Pages

Selasa, 27 November 2012

91. KISAH GITO ROLLIES DALAM USAHA DAKWAH DAN TABLIGH


Gito Rollies
PERSONAL
Bangun Sugito atau populer dengan nama Gito Rollies, lahir di Biak, Papua, 1 November 1947. Ia dikenal sebagai rocker, aktor dan juga penceramah agama. Sementara nama Rollies yang dipakainya diambil dari grup bandnya, The Rollies.
Penyanyi bersuara serak basah dengan gaya panggung atraktif itu, sejak 2005 mulai 'melawan' kanker kelenjar getah bening yang dideritanya. Manakala kesehatanya turun Gito harus terbang ke Singapura untuk melakukan teraphi. Bahkan beberapa kali mengalami koma.
Pelantun lagu Kemarau, Astuti dan Burung Pipit itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan pada 28 Februari 2008, setelah menerima perawatan sehari sebelumnya. Suami dari Michelle, seorang perempuan asal Belanda itu meninggal pada pukul 18.45 WIB, di RS Pondok Indah akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.
KARIR
Gito tergabung dalam band The Rollies asal Bandung yang pernah terkenal pada masa 1960-an sampai dengan 1980-an yang personelnya terdiri dari Uce F. Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa dan Teungku Zulian Iskandar.
Gito sendiri juga pernah berkiprah dalam dunia film, termasuk dalam film KERETA API TERAKHIR dan JANJI JONI, yang kemudian mengantarkannya meraih piala Citra aktor pembatu pria terbaik.
Nama Gito yang pada awalnya dikenal sebagai rocker, kemudian menghilang dari peredaran panggung rock Indonesia. Gito kemudian muncul menjadi seorang dai (juru dakwah), yang kerap tampil dengan pakaian putih dan nampak lebih bijaksana.
DISKOGRAFI
Album-album

GOYAH
PERMATA HITAM
ASTUTI
TUAN MUSIK: Bingung Ironi, Perasaanmu saja, Sangsi, Mimpi, Srikandi, Angkara, Batas Hidup, Kau Ada
JARUM NERAKA
AKU
PUTRI AYU
PERASAAN
SEDERHANA TAPI NYATA
NONA: Nona, Es Mi Ran, Getar, Spekulasi, Halo Joe, Binal, Penjilat, Dongeng, Otomatis, Heboh
Album Lain
1989 - Album singel Nicky Astria, CINTA DI KOTA TUA menyanyikan lagu Cewek Komersil karya Junaedi Salat.

AWAL PERJALANAN GITO ROLLIES HINGGA MASA KETENARANNYA
Bangun Sugito Tukiman, adalah salah satu nama dari sekian juta penduduk negeri ini yang terhipnotis oleh musik rock (barat). Figur The Rolling Stones, dengan lead vocal-nya Mick Jagger, menjadi idola remaja yang lahir di kota Biak dan besar di kota Bandung ini. Bahkan aksi nekatnya di tahun 1967, membuat kota Bandung gempar, ketika dirinya yang mendapat cap “Siswa Bengal” termasuk salah satu siswa yang lulus dari SMA-nya, melakukan aksi tanpa busana sambil naik sepeda motor mengelilingi kota kembang tersebut. Kesukacitaannya dilampiaskan dengan gaya ala rocker, maklum, daftar kenakalannya lebih panjang dari daftar absen murid, sehingga ia tak yakin jika namanya akan tertulis di papan pengumuman seperti teman-temannya yang lulus (tempointeraktif.com).
Selepas SMA, di kota yang sama, Bangun Sugito Tukiman (vokal) bersama rekan-rekannya, Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone, gitar), Benny Likumahuwa (trombone, flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F. Tekol (bas) mendirikan band yang bernama The Rollies. Di era 1970-an, The Rollies semakin eksis dan menunjukkan taringya sebagai grup band rock handal di tanah air. Belakangan, setelah sukses dengan beberapa hits yang sempat bertengger di blantika musik Indonesia, namanya pun berganti menjadi Gito Rollies. Waktu terus berjalan, anak tangga karir perlahan-lahan ditapaki satu demi satu. Sanjungan dan pujian, memmembuat dirinya telah merasa menjadi seorang Mick Jagger Indonesia, sosok yang dikagumi dan diidolakannya.

Pria yang sempat mengenyam kuliah dua tahun di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), terus larut bersama kebesaran The Rollies. Aksi panggungnya mirip dengan sang idola, suara serak ala James Brown, bapak moyang soul dan funk, menjadikannya pusat perhatian. Kesuksesan di panggung telah mengantarkan diri dan kelompoknya di industri rekaman, pun mengantarkannya menjadi hedonis sejati. “Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.
Di masa ketenarannya, pada awal tahun 1980, ia menjalin hubungan intim dengan putri seorang aktor dan komedian besar, Uci Bing Slamet, dan darinya dikaruniai seorang anak lalu berpisah setelahnya. Bahkan setelah menikah dengan perempuan impor, wanita keturunan Belanda, Michelle Van der Rest, tahun 1983, ia masih belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh narkotika (AntaraNews). Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).
Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.
DIMASA TENARNYA
DI MASA tenarnya, Gito Rollies dikenal sebagai sosok musisi yang “gila”, terkesan urakan bin slenge’an, dan ceplas-ceplos kalau bicara, termasuk dalam bermusik. Lantas, apa jadinya jika “kegilaan” Gito ini berpadu dengan sosok “gila” yang lain? Hasilnya tentu saja adalah ramuan rock ‘n roll yang mahadahsyat. Ya, “kegilaan” Gito Rollies memang semakin nyata tersalurkan berkat duetnya bersama seorang karibnya yang sama-sama pernah bernaung di grup The Rollies. Orang itu adalah Dedy Stanzah, yang juga berkibar di bawah panji-panji Superkid.
Gito dan Dedy adalah pasangan sejati dalam dunia hiburan. Mereka adalah duet maut penghibur ulung yang nyaris tanpa takut mengungkapkan apa yang ada di dalam benak mereka, bahkan pikiran yang terliar sekalipun. Tidak percaya? Coba simak duet mereka dalam lagu berjudul Koq (Lepas Sensor) di mana Gito dan Dedy berkoar lepas plus ceplas-ceplos. “Protesmu jelas, kritikanmu boleh pedas, diam-diam juga doyan!” celetuk keduanya di lagu yang bertema tentang serbuan kritik terhadap film-film panas yang marak di zaman peralihan dari dekade 1980-1990’an itu.
Lagu-lagu lainnya hasil kolaborasi mereka pun tak kalah memukau. Dengarkanlah tembang bertajuk Rock’in Bird yang sangat kental dengan nuansa rock n’ roll. Atau lagu persembahan dari Dedy yang terinsipirasi dari aksi khas Gito yang memang piawai nge-dance, berjudul Do the Gito Dance. Keduanya juga menyanyikan ulang lagu Kehidupan, yang dipopulerkan oleh God Bless, dengan kemasan yang berciri khusus. Tipikal vokal Gito Rollies yang serak-serak basah dengan sedikit bumbu “genit” berpadu dengan ciri suara Dedy Stanzah yang “lemas”, terkesan “agak malas”, namun tetap berkarakter, berharmonisasi dalam lagu Kehidupan itu sehingga hasilnya cukup menjadi pembeda dengan tampilan aslinya yang diisi vokal Ahmad Albar.
Gito Rollies dan Dedy Stanzah memang pasangan klop. Berdua, mereka menikmati masa muda dengan “bersenang-senang” di gemerlapnya dunia hiburan kendati karya mereka tetap terus berjalan cemerlang, salah satunya lewat album kolaborasi bertajuk Higher and Higher. Kini, keduanya telah tiada. Dedy Stanzah wafat pada 22 Januari 2001. Sedangkan Bangun Sugito alias Gito Rollies menghembuskan nafas penghabisan pada 28 Februari 2008 setelah dalam beberapa tahun terakhir ia menyatakan tobat dan menjalani kehidupan religius dengan lebih serius. (Iswara N Raditya)  
AWAL KESADARAN
Tahun 1995, atau tepat setelah 10 November, Sang Rocker baru benar-benar berhenti mengkonsumsi drugs dan alkohol, setelah mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya shock lahir batin. Sepulang dari konser Hari Pahlawan di Surabaya, di bawah pengaruh narkoba, selama tiga hari ia mengalami fly, tak bisa makan dan tak bisa tidur, dan selama tiga hari itu semua kelakuannya di masa lalu seperti diputar di depan mata. “Saya takut sekali,” ujarnya seperti diungkap kepada koran Tempo. Namun yang paling membuatnya ciut justru menyangkut segala omongan yang pernah terlontar dari mulutnya. Fitnah dan gunjingan terhadap musisi lain, termasuk melakukan ghibah (membicarakan kejelekan orang lain).
Pengalaman tiga hari itulah yang menjadi titik balik dirinya untuk kembali kepada Allah. Khabar tentang kekuasaanNya, telah diwartakan ke segenap penjuru bumi kepada seluruh manusia, hanya saja tidak banyak orang yang menyadarinya,
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ  وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51 : 20-21).
Jika seseorang memperhatikan tanda-tanda itu, dan Allah subhanahu wa ta’ala telah membukakan jalan masuk untuk memahami, tentu tidaklah sulit. Dalam ayat lain, Allah berfirman,
فَلَمَّا أَنجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنفُسِكُم ۖ مَّتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yunus, 10 : 23).
Bisa jadi peristiwa yang ia alami, karena Allah hendak mengabarkan hal itu kepadanya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Di usia kepala empatnya, seorang Gito Rollies diingatkan Allah subhanahu wa ta’ala melalui sebuah peristiwa spiritual yang memmembuatnya bergidik ketakukan. Nyalinya ciut, gemetar badannya, kekuatan musik cadas tak mampu menyangga hatinya yang terkoyak kala tanda-tandaNya telah diterima saat dirinya fly. Kesadaran bathinnya bergolak untuk bangkit dari masa-masa kelam yang telah mengotori jiwanya.
Sang Rocker kini dalam kesadaran awal setelah puluhan tahun terlelap bersama kesuksesan, polularitas, dan kenikmatan duniawi. “Saya harus hijrah, bukan ini tujuan saya dilahirkan ke muka bumi, tetapi ada tugas lain yang harus saya lakukan sebagai bekal pertemuan dengan Sang Pemilik jiwa ini,” ujar hati itu berkata lirih.
Hatinya telah terbuahi cintaNya yang tulus dan suci sehingga sang hati sejati berkata,
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf, 12 : 53).
Sebelum merasakan ke-Maha Besaran Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya. Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.
Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.
Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang banyak menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati. Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.
Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat. Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.
“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan.” “Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lanbeg membuat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.
“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urekan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”
Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarakan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam. Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.
“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.
Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.
“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.
“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”
Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan membuatku sepenuhnya meraih kebahagiaan.”
“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.” Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan. “Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.
Setelah mengalami pengalaman rohani, dirinya mulai banyak bergaul dengan kalangan ulama, mengaji, serta mempelajari Al-Qur’an dan Hadits secara mendalam. Perlahan-lahan Allah subhanahu wa ta’ala tanamkan pemahaman arti hidup sebenarnya. Sang Gito Rollies merasa telah menemukan hujjah yang mendasari hidupnya. “Dulu saya suka Mick Jagger, saya bahagia kalau populer. Ibaratnya, dulu tuhan saya adalah popularibeg. Nabi saya adalah para idola saya, dan rocker-rocker luar negeri, sekarang saya begitu mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ajaran-Nya,” ujarnya.
ALLAH MAHA BESAR, demikian kira-kira satu ungkapan yang cocok dialamatkan kepada legenda musik rock Indonesia tersebut. Ketika Gito memutuskan berputar haluan 180 derajat dari dunia rocker yang hingar bingar menuju kehidupan Islami yang sarat dengan dakwah, banyak sahabat yang kaget, seolah tak percaya. Apalagi bagi sahabat yang sangat mengenal Gito, rasa-rasanya “mustahil” ia berubah seperti itu. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Gito ketika itu adalah “aneh bin ajaib”. Apalagi jika membandingkan gaya hidup dan penampilan Gito dulu yang “compang-camping” ala rocker, berubah menjadi seorang yang sangat Islami. Bahkan pakaian sehari-harinya pun bukan celana jins robek lagi, melainkan pakaian gamis lengkap dengan peci, layaknya umat Islam.
GITO ROLLIES DALAM USAHA DAKWAH DAN TABLIGH
Tidak ada yang tidak mungkin selain mengecat langit! Demikian kira-kira perumpamaan yang sedikit nyeleneh untuk mengungkapkan fenomena hijrahnya Gito Rollies ke dunia dakwah. Sejak 1997 ia mulai menapaki “karir” dalam dunia karkun Jamaah Tabligh (pekerja dakwah yang rela mengorbankan harta dan kehidupan dunia semata-mata untuk berdakwah di jalan Allah). Selama rentang waktu 1997-Februari 2008 ini, Gito telah malang melintang keliling Indonesia untuk menyebarkan dakwah kepada umat Islam. Berpindah dari mesjid satu ke mesjid lainnya.
”Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya,” ungkap Gito semasa hidup. Hal itu ia ungkapkan seraya mengenang awal mula kembali ke jalan Allah. (dikutip dari suaramerdeka.com. Berita Edisi 17 April 2004. Diakses Sabtu, 01 Maret 2008)
Khuruj fi Sabilillah (pergi ke luar rumah/kampung halaman) semata-mata untuk senantiasa memperbaiki iman dan ketakwaan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat, diputuskan Gito sebagai jalan hidup. Seorang artis ibukota dalam salah satu siaran televisi Nasional mengungkapkan suatu pernyatan Gito yang mengharukan sekaligus membahagiakan, “Gito dulu pernah berkata kepada saya, bahwa ia ingin mati di panggung sebagai seorang rocker. Tapi suatu saat ia justru berubah pikiran. Gito bilang ia ingin mati di panggung, tapi bukan sebagai rocker melainkan saat berdakwah,” ungkapnya dengan nada haru dan berlinang air mata, seraya menjelaskan bahwa keinginan Gito tersebut dikabulkan Allah lewat jalan lain, yaitu Gito meninggal sesampainya di Jakarta setelah beberapa hari melaksanakan dakwah khuruj fi sabilillah di Padang, Sumatera Barat.
Demikian pula Da’i kondang Arifin Ilham, kepada wartawan, sembari tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan bahwa Gito Rollies adalah teladan bagi umat. Ia juga mengungkapkan semasa hidup Gito telah berjuang di jalan Allah dengan membawa misi dakwah, meskipun penyakit yang diderita Gito cukup berat.
Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.
BERDAKWAH DI KALANGAN ARTIS
Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita. Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan perbuatannya saat ini.
Ia pun berdakwah di kalangan artis, baik penyanyi maupun bintang film. Allah seolah telah mengirim seorang utusan dari kalangan mereka sendiri, komunitas yang sangat rentan terhadap segala bentuk kemaksiatan, seperti minuman keras, narkoba, bahkan seks bebas. Profesinya sebagai artis didayagunakan untuk syi’ar agama Allah, mengajak mereka dengan cinta kasih, tidak pernah memaksa, bahkan tidak merasa dirinya paling baik dan paling benar. Baginya, teladan lebih utama dari sekedar retorika religi belaka.
Pentas musik dengan beberapa kelompok band muda terus dijalani. Bedanya, pentas kali ini tanpa alkohol dan drugs serta menyelipkan syi’ar Islam di setiap penampilannya. Juga di balik layar lebar, film-film bertema religius sanggup dilakoni dengan satu semangat, yaitu menggemakan ajaranNya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah.
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata) : Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain dariNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya).” (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 32).
Beberapa tahun belakangan, orang mulai memanggilnya Ustadz Gito, meski ia menolak panggilan itu. Banyak kalangan artis yang tersadarkan setelah menyimak penuturan pengalaman hidupnya. Teladan dan ucapannya yang lemah lembut membuat semakin banyak orang yang simpatik dengan isi dakwah, syi’ar yang diangkat dari pengalaman pribadinya. Ia pun sempat mendaur ulang album lawasnya, Cinta yang Tulus, bukan lagi tema cinta antara sepasang manusia tetapi antara makhluk dan Khalik.
Kini Kang Gito telah berubah, masa lalu memang tidak mungkin terhapus dari diary-nya, dan akan menjadi catatan sejarah panjang. Tetapi itulah kehidupan, segalanya belum titik, tapi masih koma. Dan baru mencapai titik bila ajal menjemput. Jalan hidupnya mengingatkan kita pada sosok Cat Stevens yang pernah tersandung sebuah kejadian luar biasa, lantas banting setir ke arah tidak terduga setelah selamat dari gulungan ombak besar di pantai Hawaii. Cat Stevens meninggalkan agama lamanya dan dunia yang memungkinkan segalanya kecuali spiritualitas. Ia pun berganti agama dan namanya dengan jati diri yang baru, yaitu Yusuf Islam. Gito Rollies tidak perlu ganti nama, namun dirinya bermetamorforsis menjadi hambaNya yang memahami tujuan hidupnya serta berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain walaupun harus berceramah di atas kursi roda dan melawan penyakit kanker getah benih yang menderanya sejak 2005.


BERBAGI NIKMAT TAUBAT BERSAMA GITO ROLLIES

Suasana shalat jum’at (16/4) di Masjid Al-Ma'mun di kompleks Redaksi Suara Merdeka, Jalan Raya Kaligawe Semarang boleh jadi tak berbeda dari beberapa shalat jumat sebelumnya, yaitu dipenuhi oleh para anggota redaksi dan karyawan, serta beberapa orang dari sekitar yang biasa sembahyang di sana. H Thobari, anggota redaksi yang juga salah seorang takmir masjid tersebut mengatakan, khatib dan imam shalat bersifat reguler atau sesuai dengan jadwal.
Mungkin yang membedakan shalat jumat kemarin adalah kehadiran H Gito Rollies, artis dan rocker yang kini lebih banyak melakukan dakwah. Dia datang selain untuk shalat jumat juga memberikan ceramah singkat mengenai pertaubatannya kembali ke jalan Islam.
Semalam Gito juga tampil di ruang Poncowati Hotel Patra, dalam rangka pengajian Qolbun Salim. Selain dia, hadir pula aktor senior Deddy Sutomo, pengurus Majelis Pengajian Qolbun Salim dan Direktur PT Suara Merdeka Press Kukrit Suryo Wicaksono MBA. Setelah ceramah Gito Rollies sekitar 20 menit, digelar acara ramah-tamah sembari makan siang di Aula Suara Merdeka Lantai III.

''Saya bukan ahli agama, juga bukan juru dakwah. Saya masih seorang artis dan penyanyi. Tapi memang saya mensyukuri nikmat taubat menemukan kebenaran Islam,'' tutur pemilik nama asli, Bangun Sugito itu mengawali ceramahnya.

Siang itu, penulis buku Sujud Haru di Atas Sajadah mengenakan baju koko abu-abu dengan celana longgar berwarna sama dan kopiah putih. Bagi yang ingat gaya menyanyi tersebut ketika masih menjadi rocker bersama Rollies Band, boleh jadi akan berpendapat mungkin dia kesurupan. Gaya bicaranya cepat, lengkap dengan gestur yang ekspresif sehingga menimbulkan kesan energik.
Namun Gito Rollies sekarang dan dulu jauh berbeda. Itu juga diakuinya di mimbar dan juga saat ramah-tamah.
''Saya memang masih artis dan penyanyi. Tapi pasti ada perbedaan mendasar. Sebagai penyanyi wajar saja saya mengharapkan puji-pujian dan popularitas. Tapi sebagai orang yang harus menyampaikan pesan keagamaan saya harus rela berkorban,'' tegas suami Michelle van der Rest itu.
Secara eksplisit, dia juga menjelaskan perbedaan mendasar tersebut. Sebagai artis, kata dia, penampilannya berhonor atau dibayar. Dia juga datang ke suatu tempat atas undangan. Namun sebagai orang yang berdakwah, dia harus rela tak mendapatkan apa pun dari sisi material dan semata hanya berharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Singkatnya, dalam keyakinannya, bila dia tampil untuk menyampaikan pesan keagamaan dan mendapat bayaran untuk itu maka hal tersebut belum bisa disebutnya sebagai berdakwah.
''Saya bahkan pernah bilang kepada istri saya. Mama, kalau Mama cinta saya, ikhlaskah Mama saya pergi untuk menyampaikan pesan dan pulang tak membawa apa-apa, tak membawa uang? Alhamdullilah, istri saya ikhlas.''
ALASAN KEMBALI KE JALAN ISLAM
Banyak hal yang disampaikan Gito Rollies siang itu. Paling menarik adalah alasan kembalinya dia ke jalan Islam yang juga ditanyakan seorang jamaah bernama Amar. Pertanyaan itu cukup menarik mengingat sebagai figur publik, terutama saat masih sangat populer sebagai rocker, Gito dikenal sebagai selebriti yang lebih banyak berkutat di ''jalan-jalan muram dan hitam''.
Dia mengatakan, setidaknya ada empat alasan yang menggerakkan hatinya mencari kebenaran Islam. Pertama, kata dia, itu karena kehendak Allah. Kedua, doa-doa dari para pecintanya, katakan saja fans dia. Ketiga, dakwah terus-menerus yang disampaikan kawan-kawan Gito Rollies kepadanya secara langsung. Yang terakhir adalah dorongan yang besar dalam dirinya untuk ''menemukan'' Islam.
''Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya.''
Pengalaman religius yang meyakinkannya ''kembali'' ke Islam sempat pula diceritakan. Yakni, selama tiga hari tiga malam pada suatu kesempatan syuting di Surabaya, dia seolah-olah melihat ''penampakan'' dosa-dosanya. Bahkan, dia mulai menyadari bahwa dosa terbesarnya berasal dari mulut dia.
''Saya ini dulu tukang menghina orang. Ketika itu, saya merasa melihat EL Manik (aktor-Red) yang sering saya hina karena kebotakannya. Ya, ternyata banyak dosa saya berasal dari mulut saya,'' tandas lelaki kelahiran Biak, 1 November 1946 itu.
Gito Rollies barangkali salah seorang dari sekian selebriti yang telah menemukan kenikmatan pintu taubat. Seperti ceritanya, di kalangan selebriti sekarang, berkembang terus proses dakwah di antara mereka sendiri.
Sekadar catatan, kali pertama dirinya terlihat berubah dari sosok selebriti yang ndugal menjadi orang dengan penampilan seorang juru dakwah, muncul dua reaksi yang berbeda dari kalangan artis.
Gito, sang mantan rocker urakan itu, kini dikenal sebagai pendakwah. Itu pula alasan Majelis Pengajian Qolbun Salim Semarang mengundangnya. (Saroni Asikin-69n)



BERBINCANG AKRAB : Setelah memberikan ceramah tentang perjalanan pertaubatannya di Masjid Al-Ma'mun, di kompleks Kantor Suara Merdeka di Jl Raya Kaligawe, Gito Rollies berbincang akrab dengan Direktur PT Suara Merdeka Press Kukrit Suryo Wicaksono MBA, sambil meninggalkan masjid tersebut. - SM/Sutomo

GITO ROLLIES : SAYA PINDAH KE SUNNAH RASULULLAH
SEMARANG -"Mick Jagger itu dulu menjadi sunnah saya. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang saya pindah ke sunnah Rasulullah. Dan sekarang, saya menemukan nikmat yang tiada tara."
Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Gito yang bernama asli Bangun Sugito itu membagikan nikmatnya bertobat di depan jamaah pengajian bertajuk "Uswatun Khasanah" di ruang Amarta Ball Room Hotel Grand Candi Semarang, Rabu (2/6) malam.
Penampilan Gito tak lagi urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel seperti masih berjaya dengan The Rollies Band di era 1980-an. Bukan pula lagu-lagu cadas yang meluncur dari suara yang serak. Segudang kendugalannya kerap dikupas oleh media.
TIGA HARI
Gaya bertutur Gito saat berbagi cerita dalam dakwah itu disampaikan dengan ekspresi yang meledak-ledak hingga membuat jamaah betah. Suaranya masih terdengar nyaring seperti pada masa keemasannya yang memopulerkan lagu "Astuti".
Lantas, dia menyampaikan pertanyaan, mengapa Allah memberikan hidayah kepada dirinya yang kerdil itu? Mengapa Allah menciptakan makhluknya?
Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. "Ternyata, Allah menciptakan saya untuk menjadi manusia baik. Semula saya mengikuti idola saya, Mick Jagger. Saya menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan saya sepenuhnya."
Dia pun mengakhiri pengajian malam dengan membawakan sebuah lagu rohani yang dinyanyikan dengan lembut. Aku sebut nama-Mu setiap aku sujud/mengikuti kewajibanku kusucikan diriku/kumohon ampunanmu/dari segala dosa. (G1-33t) Ingat Tobat, Ingat Gito Rollies (Alm)…
CERAMAH PENGAJIAN: Bangun Sugito alias Gito Rollies memberikan ceramah kepada jemaah pengajian bertajuk "Uswatun Khasanah" di ruang Amarta Ball Room Hotel Grand Candi Semarang, Rabu (2/6) malam.(79)


GITO ROLLIES WAFAT DENGAN TERSENYUM
Perjalanannya terhenti pada pukul 18.45 WIB, Kamis (28/02), setelah Sang Rocker menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Beliau meninggal setelah melakukan shalat Maghrib dan melakukan do’a terakhir,” ujar rekan artis yang turut melayatnya. Berpulang menghadap Sang Khalik pada pukul 18.45 WIB, jenazah almarhum Gito Rollies di berangkatkan dari rumah sakit Pondok Indah Sekitar pukul 20.00 WIB, menuju rumah duka di Jl Mabad II Rengas Bintaro Tangerang.
Sesampainya di rumah duka, rajanya musisi rock era 80an itu, langsung disambut tangisan pilu dari sanak saudara dan handai taulan yang setia menemani almarhum semasa hidupnya.
Terlihat bagaimana sosok almarhum adalah orang yang begitu meninggalkan sejuta kenangan bagi para sahabatnya, Terlihat Ikang Fawzi, Titiek Puspa, Erwin Gutawa, Indro Warkop, Reny Djayusman ikut membacakan doa-doa bagi almarhum
Dua belas tahun lebih di sisa usianya dihabiskan untuk melayani dan mengajak orang lain melakukan kebaikan. Sakitnya tidak begitu dirasakan, bahkan pada akhirnya beliau nikmati sebagai peluntur sisa-sisa kekotoran dirinya dan menjadi musabab kematiannya.
Ia tersenyum saat Sang Malaikat maut mengepakkan sayapnya dan hadir di hadapannya untuk mencabut nyawa sang Rocker. Ikhlas menerima takdirNya, melepaskan segala bentuk atribut keduniawian. Kekelaman hidup terbayar tunai dengan amal permembuatan, dan senyum itu semakin menyeringai di wajahnya kala sang Malaikat perlahan-lahan mengambil ruh milikNya. Sehingga beliau masih mempunyai waktu untuk melafalkan lafadz tauhid. Dan sang Rocker pun meninggalkan dunia fana ini dengan rasa puas dan merasa tenang.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr, 89 : 27-30).
Insya Allah, beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Mudah-mudahan peristiwa ini memotivasi kita semua untuk bisa bermembuat sebaik-baiknya, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kita di sisa umur yang tidak lama lagi. Tiada pernah terucap kata putus asa, karena Dia pasti akan mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa hamba-hambaNya, karena Kasih SayangNya bak Samudera Tak Bertepi. Semoga kita termasuk orang-orang yang berakhir hidup dengan jiwa yang muthmainnah, sebagaimana mereka yang terpilih.
Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa. Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.
GALIH KENANG I’TIKAF BERSAMA AYAH TERCINTA
Di mata  Galih Satria Permadi, Gito Rollies adalah sosok ayah yang membanggakan dan teladan. Sangat jelas terkenang oleh Galih saat beritikaf bersama sang ayah. Meski sudah mengetahui penyakit kanker kelenjar getah bening yang diderita ayahnya, Galih tetap terhenyak saat mendapat kabar Gito Rollies meninggal.
"Saya kaget kali, saya tidak menyangkanya," ujar Galih lirih kepada detikbandung, sembari menitikkan air mata yang tak kuasa ditahan.Anak Gito dari pernikahannya dengan Uci Bing Slamet itu  sangat dekat dengan ayahnya. Berbagai kenangan indah semasa hidup mantan rocker yang kemudian menjadi dai itu pun melekat di ingatan Galih.
Yang paling indah dituturkannya yaitu, saat diajak Gito itikaf ke mesjid-mesjid di wilayah Bandung. Kegiatan ini terakhir kali dilakukan pada November 2007."Saat itu ayah mengajak saya itikaf ke mesjid-mesjid. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan ayah saya. Hal ini beberapa kali kami lakukan," tutur Galih.
Setelah mengetahui ayahnya meninggal, Galih mengiklaskannya. Baginya, seorang Gito Rollies adalah orang yang bijaksana, tegas dan disiplin. "Ayah mengajarkan banyak hal pada saya," kenangnya. (Detik Bandung)

DEDDY MIZWAR : GITO ROLLIES SUDAH TEMUKAN JALANNYA

Kepergian rocker legendaris Gito Rollies untuk selamanya masih menoreh kesan tersendiri bagi para sahabatnya. Meski masih dirudung kesedihan, Deddy Mizwar mengatakan bahwa kepergian Gito bisa menjadi contoh bagi kita semua.
"Yang harus ditangisi sekarang ini ya kita. Gito sudah menemukan jalan-Nya. Lah kita? Gito di akhir hidupnya telah memberikan contoh yang sangat baik kita semua," jelas Deddy.
Hal senada juga diungkapkan Slamet Rahardjo. "Gito orang yang beruntung, menemukan jalan Tuhan sebelum kembali kepada-Nya. Jujur saja saya iri. Belum tentu saya dan orang lain juga bisa seperti dia," katanya.
Selain di dunia musik, mendiang Gito juga dikenal sebagai aktor. Ia antara lain pernah main dalam Kembang Kertas garapan Slamet Rahardjo. "Dia bilang, gue pernah mimpi disutradarai orang pinter, dan lo orang pinter" kata Slamet, mengenang ucapan Gito ketika menerima tawarannya untuk main film tersebut.
Kepulangan Gito Rollies pada Sang Pencipta membawa pelajaran tersendiri bagi kita, khususnya bagi musisi di tanah air. Keberhasilannya terlepas dari segala kemaksiatan dan memilih bertobat patut dicontoh oleh para musisi muda di tanah air atas segala kebaikan yang pernah diberikan Gito semasa hidupnya.
Kepergian rocker legendaris Gito Rollies membawa duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan fans tercinta. Langit pun ikut berduka menumpahkan hujan deras. Sejak pagi hari (29/2) mendung menyelimuti hampir seluruh wilayah Jakarta. Menjadi penyambut Gito Rollies kembali keharibaan-Nya.
Camelia Malik, salah satu sahabat yang rajin menjenguk saat Gito terbaring sakit, tak kuasa menutupi kedukaan. Bagi Mia, sosok Gito tidak mudah untuk dilupakan. "Dia pemberi inspirasi. Dia melawan sakit tanpa pernah mengeluh. Dia begitu ikhlas. Dia adalah orang baik," ujar Mia di tengah-tengah iringan pelayat.
Menurut Mia, terakhir bertemu dengan Gito pada hari Rabu kemarin. Saat itu Gito sudah sakit parah. Dan untuk pertama kalinya Mia mendengar Gito merasa sakit. Begitu pula dengan Michelle, istri Gito. Di samping mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening, diduga Gito mengalami pendarahan pada jantung. "Waktu akan diperiksa, Gito sudah pergi dulu," tutur Mia lirih.
Sosok Gito Rollies merupakan sosok yang unik di mata beberapa teman-teman artis. Sebagai rocker Gito sempat berkubang dalam minuman keras dan narkotika. Tapi itu masa lalu, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Gito menunjukkan sosok religiusnya. Pun begitu dengan kerendahan hati. Gito menolak disebut sebagai kyai. Itu yang membuat kagum Uje terkagum-kagum.
"Saya sangat kagum dengan cara beliau berdakwah," puji Uje. Islam dalam lafas Gito tidak menunjukkan sisi seram keras seperti teroris dan lain-lain. "Saat berada di sisi beliau ada sesuatu yang sejuk," kenang Hendy drummer GIGI yang sempat kerja bareng dalam acara ramadhan tahun lalu. 
Badaruddin yang juga staf pengajar pada Ilmu Antropologi FISIP USU menambahkan, sosok Gito Rollies adalah seniman yang dikenal sangat gigih, tidak kenal menyerah untuk mempromosikan dunia musik Indonesia di mata negara-negara dunia.         
"Melalui pertunjukan akbar yang pernah dilakukan ke beberapa negara di Asia dan Eropa beliau tetap memperkenalkan Indonesia yang kaya dengan khasanah musik dan budaya," ujar Badaruddin.
Bahkan Gito semasa jayanya dikenal menguasai lagu-lagu barat, persis seperti yang dibawakan oleh penyanyi aslinya. "Penyanyi Gito Rollies juga sangat dikagumi di luar negeri seperti di Malaysia dan Singapura," katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, selepas menekuni musik, Gito menyibukkan diri dengan dakwah dalam jamaah tabligh dan rajin memberikan pengajian atau ceramah agama bagi para pemusik.
Kelompok pengajian artis Jakarta juga sering mengundang Gito untuk memberikan pengajian dan siraman rohani. "Para pecinta musik di tanah air merasa kehilangan setelah wafatnya Gito Rollies. Keberhasilan yang pernah dicapai Gito Rollies itu perlu ditiru dan dapat dijadikan contoh berharga bagi pemusik muda," kata antropolog Dr. Badaruddin di Medan, Sabtu (1/3 2008).
Ya, Gito Rollies memang pribadi yang penuh kenangan. Kehidupannya tersimpul dalam satu kalimat ‘Mantan lalim, yang jadi orang alim’. Masa mudanya memang sangat dekat dengan miras, narkoba dan hura-hura. Selama kurang lebih 23 tahun tidak menyurutkan niat rocker gaek bernama lengkap Bangun Sugito ini untuk tobat dan mendalami agama.
Dialah Rocker yang meninggal dengan tenang, indah dan tersenyum. Happy Ending. Seandainya Sid Vicious meninggal dengan tenang di St Paul’s Cathedral, Kurt Cobain dan Jimmy Hendrix meninggal mesra di St James Cathedral maka sepertinya tidak akan ada stigma: Rocker mati konyol dengan mulut berbusa atau berlumuran darah karena bertingkah bodoh akibat pengaruh narkoba. Dan mitos “Rocker Legend mati muda” pun sudah mulai usang karena Legend kita yang satu ini tutup usia di umur 61 tahun.
“Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.”
Ila Robbika Muntahaha. Innama Anta Mundziru Man Yaghsyaha

2 komentar:

  1. Mari kita ikuti jejak beliau yakni dengan 5 jalan saja.
    1. Sholat berjamaah di masjid setiap hari sampai kita meninggal
    2. MEngajak orang lain untuk sholat di masjid secara kontinyu
    3. Keluar rumah mengajak manusia agar masuk Islam dan yang sudah Islam agar mendakwahkan ISlam
    4. Ikut rombongan jamaah yang mengajak manusia taat pada Allah SWT.
    5. Niat istiqomah dalam amalan dzikir dan doa dan membaca Al Quran dan amal sholeh lainnya.

    BalasHapus
  2. Tak ada kata lain selain Subhanallah, Allahuakbar dan Alhamdulillah dengan air mata...

    BalasHapus