumu untuk agama atau waktumu akan habis tapi bukan untuk agama”
“Matilah kalian untuk agama atau nanti kalian juga akan mati tapi bukan untuk agama”
“Sibukkan diri kalian dalam agama atau kalian juga akan tetap sibuk tapi bukan dalam agama”
Kata Maulana Abdul Qadir hanya ada 4 orang yang tidak sibuk :
1.  Orang yang sudah meninggal dunia
2.  Orang yang sedang di penjara
3.  Orang yang sedang dirawat di rumah sakit
4.  Orang gila
Kita ikut dalam usaha ini merupakan suatu kemuliaan yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Orang-orang seperti kita ini dengan segala kelemahan kita tapi dipilih oleh Allah melanjutkan usaha para Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini merupakan suatu kemuliaan. Dahulu orang yang membawa usaha ini Allah pilih orang-orangnya ada qualifikasi iman, akhlaq, kesiapan berkorbannya. Kini kita yang lemah-lemah, Allah pilih kita, patut kita syukuri, caranya bagaimana ? yaitu dengan istiqomah dalam kerja dakwah, istiqomah sampai mati. Orang sudah terpilih sebagai menteri malah lebih memilih kerja sebagai penggosok WC, ini bagaimana ? Orang jadi kepala desa dapat gaji dan fasilitas karena dia harus memikirkan desanya. Nanti kalau jadi bupati lebih gede lagi gajinya dan fasilitasnya lebih banyak lagi karena lebih berat kerjanya dibanding kepala desa, dia harus memikirkan satu kabupaten yang terdiri dari banyak desa.
Begitu juga kalau jadi Gubernur harus memikirkan satu propinsi tapi gajinya tambah besar dan fasilitasnya tambah banyak lagi. Begitu juga kalau jadi presiden rumahnya saja dapet istana, kendaraannya helikopter, gajinya lebih besar lagi dan fasilitasnya terbaik diberikan, ini karena presiden memikirkan satu negara. Namun serendah-rendahnya Da’i ini lebih tinggi dari presiden. Ini karena presiden hanya memikirkan satu negara, da’i ini memikirkan seluruh alam. Presiden hanya untuk 5 tahun, kalo da’i ini sampai hari kiamat. Presiden itu memikirkan hanya ada yang ada diatas bumi itu juga bagian-bagian, kalau dai memikkirkan yang ada dibawah bumi, diatas bumi, di langit bahkan sampai akherat. Ini luar biasa kemuliaannya yang Allah kasih, tapi kok kita milihnya jadi penggosok WC, ini bagaimana ? Meninggalkan dakwah untuk mencari dunia, Masya Allah.
Beras ini penting tapi usaha atas beras lebih penting lagi. Ada beras 10 gudang, tapi kalau dimakan terus menerus dan tidak diusahakan lagi maka suatu saat pasti habis. Agama ini penting tapi usaha atas agama lebih penting lagi. Kalau hanya mengandalkan amal agama nanti kalau semua yang beramal mati tidak ada yang meneruskan, maka suatu saat nanti amal-amal agama ini akan hilang. Bahkan kata ulama, dunia ini seperti badan, agama ini seperti ruh. Kalau badan tidak ada ruhnya, ya tidak bisa bergerak bahkan membusuk dan rusak. Jadi dunia tanpa agama, yang ada kerusakan, manusianya berbuat onar, membuat kedzoliman dimana-mana, merusak dan bermaksiat. Jadi kalau Agama ini di ibaratkan badan, maka Usaha Agama ini seperti nyawa dalam badan. Kita ini mau berusaha menjadi ruhaniah dalam agama. Usaha agama seperti badan, maka pengorbanan ini seperti ruhnya. Jadi usaha dakwah ini harus dengan pengorbanan : korban harta, korban diri, korban waktu, korban perasaan, korban perdagangan, korban keluarga, korban pekerjaan. Jika pengorbanan seperti badan, maka musyawarah ini seperti ruhnya. Jika musyawarah ini seperti badan, maka ketaatan ini seperti ruhnya.
Jadi sangat penting sekali masalah ikut dalam kerja dakwah ini. Dulu yang ikut dalam kerja dakwah ini adalah para nabi AS, para sahabat RA, para ulama tabi’in wat tabi’in, para wali Allah, tapi sekarang malah kita-kita ini yang dhoif dan banyak kekuarangan yang terpilih. Ini karena akhir jaman ini menjadi jamannya obralan. Kebaikan-kebaikan di obral begitu juga keburukan-keburukan diobral, banyak sekali. Pakaian dulu banyak compang camping, bahkan pakaian baru diluar hari raya ini dianggep aneh dan gak wajar, jadi di olok-olok. Makan ayam itu hanya waktu hari raya dan mauludan, jadi ada orang kenduri gak diundang bisa marah. Beda hari ini gak diundang biasa saja karena semuanya sudah diobral jadi biasa saja. Dulu cari kitab Jami’ush saghir dan ihya ulumuddin susah sekali, kalaupun ada cepat sekali habisnya.
Dulu pernah terjadi satu kitab ihya ulumuddin ini setara dengan dua kerbau. Kalau sekarang 2 kerbau dapat satu toko kitab. Jadi dulu ilmu itu mahal sekali, pakaian itu mahal sekali, tapi kini semuanya sudah di obral sehingga ilmu kini murah, pakaian mudah. Kebaikan-kebaikan di obral, keburukan-keburukan juga di obral. Intan berlian diobral, tapi ular dan kalajengking juga di obral. Dengan jumlah uang yang sama bisa beli kitab atau beli berlian tapi kok yang dibeli malah ular dan kala jengking. Ini kok ular dan kalajengking murah sekali ? nanti malah dipatuk, goblok namanya. Begitu juga hari ini kemaksiatan-kemaksiatan di obral, tapi kebaikan-kebaikan juga di obral. Dakwah yang demikian tinggi nilainya kini di obral, setiap orang bahkan di ajak terus. Kalau ada orang di ajak gak mau ini kenapa gak mau ? padahal ini sudah di obral. Waktu ini adalah seperti uang, maka kita habiskan jangan untuk beli kalajengking atau maksiat yang bisa menghancurkan kita, tapi kita habiskan untuk membeli apa yang bisa kita gunakan di akherat kita nanti.
Banyak sekali fadhilah dakwah ini, kita tidak akan sanggup menghitungnya, apalagi waktu puasa ramadhan pahalanya berlipat-lipat kali. Kalau diluar ramadhan ini pahalanya 700.000 untuk yang khuruj fissabilllillah, maka ketika puasa dikali 70, berarti sekitar 49.000.000, itupun untuk yang belum nikah, kalau sudah nikah dikali 70 lagi, Masya Allah. Ulama dari Bangladesh katakan bahwa dakwah di bulan ramadhan ini Insya Allah pasti diterima. Amal itu mudah, diterimanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala ini yang sulit. Amal itu mudah, duduk kita disini saja mendengarkan bayan ini sudah amal. Tidur cara Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah amal, makan cara Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah amal. Tapi yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala ini yang sulit. Ada kisah seorang pelacur memberi minum seekor anjing. Seburuk-buruknya orang itu pelacur memberi minum seekor anjing seburuk-buruknya binatang.
Kita pernah dengar nama orang yang namanya pak kutilang, atau pak gajah, tapi kita tidak pernah dengar nama orang ini anjing. Bahkan kalau kita panggil anjing orang bisa marah, ini sangking hinanya anjing ini. Padahal menurut ulama anjing ini mempunyai minimal 10 sifat utama para wali. Anjing itu taat dan patuh, ini sifat wali. Kepada majikan yang memberinya makan, maka dia akan penurut sekali, disuruh pergi dia akan pergi, di suruh datang dia akan datang. Dulu ada orang namanya Abu Ustman Al Khairi, beliau pernah diundang ke rumah seseorang. Setelah sampai depan rumah orangnya si orang tersebut bilang tidak jadi, baru jalan jauh dikit dipanggil bilang jadi. Setelah mendekat tidak jadi, akhirnya pergi lagi, agak jauh dipanggil lagi dibilang jadi, setelah mendekat akhirnya tidak jadi lagi, pergi dipanggil lagi dibilang jadi terus sampe 4 kali. Si orang rumah ini memuji, bahwa beliau ini baik sekali dibilang gak jadi pergi, dipanggil, balik lagi sampe 4 kali, tidak marah-marah. Abu Ustman Al Khairi berkata untuk menghindari pujian, bahwa seekor anjing juga bisa seperti itu.
Anjing itu taat dan baik sekali, jika digebuk dia tetep ingetnya tangan yang memberinya makan bukan gebukannya, tetep taat. Anjing itu amanah sekali beda sama kucing yang suka mencuri makanan. Anjing itu kalau mau makan pasti menunggu majikannya, tidak ada anjing yang mencuri itu tidak ada, kucing ada, tapi anjing tidak. Sampai matipun si anjing ini amanah, jika majikan bilang jangan kamu makan melainkan dari tangan saya, inipun diikuti. Suatu ketika si anjing ini lupa diberi makan oleh majikannya, majikannya pergi lama, si tetangga memberi makan tapi dimakan oleh si anjing, akhirnya mati memegang amanah majikannya. Anjing ini zuhud, tidak senang pada dunia, tidurnya dimana-mana bisa, bahkan senengnya tidur di tempat gak karu-karuan. Anjing ini Qona’ah diberi apa aja dia nerima aja, tetep senang sama keadaannya. Banyak sekali sifat baik pada anjing ini, tapi kok kenapa najis mugholadoh. Dari sekian banyak sifat baiknya ada 2 sifat buruk anjing :
1.  Jika sendirian dia sombong, sukanya menggonggong dan menyalak, pamer kekuasaan.
2.  Tidak suka sama Ijtima’i amal, jadi jangan sampe karkun tidak suka ijtima’i amal.
Jadi 10 sifat baik pada anjing ini jadi hilang asbab 2 sifat jelek ini. Jadi kita karkun jangan sombong dan tidak suka ijtimai amal, bisa jadi jadi najis mugholadoh. Sifat yang Allah benci ini sombong, dan sifat yang disenangi Allah subhanahu wa ta’ala ini adalah Sifat Tawadhu. Sifat Tawadhu ini merupakan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan satu-satunya nikmat yang orang tidak akan hasut. Kalau sombong ini baliyat suatu musibah. Orang kalau sombong sering lupa diri, “Kau tau siapa saya ?” lupa siapa dia ini, sampe harus tanya orang lain. Ada seorang jendral pulang setelah menang perang, diajalan bertemu seorang sufi. Maka si jendral mengatakan, “Kamu ini tidak tahu siapa saya ?” si sufi tadi bilang, “Oh saya tahu siapa kamu, kamu ini dulunya adalah hanya sepercik mani yang menjijikkan, nanti suatu saat akan menjadi bangkai yang busuk. Saat ini kemana-mana kamu membawa kotoran.” Jadi apa yang mau disombongkan, sifat sombong ini harus dihilangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ , وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا , وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ
“Tidak akan berkurang suatu harta karena dishadaqahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah, melainkan Allah angkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 556 dari hadits Abu Hurairah )
“Man tawadho alillah rofa’adhoh” : “Barangsiapa tawadhu karena Allah maka akan diangkat oleh Allah ta’ala”
Walaupun seluruh dunia merendahkan, tapi diangkat oleh Allah subhanahu wa ta’ala tetap akan diri terus. Fadhilah-fadhilah dakwah ini banyak sekali, masyeikh katakan dalam usaha dakwah ini ribuan berkah untuk ribuan keturunan. Kita ini perkataan masyeikh ini cukup percaya saja, karena itu berdasarkan ilham dan keberkahannya kita rasakan sekali kalau kita ikuti. Pemerintah bingung, Masyakarakat bingung, orang kaya bingung, orang fakir bingung, kita ini generasi bingung, tapi orang dakwah tidak bingung, santai saja, lempeng dan lurus aja. Hari ini orang banyak demonstrasi, ada bom meledak, tapi orang dakwah santai saja. Bom mahluk, Demo mahluk, tidak dapat mendatangkan manfaat atau mudharat tanpa seizin Allah subhanahu wa ta’ala. Hakekatnya, Itu mahluk semua, tidak bisa berbuat apa-apa, bukan suatu masalah.
Bom itu mahluk, kalau Allah menghendaki makanan bisa jadi bom, kalau Allah menghendaki bom bisa jadi makanan. Bagi da’i ini yang dipandang Allah subhanahu wa ta’ala nya saja, tidak ada persoalan, tidak kesan, yang penting bagaimana Allah ridho dan senang. Matipun dalam dakwah langsung surga. Semua orang yang mati itu tidak ada yang berharap dihidupkan lagi, kecuali orang dakwah. Orang dakwah ketika mati dibangkitkan ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, kamu mau apa, malah menjawb ingin dihidupkan lagi untuk dakwah lalu dimatikan lagi lalu dihidupkan lagi untuk dakwah, begitu jawabnya. Ini karena melihat fadhilahnya orang dakwah. Tapi ini yang tahu bagi yang sudah mati, kita yang belum mati tidak tahu. Kok bisa ada permintaan seperti itu, padahal kita mati satu kali aja takut, kok bisa ?
Sekarang kita sudah hidup maka kita gunakan sisa hidup kita untuk dakwah, yang lalu biarlah berlalu dengan segala maksiat dan pahalanya tinggal kenangan biarlah berlalu. Sekarang yang penting kedepannya sisa umur kita mau diapain, biasanya yang namanya sisa umur ini lebih pendek rata-rata.
3 hari dibanding 70 tahun ( 3 / 70 ) dengan 70 tahun dibanding selama-lamanya ( 70 /8 ) ini lebih lama mana ? lebih lama selama-lamanya, ini jawaban orang tidak paham dengan pertanyaan, ini matematika. Ini lebih lama 3 hari per 70 tahun karena ini seper 10.000, umpamanya, kalo dibanding dengan 70 tahun dibanding selama-lamanya dapet berapa ? ini seperti satu tetes dibanding lautan. Jauh sekali perbandingannya satu tetes dibanding lautan kalo seper 10.000 ini seperti satu tetes cangkir dibanding lautan. Jadi 3 hari per 70 tahun lebih lama dibanding dengan 70 tahun dibanding selama-lamanya.
Maukah senang-senang 3 hari untuk susah-susah 70 tahun atau maukah susah-susah 3 hari untuk senang-senang 70 tahun. Ini mudah sekali jawabannya, tentunya mendingan milih susah 3 hari demi kesenangan 70 tahun. Padahal ini itu lebih lama dibanding dengan 70 tahun dibanding selama-lamanya. Coba kita bicara sisa umur saja dululah, bukan 70 tahun susah tidak. Contoh : kalo kita sekarang umur 50 tahun masih ada 20 tahun sisa umur misalnya, kalau kita 40 tahun masih ada sisa umur 30 tahun. Maukah susah 20 tahun atau 30 tahun demi mendapatkan kebahagiaan yang selama-lamanya. Dan itu 20 atau 30 tahun tidak susah terus, tiap tahun hanya 4 bulan saja. Padahal 4 bulan itu kalau kita rinci lagi ada tidurnya, ada senangnya, ada kenyangnya makan, ada ngobrol-ngobrolnya, jadi susahnya dimana ?
Apakah jaulah itu susah ? apakah taklim itu susah ? apa susahnya ? memang gak ada susahnya, “tapi kan”, itu kebanyakan jawaban kita “Tapi kan… ini dan itu”. Jangan ber “Tapi … Tapi” ini karena “Tapi” ini merusak. “Masya Allah pak Kyai Alhamdullillah mau datang kemari, ini seperti pucuk dicinta ulampun tiba……Tapi…” walah ini mah habis sudah, rusak kesenangan kalau ada kata-kata “Tapi…maaf”. “Saya sebenernya udah lama pingin ikut pak kyai….tapi…” walah ini mah susah namanya pasti gak akan ikut. Jangan ber “Tapi…Tapi…” ingin ikut titik langsung berangkat jangan pake “Tapi…”.
Sami’na Wa Atho’na titik jangan ada koma “Tapi…”. Orang mau seribu jalan orang tidak mau seribu alasan. Kata orang malaysia orang hendak seribu daya, orang tidak hendak seribu dalih. “Saya sebenernya mau ikut… tapi maaf pak kyai…” loh minta maaf ini jangan sama saya atau kyainya, tapi minta maaf sama Allah, diterima gak “Tapi..” nya sama Allah. Kalo pingin ikut lansung berangkat, kalo tidak bisa apakah alasannya diterima Allah atau tidak, jadi ya berangkat saja. Baik saya berikan jalan keluar bagi yang masih, “Tapi…”, yaitu daftarkan dahulu namanya, lalu musyawarah kita carikan jalan keluarnya. Jangan “Tapi..” dimusyawarahkan diputuskan sendiri, “Ini karena ada ini dan itu, jadi menurut saya yang terbaik adalah keputusannya tidak berangkat.” Wah kacau ini namanya musyawarah sendiri, diputusin sendiri. Musyawarah ini bahasa bumi, kalau targhib bahasa langit, seperti liat khazanah Allah, Yakin saja pada Allah, jangan lihat kantong, ini targhib namanya. Musyawaroh itu bahasa bumi, jangan takut, kita kumpul sama-sama lihat berbagai kemungkinan, dipikirkan bersama-sama jalan keluarnya. Dalam Dakwah ini ada 2 bahasa :
1.  Bahasa Langit
2.  Bahasa Bumi
Kalau di luar dakwah ini bahasanya bumi saja tidak pernah sampai langit, dikit-dikit uang, dikit-dikit uang terus jalan keluarnya, tidak pernah sampai langit. Targhibnya bahasa langit, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata…, selalu itu refferensinya, nanti musyawarahnya bahasa bumi. Contoh : ketika Targhib jangan liat kantong khazanah Allah maha luas tanpa batas, tapi ketika di taffakud, “Loh katanya jangan liat kantong.” Ini sudah mulai bahasa bumi. Dulu Maulana Umar Phalanpuri ditanya, “Berapa taffakudnya..” dia bilang, “nanti..nanti.. saya mau sholat dulu”, terus dibalas, “yah shalat dulu sana 2 rakaat minta pada Allah, baru setelah selesai berapa kesiapannya…” Jadi tafakkud ini bahasa bumi,tidak usah takut, asal jangan diputusin sendiri. Jika disuruh pulang, ya pulang dengan pahala. Jika disuruh berangkat, ya berangkat apa adanya. Ini baru namanya jalan keluar. Taskil orang lain itu memang sulit, paling mudah itu taskil diri sendiri, saya paksa diri saya untuk mau. Dalam diri manusia itu ada 2 perkara :
1.  Nafsu :Mengajak kepada kejelekan dan menghalangi kebaikan
2.  Rohaniah : Mengajak kepada kebaikan dan menghalangi kejelekan
Kemarin waktu jalan ke tempat musyawarah disini pasti ada nafsu yang menghalang-halangi jangan berangkat, tapi ada satu sisi yang memaksakan tetep berangkat, namun karena ekat mengambil keputusan akhirnya bisa sampai disini kan. Begitu juga waktu di taskil untuk berangkat khuruj terjadi peperangan dalam diri kita memilih berangkat atau tidak, antara nafsu dan rohaniat kita bertempur. Jawabannya, yang dapat berangkat adalah yang nekat, yang memenangkan keputusan, untuk berangkat. Sudah berangkat aja nekat :
1.  Yang Nekat itu Berkat
2.  Yang Was was itu Tewas
Untuk kebaikan itu kita harus nekat, yang nekat itu berkat, dan ragu-ragu pangkal kegagalan. Masa ikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kita ragu-ragu, wong yang ikut setan aja tidak ragu-ragu. Padahal ketika mau ikut setan ada juga yang menghalangi, walaupun ada juga yang nekat untuk bermaksiat. Kok kita yang berbuat baik kok ragu-ragu : bagaimana istri saya ? bagaimana anak saya ? jawabannya berangkat saja !! Pada bulan Ramadhan ini luangkan waktu untuk berjuang di jalan Allah. Jika kita tidak mau paksakan luangkan waktu, maka waktu tidak ada yang luang-luang, sampe-sampe pengangguran saja sibuk dengan penganggurannya. Petani sibuk dengan pertaniannya, pedagang sibuk dengan perdagangannya, siapa yang mau meluangkan waktu untuk agama ? ya mulai dari saya, diri sendiri dulu.
Cari waktu luang, kalau tidak dicari ya tidak ada yang luang-luang. Seperti kita mukul paku ke kayu untuk buat kursi, kalo dilihat lobang untuk paku tidak akan ada, harus diusahakan, dipaksakan, dipukul pukul kedalam kayu sampe dia masuk. Begitu juga kita, seperti paku, dipaksakan dulu dipukul ke dalam kayu, dipaksakan dulu keluar 3 hari, masih belum masuk juga harus semakin dalam semakin kuat pukulannya, tingkatin 40 hari, lebih kuat lagi 4 bulan, baru masuk pakunya. Paku ini meluangkan tempat agar bisa memberikan manfaat, begitu juga dengan kita harus kita paksakan meluangkan waktu baru bisa mendatangkan manfaat. Jangan kayak sekarang begitu panen, sibuk belanja buat bertani lagi, panen, begitu lagi, gak luang-luang waktunya.
Setan ini pintar kerjanya menyibukkan orang dengan keuntungan agar dia tidak ada waktu beramal. Ketika mau beramal ditimbulkan was-was, rugi katanya kalau tidak jualan di Ramadhan ini. Rugi apanya ? yang rugi itu yang tidak mau dakwah, itu yang rugi. Kalau tidak dagang paling-paling rugi, kalau tidak dakwah paling-paling masuk neraka, lho masuk neraka kok paling-paling, ada-ada saja. Memang ini keahlian setan memalingkan manusia dari amal yang sebenarnya. Seperti haji dikatakan thawaf ka’bah itu keliling 7 kali, tapi keliling pasarnya bisa 70 kali, inilah kerjaan setan. Selain Ramadhan tidak terlalu laris, giliran Ramadhan laris sekali, sengaja sama setan dibuat seperti ini kondisinya. Ada suatu tempat, itu setiap sore hampir maghrib banyak sekali pembeli, sebelum ashar tidak ada pembelinya, kerjanya dipinggiran waktu dimana setan suka mengganggu manusia. Sesudah Maghrib langsung sepi maka dikenal sebagai pasar setan.
Setan ini pandai tapi lemah, nafsu ini bodoh tapi kuat. Sudah tau tidak ada faedahnya tapi ingin saja, seperti menonton sinetron, ini tidak ada fadhilahnya, tapi orang suka nonton. Sinetron tentang anak yatim berhasil membuat orang nangis, padahal aktonya senang dapet uang bayaran. Orang nangis menonton aktornya, si aktor gembira udah diabayar, kok mau dikibulin televisi. Mak Lampir, superman, batman, itu semua fiktif, bohong, tidak ada, tapi kok orang suka dan mau aja dikibulin kisah bohong. Asal muasal televisi dan kisah-kisahnya yang dibuat-buat ini kononnya ciptaannya orang yahudi. Kalau kisah nyata yang paling baik ini adalah kisahnya orang islam yaitu kisah para Anbiya ‘alaihimush shalatu wassalam dan kisah Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajmain. Karena yahudi ini tidak punya kisah-kisah seperti itu sehingga mereka merekayasa cerita-cerita untuk mengelabui kita.
Didalam suatu bayan diceritakan ada seseorang membuat dongeng yang membuat orang takjub, ketika ceritanya menjadi seru di stop sama si pendongeng untuk dilanjutkan besok. Sehingga orang penasaran ingin datang lagi besoknya untuk mendengarkan dongeng. Besoknya begitu lagi, dia lanjutkan dongengnya sampai pada moment paling seru di stop lagi, terus dilanjutkan besok hingga hari ke enam. Lalu singkat cerita ada yang nanya kepada si pendongeng ini siapa dia kok bisa begitu ahli dalam berdongeng. Si pendongeng katakan bahwa dia itu adalah Iblis Laknatullah Alaih. Iblis bikin cerita, jangan-jangan mahabrata dan lain-lain ituadalah cerita iblis, tidak ada yang sungguhan semuanya fiktif. Kini kisah-kisah yang beredar kebanyakan adalah cerita fiktif, rekayasa semuanya, karena yang asli dan nyata hanya kisah dalam islam yaitu kisah sahabat radhiyallahu ‘anhum. Maka kita kembali saja ikut Rasullullah Saw, tidak usah ikut yahudi.
Bagaimana belajar ikut Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Kalau belajar TK berapa tahun ? 2 tahun. Setelah 2 tahun bawa ijazah TK ke jakarta melamar pekerjaan. Bilang ke pewawancara, ini ijazah TK lho 2 tahun lamanya, orang jemaah tabligh aja cuman 4 bulan, lho bawa-bawa jemaah tabligh segala. Ini hanya 4 bulan saja sangat sebentar. Dunia sementara, akherat selama-lamanya. Untuk dunia yang sementara ini pantesnya 3 hari untuk dunia, 27 hari untuk akherat. Dalam 1 tahun, untuk dunia 40 hari saja, untuk akherat 320 hari. Bagaimana kalau seperti itu ? jawaban orang-orang pasti, “Bagaimana bisa kayak gitu pak kyai, 320 hari untuk dunia saja masih kayak gini apalagi cuman dikasih 40 hari untuk dunia ?” padahal kita tahu dunia ini sementara dan akherat selama-lamanya, maka secara porsi waktu seharusnya lebih diutamakan akherat. Maulana Ilyas ini bijaksananya luar biasa, untuk dakwah itu sebenarnya bukan 3 hari atau 40 hari atau 4 bulan, tapi seumur hidup. Kalau ditaskil keluar seumur hidup, bingung, kurang lagi ditaskil 1 tahun, masih bingung juga. Maka yang di tawarkan oleh Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih ini 10% saja dari waktu kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Kalian (sahabat) dalam suatu zaman jika meninggalkan seper sepuluh saja maka kalian akan hancur, tapi akan datang kalau mereka berpegang teguh pada seper sepuluhnya mereka akan selamat”
Sepersepuluh dari 24 jam itu 2.5 jam, sepersepuluh dari 30 hari ini 3 hari, sepersepuluh dari 360 hari itu 36 hari. Kenapa 40 hari kalau gitu ? ini ada rahasianya. “Apa itu rahasianya pak kyai ?” wah kalau dikasih tau ini bukan rahasia lagi. Mau tahu, ya ikut saja. Dalam kisah para Anbiya ‘alaihis shalatu wassalam :
1.  Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dibakar dalam api ini 40 hari
2.  Nabi Yunus ‘alaihis salam didalam perut ikat selama 40 hari
3.  Nabi Nuh ‘alaihis salam dalam perahu selama 40 hari.
Fadhilah rahasia itu banyak :
1.  Barang siapa tahu fadhilah shaf awal, maka dia akan berebut di shaf awal
2.  Barang siapa tahu fadhilah adzan, maka dia akan berebut untuk adzan
Ini adalah fadhilah rahasia. Jadi 4 bulan ini adala 3 x 40 hari. Kalau 40 hari pertama masih banyak kurangnya, kita perbaiki di 40 hari kedua, kalo masih belum sempurna maka kita sempurnakan di 40 hari yang ketiga. Insya Allah kita niat berangkat, jangan sampai niat saja tidak. “Pokoknya saya mau datang tok aja.” Lho jangan, kok dibuat “pokoknya” ? kok dibuat “Tok…” ? harusnya kita bilang “Kalau baik, saya mau ikut.” Atau “Kalau baik, saya mau berangkat.” Gitu lho. Kalau tidak baik ? apanya yang tidak baik ? Fadhilah dakwah ini apakah tidak baik ? ribuan berkah dalam dakwah ini tidak baik ? Banyak orang nyari berkah sampai sowan kepada ulama dan wali-wali. Padahal yang diminta keduniaan juga. Silahkan saja, padahal keluar Fisabillillah ini berkahnya lebih banyak. Sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini berkahnya luar biasa.
Sahabat radhiyallahu anhu mempunyai sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia katakan, “Sehelai rambut ini lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya.” Ini karena cintanya sahabat radhiyallahu ‘anhu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini baru yang benar. Namun kini sehelai rambut Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini sudah tidak ada, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini lebih tinggi daripada sehelai rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat ini.
Satu Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini lebih tinggi daripada langit beserta isinya. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini berapa nilainya ? kata Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih seorang Ulama besar katakan bahwa yang dia ketahui dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini baru satu persent ( 1 % ). Ini kata siapa ? maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih ulama besar. Kalau ada yang mengatakan maulana ilyas ini orang bodoh ini adalah orang bodoh. Kalau sekelas ulama besar seperti Maulana Ilyas saja bilang baru tahu cuman satu persen gimana kita ? Lalu ditambah lagi oleh Maulana Ilyas dari yang dia tahu dan yang dia amalkan baru satu persen juga.
Dalam suatu kitab dikatakan Sifat-sifat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam kalau lautan dijadikan tinta, dan pohon-pohon jadi pena, seluruh manusia dan jin menulis sifat-sifat dalam Rasullullah, maka seluruh manusia akan mati, lautan akan kering, pohon-pohon akan habis, dan sifat Rasulullah ‘shallallahu ‘alaihi wasallam masih banyak lagi. Jadi Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini bukan laki-laki biasa. Kamu laki-laki, saya laki-laki, bukan seperti itu, tidak sebanding Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu mulia, kalau dibandingkan kita ini rendahan. Karena kita belajar dari orang yahudi dan nasrani, ikut-ikuti gaya mereka, maka kita rendahkan sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kita agungkan daripada sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi :110)
Semua yang dilakukan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah wahyu. Jadi rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini tidak mungkin salah. Setiap apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah paling baik. Apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam cocok untuk kesehatan, untuk keselamatan, untuk apa saja. Yang menkritik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah orang murtad, mengkritik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sama dengan mengkritik Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan dikatakan, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam beristri sembilan ini dibilang sebagai dari bagian Mukjizat. Saya ini lebih muda dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi kalau punya istri empat ini kerepotannya sudah luar biasa untuk menunaikan hak mereka. Sedangkan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam satu hari ini 9 kali, padahal umur sudah tua, sering lapar lagi. Ini mukjizat namanya, saya berbicara dalam rangka mengagungkan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Beda dengan Yahudi dan Nasrani yang menghina-hina rasullah saw seakan nabi ini bejat dan lain-lain. Lisan dan Logika kita tidak boleh seperti mereka, yahudi dan nasrani. Ini karena kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini berdasarkan wahyu termasuk pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada maksudnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Makanya kalau mau belajar, belajarlah dengan ulama yang Amilin dan Sholihin. Mau belajar sama muridnya orang-orang yahudi dan nasrani. Kita ikut saja Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jangan ikut yahudi dan nasrani. Maka untuk belajar mengikuti Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah berangkat khuruj fissabillillah selama 4 bulan, seharusnya seumur hidup, tapi untuk tahap awal dipermudah. Susahnya itu meluangkan waktu ini, maka harus kita paksakan
Maksud Hidup itu untuk Dakwah. Maksud hidup itu apa ? dalam hidup ini ada 2 hal :
1.  Ada Maksud Hidup
2.  Ada Keperluan Hidup
Kita punya rumah ada Maksud Rumah dan Ada keperluan rumah. Maksud Rumah itu adalah untuk ditinggali oleh istri dan anak. Keperluan rumah itu seperti WC. Kalau tidak ada WC mau buang air dimana ? buang air di tempat tidur ? atau di ruang tamu ? ini lucu-lucuan namanya. Harus ada WC, tapi WC nya ini sederhana saja. Ada rumah yang sederhana tapi WC nya mewah : ada TV nya, ada Radionya, ada tempat kopinya, surat kabar di wc, telepon di wc, apakah mau hidup di WC ? Ingin ke jakarta keperluannya mobil . Boleh sebelum ke jakarta di cat mobilnya dulu biar apik, tapi jangan gonta ganti cat akhirnya gak berangkat-berangkat. Ngecat atau mendandani mobil ini hanya keperluan bukan maksud. Kita punya keperluan hidup dan maksud hidup. Makan dan Minum ini hanya keperluan, tapi maksud hidup itu untuk dakwah. Boleh kita nyari makan dan minum sebagai keperluan, untuk menguatkan kita, untuk apa ? untuk dakwah, karena maksud hidup itu untuk dakwah. Bukannya hari-hari nyari makan dan minum, maksud hidup malah dilupakan.
Bani Israil itu bingung 40 tahun dalam satu mil, kalo kini sejengkal kali sejengkal binging selama 60 tahun, sampe ke amerika untuk isi perut. Ada seorang Da’i Buzruk, orang tua, ditanyai, “Mbah kenapa manusia ini senang pada dunia ?” kebetulan disitu ada lemper, katakan kalo sekarang harganya 500 rupiah, kalo udah dibuka jadi tinggal 300 rupiah. Kalo sudah digigit lempernya, ya sudah tidak ada harganya lagi. Masih nanya lepehannya yang udah keluar jadi kotoran berapa ? ini lebih gawat lagi, menghinakan namanya. Kalau sudah dimakan, lalu masuk WC itu harganya berapa ? penghinaan namanya, begitu kok disenangi, senang kok sama yang di WC ? kalau ada orang yang nawarin Madu palsu kira-kira ada yang mau beli tidak ? ini dunia ini sudah kasih tahu palsu kok orang pada rebutan.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“…Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)
Dunia itu hanya tipuan seperti permainan saja. Jadi kita tinggalkan dunia yang sementara ini, sebelum kita meninggalkan dunia. Enak mana meninggalkan dunia atau ditinggalkan dunia ? gak enak semua, disuruh milih kok gak enak semua. Padahal ini pasti, ditinggal dunia jadi orang fakir, meninggal dunia ya mati namanya. Besok mati, sekarang mau apa ? ada polisi bilang besok kamu mau saya tembak. Trus kta bilang besok saya mau panen, ini dagangan belum laku. Kata polisi silahkan dipanenkan, silahkan dilakukan dagangannya, pokoknya besok saya tembak. Jadi kalau waktu tinggal satu hari apa yang kita lakukan ? ya untuk amal. Amal yang seperti apa ? yang pahalanya kecil atau yang pahalanya besar ? besar tentunya, kalau diberitahu ingin diamalkan atau didengarkan saja. Yang paling besarnya pahalanya itu ya Dakwah Fisabilillah di jalan Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fusshilat : 33)
Memberitahu ini mudah mengamalkan yang sulit. Menumbuhkan kemauan, sekarang ini mau atau tidak itu saja. Bayan panjang-panjang ini sebenarnya untuk merayu saja atau nanti ada yang datang kerumah merayu-rayu lagi. 
Ada kisah di Bangladesh :
“Seorang petani dirayu sama jemaah taskil untuk keluar fisabilillah, dia menolak karena mndekati masa panen. Masih tidak mau datang rombongan yang keluar untuk mentaskil lagi petani ini. Masih tidak mau tidak selang beberapa lama datang lagi rombongan keluar mentaskil petani ini. Akhirnya petani mau juga dan berangkat menjelang Panen. Ketika berangkat, ada kejadian pencuri ini mengambil hasil panennya dari sawah. Setelah dikumpulkan di markaz pencuri, si ketuanya nanya ini curian dari mana ? si pencuri bilang dari si fulan petani. Lalu si ketua bilang, “Gawat ini punya jemaah tabligh, bahaya kalau kita curi ini, bisa celaka kita, kualat nantinya.” Akhirnya singkat cerita dikembalikanlah di antar kerumah si petani tadi. Pagi-pagi bangun istri terkejut ada hasil panen di rumahnya, si istri menyangka suaminya sudah memesan orang untuk memanen hasilnya untuk diantar kerumah. “Baik sekali suami saya ini, sungguh perhatian sama istrinya, gak mau ngerepotin istri, ngirim orang untuk memanen hasil.” Setelah pulang 40 hari si suami menanyakan kepada istri apakah ketika dia berangkat 40 hari, hasil panen sudah diambil dari sawah. Si istri terkejut karena dia pikir suaminya sudah mengirim orang untuk melakukannya, sehingga dilaporkanlah kejadian tersebut kepada suaminya.”
Hikmah dari kisah ini adalah Allah mampu menggunakan tangan pencuri atau orang jahat untuk menyelesaikan masalah kita asbab keluar di jalan Allah. Allah Maha Kuasa bisa menggunakan pencuri yang mau berniat jahat sama kita, menolong kita panenan. Kita yakin saja terhadap Allah dan janji-janji Allah. Andaikata kita yakin pada janji Allah sama seperti kita yakin sama janji gubernur atau atasan kita.
“Dari Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sepagi atau sepetang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. (Hr. Bukhari. Bagian dan Hadits yang panjang, bab Sifat surga, Hadits nomor 6568)
Harga dunia seisinya ini kira-kira berapa ? Gak bisa di nilai. Kita kerja 100 tahun membeli kecamatan glodok saja tidak akan bisa. Ini sepagi sepetang dijalan Allah bisa membeli dunia beserta isinya ini gimana ? ada contoh kisah :
“Seorang anak kecil dibawa ayahnya ke PLTA ada turbin berputar-putar. Turbin ini berputar sehari hasilnya miliaran. Anak kecil ini tidak ngerti kenapa turbin yang kerjanya cuman mutar-mutar kok bisa menghasilkan miliaran, padahal ayahnya banting tulang disawah sepagi sepetang cuman dapat rp. 50.000 saja. Maka si anak di bawa ke Madiun, ke Magetan, ke Bojonegoro, ke Lamongan, ke Pacitan, ke Semarang, kata bapaknya bahwa semua tempat itu bayar ke PLTA karena turbin tadi. Si anak mikir kalau begitu bisa lebih dari miliaran bayarnya.”
Ini adalah hasil pemikiran dari otaknya seorang insinyur. Bagaimana bekerja dengan Dzat yang menciptakan otaknya insiyur. Turbin tadi hanya muter-muter saja bisa miliaran hasilnya, bagaimana dengan pagi sepetang dijalan Allah ? jawabnya lebih baik dari dunia beserta isinya. Tapi kenapa kita tida mau dengan tawaran dari Allah ? seharusnya mau. 
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا وأعمل لأخرتك كأنك تموت غدا
“Bekerjalah kalian seakan-akan kalian hidup selamanya, beramalah kalian seakan-akan mati esok”
Beramal itu tidak ada hari esok, yang ada hari ini besok sudah mati, tetapi kalo kerja dunia ini santai saja. Gagal kerja hari ini lusa bisa dikerjain lagi, gagal besok usahakan minggu depan atau bulan depan atau tahun depan, santai saja karena hidup selama-lamanya, tidak usah khawati, masih banyak waktu untuk dunia. Tapi untuk akherat, segerakan, karena hari esok sudah tidak ada lagi untuk beramal, hari esok itu sudah harus mati, jadi sekarang ini beramal. Masalahnya tidak nampak dimata, kalau nampak dimata jangankan manusia ayam saja juga percaya. “Ayam sini saya beri gabah, jangan lari goblok..!” wong ayam di goblok-goblokin, tebarin aja gabahnya, ayamnya datang semua bahkan ayam tetangga ikut juga. Ini karena nampak dimata, walaupun digebuk atau diusir, datang lagi ayamnya karena nampak dimata fadhilahnya. TKI kita di Malaysia di usir, eh datang lagi, diusir, datang lagi, ini karena fadhilahnya nampak dimata. Makanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” (QS. Al Baqarah : 3)
Janji Allah subhanahu wa ta’ala pasti lebih pasti dari terbitnya Matahari dari ufuk timur !! Mari kita siapkan diri kita untuk berangkat.
Kisah Taskil Maulana Umar Phalampuri :
Ketika Maulana Umar baru pulang taskyl 1 tahun di Jazirah Arab baru sampe di markaz, pulang bawa jemaah taskilan. Maulana Yusuf, amir dakwah waktu itu, minta agar Maulana Umar mau pergi menemani jemaah sebagai takaza, padahal tiket pulang sudah di beli. Baru pulang sudah taskyl lagi, karena waktu itu belum ada banyak orang yang mengurusi jemaah di Nizamuddin, akhirnya maulana umar pergi sama jemaah tersebut untuk takaza selama 10 hari. Setelah 10 hari pulang ke Nizamuddin baru nyampe ada takaza lagi jemaah dalam negeri, lalu diminta sama Maulana Yusuf untuk menambah masa. Maulana Umar ini sudah berat sekali mengambil takaza tersebut, tapi tetep taat pada Amir, berangkat juga menemani jemaah takaza 10 hari lagi. Setelah 10 hari pulang, nyampe markaz diminta lagi oleh Maulana Yusuf untuk menemani jemaah tersebut. Maulana Umar karena letihnya keluar 1 tahun dan sudah 2 x 10 hari ambil takaza, minta izin kepada Maulana Yusuf untuk pulang dulu. Maulana Yusuf marah besar ke Maulana Umar lebih mementingkan dunia, pulang ke rumah, dibanding takaza dakwah. “Jadi Maulana tidak mau mendahulukan dakwah dari diri maulana kalau gitu pulang saja.” Kata Maulana Yusuf. Mendengar ini Maulana Yusuf marah, akhirnya Maulana Umar pergi lagi tidak jadi pulang bawa jemaah takaza 10 hari yang ketiga.
Kata Maulana Umar, 1 bulan yang tidak niat ini lebih berat dari yang 1 tahun keluar dengan niat. Waktu satu tahun keluar itu sudah dihitung, sedangkan yang satu bulan ini diluar perhitungan. Berat sekali bagi seorang Maulana Umar. Ini karena tarbiyah dalam 1 bulan ini lebih tinggi dari pada tarbiyah untuk 1 tahun. Inilah Mujahaddah mereka, makanya hidayah turun diseluruh alam asbab pengorbanan mereka.
Oleh karena itu yang sudah mau pulang, jangan pulang dulu, kita catat nama saja, lalu minta dimusyawarahkan dibelakang. Kalaupun pulang, balik bawa pahala hasil musyawarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar